Indonesia
NovelToon NovelToon
Hujan Yang Tak Pernah Reda

Hujan Yang Tak Pernah Reda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Rico Warsa

Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Kotak Dokumen

Pagi menjelang, matahari yang jarang terlihat selama beberapa hari terakhir akhirnya menyapa kota dengan cahaya keemasan. Sinarnya menembus tirai tipis jendela mobil saat Kirana menyetir pulang sebentar ke rumah untuk berganti pakaian, sementara Ibu dan Sari tetap tinggal menemani Bapak yang kini sudah lebih stabil menjelang jadwal operasi.

Jalanan kota masih basah, meninggalkan genangan-genangan kecil yang memantulkan cahaya pagi seperti pecahan kaca. Kirana membuka jendela mobil sedikit, membiarkan udara segar pasca-hujan masuk—aroma tanah basah bercampur dengan wangi bunga kamboja dari halaman rumah-rumah yang ia lewati. Untuk sesaat, ia hampir lupa betapa kacaunya dua hari terakhir ini.

Rumah menyambutnya dengan kesunyian yang terasa aneh. Biasanya, meski hanya berdua dengan Ibu, rumah ini selalu punya suara-suara kecil—detak jam dinding, radio yang menyala pelan di dapur, atau televisi yang menyiarkan berita pagi. Kini, tanpa siapa pun di dalamnya, rumah terasa seperti menahan napas, seolah ikut merasakan ketegangan yang tengah dialami penghuninya di rumah sakit.

Kirana melangkah ke kamar lamanya, dan begitu pintu terbuka, waktu seakan berhenti. Kamar itu ternyata masih dibiarkan sama persis seperti saat ia tinggalkan delapan tahun lalu—poster band yang dulu ia gilai masih menempel di dinding meski warnanya mulai pudar, buku-buku kuliah semester awal tersusun rapi di rak, bahkan boneka beruang kecil pemberian Bapak saat ia lulus SMA masih duduk manis di atas ranjang, seolah menunggu pemiliknya kembali.

Ia duduk di tepi ranjang, jarinya menelusuri seprai yang berdebu tipis. Ada sesuatu yang mengharukan sekaligus menyesakkan melihat kamar ini terjaga rapi selama bertahun-tahun—bukti kecil bahwa meski banyak kebohongan yang tersimpan di rumah ini, mungkin masih ada ruang yang dijaga dengan harapan bahwa suatu hari ia akan kembali. Ia membayangkan Ibu, sesekali membersihkan kamar ini sendirian, mungkin menahan tangis setiap kali menyentuh barang-barang yang ditinggalkan anak bungsunya.

Kirana menghela napas, mengusir pikiran yang mulai membuat dadanya sesak lagi. Ia bangkit, membuka lemari untuk mencari pakaian ganti. Sebagian pakaian lamanya masih tergantung rapi, meski beberapa sudah tidak lagi muat di tubuhnya yang kini delapan tahun lebih dewasa. Ia memilih kaus dan celana panjang sederhana, cukup nyaman untuk menghabiskan hari panjang lagi di rumah sakit.

Setelah berganti pakaian, langkahnya justru membawanya bukan ke pintu keluar, melainkan menyusuri lorong menuju ruang kerja Bapak—ruangan yang dulu menjadi saksi pertengkaran yang mengubah segalanya. Pintu kayu berat itu masih dengan gagang kuningan yang sama, sedikit menguning dimakan usia. Ia ragu sejenak sebelum memutar gagangnya, seolah ruangan itu masih menyimpan gema pertengkaran delapan tahun lalu yang bisa saja kembali menyergapnya.

Ruangan itu gelap, tirai-tirainya tertutup rapat. Kirana menyalakan lampu, dan cahaya kuning temaram perlahan menerangi ruangan yang dipenuhi rak buku tinggi dan meja kerja kayu jati yang sudah mengkilap karena usia. Aroma khas ruangan itu—campuran kertas tua, tinta, dan sedikit aroma tembakau cerutu yang dulu sesekali dihisap Bapak—langsung membangkitkan ingatan-ingatan lama yang selama ini ia coba lupakan.

Ia tidak sepenuhnya yakin apa yang ia cari di ruangan ini. Mungkin hanya dorongan untuk memahami lebih jauh sosok ayahnya yang selama ini menyimpan begitu banyak beban sendirian—beban yang baru ia sadari keberadaannya setelah bertahun-tahun hidup dalam ketidaktahuan.

Meja kerja Bapak masih tersusun rapi seperti biasa, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang selalu teratur dan berhati-hati dalam segala hal, kecuali, ironisnya, dalam urusan kejujuran pada keluarganya sendiri. Kertas-kertas kerja bisnis keluarga tertumpuk rapi di satu sisi, sementara di sisi lain terdapat foto keluarga lama—foto Kirana kecil bersama Sari, tersenyum lebar di pelukan Bapak dan Ibu, diambil bertahun-tahun sebelum semuanya menjadi rumit.

Kirana membuka salah satu laci, tak berniat menggeledah, hanya penasaran melihat sisa-sisa kehidupan Bapak yang belum sempat ia pahami. Laci itu berisi alat tulis, beberapa kartu nama kolega bisnis, dan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit yang sudah usang.

Di dalam laci yang lebih dalam, tersembunyi di balik beberapa map dokumen, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil berukir sederhana, terkunci rapat dengan gembok kuningan kecil. Kotak itu tampak sudah tua, kayunya sedikit retak di beberapa sudut, namun terawat dengan baik—jelas sesuatu yang berharga bagi pemiliknya. Kirana mengangkatnya, merasakan sedikit bobot di dalamnya, membuatnya semakin penasaran apa isi yang tersembunyi di baliknya. Namun tanpa kunci, ia tidak bisa berbuat banyak selain menaruhnya kembali dengan hati-hati, berjanji pada diri sendiri untuk mencari tahu isinya di lain waktu.

Di samping tempat kotak itu tadi diletakkan, tergeletak beberapa surat resmi berkop perusahaan keluarga—PT Wijaya Sejahtera, bisnis tekstil yang telah dibangun Bapak dari nol sejak muda, kini menjadi salah satu perusahaan tekstil menengah yang cukup disegani di kota ini.

Kirana mengambil salah satu surat yang tergeletak terbuka di atas tumpukan. Matanya menyusuri isi surat itu, dan alisnya perlahan berkerut. Surat itu berisi pemberitahuan resmi dari notaris keluarga soal pertemuan mendesak terkait pembagian saham perusahaan, dijadwalkan minggu depan—pertemuan yang jelas Bapak tidak akan bisa hadiri dalam kondisinya sekarang. Bahasa hukum dalam surat itu terasa dingin dan formal, sangat kontras dengan situasi darurat yang sedang dihadapi keluarganya.

Di bawah surat itu, ada dokumen lain—sepucuk surat dengan kop nama pribadi, dari seseorang bernama Ratna Wijaya, yang menyebut diri sebagai "bibi" dalam salam pembukanya, meminta pertemuan pribadi dengan Bapak soal "masa depan perusahaan mengingat kondisi kesehatan yang semakin menurun." Tulisan tangan di bagian bawah surat itu rapi namun tegas, mencerminkan seseorang yang terbiasa mengendalikan situasi dengan caranya sendiri.

Kirana merasakan firasat tidak enak membaca kalimat itu. Nada surat itu, meski dibungkus kesopanan formal khas surat-menyurat bisnis, terasa seperti ancaman terselubung—seolah setiap kata dipilih dengan hati-hati untuk terdengar peduli, padahal menyimpan kepentingan lain di baliknya. Ia membaca ulang surat itu sekali lagi, mencoba mencari tahu kapan tanggal pengirimannya. Ternyata surat itu dikirim hanya dua hari sebelum Bapak jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit—waktu yang terasa terlalu kebetulan untuk benar-benar disebut kebetulan.

Ponselnya bergetar tiba-tiba di atas meja, mengejutkannya dari lamunan yang mulai menjalar ke berbagai kemungkinan buruk. Ia meraihnya cepat, mendapati pesan dari Sari.

*"Kirana, cepat balik ke rumah sakit. Ada orang yang datang cari Bapak, katanya penting soal perusahaan. Aku nggak tahu harus jawab apa."*

Jantung Kirana berdebar lebih cepat membaca pesan itu. Ia menatap surat di tangannya sekali lagi, nama "Ratna Wijaya" seakan mencetak dirinya sendiri di benaknya, berulang-ulang seperti alarm peringatan. Firasat yang sejak tadi mengganggu kini terasa semakin nyata—bahwa rahasia soal Denis mungkin bukan satu-satunya badai yang harus dihadapi keluarganya. Ada satu lagi ancaman yang bergerak diam-diam, menunggu momen paling rentan untuk menyerang.

Ia segera memasukkan surat-surat itu ke dalam tasnya, tanpa sempat lagi memikirkan kotak kayu terkunci yang masih menyimpan misterinya sendiri di dalam laci. Ia bergegas keluar ruang kerja, mengunci pintunya kembali seperti semula, lalu berlari kecil menuju pintu depan rumah.

Langit pagi yang tadinya cerah kini mulai tertutup awan kelabu lagi, seolah memberi pertanda bahwa ketenangan yang baru saja mereka rasakan semalam hanyalah jeda sementara sebelum badai berikutnya datang. Kirana menghidupkan mesin mobil, tangannya sedikit gemetar di atas kemudi, pikirannya berpacu antara kekhawatiran soal Bapak, rasa penasaran soal isi kotak kayu itu, dan kecemasan baru yang kini mengintai dari arah yang sama sekali tidak ia duga sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!