Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.
Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.
Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.
Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.
Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : ANAK YANG MEMILIH KEHANGATAN
...BAB 8...
...ANAK YANG MEMILIH KEHANGATAN...
Malam sudah semakin larut ketika mobil Rian memasuki halaman rumah. Lampu-lampu taman masih menyala, menerangi jalan setapak menuju pintu utama.
Rian turun dari mobil dengan wajah yang terlihat sangat tegang.
Sejak meninggalkan studio beberapa waktu lalu, pikirannya tidak berhenti berputar. Pengkhianatan Nita masih jelas di depan matanya. Senyuman perempuan itu dan tatapan pria yang bersamanya. Lalu pengakuan bahwa hubungan tersebut sudah berlangsung selama beberapa bulan.
Rian mengepalkan tangan. Ia tidak ingin mengingatnya lagi.
Begitu masuk ke rumah, ia langsung memanggil Mira. “Mira.”
Perempuan paruh baya itu yang sedang berada di dapur segera menghampiri. “Iya, Pak?”
“Kemas semua barang milik Nita.” perintahnya.
Mira terdiam. “Kemas?”
“Iya.”
Mira menatap wajah majikannya. “Tapi...”
“Semuanya.” Nada suara Rian tegas. “Pakaian, sepatu, tas, dan barang-barang pribadinya. Jangan ada yang tertinggal.”
Mira semakin bingung. Namun ia tidak berani banyak bertanya.
“Baik, Pak.” Mira kemudian berjalan menuju kamar Nita.
Rian berdiri beberapa saat di ruang tengah. Ia mengembuskan napas panjang. Rumah yang biasanya terasa luas kini justru terasa sesak.
Di kamar belakang, Wulan baru saja selesai menidurkan Delon dan Astrid. Kedua anaknya sudah terlelap.
Wulan hendak memejamkan mata ketika mendengar suara langkah kaki dari luar.
Kemudian terdengar suara Rian. “Mira, saya bilang semua barangnya dikemas malam ini.”
Wulan langsung membuka mata. Ia duduk di tepi ranjang. Ada sesuatu yang tidak biasa.
Nada suara Rian terdengar sangat marah. Wulan tidak ingin mencampuri urusan majikannya. Namun suara-suara dari ruang tengah cukup terdengar jelas.
“Mira, jangan tanya apa pun. Lakukan saja.”
“Baik, Pak.”
Wulan mengerutkan kening. "Barang Nita? Apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya.
Wulan tidak tahu bahwa beberapa jam sebelumnya, rumah tangga Rian dan Nita telah berada di ujung kehancuran.
Ia hanya tahu Nita pergi bekerja dan Ia tidak tahu apa yang terjadi di tempat syuting.
Wulan menarik napas. “Itu bukan urusanku.” Ia mencoba kembali berbaring.
Namun suara langkah kaki dan suara Mira yang sedang membawa beberapa barang membuatnya sulit tidur.
Di ruang kerja, Rian sudah duduk di kursi. Kedua tangannya memijat pelipis. Kepalanya terasa berat.
Lelaki itu sudah mengambil keputusan. Tidak ada lagi yang perlu dipertahankan. Pernikahan itu sudah berakhir.
Namun ketika teringat Rana, dadanya kembali terasa sesak. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya kepada putrinya. Rana masih terlalu kecil.
Bagaimana mungkin seorang anak seusianya memahami bahwa kedua orangtuanya tidak akan lagi hidup bersama?
Rian menunduk. “Papa minta maaf, Nak.”
Tiba-tiba suara mobil terdengar dari luar. Rian mengangkat kepala. Mobil berhenti di halaman.
Beberapa detik kemudian, pintu rumah terbuka.
Nita masuk. Wajahnya terlihat sembap. Ia masih mengenakan pakaian yang sama seperti ketika berada di studio.
Rian keluar dari ruang kerja.
Begitu melihat suaminya, Nita langsung berjalan mendekat. “Mas!” Rian berhenti.
“Aku mau bicara.”
“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”
“Dengarkan aku dulu.”
“Aku sudah mendengar semuanya. Bahkan melihatnya sendiri.”
Nita menggeleng. “Aku bisa menjelaskan.”
“Menjelaskan apa?”
“Aku khilaf Mas...” lirihnya.
Rian tertawa pahit. “Khilaf selama berbulan-bulan?”
Nita terdiam. “Aku minta maaf.”
“Permintaan maafmu tidak akan mengubah apa yang aku lihat malam ini.”
“Aku tahu aku salah.”
“Iya.” Rian menatapnya dingin. “Kamu memang salah.”
Nita menangis. “Aku akan mengakhiri hubungan itu.”
Rian menggeleng. “Kamu sudah terlambat.”
“Mas, tapi aku masih mencintaimu.”
“Kalau kamu mencintaiku, kamu tidak akan melakukan itu, Nita!" rahang Rian kembali mengeras.
Nita terisak. “Aku tidak tahu kenapa aku bisa sampai seperti itu.”
“Dan aku tidak ingin tahu.” Rian berjalan melewatinya.
Nita mengejar Rian. “Kumohon jangan tinggalkan aku, Mas...”
Rian berhenti. “Aku tidak pernah meninggalkanmu, Nita.” menatap istrinya getir. “Tapi kamulah yang lebih dulu meninggalkan pernikahan kita.”
Nita terdiam. “Aku hanya sedang bekerja.”
“Jangan gunakan pekerjaan sebagai alasan.” Rian menggeleng. “Aku tidak pernah melarangmu menjadi model. Aku bahkan tidak pernah meminta kamu meninggalkan kariermu.”
“Lalu kenapa?” geleng Nita.
“Karena kamu bukan hanya sibuk bekerja.” Rian menatapnya penuh kecewa. “Tapi kamu juga memilih lelaki lain.”
Nita kembali menangis. “Aku akan berubah Mas...”
“Aku tidak percaya lagi.”
“Berikan aku satu kesempatan. Kumohon...” Nita menangkupkan kedua tangannya di dada.
“Sudah cukup.”
“Mas...”
“Aku sudah memberimu banyak kesempatan.”
Suara Rian mulai bergetar. “Setiap kali kamu pergi, aku selalu setia menunggumu. Setiap kali Rana mencarimu, aku bilang Mama sedang bekerja. Dan setiap kali kamu tidak pulang, aku meyakinkan diriku bahwa kamu punya alasan.” suara Rian meninggi, menarik napas kencang. “Tapi ternyata, selama ini aku hanya dibohongi.”
Nita menutup wajahnya. “Maafkan aku Mas.”
Rian memalingkan wajah. “Aku sudah mengambil keputusan.”
Suara tangisan terdengar dari lantai atas. “Mamaaa...”
Rian dan Nita langsung terdiam.
Rana terbangun. Anak kecil itu menangis sambil memanggil kedua orangtuanya.
Wulan yang mendengar suara tersebut segera keluar dari kamar.
Ia melihat Rian dan Nita masih berdiri di ruang tengah.
“Rana bangun.” Wulan segera menaiki tangga.
Rana berdiri di atas ranjang dengan wajah sembap. “Papa...”
Wulan menghampiri. “Sayang, kenapa menangis?”
“Mama... Papa berantem.”
Wulan mengusap kepala anak itu. “Tidak apa-apa.”
Namun Rana terus menangis. Ia kemudian memeluk Wulan ketakutan.
Nita yang mendengar putrinya menangis, ia segera berlari menaiki tangga menyusul Wulan.
Nita berjalan menghampiri Putrinya, membuka kedua tangan. “Rana, sini sama Mama.”
Rana berhenti menangis. Wajahnya penuh air mata. Nita tersenyum sambil menangis. “Mama di sini, sayang...”
Rana melepas pelukannya pada Wulan perlahan. Namun ketika ia berjalan beberapa langkah ke arah Nita, ia berhenti. Matanya melihat Wulan.
Kemudian tiba-tiba berbalik. “Mama Wulan!” Rana berlari dan langsung memeluk pinggang Wulan.
Wulan terkejut, ia menunduk, Rana menangis di pelukannya. “Jangan pelgi.”
Wulan mengusap punggungnya. “Mama di sini.”
Nita menatap putrinya getir. Air matanya semakin deras. “Rana...”
Rana menoleh. Ia sebenarnya merindukan ibunya. Setiap kali Nita pulang, Rana selalu berusaha mendekat. Tetapi kedekatan itu sering terasa canggung.
Nita adalah ibunya, namun karena terlalu sering pergi, ada jarak yang tidak bisa dijelaskan oleh seorang anak kecil.
Rana mengenal wajah Nita, mengenal suaranya, mengenal bahwa perempuan itu adalah Mamanya.
Tetapi rasa nyaman yang seharusnya tumbuh dari kebersamaan justru lebih sering ia dapatkan dari Wulan.
Nita mendekat. “Rana, ayo ikut Mama.”
Rana menggeleng. “Lana, mau cama Mama Wulan.”
Nita tersentak. “Rana, Mama akan bawa kamu.”
“Enggak!” teriak Rana, kedua tangan kecilnya semakin erat memeluk Wulan.
Wulan langsung merasa tidak enak. “Rana, Mama kamu sudah datang.”
Namun Rana menggeleng keras. “Mau Mama Wulan.”
Rian yang sudah berdiri di depan pintu kamar putrinya, hanya terdiam melihat putrinya.
Dadanya ikut terasa sakit. Ia tahu Nita sangat mencintai Rana. Namun ia juga tahu cinta tidak selalu cukup jika tidak disertai kehadiran.
“Rana,” kata Rian lembut.
Anak itu menoleh. “Papa.”
“Kalau kamu ingin bersama Mama, tidak apa-apa.”
Rana memandang Nita. Kemudian kembali memeluk Wulan. “Aku mau di sini.”
Nita menangis. “Mas... lihat anakmu.”
“Aku melihatnya.”
“Dia bahkan tidak mau ikut aku.”
Rian terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Wulan akhirnya berjongkok di hadapan Rana. “Sayang, Mama Nita datang jauh-jauh untuk bertemu kamu.”
Rana masih menangis. “Mama Nita sayang sama Rana?”
Nita segera mengangguk. “Tentu, Mama sayang sekali sama kamu.”
“Telus kenapa Mama pelgi telus?” Pertanyaan polos itu membuat Nita membeku.
Rian menundukkan kepala. Wulan pun terdiam.
Nita berusaha tersenyum. “Karena Mama harus bekerja.”
“Aku mau Mama di rumah.”
Air mata Nita jatuh lagi. Ia berjongkok di hadapan putrinya. “Maafkan Mama.”
Rana tidak menjawab. Ia hanya memegang tangan Wulan. Seolah tak ingin lepas.
Nita menatap tangan kecil itu. Kemudian menatap Wulan. Ada rasa sedih, malu, sekaligus kecewa dalam tatapannya.
“Kenapa dia lebih memilih kamu?”
Wulan langsung menggeleng. “Bu Nita, bukan begitu.”
“Lalu?”
“Rana hanya sedang ketakutan.”
Nita terdiam. Wulan melanjutkan dengan suara lembut. “Dia tetap membutuhkan ibunya.”
Rian memperhatikan Wulan. Perempuan itu tidak pernah mencoba mengambil tempat Nita.
Bahkan dalam keadaan seperti ini pun, Wulan masih membela posisi Nita sebagai seorang ibu.
“Terima kasih,” ucap Nita lirih.
Wulan mengangguk. Namun ia tetap menjaga jarak.
Malam semakin larut...
Mira telah selesai mengemasi barang-barang Nita. Beberapa koper sudah berjajar di dekat pintu.
Nita melihat semuanya dengan mata berkaca-kaca. “Jadi ini, benar-benar sudah selesai?”
Rian berdiri beberapa langkah darinya. Memalingkan wajah. “Iya.”
Nita memejamkan mata. “Mas, aku mohon.”
“Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini lagi.”
Nita kembali menangis.
Rian sendiri terlihat terpukul. Namun keputusannya sudah bulat. Ia tidak ingin hidup dalam pernikahan yang dipenuhi kebohongan.
Nita kemudian mengambil koper. Sebelum pergi, ia menoleh kepada Rana yang sudah tertidur di pelukan Wulan.
Tatapannya penuh kerinduan. “Rana...”
Anak itu tidak terbangun. Nita menahan tangis. Kemudian ia berjalan menuju pintu. Rian sama sekali tidak menahannya.
Pintu rumah terbuka. Nita melangkah keluar bersama koper-kopernya.
Untuk pertama kalinya, rumah besar itu benar-benar kehilangan seorang penghuni.
Wulan memandang dari kejauhan. Ia tidak tahu harus merasa apa. Ia hanya tahu satu hal.
Malam ini, kehidupan Keluarga Rian telah berubah.
Dan tanpa pernah Wulan inginkan, dirinya kini berada tepat di tengah perubahan itu.
Bersambung...