Azalea yang tidak mau dijodohkan dengan pria bernama Agam, anak dari teman ayahnya mencoba berbagai cara agar perjodohan itu tidak jadi dilaksanakan.
Segala macam cara pun dilakukan oleh Alea agar membuat Agam membenci dirinya dan mundur dari perjodohan itu.
Agam yang tidak ingin membuat Alea semakin terjerumus ke hal hal yang negatif hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan dirinya pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Alea.
Namun, disaat Agam sudah pergi, Alea baru menyadari jika di hatinya sudah terpaut kepada pemuda baik itu dan Alea pun merasa sangat kehilangan.
Lalu, bagaimana jadinya, jika sepuluh tahun kemudian keduanya pun kembali dipertemukan dengan Agam yang akan dijodohkan dengan wanita.
Akankah Alea merelakan Agam untuk bersama dengan wanita lain di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada pria itu? Atau, Alea akan berusaha untuk mendapatkannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan Jihan
Siang harinya…
Setelah selesai berbincang dengan kedua orang tuanya, Alea pun kembali ke kamarnya. Sepanjang hari, ia tidak bisa berhenti memikirkan pesan dari Agam.
Kalimat demi kalimat yang dikirimkan pria itu terus terngiang di kepalanya.
[“Anggap kalau kita tidak pernah bertemu. Anggap juga kalau kamu tidak pernah mengenalku.”]
Dan yang paling membuat Alea gelisah adalah permintaan maaf Agam. Seolah-olah pria itu benar-benar telah melakukan sesuatu yang sangat besar hingga harus menghilang dari kehidupannya.
Padahal, sejauh yang Alea ingat, Agam tidak pernah melakukan kesalahan apapun padanya.
Justru dialah yang sejak awal menolak perjodohan itu. Sampai nekat datang ke club malam dan mabuk, hanya agar Agam menjauh darinya.
Merasa terganggu dengan semua pikirannya. Alea pun akhirnya memutuskan untuk menemui Jihan. Ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam.
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Alea berhenti di depan sebuah kafe yang cukup tenang.
Tempat itu merupakan salah satu tempat yang sering Alea datangi bersama dengan Jihan. Bahkan, sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Begitu turun dari mobil, Alea langsung melihat Jihan yang sudah duduk di salah satu sudut kafe.
Namun berbeda dari biasanya, kali ini, Jihan terlihat sangat gelisah. Kedua tangannya saling menggenggam di atas meja.
Sesekali ia melihat ke arah pintu, seolah sedang menunggu seseorang.
Begitu melihat Alea datang, Jihan langsung berdiri.
“Al…”
Alea tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekati sahabatnya, lalu menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Jihan.
“Katakan, Han. Apa yang terjadi semalam. Aku… belum mengingat apapun tentang semalam.”
Nada suara Alea terdengar tenang.
Namun tatapan matanya menunjukkan bahwa ia benar-benar menuntut sebuah penjelasan.
Jihan menelan ludah. Lalu menghela nafas sebelum menjawab permintaan dari Alea.
“Kamu… beneran tidak ingat apa yang terjadi semalam?”
“Terakhir yang aku ingat hanya… kita berdua berusaha keluar dari dalam club. Lalu setelahnya… aku benar-benar tidak mengingatnya.”
Jihan kembali menghela nafas, lalu menunduk semakin dalam.
“Maafkan aku, Al.” ucapnya lirih.
“Jangan minta maaf dulu. Ceritakan semuanya. Apa yang terjadi setelah itu?” jawab Alea menatap lekat Jihan. Menuntut penjelasan dari gadis itu.
Lagi dan lagi, Jihan menarik nafas panjang. Jujur, ia tahu harus memulai dari mana. Meski begitu, Jihan juga tidak bisa menutup apa yang sudah terjadi
“Setelah kamu benar-benar kehilangan kesadaran, aku berusaha membawa kamu keluar. Tapi… ada beberapa pria yang mendekati kita.”
Seketika wajah Alea berubah saat Jihan menyebutkan kata “Pria”.
“Pria?” tanyanya yang dijawab anggukan oleh Jihan.
“Iya.”
“Apa mereka melakukan sesuatu kepadaku?”
“Tidak.” jawaban Jihan cepat. Jihan menggenggam tangan Alea di atas meja.
“Tidak, Al. Mereka belum sempat melakukan apa-apa. Percaya padaku. Waktu itu aku benar-benar takut. Aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa. Kamu sudah tidak bisa berjalan sendiri. Aku juga tidak mungkin mengangkatmu.”
Alea menatap serius ke arah Jihan yang sedang menjelaskan apa yang terjadi.
“Lalu, setelah itu?”
Jihan kembali menghela nafas demi mengontrol emosinya dan agar tetap tenang.
“Setelah itu, ada pria lain yang datang. Dia mengaku kenal sama kamu.”
“Dia mengaku mengenalku? Siapa itu?”
“Agam. Pria yang selalu kamu ceritakan. Pria yang dijodohkan dengan kamu, Al.”
Deg.
Nama itu membuat jantung Alea kembali berdebar kencang.
“Kak Agam?” tanyanya dan Jihan mengangguk perlahan.
“Iya. Pria itu, Agam.”
Alea terdiam. Jadi benar… Pria itu memang ada di sana dan melihat apa yang terjadi kepadanya.
“Tapi… kenapa Kak Agam ada di sana?”
“Dia bilang, dia datang kesana karena ada urusan dengan seseorang di tempat itu. Tapi… sebelum dia masuk, dia melihat kita.”
Jihan kemudian menceritakan bagaimana Agam mendekati mereka.
Bagaimana tatapan pria itu berubah ketika melihat Alea dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Apa dia mengatakan sesuatu?”
“Tidak. Dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya memintaku membawamu ke mobilnya dan membawamu pulang. Awalnya aku menolak permintaannya.”
Mendengar itu, Alea langsung mengangkat wajah.
“Kamu menolak permintaannya?”
“Iya… itu karena aku takut. Aku takut kalau dia hanya mengaku mengenal kamu dan memanfaatkan keadaan kamu. Tapi, setelah dia memperlihatkan foto kalian berdua dan disana juga ada Ayah dan Bundamu. Aku baru percaya.”
“Lalu. Apalagi?”
“Agam membantu menopang kamu. Dan membawamu pulang ke rumah.”
“Jadi… Kak Agam yang membawaku pulang?” tanyanya lagi dan Jihan kembali mengangguk.
Alea terdiam cukup lama. Mencoba kembali apa yang terjadi semalam. Namun nihil, usahanya masih sia-sia karena ia sama sekali tidak mengingat apapun.
“Lalu, apalagi?”
Jihan kembali menghela nafas panjang. Lalu melanjutkan penjelasannya.
“Setibanya di rumah. Kamu sempat bangun dan mengatakan semua yang selama ini kamu pendam sendiri.” jawab Jihan yang membuat Alea kaget bercampur takut.
Takut, jika semua unek-unek yang selama ini dia pendam tentang Agam, ia keluarkan semua di depan kedua orang tuanya.
“A-aku bilang apa?” tanyanya terbata saking takutnya jika apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi.
“Semuanya, Al. Kamu mengatakan semua yang kamu pendam selama ini. Bukan hanya masalah perjodohan kamu dan Agam. Tapi… kamu juga mengungkapkan bagaimana bencinya kamu akan kehadiran Agam selama ini.”
Deg.
Alea langsung menutup mulutnya dengan kedua tanganya. Ia tidak percaya, jika akhirnya, ia mengatakan semuanya. Bukan cuma kepada Agam, namun kepada orang tuanya juga.
“Setelah itu. Agam langsung meminta maaf kepada kedua orang tuamu. Dia bilang kalau semua yang terjadi semalam, semua karena kesalahannya, karena kehadirannya.”
Jihan berhenti sejenak. Ia mengambil nafas dulu sebelum melanjutkan. Jujur, Jihan merasa sangat bersalah juga.
Apalagi setelah melihat bagaimana baik dan santunnya seorang Agam. Membuat Jihan benar-benar menyesal karena sudah menyarankan ide seburuk itu kepada Alea.
“Dia juga menjelaskan kalau dia tidak pernah bermaksud membuat kamu merasa tidak nyaman, bahkan sampai membencinya. Saking merasa bersalahnya, Agam... Bahkan... Sampai berlutut di hadapan Ayah dan Bundamu, Al.”