Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 007: Terungkapnya Hak Sejati
"Boras, Kaelan, tolong lindungi Ibuku dengan segenap tenaga kalian," perintah Seraphina tegas.
Keduanya hanya mengangguk mantap, berdiri tegak bagai benteng tak tergoyahkan di samping Lira.
"Jadi kau berasal dari Klan de Luna?" Gorah tertawa meremehkan. "Aku tak menyangka klan yang disegani itu justru menampung orang sepertimu yang tak memiliki wujud srigala!"
"Mungkin terlihat begitu di matamu. Tapi percayalah, meski tanpa wujud srigala, aku tetap mampu menjatuhkanmu," jawab Seraphina tenang namun penuh keyakinan.
"Ha ha ha! Jangan membuatku tertawa dengan omong kosongmu itu, gadis kecil!" Gorah melangkah maju dengan tatapan mengancam. "Sudah cukup berlama-lama bicara. Lebih baik kau kubinasakan sekarang juga, bersama kerajaan sialan ini!"
Gorah langsung menerjang dengan kecepatan mengerikan. Namun setiap serangannya tak mampu menyentuh sedikit pun tubuh Seraphina, yang bergerak lincah bagaikan angin.
"Itu saja kemampuanmu, Gorah? Bahkan gadis yang tak memiliki aura srigala ini pun tak sanggup kau sentuh sedikit pun," Seraphina membalas mengejek.
Wajah Gorah memerah menahan amarah yang meluap, merasa dirinya sangat dihina di hadapan semua orang. "Jangan berbangga dulu! Aku akan mengeluarkan jurus yang tak mungkin bisa kau hindari!"
Gorah mengerahkan jurus andalan Telapak Tangan Seribu Bayangan yang sempat mengalahkan Boras. Namun kali ini, dengan santai Seraphina menangkisnya hingga tenaga dahsyat itu buyar seketika.
Seluruh penonton terpaku tak percaya, bisik-bisik kekaguman terdengar dari segala penjuru arena.
"Bagaimana mungkin dia sekuat itu padahal tak memiliki aura Srigala?" gumam seorang tetua dari klan tetangga.
"Benar-benar luar biasa... sepertinya kekuatannya melampaui batas pemahaman kita," timpal yang lain takjub.
Raja Argan yang sedari tadi memperhatikan dengan saksama pun semakin bingung. "Siapa sebenarnya gadis itu? Tak pernah terdengar ada bakat sehebat itu di antara kaumku."
Seraphina menyunggingkan senyum sinis, lalu melangkah maju satu langkah dan melancarkan satu pukulan terarah tepat di dada Gorah. Tubuh pria itu terpental jauh, jatuh terguling hingga tak sanggup bangkit lagi.
"Gorah dari Klan Cakar Badai dinyatakan kalah! Pemenangnya adalah Seraphina!" seru Balthazar lantang.
"Aku menolak kemenangan ini. Aku tak berniat menjadi bagian dari Kerajaan Bulan Perak," ucap Seraphina tegas seketika membungkam keramaian.
"Apa maksud perkataanmu?" Raja Argan bangkit dari singgasana dengan wajah tak terima. "Bukankah kau ikut bertanding mengikuti sayembara seperti yang lain?"
"Bukan. Aku ikut bertanding semata-mata untuk menolong Ibuku, bukan demi jabatan atau hadiah apa pun," jelas Seraphina menatap lurus ke arah Lira.
Mata Lira terbelalak kaget, tangannya gemetar menunjuk ke arah Seraphina "Nak... apa maksudmu?"
Seraphina tersenyum lembut, lalu membuka kerah bajunya dan memperlihatkan kalung berukir bulan sabit yang sama persis dengan yang melingkar di leher Lira. Air mata bahagia seketika membanjiri wajah sang Ratu.
"Akhirnya... akhirnya aku bisa memelukmu lagi, putriku sayang," isak Lira saat Seraphina menghampirinya dan memeluknya erat.
Raja Argan segera berjalan mendekat dengan wajah penuh pertanyaan. "Apa yang sebenarnya terjadi, Lira? Siapa gadis ini?"
"Dia putri kandungku, Raja. Dan juga putrimu sendiri, anak yang dua puluh tahun lalu nyaris kau bunuh hanya karena tak memiliki aura Srigala," tegas Lira tanpa ragu sedikit pun.
Raja Argan seolah mendapat peluang emas. "Kalau begitu, tak ada salahnya kau tetap tinggal dan membantu kerajaan ini. Lagipula kau adalah putriku."
Seraphina tertawa sinis mendengarnya. "Membantumu? Takkan pernah! Aku tak sudi mengakui laki-laki sepertimu sebagai ayahku!"
"Bagaimanapun juga, darahku mengalir di dalam dirimu. Itu takkan bisa kau pungkiri," desis Argan berusaha memaksakan kehendak.
"Ingatlah baik-baik, Raja Argan," potong Lira dengan suara tegas bergema di seluruh penjuru. "Takhta ini sejatinya milik putriku, yang kau rampas dariku dengan cara licik. Sekarang dia telah kembali, maka kekuasaan ini harus kembali kepada yang berhak, bukan padamu ataupun anak hasil perselingkuhanmu!"
Tiba-tiba tawa keras terdengar dari arah gerbang istana. Drakar sang pemimpin Klan Cakar Badai melangkah masuk diiringi pasukannya. "Ha ha ha! Benar-benar lucu! Tak kusangka Raja Argan ternyata memiliki keturunan yang tak memiliki srigala sama sekali!"
Wajah Argan mengeras seketika. Ia menatap tajam ke arah Seraphina. "Karena kau sendiri yang tak mau mengakui aku sebagai ayahmu, maka bagiku kau bukan siapa-siapa. Kau bukan putriku lagi!"