Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: catsickle

Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Makan Malam di Rumah Kayu Tua

Malam semakin larut, langit di atas hutan itu tampak gelap pekat tanpa secercah cahaya bulan. Di dalam rumah kayu tua yang sederhana itu, cahaya lampu minyak yang remang-remang menari-nari di dinding, menciptakan bayangan-bayangan yang bergoyang pelan. Meja makan kecil yang sudah lama tidak dipakai itu kini terisi kembali — bukan dengan hidangan mewah, melainkan makanan sederhana yang sempat tersisa di dapur, cukup untuk bertahan hidup beberapa hari.

Kami bertiga duduk melingkar di meja itu. Di satu sisi, Dewa Penghancur — sosok yang penuh misteri dengan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuhnya — duduk dengan tenang, seakan kehadirannya di rumah kecil ini adalah hal yang biasa. Di sisi lainnya, Lazark berdiri tegak di samping kursi, tidak langsung duduk, matanya yang tajam terus mengawasi setiap gerak-gerik seakan siap menghadapi bahaya kapan saja. Dan aku, Ellion, duduk di hadapan mereka, tanganku gemetar pelan di atas paha, nyaris tidak berani menyentuh makanan di depannya.

Keheningan sempat menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar suara angin malam yang berdesir di antara pepohonan di luar. Jantungku berdebar kencang — aku tidak pernah membayangkan dalam hidupku akan duduk semeja dengan dua sosok paling mengerikan di semesta ini. Apalagi di rumah sederhana peninggalan nenekku.

"Makanlah," suara Dewa Penghancur tiba-tiba terdengar pelan namun jelas, memecah keheningan.

Aku mengangguk pelan, dengan tangan gemetar mengambil sendok. "Te... terima kasih..." suaraku terdengar nyaris tak terdengar.

Sambil menunduk, aku mencoba memakan makanan itu dengan tenang, namun rasanya lidahku kaku. Di hadapanku, Dewa Penghancur makan dengan gerakan yang begitu anggun, seolah ia terbiasa dengan kemewahan, namun di saat yang sama terasa sederhana. Sementara itu, Lazark akhirnya duduk setelah melihat tuannya makan, namun ia tetap makan dengan cepat dan waspada, matanya tak pernah berhenti bergerak memantau seisi ruangan.

Saat makan malam hampir selesai, Dewa Penghancur meletakkan alat makannya perlahan. Dalam keheningan yang membuat jantung berdebar, ia perlahan mengangkat tangannya, lalu membuka jubah hitam yang selama ini menutupi wajahnya.

Aku menahan napas. Di hadapanku, tampaklah wajah yang begitu memesona namun memancarkan kekuatan yang tak terlukiskan — wajah seorang dewa yang tak pantas dilihat oleh makhluk biasa sepertiku.

"Aku adalah Yofaith, Sang Dewa Penghancur," ucapnya dengan suara yang dalam dan berwibawa, lalu menoleh ke sosok di sampingnya. "Dan ini Lazark, orang yang selalu menemaniku ke mana pun aku pergi."

Aku terpaku, mataku terbelalak lebar. Seluruh tubuhku terasa kaku seakan darahku berhenti mengalir. Dengan suara bergetar dan penuh ketakutan, aku tak kuasa menahan rasa ingin tahuku:

"Kenapa... kenapa Anda memberitahuku nama dan wajah Anda? Padahal saya hanyalah orang biasa..."

Belum selesai kalimatku terucap, Lazark tiba-tiba berdiri dengan gerakan kilat, pedang di tangannya terhunus siap menebas ke arahku dengan tatapan tajam penuh amarah.

"Berani-beraninya kau bertanya hal yang tidak seharusnya kau tanyakan!" bentaknya.

Namun sebelum pedang itu sempat bergerak turun, Yofaith mengangkat tangan kanannya dengan tenang, menahan gerakan Lazark seolah satu gerakan itu saja sudah cukup menghentikan segala sesuatu.

"Cukup, Lazark," ucap Yofaith dengan nada datar namun penuh kekuasaan. "Biarkan dia. Pertanyaan itu wajar."

Lazark menghentikan gerakannya seketika, namun pedangnya masih tetap terhunus dan tatapannya tetap penuh ancaman ke arahku. Aku menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mengalir di punggungku, menyadari bahwa nyawaku baru saja melayang sejenak.

Yofaith menatapku dalam, lalu tiba-tiba tertawa pelan — suara tawa yang rendah namun membuat bulu kudukku meremang.

"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanyanya di sela tawanya. "Bukankah kamu sendiri yang ikut denganku? Apakah kamu hanya ikut saja... agar kau tidak mati?"

Pertanyaan itu membuatku terdiam. Mulutku terbuka, namun tak ada satu kata pun yang mampu keluar. Aku menunduk dalam, kedua tanganku mencengkeram ujung meja makan dengan erat. Kebingungan perlahan berubah menjadi rasa frustrasi yang menyesakkan dada.

Apa yang harus kulakukan? batin aku berteriak. Mimpiku untuk menjadi pahlawan yang melindungi tempat ini dan dunia — mimpi yang diwariskan nenek — sudah hancur lebur sejak perang itu terjadi. Di medan perang itu, aku tidak menjadi pahlawan. Aku hanya menjadi penonton yang tak berdaya, nyaris mati tanpa sempat mengayunkan pedang sekali pun. Segala sesuatu yang ingin kukejar telah lenyap, dan aku tidak tahu lagi arah mana yang harus kutuju.

Yofaith menatapku lekat. Ia dapat melihat jelas di dalam sorotan mataku — bukan lagi semangat atau harapan, melainkan kehampaan yang pekat. Sebuah kekosongan yang tersisa ketika satu-satunya impian yang kau miliki telah hancur berkeping-keping tanpa sisa.

Melihat hal itu, Yofaith berbicara dengan nada yang tenang namun menembus hingga ke dalam sanubariku.

"Jika impian yang ingin kau gapai itu hancur, bukankah itu berarti kau memiliki kesempatan untuk menciptakan jauh lebih banyak impian yang baru?"

Aku mendongak sedikit, tertegun mendengar kata-kata itu.

"Lalu..." lanjutnya dengan tatapan yang dalam dan penuh makna. "Siapa namamu, wahai manusia yang dilanda keputusasaan?"

Aku menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke arah sosok di hadapanku dengan segala keberanian yang tersisa di dalam diriku.

"Saya adalah Ellion Fabrizo, Tuan yang terhormat."

Seketika itu juga, Yofaith tersenyum — senyum yang begitu lembut dan hangat, jauh berbeda dari kesan mengerikan yang selama ini dibayangkan orang tentang seorang Dewa Penghancur. Ia menatapku lekat, lalu menyebutkan namaku dengan jelas dan penuh makna.

"Ellion Fabrizo..." ucapnya pelan, seakan menanamkan nama itu jauh di dalam ingatannya. "Mulai hari ini dan seterusnya, engkau adalah keluargaku. Tidak ada siapa pun di semesta ini yang bisa menyakitimu. Kita akan selalu bersama, dalam suka maupun duka. Jangan pernah merasa sendiri lagi, ingatlah... engkau memiliki keluarga ini."

Kata-kata itu menghantam hatiku lebih kuat daripada badai mana pun. Mataku terasa panas, dan seketika itu juga air mata yang selama ini kutahan — sejak kepergian nenek, sejak kehancuran perang itu — jatuh membasahi pipiku. Setelah sekian lama merasa sendirian, hampa, dan tidak berharga, tiba-tiba aku mendengar kata-kata itu dari sosok yang paling agung dan berkuasa. Bahwa aku tidak lagi sendirian. Bahwa aku punya keluarga.

Di sampingnya, Lazark diam mematung. Namun kali ini, tatapan tajamnya tidak lagi tertuju padaku dengan ancaman, melainkan seakan menerima kenyataan baru yang baru saja diucapkan tuannya.

1
holong manti Sirait
kembangkan lagi broo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!