Dia gadis yang baik hati, tetapi lemah raga, jiwa dan hati. Kehidupan kejam sudah dinikmati sejak dia terlahir ke dunia. Namun, ketika remaja, takdir mengkhianatinya di mana waktu membakar impian dalam sekejap mata karena permainan teman sekelasnya.
Padahal, seumur hidup, Anaya Ivy Aurora hanya memiliki satu harapan yang menjadi impian sederhana yaitu mendapatkan cinta dan kepercayaan orang-orang di sekitarnya. Namun, di balik malapetaka di mana ia tak lagi bernyawa, tiba-tiba datang cahaya jiwa yang tersesat, lalu masuk menggantikan keberadaannya.
Ingatan semasa hidup menjadi jalan untuk mengawali kehidupan dengan pemilik jiwa yang baru. Apakah Anaya Ivy Aurora yang mengubah wajah dan nama menjadi Shanaya Zahra Raisa bisa mengubah takdir dan memenuhi impiannya dengan jalan yang ditetapkan sang pemilik raga?
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Subscribe, Like, Comment. Mohon dukungannya ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8~KESEMPATAN
Tawaran little devil terdengar cukup menggiurkan, begitu pikir Jihan. Sayangnya, gadis itu masih belum tahu bahwa Loli merupakan salah satu siswa berprestasi dan menjadi kebanggaan sekolah SMA Star Light Internasional yang berada di daftar nomor lima. Belum lagi deretan piala hasil kejuaraan dari berbagai cabang olahraga semakin melambungkan pemilik julukan little devil.
"Boleh, tapi apa kamu bisa melewati tiga ronde pertandingan taekwondo? Sesuai dengan peraturan dimana menyatakan kemenangan hanya bisa diperoleh jika melebihi ekspektasi dari pertandingan sebelumnya. Semua orang tahu, aku mengalahkan peserta terakhir dalam dua ronde permainan." tutur bangga Jihan seraya menoel hidung separuh mancungnya.
Bukannya menciut, Loli justru dengan santai mengangkat kedua tangan. Gadis itu mengikat rambut menjadi satu agar bisa lebih bebas bergerak, bahkan ia juga menggulung lengan seragam hingga penampilan kini semakin mirip preman jalanan. Tatapan mata tenang tetapi siap menenggelamkan siapapun penantang yang ingin merasakan pukulan skakmat ala gadis bar-bar.
"Cayo, my little devil!" Juna begitu semangat menyemangati Loli sampai berseru tanpa memperdulikan sekitarnya. Bagi dia yang terpenting sang sahabat bisa selalu menjadi contoh terbaik untuk menegakkan kekerasan di tempat seharusnya.
Mungkin terkesan berlebihan tapi pemikiran tak bisa dipisahkan dari fakta yang merupakan kebenaran. Terlebih lagi, ia merasa dari pernyataan Jihan jelas meremehkan Loli. Sementara di seluruh SMA Star Light Internasional tidak satupun siswa berani menantang karena mengetahui betapa kejamnya little devil setiap kali di atas arena pertandingan. Gadis itu tidak pernah pandang bulu mengenai lawan meski sesama wanita sekalipun.
"Kalian berdua, silahkan ke tempat pertandingan! Apa masih ada yang ingin mendaftarkan diri ikut tantangan?" tanya si guru memperhatikan para siswa di depannya.
Jihan, Loli dan Juna serta beberapa siswa meninggalkan kerumunan, sedangkan Luna masih setia menemani dua insan yang masih saja memasang wajah datar. Hingga kedatangan Maya, Siti dan Ghea membuat para siswa yang tersisa berbisik entah membicarakan apa. Mungkin karena ketiga siswa SMA Gemilang Angkasa itu cukup terkenal di kalangan anak sekolah lainnya.
"Hi, Maya. Apa kamu mau ikut nantangin anak SMA Star Light Internasional?" tanya seorang pemuda yang terlihat mencari perhatian Maya bahkan tampak sok mengakrabkan diri. Padahal gadisnya bersikap acuh tak peduli pada keberadaannya.
Ghea menepis raga si pemuda agar menjauh darinya dan kedua temannya, "Permisi, boleh aku tahu di antara kalian bertiga, siapa yang menjadi nomor satu di sekolah?" pertanyaannya memang biasa tapi jelas memiliki tujuan tersembunyi yang mewakili keinginan hati seseorang tanpa ia sadari.
"Luna, dia mencarimu." celetuk Alby tanpa basa-basi mengajukan sahabatnya meski ia tahu jika yang di maksud Ghea adalah Raisa. Bagaimanapun sang sahabat juga merupakan nomor satu di sekolah dalam bidang teknologi. Jadi tidak salah juga dengan pernyataannya.
"Benarkah? Bukannya siswa nomor satu bernama Shanaya Zahra Raisa." timpal Maya to the point yang membuat Raisa sendiri tersenyum tipis.
"Kalian tidak perlu khawatir, Luna bukan hanya nomor satu di kelasnya, tapi dia juga termasuk lima besar di sekolah kami. Seharusnya semua siswa yang hadir di sini tahu dengan benar kalau prestasi bukan hanya diukur dari satu sisi saja. Atau kalian menganggap sahabatku tidak layak mengikuti tantangan?" sahut Alby dimana ia begitu sigap melindungi kebanggaan sekolahnya. Lebih tepatnya menjaga sang gadis kesayangan.
Seberapa buruk situasi yang menerpa, ia tak pernah berniat meninggalkan orang-orang di dalam kehidupannya. Apalagi jika sampai orang asing dengan sengaja memprovokasi kedamaian mereka hanya karena tidak mengetahui kebenaran dari jalan perjuangan mereka selama ini. Persahabatan merupakan ikatan hati yang pasti melengkapi satu sama lain.
"Tenanglah, Ka!" Raisa meraih tangan kanan Alby, lalu ia genggam sepenuh hati. Hanya karena situasi, ia tahu benar rasa tak nyaman singgah di hati pemuda yang selalu menjadi pelindungnya. "Kita di sini cuma mewakili sekolah dan tidak salah juga kalau siswa dari sekolah lain ingin mengajukan tantangan. Lagipula acara ini untuk mengetahui perkembangan dari setiap sekolah."
"So, kenapa kita tidak memberikan mereka kesempatan agar semua siswa belajar dari sekolah berbeda." Raisa mengedipkan kedua mata, ia berharap Alby tidak menghentikan tindakannya. Kemudian kembali mengalihkan perhatian ke depan di mana hati merasa ia harus tetap bertahan di tengah terpaan bayangan masa kelam.
Sikap terbuka Raisa menjadi sorotan para siswa yang seketika mulai mengubah suasana. Tatapan kagum berselimut rasa menghargai, mereka mengira jika anak orang kaya pasti bersikap sesuka hati tapi yang terjadi justru sebaliknya. Tidak ada arogan, apalagi sifat sombong yang menunjukkan posisi dari seorang siswa berprestasi.
"Udah cantik, baik lagi." ucap spontan beberapa siswa yang menyukai pikiran Raisa sebagai generasi muda.
"Bener, kira-kira punya pacar gak, ya?" sahut siswa lain tanpa pikir panjang mengutarakan rasa penasarannya.
Suara para siswa yang dengan senang menyanjung Raisa cukup menyita keheningan tetapi di telinga seseorang justru terdengar menjengkelkan bahkan menghantarkan kegelisahan dan kekesalan ke dalam lubuk hati terdalam. Kedua tangan beralih ke belakang agar tidak ada yang melihat kepalan tangan meski wajahnya terus menyunggingkan senyum manis tanpa pemberontakan.
"Jika di antara kalian ingin bertanding, silahkan daftar! Sebagai tambahan, aku bisa menambahkan dua kuota untuk masuk ke perusahaan." putus Alby dimana pemuda itu sengaja membuka jalan untuk semua siswa dari sekolah lain.
"Prince ...," panggil Luna yang berniat menghentikan Alby agar tidak bersikap agresif tetapi tiba-tiba ia merasakan sentuhan lembut yang mencengkram pergelangan tangan kanan kiri. Sontak saja mengalihkan perhatian hingga tatapannya terpatri pada netra temaran yang meminta ia untuk tetap diam.
Apalagi yang bisa dilakukannya selain menjadi gadis penurut. Apalagi kedua sahabatnya selalu sehati, sepemikiran dan sepaham. Jadi bisa dipastikan tidak ada yang berani menolak meski harus menjungkirbalikkan kehidupan seseorang. Hubungan dari hati ke hati memang begitu luar biasa ketika ikatan bukan untuk mendapatkan keegoisan ataupun kepuasan sendiri.
"Tunggu dulu," Maya mengernyit, ia merasa ada yang tidak benar mengenai pernyataan si pemuda tampan. "Bagaimana kamu bisa menyediakan kuota tambahan? Bukannya kuota didapatkan dari perusahaan. Jangan mempermainkan harapan karena bagi kami yang hanya orang biasa, kuota sangat penting untuk masa depan."
"Heh, apa maksudmu?" Luna melepaskan tangan Raisa, gadis itu melangkah maju hingga menyisakan jarak beberapa jengkal dari hadapan Maya. Kedua tangan bersedekap, tatapan mata tajam menatap tak suka ke arah gadis yang baginya tak memiliki pesona apa-apa. "Asal kalian tahu, Alby Gibran Virendra bukan seorang pembual. Dia, putra tunggal pemilik perusahaan sekaligus yayasan tempat sekolah kalian menimba ilmu."
"Kamu, beraninya menuduh ka Alby tanpa alasan apalagi tidak memiliki bukti. Jika dia mau,saat ini juga bisa menggunakan hak istimewanya." sambung Luna tanpa menurunkan nada suara tegasnya karena ia tak terima atas perkataan Maya.