Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci

Status: tamat
Genre:Obsesi / Cintapertama / Tamat
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sabira

Sekar dan Surya adalah dua insan yang saling mencintai. Bahkan Surya berjanji akan segera menikahi Sekar dalam waktu dekat.

Di sisi lain, ada Marinka. Puteri konglomerat yang hamil diluar nikah dan tidak tahu siapa Ayah dari anak yang tengah ia kandung.

Secara kebetulan, Ibu Surya sakit tumor dan diharuskan menjalani operasi saat itu juga. Ayah Surya pun berniat meminjam uang pada bos tempat ia berkerja. Untungnya Sang Bos mau memberikannya dengan syarat.
Ayah Surya harus menikahkan Surya dengan Putrinya Marinka, demi menyelamatkan nama baik keluarganya.

Bersediakah Surya mengorbankan cintanya demi Ibunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sabira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Rubik yang Rumit

Seperti biasa, Acha tidak langsung pergi ke sekolah, melainkan pergi ke kafe terlebih dahulu. Membeli sandwich dan americano untuk si Reynaldi Surya Atmaja yang ngeselin tapi ngangenin.

Iyah, ngangenin. Buktinya tadi malam cowok itu terus bergentayangan di pikiran Acha.

Setelah membayar pesanannya, Acha segera keluar. Tak disangka.. Di samping pintu kafe, Rey tengah berdiri.

"Kamu.. Lagi ngapain disini?"

Rey tak menjawab dan malah mengambil papper bag ditangan Acha."Udah cukup, mulai besok loe gak perlu ngelakuin hal ini lagi. "

Acha heran. "Kenapa?"

"Bosen lama-lama," jawab Rey. Benar atau tidak, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Merekapun berjalan bersama menyusuri halaman sekolah.

"Gimana? Loe udah berhasil nyelesain rubik yang gue kasih?"

Acha cemberut. Tadinya ia berniat mencopot semua warna yang tertempel di rubik itu, dan menyusunnya dengan benar. Tapi ya apa-apaan coba?

"Belum. Aku hampir frustasi tahu gak?

Udah nyobain tutorial di youtube pun, aku masih gak ngerti."

Rey nyengir. "Waktunya cuma seminggu yah."

"Dih, waktu itu kamu nggak bilang gitu."

"Ya makanya gue bilang gini sekarang. "

Acha mendengus kesal. Rey memang banyak aturan!

Tiba-tiba Rey menyadari sesuatu ketika menatap wajah Acha.

"Itu.. Jidat loe kenapa?"

"Kenapa emang?"

"Berdarah dikit. "

"Oiyah? Tadi tuh aku berangkat naik angkot, terus pas turun, kepala aku kepentok. " Acha menyentuh jidatnya, dan tanpa sengaja menekan lukanya.

"Aww.."

Rey terkekeh. "Kenapa loe teken dongo? Sakit kan jadinya?"

Acha memonyongkan bibir. Kadang Rey suka sekate-kate yah kalo ngomong. Sebelumnya kutil, sekarang dongo. Entah nanti apalagi.

Rey sendiri mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah plester..

Kemudian tanpa meminta izin terlebih dahulu, ia mendekat, dan memasangkan plester itu ke jidat Acha yang luka.

"Waktu itu kepeleset, sekarang kepentok, sial banget sih hidup loe. "

Acha hanya diam sambil menatap dada Rey yang sejajar dengan pandangannya.

"Udah selesai.." Rey membuang kemasan plesternya. "Lain kali jangan terluka lagi.. Bosen gue ngobatin loe. " setelah berkata demikian, Rey meneruskan langkah.

Acha tak segera mengikutinya. Sejenak ia membisu, sebelum akhirnya membuat pengakuan, "Aku suka sama kamu Rey.."

"Akhirnya ngaku juga," ucap sebuah suara.

Acha terkesiap dan langsung berbalik. Siapa lagi kalau bukan Egy.

Cowok itu pun berdiri sejajar dengan Acha.

"Sekarang kamu udah nggak bisa ngelak lagi kan?"

Acha menunduk dan mengangguk pelan. Betapapun ia menolak, rasa itu tetap datang dengan sendirinya.

"Acha.." panggil seseorang. Acha dan Egy menoleh.

Rupanya Maura.

"Maaf yah soal yang kemaren."

Acha hanya tersenyum. Senyuman tak ikhlas.

Ia mungkin bisa memaafkan Maura. Tapi luka di hatinya akan tetap membekas sampai kapanpun.

Ketika melihat Rey yang belum pergi terlalu jauh, Maura auto memanggilnya. "REY TUNGGU!"

**

Saat pelajaran olahraga, para murid diminta melalukan sit up dengan partner duduk masing-masing.

"Siapa dulu?" Tanya Acha. Belum apa-apa jantungnya sudah berdebar kencang.

Rey nyengir. "Loe dulu, buruan. "

Acha langsung telentang dan menekuk kakinya. Namun Gadis itu terlihat kesusahan. Terbukti, badannya tak kunjung naik, meski Rey sudah memegangi kakinya kuat-kuat.

"Ih.. Kok susah banget s....ih."

Rey tertawa mengejek. Padahal badan Acha kurus. Harusnya dia bisa sit up dengan mudah.

"Jangan ketawa!"

"Payah banget sih loe.. Masa sit up aja gak bisa?"

"Gini-gini juga susah tahu! Emang kamu bisa?"

Rey menjentikkan kukunya, songong.

Acha tertawa tak percaya dan langsung menyingkirkan tangan Rey dari kakinya. "Yaudah sekarang giliran kamu."

Merekapun tukar posisi.

"Pegang yang bener!"

"Iya, ini udah bener!"

Rey tidak omdo dan benar-benar bisa melakukannya dengan baik. "Tuh lihat, gampang kan?" Tapi dia tidak sadar, jika setiap kali tubuhnya terangkat, wajahnya dengan wajah Acha berjarak sangat dekat. Dan hal itulah yang membuat Acha salting bukan main.

Bahkan suatu ketika, Rey tiba-tiba berhenti. Melipat kedua tangan di atas lutut, kemudian berkata, "Kasih tahu gue, susahnya di sebelah mana?"

Deg.. Deg.. Deg.. Suara jantung Acha yang berdegup tak karuan.

Nafas Rey yang berdesir mengenai wajahnya, membuat Gadis itu mendadak panas dingin.

Sebelum jantungnya meledak, Acha pun buru-buru bangkit. Situasi ini benar-benar bahaya!

Rey heran. "Kenapa loe? Dan pipi loe kenapa merah gitu?"

Acha langsung menutupi kedua pipinya dengan tangan. Arh! Rey memang kamvret! Setelah membuat dirinya baper, ia masih bertanya kenapa?

Disaat yang sama, Maura baru datang. Ia meminta maaf kepada Pak Alex, Sang Guru Olahraga. "Tadi di toiletnya antri Pak. "

Pak Alex bersedia memaafkan Maura dan menyuruhnya untuk segera mencari partner sit up.

Para siswa langsung heboh menawarkan diri. Namun Maura menolak halus, dan sudah bisa dipastikan....

"Rey.. Bantuin gue yah?"

Acha sangat berharap Rey akan menolak. Namun harapan tinggal harapan. Rey bersedia, bahkan terlihat dengan senang hati membantu Maura.

Dan tidak seperti Acha , Maura dapat melakukan sit up dengan baik. Membuat semua orang bertanya-tanya. Apa sih yang dia tidak bisa?

Rey menatap Acha yang masih mematung di tempatnya. "Lihat nih.. Cewek serba bisa."

JLEB AGAIN! Kata-kata Rey seakan mengandung racun yang membuat Acha mati perlahan. Sakit sekali Ya Allah..

"Kamu bener.. Gak seperti aku, dia emang sempurna.." Acha buru-buru menyembunyikan airmatanya. Airmata yang membuat pipinya serasa terbakar.

"Baper.. Gitu doang baper.."

Maura tersenyum dan berhenti sit up. "Maklumin lah Rey.. Dia kan masih childish.. Iya nggak Cha?"

"....."

"Eh, lupa.. Loe kan gak ngerti bahasa inggris yah? Jadi mana mungkin loe tahu artinya childish."

Acha membuang muka dan tersenyum pahit. Kalau dipikir-pikir Rey dan Maura memang cocok. Keduanya sama-sama tak berperasaan.

***

Di belakang kelas yang sepi, Gadis itu terus memainkan benda pemberian seseorang yang telah mencuri hatinya. Dengan gerakan cepat, tangannya memutar kotak-kotak itu kesana-kemari.

Sayangnya menyelesaikan benda itu bukanlah persoalan yang mudah. Apalagi saat pikirannya memaksa diri membayangkan kedekatan dua orang itu belakangan ini.

Saat keduanya berbincang akrab..

Saat keduanya tertawa bahagia..

Saat keduanya saling tersenyum..

Dan saat keduanya memuji kepintaran satu sama lain.

Hingga tanpa sadar, butiran hangat meluncur deras dari kedua matanya. Ia pun segera menyekanya dengan kasar.

Bodoh.. Untuk apa dirinya menangis? Sedangkan airmatanya tidak akan merubah apapun.

Tiba-tiba sebuah tangan mengambil benda itu dari genggamannya. Gadis itu pun mendongak..

Egy? Kaukah itu?

"Loe nangis gara-gara gue sama Maura, apa gara-gara gak bisa nyelesain rubik ini?"

Acha buru-buru mengusap pipinya. "Siapa yang nangis?"

Rey menghela nafas panjang. Ini cewek masih ngeles aja. Jelas-jelas tadi ia melihat air terjun dari kedua matanya.

Rey pun duduk disebelah Acha. "Kalau misalnya loe sakit hati gara-gara omongan gue sama Maura, gue minta maaf.

Niat gue cuma bercanda."

"....."

"Atau loe lagi punya masalah? Akhir-akhir ini gue perhatiin loe sering murung. Gak seceria dulu. "

Acha menelan ludah, lalu menatap dalam sepasang mata Rey. "Boleh aku curhat?"

"Boleh.. Tapi bayar." Rey nyengir.

"Aku serius Rey.."

"Iya boleh! Loe gak bisa diajak bercanda banget sih."

"....."

"Loe mau curhat soal apa emangnya?"

Acha menatap lurus ke depan. "Soal hati.. Hati yang gak bisa dibohongin."

"Emangnya loe punya hati?" Lagi-lagi Rey bercanda.

"Punya lah.. Emangnya kamu. "

"Apaan?"

"Kamu kan gak punya hati. "

"Kalau gak punya hati, gimana gue bisa hidup.. Dongo.."

Acha tersenyum pahit. Dongo mana dengan orang yang punya hati, tapi tidak punya perasaan?

"Kembali ke topik.. Soal hati? Emang hati loe kenapa?"

Acha menghembuskan nafas berat. Seberat kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan.

"Belum lama ini, aku jatuh hati sama seorang Cowok.

Tapi kayanya cowok itu suka sama cewek lain." Ia menatap Rey sendu. "Aku harus gimana?"

Entah apa yang membuat Rey yakin jika cowok itu adalah Egy. "Ya.. Kalo gitu loe harus lupain dia. "

"Kenapa?"

"Loe bilang dia udah punya cewek yang dia suka.

Jadi buat apa loe masih ngarepin dia?"

"...."

"Ya tapi terserah sih.. Kalau loe masih mau ngejar dia, silahkan.. Siap-siap aja nanti loe patah hati. "

Padahal tidak perlu bersiap-siap, hati Acha pun sudah patah berulang kali. Gadis itu mengerti dan akhirnya bangkit. Sebelum pergi, ia berkata, "Oke... Aku akan nurutin saran kamu."

"Loe mau kemana? Ini rubiknya gak diambil lagi?"

"Aku nggak butuh. "

**

Semenjak saat itu, Acha memutuskan untuk menjaga jarak dengan Rey. Bicara seperlunya, menjawab hanya jika ditanya, tak mengacuhkan jika di ajak bercanda, dan selalu mengabaikan jika Rey menelponnya.

Suatu ketika, Rey pernah bertanya. Apa yang salah dengan Acha? Kenapa dia berubah menjadi dingin seperti itu? Dan jawaban Acha..

"Maaf, aku lagi banyak masalah di rumah. Jadi aku butuh waktu buat sendiri. " Padahal semua itu dusta belaka.

Bersamaan dengan itu, Rey merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Jujur, ia merindukan sosok Acha yang dulu, yang kini seolah hilang ditelan bumi.

***

Suatu siang..

Rey mengunjungi Rumah Sakit tempat Om-nya bekerja. Selain untuk kontrol, ia juga ingin membicarakan sesuatu dengan Faisal.

"Gimana Om? Rey udah sembuh total kan?"

Faisal tersenyum sambil menatap data yang ada di tangannya. "Alhamdulillah.. Sekarang kamu sudah sehat sepenuhnya. "

Rey tersenyum senang seraya memegangi dadanya. Siapapun itu, ia benar-benar berterimakasih karena telah bersedia mendonorkan jantungnya untuk dirinya.

"Oiyah.. Rey pengen curhat sama Om."

"Curhat soal apa?"

"Soal Papah..

Udah berminggu-minggu Papah nggak pulang. Dan setiap kali Rey telfon, nomornya selalu nggak aktif."

Faisal cukup kaget mengetahuinya. "Oiyah?"

Keponakannya itu mengangguk. "Mamah bilang Papah lagi tugas di Surabaya. Tapi Rey nggak percaya. "

"Kamu udah nyoba pergi ke perusahaannya?"

Rey mengaku belum sempat. Dan lagi sebelumnya, ia benar-benar percaya pada ucapan Mamahnya.

"... tapi makin kesini, Rey makin curiga dan yakin kalau Mamah nyembunyiin sesuatu."

Faisal akhirnya menenangkan. "Kamu jangan khawatir.. Om akan mencari tahu semuanya demi kamu. "

***

Tok.. Tok..

"Masuk!"

Pintu ruangan itu terbuka, dan menampakkan sosok seorang wanita. "Permisi Pak, Bapak kedatangan tamu,"

"Siapa?"

Sekretaris Surya segera menyingkir, dan memperlihatkan keberadaan Faisal di belakangnya.

Surya langsung menutup berkas yang semula tengah dia baca. "Kamu bisa pergi," ucapnya pada Si Sekretaris.

Kemudian, ia menyuruh Faisal duduk.

"Ada apa malam-malam begini?"

Faisal langsung to the point. "Rey bilang sudah berminggu-minggu Kakak tidak pulang.. Lalu sebenarnya Kakak tinggal dimana selama ini?"

Surya terdiam. Segan baginya memberitahu Faisal. Bahwa sekarang, ia sudah mempunyai keluarga baru dan tinggal bersama mereka.

"Meskipun aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kakak dan Kakak ipar, aku mohon pulanglah..

Rey bilang dia sangat merindukan Papahnya. "

"Maaf, tapi aku tidak bisa.. Sekarang, pergilah." Surya bangkit dan berbalik.

Faisal emosi. "APA SAMPAI DETIK INI KAU MASIH BELUM BISA MENERIMA KELUARGAKU?!!!" Teriaknya, seraya berdiri. Rasanya ia sudah tidak tahan lagi.

Surya pun menoleh dan menatap tajam mantan adik iparnya.

"Meskipun kau terpaksa menikahi Kakakku, kupikir seiring berjalannya waktu, kau akan berubah dan mau menerimanya. Ternyata aku salah..

Kau bahkan tak pernah peduli padanya!"

"....."

"Dan hanya karena Rey bukan anak kandungmu, kau tidak pernah menyayanginya..

Padahal selama ini dia begitu menyayangimu. "

"Sepertinya Kakakmu belum memberitahu apa yang terjadi diantara kami. " Karena Faisal terus memancing, Surya tidak punya pilihan lain.

"Maksudmu?"

"Kami sudah bercerai.. Dan aku sudah mempunyai keluarga baru. "

Faisal tercengang mendengarnya.

Dan yang terjadi selanjutnya...

Faisal keluar dari pintu utama perusahaan dengan langkah cepat. Memasuki mobil, seraya membanting pintunya sekeras mungkin.

Terngiang kembali ucapan Surya barusan.

"Karena itu, aku bukan lagi bagian dari keluargamu.

Jadi sekarang, pergilah.. Aku sudah tidak ingin berurusan dengan kalian. "

Faisal mencengkeram erat stir mobilnya. Lelaki itu benar-benar tidak berperasaan!

Dengan kecepatan tinggi, ia pun menjalankan mobilnya dan berniat menemui seseorang detik itu juga.

Dari dalam mobil, seorang pria memperhatikan kepergiannya dan langsung menelfon seseorang. "Dia sudah pergi. "

 

Untuk kesekian kalinya, Acha dan Rey ditakdirkan bertemu di minimarket itu. Awalnya Rey segan untuk menyapa. Namun akhirnya, ia memberanikan diri. "Mau belanja?"

Acha hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam sana.

Tiba di dalam, keduanya mendengar lagu Lumpuhkanlah ingatanku-nya Geisha yang sedang diputar di sana.

~Jangan sembunyi..

Kumohon padamu jangan sembunyi..

Sembunyi dari apa yang terjadi..

Tak seharusnya hatimu kau kunci~

Acha berusaha tidak peduli dan melangkahkan kaki menuju tempat makanan. Rey sendiri ke tempat barang.

~Kau acuhkan aku..

Kau diamkan aku..

Kau tinggalkan aku..

Lumpuhkanlah ingatanku hapuskan tentang dia..

Ku ingin ku lupakannya~

"Kakak kenapa nangis?" Tanya seorang anak kecil yang tanpa sengaja melihat jatuhnya airmata Acha.

Gadis itu buru-buru mengelap airmatanya. Ia tersenyum palsu. "Kakak kelilipan Dek."

Ajaibnya, Acha dan Rey selesai bersamaan. Cowok itu pun mempersilahkan Acha membayar belanjaannya duluan.

"Sekalian bedak wardah nya Kak? Mumpung sedang ada diskon 20%."

Acha tersenyum dan menolak halus.

"Bedak dia udah ganti Mbak," celetuk Rey , tiba-tiba.

Acha hanya diam. Sementara Mbak kasir kepo, "Oiyah? Jadi bedak apa Mas?"

"Bedak bercula satu."

Mbak Kasir ngakak so hard. ITU BADAK BAMBANG!

Handphone Rey tiba-tiba berdering..

"Halo?"

'.............'

Pemuda itu shock dan refleks menjatuhkan keranjang belanjaannya.

Acha heran. "Rey .. Kamu kenapa?"

Rey menurunkan handphonenya. Menatap Acha dengan mata berkaca-kaca, dan menjawab dengan suaranya yang gemetar, "Om gue meninggal Cha.."

BERSAMBUNG...

1
Cicih Sophiana
makasih jg thor... ceritanya bagus aq suka... salam sehat tetap semangat dan sukses slalu thor...
Cicih Sophiana
tuh yg kamu benci Maura dia menjenguk mu...
Cicih Sophiana
Aq kirim bunga untuk othor...
tetap semangat sehat sllu
Cicih Sophiana
tenang Cha Rey pasti kembali...
semoga aja Rey selamat dan baik" aja
Cicih Sophiana
klo kenyataan nya sepertinya susah mencari yg seperti Egi dan Acha...
Cicih Sophiana
sukur lah Acha sudah sembuh ingatan nya... semoga Rey jg menerima Acha apa nya...
Cicih Sophiana
waduh kapan mereka mau damai kembali thor... aq kira begitu bertemu mereka akan saling merindukan...
Mamah Bira: sebentar lagi ingatan Acha kembali kok kak, ikuti terus ceritanya yah
total 1 replies
Cicih Sophiana
semangat thor... sehat sll
Cicih Sophiana
Acha itu cuma pura"amnesia Rey... biar kamu penasaran 😁
Cicih Sophiana
pergilah Rey nanti setelah dewasa kalian di pertemukan dan berjodoh... semogs
Cicih Sophiana
Reynya kenapa ga di dorong aja Cha... ini malah kamu lindungin pake punggung...
Cicih Sophiana
semoga Acha selamat dan bisa membuka topeng si Maura perempuan jahat...
Cicih Sophiana
siapa ayo Rey...
Cicih Sophiana
Acha semangat yah... seperti othornya yg selalu semangat 💪🥰🥰
Cicih Sophiana
jangan sampai putus Acha dan Rey ya thor walau pun mereka sdh tau siapa Surya sebetulnya...
Cicih Sophiana
ayolah Rey terima kasih sama aq... karena aq yg melarang Acha pergi🤭😁😁
Cicih Sophiana
Acha ko menyerah begitu aja sih? perjuangkan dong cinta kamu... kan Rey jg sama cinta kamu...
Cicih Sophiana
cuekin aja Acha jauhin Rey... biar rasa Rey
Cicih Sophiana
apa yah suka ga yah???
othor aja deh yg jawab...😁
Mamah Bira
Iyah kakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!