Indonesia
NovelToon NovelToon
Nikah Muda? Siapa Takut!

Nikah Muda? Siapa Takut!

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Nikahmuda / Nikah Kontrak
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: dadannn

Reya cuma patah hati.

Bukan masalah besar.

Gadis itu hanya jadi lebih sering berkata kasar, lupa makan, atau salah mengisi data beasiswanya sehingga ia gagal kuliah.

Bukan masalah besar.

Semua ini bermula ketika lelaki yang sudah hampir dua tahun menjalin kasih dengannya, mengaku kalau ia telah lama berselingkuh dan hanya memanfaatkan Reya saja. Seolah belum cukup, semesta kembali menjebaknya dalam sebuah perjodohan yang terjadi akibat janji sang kakek di masa lalu. Reya yang dilanda depresi berat, jelas hampir semaput dan mengamuk.

Namun, saat ingin menolak perjodohan tersebut. Gadis itu justru menemukan peluang untuk kembali meraih mimpinya yang hampir sirna.

"Kamu seolah mengatakan jika saya adalah orang mesum yang gemar mengincar tubuh gadis muda."

"Oh, apa anda lebih tertarik pada lelaki muda?"
di depannya sang lawan bicara tersedak dengan secangkir americano yang sedang ia minum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dadannn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 08: Aryasatya

Menurut sebuah studi yang pernah Reya baca. Memandang pria tampan dapat meningkatkan memori dan memperbaiki mood. Oleh karena itu, bahkan di antara kumpulan bunga-bunga menawan. Gadis itu justru terpaku pada sesosok anak adam di hadapannya.

Eureka!

Rasanya seperti menemukan air setelah berminggu-minggu tersesat di padang pasir. Tuhan maha baik.

Setelah sekian lama terbayangi oleh wajah menjijikan zaif, kini Reya bisa sedikit membersihkan memori buruknya.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya gadis itu setelahnya.

"Bisakah saya melihat-lihat terlebih dahulu?"

"Tentu."

Reya berdiri dibalik meja kasir. Sesekali melirik si lelaki muda jika saja ia butuh bantuan. Sampai langkahnya terhenti di sekumpulan bunga Marigold.

"Saya mau yang ini."

"Baik Tuan."

Lelaki itu tidak banyak bicara. Ia memilih duduk di kursi yang Reya duduki sebelumnya. Dengan pandangan yang menatap lurus pada gadis yang sedang menyiapkan pesanannya.

Reya berusaha fokus pada pada pekerjaannya. Tanpa sadar gadis itu membungkus bunga tersebut buru-buru. Sangat tidak nyaman ditatap sedemikian rupa, bahkan oleh orang tampan sekalipun. Itu terdengar cukup mengerikan.

"Silahkan Tuan." Ujar sang gadis menghampiri pelanggannya tersebut.

Sang pria menerima bunga tersebut. Namun entah kenapa tak kunjung bangkit dari posisinya. Reya bisa mendengar pria itu menghela nafas sebelum akhirnya membuka suara.

"Bisa kita bicara sebentar."

Gadis itu bingung setengah mati. Reya ingat betul jika mereka hanya pernah berpapasan sekali di rumah sang nenek. Sang gadis menaruh curiga, dengan gelagat waspada.

Belakangan ini sedang marak aksi penipuan. Bisa saja pria menawan ini salah satunya. Karena bahkan dari jaman nenek moyang, wajah menawan sering dijadikan perangkap untuk mematai-matai kolonial.

Namun, dengan tenang gadis itu memilih untuk duduk di hadapan sang pria.

"Apa kita pernah saling mengenal sebelumnya?" Bukan tanpa sebab Reya bertanya demikian. Gadis itu punya kebiasaan buruk sulit mengingat nama dan wajah seseorang. "Hanya untuk memastikan..." batinnya.

"Tidak. Perkenalkan, saya Gibran Putra Aryasatya. Cucu dari Arman Aryasatya."

Oh, jadi pria ini adalah cucu kakek dengan wajah galak itu. Kenapa Reya tidak berpikir demikian sebelumnya. Padahal jelas-jelas mereka bertemu di rumah si nenek lampir. Sepertinya Desri cukup beruntung untuk bisa menikahi pria ini.

"Dan kamu adalah Shreya bukan?" Gadis itu mengangguk membenarkan.

"Kamu pasti tau tentang perjodohan diantara keluarga kita."

Reya kembali mengangguk. Dalam hati menerka ada apakah gerangan. Apa ini soal undangan pernikahan? Dasar Desri, bisa-bisanya membiarkan calon suaminya repot begini. Padahal kan sepupunya itu bisa saja menyerahkan undangannya sendiri.

"Baguslah jika kamu sudah tau sebelumnya. Langsung saja, saya mau kamu menjadi calon pengantin saya." Ucap sang lelaki kemudian menyodorkan karangan bunga Marigold tersebut kepada Reya.

"Huh?!"

Apa yang pria di hadapannya ini katakan? Apa dia sedang mencoba membuat lelucon. Bukannya sudah jelas jika Reya tidak terlibat sedikitpun dalam perjodohan itu. Gadis itu juga yakin seratus persen jika sang nenek lampir tidak akan membiarkannya begitu saja.

Reya juga tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama. Memangnya ini serial televisi romansa. Tidak, tidak, tidak, Reya tidak semempesona itu untuk membuat pria manapun langsung jatuh hati padanya. Dan lagi, ia ingat betul pada pertemuan pertama mereka. Saat itu wajah Reya pasti terlihat seperti pikolo yang sedang mengamuk.

"Anda sedang bergurau?" tanya Reya disertai ekspresi geli.

Dan lagi, orang bodoh mana yang melamar seorang gadis dengan karangan bunga tahi ayam. Reya merasa semesta kembali menguji kesabarannya.

"Aneh sekali. Biasanya para wanita akan kegirangan saat ada lelaki tampan yang melamarnya dengan karangan bunga" Gibran, sebagai lelaki dewasa yang cukup menyadari ketampanannya. Baru kali ini selama dua puluh tiga tahun hidupnya, ada seorang gadis yang menatapnya dengan ekspresi jijik seolah ia adalah hewan melata.

Reya mendengus untuk yang kesekian kali. Apakah itu yang sang pria sebut sebagai melamar? Ia jelas sedang memerintah. Oh kakek di surga, kenapa engkau harus membuat janji tidak masuk akal itu.

"Dengan karangan bunga tahi ayam?"

"Jika itu masalahnya, saya bisa membeli bunga yang lain. Katakan saja apa yang kamu mau." Laki-laki itu berkata serius, seolah membelikan bunga untuk pemilik toko bunga bukanlah sebuah lelucon yang lucu. Reya bertaruh dua ratus ribu rupiah jika Naura akan tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya.

Dan lagi, sekarang bukan itu masalahnya! Siapa juga yang peduli jika pria itu bahkan memberikan bunga sekebun-kebunnya. Jawaban Reya tetap tidak!

"Kita baru bertemu dua kali. Saya bukan orang yang percaya cinta pada pandangan pertama. Dan lagi, jangan salah paham. Saya tidak pernah terlibat dengan perjodohan itu" Jelas gadis itu tegas.

Lelaki di hadapannya terdiam. Kali ini Reya dengan berani menatap netra kelam itu. Tidak peduli bagaimana lelaki itu balas menatapnya. Reya hanya takut pada Tuhan dan kedua orang tuanya. Dan anjing pak jamal tentu saja, ia hanya takut jika tergigit dan berakhir terinfeksi rabies atau semacamnya.

"Sudah jelas jawaban saya adalah tidak. Jika tidak ada hal lain yang ingin anda katakan. Silahkan." Gadis itu bersiap berdiri, mempersilahkan sang lelaki untuk pergi.

"Bahkan jika saya mengatakan akan membiayai semua keperluan perkuliahan kamu sampai lulus?" Perkataan itu sukses membuat Reya mematung.

"Jangan main-main dengan saya." Ucap gadis itu mulai murka. Darimana lelaki sialan dengan wajah tampan sialannya itu tau tentang ini. Reya yakin ini pasti ulah wanita tua yang berusaha menjelek-jelekannya.

"Itu tidak penting." Gibran menopang dagu dengan kedua tangannya. Membalas raut murka sang gadis dengan senyum jenaka. "Saya juga tidak setuju dengan perjodohan itu. Tapi karena satu dua hal saya terpaksa mengikuti keinginan beliau." Reya jelas tau kalau beliau yang laki-laki itu maksud adalah si kakek berwajah garang.

"Dan saya juga tahu betul gadis pintar seperti kamu tidak bisa dibujuk secara cuma-cuma. Ini sangat sederhana Shreya, kamu hanya perlu menjadi istri secara tertulis. Kita berdua akan sama-sama untung."

Reya kembali menatap Gibran seolah lelaki itu adalah hal paling menjijikan yang pernah ia lihat. Membuat lawan bicaranya kembali merasa harga dirinya seolah sedang dilucuti.

"Apa anda sejenis orang mesum atau semacamnya?"

Gebrakan meja kembali terdengar. Kali ini pot keramik seharga empat puluh lima dolar itu hampir menggelinding jatuh jika saja Reya tidak menangkapnya. Gibran selaku yang lebih tua, mulai kehilangan sikap tenang yang dengan susah payah ia pertahankan.

"Bukan begitu!"

"Lalu apa?" balas gadis itu tidak mau kalah.

Gibran tampak mengusap wajahnya, kesal dituduh sedemikian rupa oleh seorang gadis ingusan.

"Kamu akan menyesal jika tidak menyetujui perjodohan ini." Ucap lelaki itu kemudian menyodorkan selembar kertas yang langsung disambut oleh sang lawan bicara.

"Ini..."

"Benar, ini perjanjian serta syarat selama kita menjadi sepasang suami istri." Gibran bahkan merasa cukup aneh saat mengucapkan kata keramat itu. "Keluarga kita tidak boleh tau soal perjanjian ini."

"Tidak saling mencampuri privasi, bebas memiliki hubungan dengan orang lain asal tidak ketahuan oleh anggota keluarga, tidak melewati batas untuk hubungan suami istri yang sebenarnya, dan..." Reya menjeda kalimatnya.

"Pihak pertama akan membiayai penuh pendidikan pihak kedua sampai lulus bahkan saat kontrak satu tahun ini berakhir." Reya terdiam cukup lama setelahnya.

"Shreya, dari segi manapun kamu mendapatkan keuntungan lebih besar dari perjanjian ini."

"Apa jaminannya jika anda tidak akan ingkar janji lalu berhenti membiayai pendidikan saya." Gadis itu menelan ludahnya. Otaknya sudah buntu, dia bisa saja tanpa sadar melakukan hal gila hanya untuk cita-citanya yang satu itu. Apakah ini jawaban dari doanya? yang benar saja.

Gibran terlihat merogoh saku celananya. Lalu mengeluarkan kotak kecil berbeludru hitam yang Reya yakini sebagai kotak cincin. Lelaki itu membuka lalu menyodorkannya pada Reya. Benar saja, di dalamnya terdapat cincin yang Reya yakin sekali bahkan jika ia bekerja seumur hidup sekalipun, gadis itu tidak akan mampu membelinya.

"Ini cincin warisan turun-temurun. Dan hanya akan diberikan pada menantu di keluarga kami. Kamu bisa menyimpannya setelah resepsi nanti, jika saya melanggar perjanjian kita. Kamu boleh memiliki cincin ini." Jelas Gibran sebelum kembali menyimpan kotak tersebut di saku celananya.

Reya kembali berpikir keras. Jika saja ia bisa memiliki cincin itu, sang gadis tidak harus berurusan dengan lelaki narsis dan arogan seperti Gibran.

"Dan tentu saja, jika kamu mencoba mencuri cicin ini. Saya bebas menjebloskan kamu ke dalam penjara." Lanjut Gibran seolah bisa membaca isi hati tergelap gadis dihadapannya itu.

Reya mendecih.

"Temui saya di alamat ini dan kita akan menyelesaikan perjanjiannya." Gibran menyodorkan sebuah kartu nama yang disertai alamat di belakangnya. Lalu melangkah meninggalkan sang gadis.

"Bagaimana dengan bunganya?" tanya Reya saat lelaki itu berada di ujung pintu masuk.

"Saya membeli itu untuk kamu. Oh iya, dan lagi sebagai penjual bunga seharusnya kamu tau jika Marigold itu bagai koin yang memiliki dua sisi."

Reya menaikkan alisnya bingung. Membuat Gibran tersenyum mengejek karena berhasil membuat gadis keras kepala itu penasaran.

"Itu bukan untuk keindahan atau kesucian. Tapi patah hati dan kesedihan."

Setelah berkata demikian, Gibran berlalu hingga punggungnya menghilang dari pandangan. Meninggalkan Reya yang berusaha keras mencerna maksud sang lelaki tersebut.

Sampai beberapa saat setelahnya Reya mengerti dan tanpa sadar meremas tangkai bunga itu dengan kencang.

"F*ck*ng stalker." Ucap gadis itu datar.

1
Dieah Komalasari
padahal.novel ini bagus tapi kok gk ada yg mampir
dadannn [ig: dannn.piw]: hahaha dimaklumi saja kakak, namanya juga masih pemula. Aku berterima kasih banget sama kakak-kakak semua yang masih setia baca dan nungguin novel yang updatenya tiap purnama ini. Aku juga akan sangat senang jika kk bisa merekomendasikan novel ini ke teman-teman kk yang lain. Aku akan tetap tamatin novel ini dengan banyak atau sedikitnya pembaca, so stay tune ^^
total 1 replies
ChaManda
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ChaManda
Bablasss banget yaaaa, dari dua sampai ke 8/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
dadannn [ig: dannn.piw]: aku aja mikirnya keburu cape duluan
total 1 replies
ChaManda
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ChaManda
/Casual//Casual//Casual//Casual/
ChaManda
heh, moncongnyaa/Awkward/
ChaManda: Untung udah dieksekusi sana Reya duluan/CoolGuy/
total 2 replies
ChaManda
Dian, kukira cewek, ternyata cwok/Sob/
ChaManda: kupikir typo, Dion gitu kak, ternyata beneran dian/Scowl/
total 2 replies
Miss Kay
hai kak mau tanya novelnya sudah ttd kontrk blm
dadannn [ig: dannn.piw]: ah salam kenal juga kak. Aku juga baru disini. Untuk syaratnya seperti yang tertera di pengajuan kontrak, minimal 20 chapter, 20 ribu kata. Setelah pengajuan kontrak, karya kita akan di riview oleh pihak nt dalam waktu kerja 7 hari atau bisa kurang dari itu. Semangat nulisnya kak ^-^
total 3 replies
KLOWOR GAMING apa??
Aku sudah kehabisan kata-kata untuk memuji karya ini, sungguh luar biasa.
dadannn [ig: dannn.piw]: kak, makasih banget. Ini bikin aku senang, ternyata karya pertamaku bisa dinikmati sama pembaca 🥹
total 1 replies
Kaworu Nagisa
Wah bahasanya keren banget, bikin suasana terasa hidup.
dadannn [ig: dannn.piw]: Terima kasih atas pujiannya kak, tapi saya masih pemula banget. Ini karya pertama saya, semoga kakak dan pembaca lainnya suka. Mohon dukungannya 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!