Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.
Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.
Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.
Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Izinkan Aku membantumu, Ibu
“Pak, stop di sini saja.”
Ana menepuk sandaran jok di depannya, ia langsung menyerahkan ongkos lebih pada sang sopir yang berucap terima kasih lalu bergegas turun. Ia menolak bantuan pak sopir yang berniat menolongnya karena melihatnya sedikit kesusahan mengeluarkan kopernya. Ana melompat menghindari genangan air dengan menenteng kopernya dan berjalan cepat menuju kafe Dylan.
Ana melihat banyak orang berkerumun di depan sana, matanya memindai sekelilingnya mencari-cari sosok yang mungkin saja dikenalnya. Itu dia! Jerit Ana dalam hati. Kila muncul dengan dipapah seorang petugas keamanan. Tubuhnya tampak lemas, rambutnya berantakan dan kulit wajahnya kehitaman akibat terkena asap hitam kebakaran.
“Kila!” Ana berteriak lantang, ia begitu khawatir melihat keadaan sahabatnya itu yang tampak sangat syok.
Kila tersentak, ia kenal dengan suara itu. Wajahnya mendongak, kedua matanya melebar. “Ana?”
Detik berikutnya dengan kaki tertatih Kila berjalan cepat ke arah Ana yang meletakkan begitu saja kopernya ke pinggir jalanan dan berhambur menyongsongnya. Mereka berpelukan dan menangis bersama.
“Bagaimana kejadiannya, La. Kenapa kafe bisa sampai terbakar?” Ana bisa lebih dulu menguasai keadaan, ia mengajak Kila berjalan ke tempat yang lebih tenang.
“Polisi bilang, ada korsleting listrik dari bagian dapur kafe.”
Malam itu saat berada di dapur kafe, salah seorang rekan kerja mereka yang sedang berdiri di samping kulkas tanpa sengaja menyentuh kabel yang ada di dekatnya. Ia berteriak kaget dan menarik cepat tangannya. Wajahnya tiba-tiba pucat. “Aku kesetrum!”
Kila yang berdiri tak jauh darinya langsung bergegas menghampiri dan melihat keadaannya. “Kamu gapapa, Wi?”
Rekannya yang bernama Dewi itu mengangguk masih dengan kedua tangan bertaut. “Gapapa, kaget aja barusan.”
Kila berjongkok, keningnya langsung berkerut melihat ada serabut kabel yang menon jol keluar dari kabel yang terkelupas. Ia sempat berniat menutupnya kembali dengan isolasi, namun teriakan rekannya yang lain yang memintanya untuk segera keluar dari sana karena ada pelanggan yang datang mencarinya, membuat Kila melupakan niatnya itu. Kila tak menyadari, setelah ia pergi ada percikan api keluar dari kabel yang terkelupas itu.
“Habis sudah, An. Semua barang-barang kita di kafe gak ada yang bisa diselamatkan,” adu Kila dengan suara tersendat dan berurai air mata.
Ana tercekat, ia mengangguk berulang mengiyakan dan kembali mempererat pelukannya di tubuh Kila. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Matanya nanar menatap pemandangan kafe Dylan di depan mereka yang hancur dan hanya menyisakan pilar-pilar tembok di dalamnya.
Beruntung api dapat segera dipadamkan berkat kesigapan petugas hingga tak menyebar dan mengenai rumah sekitarnya. Kerugian diperkirakan mencapai milyaran rupiah. Kafe Dylan yang sekelilingnya dipagar tembok tinggi kini tampak sangat menyedihkan. Ana bisa merasakan uap panas dan asap kehitaman di sekitar mereka menyengat kulitnya.
“Apa bos sudah tahu hal ini?”
Kila mengangguk sambil menyeka pipinya yang basah. “Bos langsung pulang dari Bali pagi ini juga, mungkin sebentar lagi sampai.”
Tak berapa lama kemudian ibu Astrid muncul, ia keluar dari dalam mobilnya yang terparkir di mulut gang. Wajahnya tampak tegang, tapi langsung berubah cemas begitu melihat keadaan Kila yang kacau.
“Ibuu!”
“Sudah, sudah. Yang penting kalian semua selamat dan gak ada yang terluka.” Ibu Astrid menenangkan Kila yang menangis di pelukannya, lalu menoleh pada Ana yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. “Kamu pulang, Nak?”
Ana tak tahan, ia langsung memeluk ibu Astrid dan melingkarkan tangannya di pinggang Kila. “Maafkan Aku, Bu.”
Bertiga mereka berpelukan. Ibu Astrid merangkum erat bahu kedua wanita muda di pelukannya itu, matanya menengadah menatap langit pagi yang mulai tertutup awan gelap. Ini musibah, tak sepatutnya ia marah dan menyalahkan kedua wanita dalam pelukannya itu. Ia berusaha meyakinkan dirinya, pasti ada hikmah yang tersimpan dibalik musibah yang tengah mereka alami saat ini.
“Mungkin ini bentuk ujian dari Allah, supaya kita bisa menjadi manusia yang terus bersabar dan tidak mudah berputus asa.” Ibu Astrid mengusap punggung Ana dan Kila, yang merebahkan kepala di dadanya. “Kita mulai lagi dari awal. Memang butuh waktu, tapi yakin kita pasti bisa melakukannya. Ayo anak-anak!”
Setelah bertemu dengan pihak aparat dan melakukan pembicaraan, ibu Astrid memilih beristirahat di rumah Ana. Rekan mereka yang lain pun ikut bergabung bersama, membahas bagaimana nasib mereka selanjutnya setelah kafe Dylan terbakar.
“Kalian semua tetap bekerja seperti biasa. Ibu akan menempatkan kalian di kafe cabang, sambil menunggu kafe Dylan selesai dibangun dan bisa beroperasi kembali. Lupakan masalah hari ini. Jangan terus bersedih, Ibu tidak ingin kalian down dan kehilangan semangat. Yakin kita bisa melewati ujian ini dan membuat kafe Dylan berdiri kokoh lagi. Semangat anak-anak!”
Haru biru, itu yang tengah dirasakan Ana dan semua rekannya di tempat itu. Bersyukur luar biasa memiliki atasan yang begitu pengertian dan peduli dengan nasib mereka. Siang itu juga mereka mulai mengatur jadwal kerja di dua kafe cabang, ibu Astrid langsung memanggil dua orang perwakilan masing-masing cabang dan memberikan arahan. Sementara yang lain mulai kembali bekerja, Kila harus beristirahat di rumahnya karena masih syok.
Hujan turun deras, ibu Astrid termenung sendiri di depan jendela rumah Ana. Sekarang di rumah itu hanya tinggal mereka berdua, semua orang sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Sesekali terdengar helaan napasnya yang berat, seperti tengah memikirkan sesuatu. Ana datang dengan nampan berisi teh hangat dan sepiring camilan, ia letakkan ke atas meja lalu menyusul ibu Astrid dan berdiri di sebelahnya.
“Aku sudah buatkan Ibu teh hangat, Ibu minum sekarang ya.” Ajak Ana sambil menggamit lengan ibu Astrid. Wanita itu pun tersenyum mengangguk dan mengikuti Ana duduk di sofa. “Aku lihat tadi Ibu seperti tengah melamun, apa ada yang mengganggu pikiran Ibu saat ini.”
Ibu Astrid menyesap tehnya perlahan lalu meletakkan cangkir di tangannya itu kembali ke atas meja. Ia menghela napas lagi, menatap Ana kemudian. Ia tahu Ana orang yang dapat dipercaya, dan ia juga sudah mengenalnya lama. Pada akhirnya ia memilih untuk jujur pada Ana tentang kondisi keuangannya saat ini.
“Ana, Ibu pikir tak akan mudah membangun kafe Dylan kembali. Kondisi keuangan Ibu saat ini sedang sulit, pemasukan dari dua kafe cabang hanya cukup untuk biaya operasional dan gaji karyawan. Ibu berharap banyak dari kafe Dylan, karena pemasukan terbesar selama ini didapat dari sana.”
Ana terdiam, ia sadar kalau apa yang diucapkan ibu Astrid pada rekan-rekannya tadi hanya untuk membuat mereka kembali bersemangat dan tidak terpuruk dalam kesedihan. Wanita itu menanggung beban berat seorang diri. Tak sekuat yang dilihat oleh orang lain, dan Ana merasa tersentuh hatinya.
“Ibu belum tahu harus gimana. Untuk membangun kafe Dylan kembali, butuh biaya yang sangat besar. Ibu tidak punya aset lain selain dua kafe cabang, tidak mungkin Ibu menjual salah satunya sementara teman-temanmu menggantungkan hidupnya bekerja di sana.”
“Sebentar.” Ana beranjak dari sofa menuju kamarnya, ia kembali dengan membawa buku tabungannya. “Aku punya sedikit tabungan, mungkin bisa sedikit membantu masalah Ibu sekarang.”
Ana menyerahkan buku tabungannya ke tangan ibu Astrid yang menatapnya tak percaya. “Ana, Ibu tak ingin membebani hidupmu dengan masalah ini. Ibu tahu, Kamu sangat peduli pada Ibu. Tapi Ibu tak bisa menerimanya,” tolak ibu Astrid, ia serahkan kembali buku tabungan Ana ke tangannya lagi.
“Ibu, apa yang Aku lakukan ini tak sebanding dengan apa yang selama ini Ibu berikan padaku. Aku tidak bisa melihat Ibu berjuang seorang diri untuk membangun kafe Dylan kembali, sementara Aku punya sedikit uang untuk membantu Ibu. Tolong Ibu terima pemberian Aku yang tidak seberapa ini, please?” pinta Ana dengan wajah memelas.
“Anaa.” Ibu Astrid memeluk Ana. “Tak seharusnya Ibu melakukan ini padamu. Kamu terlalu baik pada Ibu.”
Ana menggeleng, “Tanpa bantuan Ibu, Aku tidak tahu bagaimana nasibku waktu itu. Ibu baru mengenal Aku, tapi Ibu sudah memberikan kepercayaan yang sangat besar padaku. Ibu memberiku pekerjaan dan tempat tinggal, membuatku bertahan hingga hari ini. Sekarang, izinkan Aku membantu Ibu kali ini,” bujuk Ana lagi.
“Anaa.” Mata ibu Astrid memanas, sudut matanya berair. Ia peluk erat Ana dan mengusap- usap rambutnya. “Terima kasih.”
Malam itu ibu Astrid menginap di rumah Ana, dan mereka tidur dalam satu ranjang. Saat Ana terlelap, ibu Astrid masih terjaga. Ia pandangi wajah gadis itu, tangannya terulur menyentuh helai rambut Ana yang menutupi pipinya.
Teringat jumlah uang Ana dalam tabungannya, hampir dua ratus juta. Jumlah yang sangat besar untuk seorang pekerja wanita muda seperti dirinya, yang lebih memilih menabung gajinya selama tiga tahun bekerja.
Tak habis pikir bagaimana Ana bisa tak tergoda membeli barang-barang seperti rekannya yang lain setiap kali habis gajian, belum lagi kalau mendapat bonus target penjualan bulanan. Semua sibuk belanja, Ana hanya beli seperlunya. Bukan pelit setiap kali rekannya menegurnya, Ana selalu bilang ia harus punya tabungan untuk menopang hidupnya.
“Ibu berharap kebahagiaan akan datang padamu, dan Kau akan terus tersenyum menjalani hari-harimu kelak.”
Sementara di tempat lain, Hugo tampak uring-uringan di ruang kerjanya. Ia memilih bertahan di kantornya, tak berniat pulang ke rumah. Hugo tak peduli, meski Yuda sang asisten lelah menunggunya. Ia terlanjur kesal karena Ana tak menepati janji, bahkan hingga malam hari wanita itu tak sekali pun menghubunginya.
Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya, Hugo menoleh cepat dan berseru lantang. “Masuk!”
Yuda melangkah masuk, nyalinya sedikit menciut melihat wajah Hugo yang terlihat masam. Tanpa banyak basa-basi ia memperlihatkan tab di tangannya. “Kafe Dylan tempat nona Ana bekerja selama ini terbakar pagi tadi, itu sebabnya nona Ana langsung pulang tanpa memberitahu pada Tuan.”
Bibir Yuda mengatup rapat begitu melihat Hugo menatapnya tajam. Detik berikutnya ia tersentak kaget begitu Hugo berlalu cepat dari hadapannya. “Kosongkan jadwal pertemuan klien besok, ganti lain waktu.” Ucap Hugo tegas sebelum menghilang dari pandangan matanya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹