Indonesia
NovelToon NovelToon
My Bilo

My Bilo

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: purplemocca

Bagi Bianca, Bintang adalah dunianya, dan siapa sangka ternyata diam-diam Bintang menjadikan Bianca semestanya.

Bintang Milano pemuda yang nyaris sempurna dengan sejuta sinar yang ada pada dirinya. Dia baik hati, populer, dan tampan. Namun, entah apa yang membuatnya tidak berani mendekat ke arah Bianca.

Sedangkan bagi seorang Bianca Gibella mengagumi Bintang dari jauh sudah cukup.

"Bahagia itu sederhana, sesederhana dia yang tersenyum dan aku yang bahagia..."—Bianca Gibella



yang rindu masa-masa cinta menggemaskan di jaman sekolah selamat kalian telah menemukan cerita yang tepat. Banyak manisnya, tapi sedikit di beri bumbu misteri.

Tidak ada karya yang sempurna, yang ada hanyalah karya yang telah selesai

Tidak ada karya yang buruk, yang ada hanyalah perbedaan selera, semoga ceritaku bisa menjadi salah satu selera kalian

ig: purplemoccacino
cover: Pinterest
Edited by me

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon purplemocca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiba-Tiba Menghilang

...Touch her you are dying, hurt her you die.—Someone...

..."Ada yang menghilang butuh ruang, dan ada yang menghilang untuk tenang."...

...—My Bilo—...

...💫...

Bianca memandang pantulan dirinya dengan sesekali menarik napas dalam kemudian menghembuskan perlahan.

Bianca menangkup pipinya. "Bi sekarang mimpi kamu udah jadi kenyataan. Bilo mendekat, ayo ucapkan selamat sama gadis manis ini," ujarnya memulai monolog dengan riang.

Sekejap raut bahagia itu hilang digantikan ekspresi kesedihan.

"Tapi, Bilo terlalu sempurna buat aku," keluhnya.

"Sedangkan aku? Apa mungkin aku sama Bilo bisa berdampingan tanpa ada perpisahan setelahnya?" Lagi, gadis itu kembali menghela napas.

Namun, selanjutnya...

Dia menatap bayangannya lekat kemudian tersenyum hingga lesung pipinya terlihat. "Seenggaknya nikmati prosesnya, Bi. Lagian kamu suka juga, 'kan diperlakukan kayak gini sama Bilo?"

Penyakit labilnya mulai kambuh.

Setelah merasa lebih baik, Bianca pun memilih beranjak dari ruangan minimalis yang di dominasi oleh warna baby blue dengan beberapa tempelan stiker Doraemon terpajang disebagian dinding.

Saat sampai bawah, dirinya mendapati sesosok pria paruh baya yang tengah duduk di salah satu kursi meja makan. Dia, Pak Frass, sahabat sekaligus tangan kanan dari Ayahnya.

"Om," panggil Bianca.

Pak Frass menoleh, dia tersenyum kala melihat putri sahabatnya yang semakin hari semakin terlihat tumbuh sehat dan baik.

"Ada apa Om? Masalah perusahaan lagi, ya?" tanya Bianca seraya berjalan ke arah dapur untuk mengambil hidangan pengganjal perut.

"Iya, tapi Om mau kasih kabar gembira," kata Pak Frass dengan mata yang tak pernah lepas mengikuti gerakan Bianca yang kini tengah melahap roti selai cokelat favoritnya dihadapan Pak Frass.

"Oh ya, perihal apa, Om?" Bianca merasa cukup dekat dengan Pak Frass, semenjak Ayahnya pergi, Pak Frass memang yang berperan penting dalam keberlangsungan hidupnya. Untuk itu tidak ada kecanggungan diantara ke duanya.

Bahkan kepribadian Pak Frass yang baik membuat Bianca mempercayakan urusan perusahaan kepadanya, sebelum Bianca benar-benar terjun langsung untuk mengurusnya nanti.

"Untuk dua bulan ke depan biar Om yang handle semuanya, kamu istirahat aja. Kamu bisa liburan jika perlu," saran Pak Frass diakhir kalimatnya. Tentu, Pak Frass sangat memahami tekanan yang Bianca rasakan. Apalagi Bianca melakukannya bukan karena ingin dan benar-benar mampu, melainkan karena merasa bertanggung jawab atas peninggalan orang tuanya.

"Asyik!" Bianca berseru girang.

"Tapi nanti pas akhir tahun kamu bakal jadi super sibuk, karena, kan, waktunya untuk tutup buku. Belum lagi harus ada rekonsiliasi sama pihak bank juga, jadi kamu harus benar-benar fit, makannya Om kasih libur."

Bianca memanyunkan bibirnya. "Enggak bisa ya Om, kalau ngasih kabar yang gembiranya aja. Yang bikin bad mood-nya engga usah gitu," protesnya.

Pak Frass tersenyum kecil. "Sudah. Kamu harus cepat berangkat, kan? Hari ini bareng Om, ya?"

"Siap Om!" Bianca melakukan gerakan hormat, kemudian berlari menyusul Pak Frass yang lebih dulu pergi.

...💫...

Bianca dan ke tiga sahabatnya sedang menikmati waktu luang sebelum bel masuk selepas istirahat berbunyi. Meskipun tak seleluasa biasanya Bianca tetap berusaha bersikap biasa saja. Untungnya Kinar membawa bekal hasil masakan resep barunya, jadi mereka tidak perlu ke kantin.

Kini anak-anak satu kelasnya mulai lebih peka terhadap keberadaan empat sejoli itu, terlebih ada Bianca selaku pemeran utama di setiap topik yang kini tengah hangat di perbincangkan nyaris oleh seluruh warga sekolah.

Tidak ada tatapan benci atau pun cemoohan, melainkan hanya tatapan penasaran yang butuh jawaban. Sayangnya Bianca tidak bisa memberikan jawaban apa-apa. Bahkan, Bintang yang kemarin bersikap manis pun tiba-tiba tidak terlihat sama sekali hari ini.

Kalau belum datang, tidak mungkin karena Bianca tadi sempat melihat motornya.

Bunyi dentuman terdengar nyaring yang berhasil membuat kelas menjadi hening.

Pintu kelas terbuka dengan tidak santai, Bianca beserta anak-anak kelas lainnya bisa melihat kalau gadis berparas super cantik lah pelakunya, matanya terlihat menyala dengan Bianca yang dijadikan objek pandangannya.

"Merasa di atas awan lo sekarang hah?!" sembur Mona jauh dari kata lemah-lembut seperti kemarin. Yang tentu saja di tujukan untuk Bianca.

"Merasa menang lo! Lo pikir gue takut sama ancaman Bintang kemarin?! Gue tau dia cowok yang nggak bakal tega nyakitin cewek. Jadi sekasar apapun gue sama elo, dia nggak bakal berani main fisik sama gue!" cerocos gadis itu berapi-api.

Lolita yang terlihat menjadi sekat diantara Bianca dan Mona pun melayangkan tatapan sengit pada sang model sekolah itu.

"Lo mau gue pukul hah?!" bentak Lolita. Tentu saja, Lolita tidak akan diam saja melihat sahabatnya di tindas, terlebih Lolita tahu bahwa sahabatnya itu tidak akan pernah mau melawan.

"Gue enggak ada urus—"

"ADA! Jelas ada! Gue sahabatnya!" potong Lolita.

Bianca tetap berusaha tenang. Sikap yang dia pelajari dari Pak Frass yang selalu mengajarkannya untuk tetap terkendali dalam situasi apapun.

Bianca terlihat merangkul bahu Lolita, kemudian dia terlihat berbisik pada sahabatnya itu.

"Kita bicarakan baik-baik, ya? Gue nggak tau apa yang buat lo marah," sela Bianca. Untuk sesaat napas Mona yang tadi tampak tak beraturan karena dikuasi amarah sesaat kemudian langsung melemah.

"Gue mau lo jauhi Bintang!" perintah Mona tak mau diganggu gugat.

Garis muncul diantara alis Bianca. "Masalahnya bukan gue yang deketin Bintang, tapi Bintang yang mendekat ke arah gue," imbuhnya yang kembali mengundang rasa kesal Mona.

Mona tersenyum sinis.

"Yaudah jangan lo tanggapi!"

Bianca menggeleng. "Engga mungkin bisa."

Mona menggeram. "Cewek sialan!" umpatnya seraya melempar gulungan kertas hitam ke arah Bianca.

Bianca menangkapnya dengan sigap, kemudian membacanya.

⚠️⚠️⚠️

Touch her you are dying,

Hurt her you die, *****!!!

Bianca mengerutkan keningnya dalam, Lolita tampak merebut kertasnya lalu ikut membacanya, bergantian digilir pada Gitta dan Kinar.

"Gue tau itu elo, 'kan yang nulis?" tuduh Mona.

"Bukan! Gue nggak tau apa-apa tentang kertas itu," bantah Bianca yang memang tidak tahu apa-apa.

"Terus kalau bukan lo siapa lagi? Kertas itu muncul pas gue punya urusan sama elo!"

"Gue bener-bener engga tau sama tulisan itu, gue enggak segabut itu buat bikin begituan," tutur Bianca meyakinkan.

Mona tergelak sinis. "Dasar tukang bohong!" cela Mona.

Bianca tidak menanggapi. Bianca tetap dalam kondisi sesejuk udara pagi yang belum terkontaminasi polusi.

"Yaudah udah beres, kan, urusannya? Lo bisa pergi. Mau lo percaya atau ngga, terserah, tapi yang pasti itu bukan gue."

Bianca bahkan sama sekali tidak niatan untuk membalas celaan Mona. Dalam mengatur emosi gadis itu memang patut diacungi jempol.

Sebenarnya tidak ada yang salah dari perkataan Bianca, tapi Mona merasa tersinggung.

Lalu tanpa ada yang bisa memprediksi sebuah tamparan keras mendarat di pipi Bianca.

Semua yang menyaksikan terkesiap. Tanpa ba-bi-bu Lolita yang merasa dicurangi atas perlakuan Mona pun tak segan-segan membalasnya dengan tamparan bolak-balik yang jauh lebih keras.

"Sialan! Tangan lo udah nyentuh pipi sahabat gue!" murka Lolita.

"Lo pikir lo siapa?! Lo engga pernah kasih dia makan tapi dengan beraninya lo tampar dia! Cewek setan! Enggak jelas! Kayak tai! Fakyu!" jerit Lolita disertai gerakan menunjuk-nunjuk wajah Mona yang kini terlihat berantakan, sedangkan Lolita sendiri tengah ditangani oleh Kinar.

Mona langsung pergi dengan tangan yang memegang ke dua pipinya.

"Lo ngapain nahan gue sih, Kin?!" sembur Lolita dengan napas yang memburu.

"Kalau gue biarin, besok lo bisa pindah tempat tinggal," balas Kinar cuek.

"Sialan lo!" Lolita pun memilih melepaskan diri lalu duduk di kursinya.

"Bianca sama Gitta mana?" tanyanya setelah sadar dari kungkungan emosi.

"UKS," jawab Kinar dengan tangan yang sibuk merogoh tasnya. Dia terlihat menyodorkan botol minum ke arah Lolita.

"Lo keren," puji Kinar tak ayal ikut puas akan pembalasan yang Lolita lakukan.

...💫...

1
deeyaa
keren, semangat Thor
Micchan Mitsubou
jujur salfok sama cover novelnya agak merinding ya thor covernya gak bisa gitu diganti aja biar gak salfok thor 🙏
mocca: Hai terima kasih untuk sarannya, pemilihan covernya sebisa mungkin di sesuaikan dengan garis besar isi cerita yaa, lebih spesifiknya cover itu menggambarkan salah satu tokoh utama yang bernama Bintang Milano, silakan baca untuk tau keseruan cerita, terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!