Terkadang kita tidak bisa menebak takdir yang telah di tentukan oleh sang pencipta kepada hidup kita. Berharap semua akan terjadi sesuai dengan keinginan, namun takdir telah berkata lain.
Begitu lah yang di alami oleh ku. Awal nya berjalan indah dan penuh dengan warna. Dimana saat itu aku sedang menata masa depan ku bersama teman-teman seperjuangan. Namun, ketika aku bertemu dengan dia, yah dia laki-laki yang telah mencuri hati ku bahkan telah berani merampas masa depan ku membuat hidup ini berubah drastis.
Rasa bersalah dan penyesalan kini terus terasa di hati ku. Hingga saat ini peristiwa itu tidak bisa ku lupakan begitu saja. Semakin aku ingin melupakan, Semakin sakit rasa nya hati ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mpit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Kami memutuskan untuk pulang ke Sungai Pakning malam itu juga. Karena hati dan perasaan kami tidak tenang di malam itu hingga kakakku meminta kami untuk pulang.
Sesampainya kami di rumahku, ternyata keluargaku sudah menunggu kepulangan kami berdua. Aku dan Yus menceritakan kejadian yang menimpa kami saat kami berada di rumah tua tersebut bersama nenek misterius.
"Yus, hari sudah larut juga. Lebih baik kamu tidur di rumah kami aja. Gak baik anak gadis pulang malam-malam sendirian seperti ini" Ujar ibu ku meminta Yus sahabat ku itu menginap di rumah ku.
"Iya Yus benar apa yang di katakan ibu. Lebih baik kamu tidur di sini saja. Besok pagi kamu baru pulang. Besok kakak ku akan menghubungi pak Leiden untuk mengganti jadwal masuk kita" Ujar ku.
Yah kami seharus nya masuk besok pagi pukul delapan. Namun, karena kami memutuskan untuk tidak ngekos di Bengkalis, dan memutuskan untuk PP (pulang pergi), jadi nya kami memutuskan untuk menggantikan jadwal masuk pada siang hari itu pukul satu siang sampai pukul empat sore.
"Iya deh, aku akan menginap di sini malam ini. Aku juga takut mau pulang malam-malam ke kampung ku" Ujar Yus menyetujui apa yang aku dan ibu ku saran kan.
Setelah bersiap-siap untuk tidur, kami pun merebahkan tubuh kami yang lelah di atas tempat tidur untuk menghilangkan rasa lelah sejenak beban yang ada di pikiran kami tadi siang saat berada di Bengkalis.
***
"Aduh, Yus mana sih, sudah pukul berapa ini? Bisa telat nanti nya" Ujar ku gelisah saat Yus belum kunjung datang.
Yah Yus memang memutuskan untuk pulang ke rumah kakak nya yang berada di Dompas di pagi hari nya itu.
Memang Yus sejak dari sekolah SMA tinggal bersama kakak nya di desa Dompas. Sedangkan orang tua nya berada di desa Sungai Apit yang cukup jauh juga dari tempat kami. Memakan waktu kurang lebih satu jam.
"Maaf Ramah, aku telat" Ujar nya baru tiba.
"Gak apa-apa. Masih ada waktu kok" Ujar ku langsung naik ke motor nya Yus yang bermerek Revo berwarna hitam itu.
Iya, aku dan Yus memutuskan untuk memakai motor secara bergantian untuk pergi ke tempat kursus kami. Di mana seminggu memakai motor Yus dan seminggu lagi memakai motor kakakku.
Kami memang harus berangkat pukul sepuluh lewat dari rumah. Di mana kapal peri akan berangkat tepat pukul sebelas siang. Jika pada pukul dua belas itu waktu nya untuk mengangkut mobil minyak dan gas dari Sungai Pakning ke Bengkalis. Dan penumpang seperti kami tidak di benarkan untuk masuk karena waktu itu khusus untuk mobil minyak dan gas saja.
Gerbang untuk kendaraan beroda dua telah di buka. Semua penumpang yang mengendarai motor masuk ke dalam kapal peri tak ketinggalan aku dan Yus.
***
"Yus, seperti nya aku kenal dengan abang itu" Ujar ku saat melihat laki-laki yang cukup tampan dengan paras rupawan di depan kami ketika kami tiba di tempat kursus.
"Mana?" Tanya Yus.
"Itu" Ujar ku menunjuk ke arah orang yang ku maksud.
"Oh iya, benar Mah, dia kan orang Pakning juga" Ujar Yus lagi membenarkan apa yang aku katakan.
Laki-laki itu tersenyum ke arah kami.
"Bang, kalau tak salah abang orang pakning juga ya? Abang teman nya bang Amer kan? Bang nya sepupu ku" Ujar ku.
"Oh iya, benar. Aku kenal kok sama kamu adik sepupunya amer" Ujar nya.
Rizky Alansari itu lah nama teman abang sepupu ku itu. Aku juga tidak tahu kenapa dia mengikuti sekolah kursus seperti aku dan Yus. Setahu ku dia dulu nya sekolah di SMK pelayaran di Sungai Pakning. Dan usia nya juga terpaut jauh di atas kami. Memang tidak terlalu jauh sih hanya tiga tahun di atas ku.
"Abang ngekos di mana?" Tanya ku.
"Abang gak ngekos dek. Abang PP (pulang pergi)" Jawab bang Risky atau sering di sebut dengan Rizen.
"Wah, PP (pulang pergi)? Berarti kita pergi dan pulang barengan dong setiap hari" Ujar Yus.
"Iya jadi lebih seru dong ramai-ramai berangkat ke tempat kurus nya" Ujar ku pula.
Bang Rizen tersenyum dan mengangguk dengan apa yang kami katakan.
***
Di siang hari nya saat kami akan pergi ke tempat kurus. Aku, Yus dan bang Rizen mendapat giliran naik di kapal peri Bahari Nusantara.
Kembali ku jumpai sesosok insan yang membuat ku penasaran selama ini. Dia tampak sibuk melayan pembeli yang datang ke kanti nya.
"Bang Dodi" Batin ku.
"Bang Rizen, Yus sini aja duduk nya" Panggil ku kepada mereka. Mengajak mereka berdua duduk di kursi sudut yang tidak jauh dari kantin itu agar aku bisa memperhatikan nya.
"Ya ampun, ternyata dia bekerja di kapal peri ini? Ini kapal peri apa ya?" Batin ku lagi bertanya-tanya.
"Bang, peri apa sih nama nya ini?" Tanya ku kepada bang Rizen.
"Oh ini nama nya peri Bahari Nusantara" Jawab bang Rizen.
"Oh" Ucap ku mengangguk mengerti.
"Kenapa?" Tanya Yus penasaran.
"Gak, bukan apa-apa" Ucap ku terus memperhatikan laki-laki yang sibuk di ujung sana yang ku nilai dia orang nya pendiam. Sungguh hati ini sangat penasaran dengan lelaki itu.
"Hmm... Aku tahu, kamu tanya nama peri ini karena abang itu kan?" Tebak Yus yang benar ada nya.
"Ha?" Aku kaget.
"Itu abang Dodi. Bukan nya dari kemaren kamu tanyain tentang dia sama aku dan Yet. Pasti ada sesuatu deh dengan nya. Iya kan?" Tanya Yus lagi.
"Gak tahu juga sih Yus. Tapi beneran deh aku penasaran dengan abang itu. Aku ingin berkenalan dengan nya lebih lanjut. Seperti nya dia laki-laki yang baik. Terbukti dari wajah nya yang kalem dan sikap nya yang pendiam seperti itu" Ucap ku lagi.
Aku pikir bang Rizen tidak mendengar apa yang aku katakan kepada Yus barusan. Ternyata dia mendengar nya.
"Kenapa? Suka sama Dodi?" Ucap nya lagi membuat muka ku merah padam.
"Gak, cuma penasaran aja" Jawab mu spontan dan seenak nya. Aku pikir masalah nya selesai di situ saja.
"Dodi, sini sebentar" Teriak bang Rizen kepada bang Dodi yang berada di seberang sana.
"Ha?" Aku kaget saat bang Rizen meminta bang Dodi datang.
"Apaan sih bang? Ngapain panggil dia ke sini?" Bisik ku salah tingkah. Yah semakin seperti kepiting rebus lah muka ku saat bang Dodi datang menghampiri kami.