Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fabdul

Menceritakan perjuangan seorang gadis yang jatuh bangun mengejar impiannya untuk masuk di perguruan tinggi negeri (PTN) pilihannya. Namun, hidup lagi-lagi membantingnya dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksanya mengambil keputusan.

Delima yang gagal terus-menerus menembus PTN pilhannya memutuskan untuk gap year, siapa sangka tragedi di mulai..

Delima yang baru saja pulang ke kampung halamannya terpaksa kembali ke kota karena seseorang pria yang bernama Ameer menginginkannya untuk dijadikan istri.

Selepasnya ia kembali kota, dia di pertemukan dengan ibu-ibu yang berhati mulia, dan siapa sangka putra bungsu dari ibu itu mencintai Delima, pada pandangan pertama.

Lantas, apa yang terjadi kemudian? Jawabannya baca novel ini! >_<

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ibu pergi

Keesokan harinya..

Pagi sekali Bian sudah bangun, segera Bian mandi dan memakai setelan jasnya. Bian melakukan semuanya dengan agak tergesa-gesa, ada sesuatu yang harus dia pastikan, begitu pikir Bian.

Setelah beres, Bian keluar dari kamarnya menuju dapur, semoga Delima ada di sana, pikir Bian.

Tiba di dapur Bian melihat Delima sedang memasak, menyadari kehadiran Bian seketika raut wajah Delima berubah drastis, dari dia yang senyum sambil memasak menjadi diam kemudian tampak Delima menundukkan wajahnya.

Melihat hal itu, Bian yakin jika Delima merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. Mungkin karena kejadian di kamar kemarin.

"Hmm, Delima." Kata Bian dengan pelan.

"Soal yang kemarin itu, maksud saya yang di kamar itu, saya minta maaf, saya tidak sengaja melakukannya, maksud saya, saya tidak sengaja mencium bibirmu." Kata Bian sambil terus menatap wajah Delima.

Delima tidak tahu harus memberikan respon apa, jujur dia sudah tak ingin kejadian semalam dibahas, ditambah saat ini Bian terus menatap wajahnya membuatnya semakin risih dan salah tingkah.

"Iya tuan." Jawab Delima dengan suara yang begitu pelan, hampir saja Bian tidak bisa mendengarnya.

Mendengar itu Bian sedikit merasa lega. Dia bisa pergi bekerja dengan perasaan tenang tanpa memikirkan perasaan bersalahnya kepada Delima karena dia telah mengambil ciuman pertamanya yang seharusnya untuk suaminya kelak.

"Apa yang aku pikirkan? Aku yang akan menjadi suaminya kelak, tidak boleh orang lain. Gadis ini hanya boleh dimiliki oleh ku saja." Batin Bian.

*****

Hari berlalu berganti minggu. Genap sudah empat minggu Delima berada di tengah-tengah keluarga Bravatz.

Malam itu, Delima sedang berbaring di kamarnya, ibu Lastri datang ke kamar Delima, membawa sebuah kabar. Ibu Lastri ditemani oleh suaminya masuk kamar Delima.

Bu Lastri menyerahkan sepucuk surat, Delima menerimanya dengan mata memicing.

"Apa ini? Batin Delima heran.

Surat itu ditulis oleh ayah Delima di atas kertas kusam. Surat itu terlihat jelas basah oleh tetes air mata yang telah mengering. Delima membacanya dengan suara tercekat. Ini kabar duka.

"Putriku Delima,

Malam ini, ibumu telah tiada. Ibumu telah pergi untuk selama-lamanya. Dia wafat dengan tenang sambil menyebut namamu lirih serta mendekap pigura fotomu. Ibu mu menderita paru-paru basah sejak tiga tahun terakhir, seminggu lalu penyakit yang dialaminya kambuh dan semakin parah hingga merenggut nyawa ibumu. Dokter dari kota kecamatan tak kuasa lagi menolongnya.

Besok pagi, ibu mu akan dikebumikan di pemakaman umum. Ayah harap kau bisa pulang untuk melihat wajah ibumu untuk terakhir kalinya sebelum dikebumikan.

Dan maafkan ayah jika tidak pernah memberitahukan mu perkara Ibu mu yang penderita kanker paru-paru basah selama ini, Delima. Tapi itu pesan Ibu kau, untuk merahasikan ini semua dari kau, agar kau tidak memikirkan banyak hal. Ibu kau cemas jika kabar penyakit yang di deritanya mengganggu.

Maafkan ayah pula yang tidak ingin menghubungi mu langsung dan harus melalui surat seperti ini, nak sungguh maafkan ayah, ayah tak mampu berbicara denganmu, mengatakan semua kebenaran ini, ayah hanya mampu menulisnya melalui sebuah surat dan mengirimkannya ke alamatmu.

Semoga kau senantiasa sehat wal afiat di sana, nak. Kau tahu, Delima, tiada pernah alpa walau semalam pun, tiada pernah tinggal walau sehari pun, ibu kau mendoakan kau yang terbaik. Dia selalu merindukanmu, selalu menyebut namamu dalam doa semasa hidup.

Ayah kau, Damik. "

Delima terhenyak.

Kertas kusam dengan bekas tetes air mata itu terjatuh dari tangan Delima, melayang hinggap di lantai bersamaan  dengan tubuhnya yang terduduk di atas ranjang.

"Tidak mungkin! Ibu tidak mungkin telah pergi, aku tidak percaya. Aku tidak mau menerima kenyataan ini. Surat ini pastilah dusta semata."

"Kau kenapa, Delima." Bu Lastri bertanya dengan suara cemas.

"Tapi bagaimana? Surat ini jelas di tulis oleh ayah. Air mata ayah telah membuat kertas ini menjadi kusam. Ya tuhan..."

Delima menatap kosong ke depan. Matanya pedas, hatinya bagai diiris sembilu.

Delima menangis dalam senyap. Terisak tanpa suara.

"Kau baik-baik saja, Delima?" Bu Lastri mendekat, memeluk tubuh Delima erat dan mengelus punggungnya untuk menguatkan hati Delima.

"Bu. Sebaiknya kita pergi." Pak Bravatz mengingatkan.

Bu Lastri bingung.

"Biarkan Delima sendirian. Dia membutuhkan kesendirian saat menerima kabar seperti ini. Kita tidak akan bisa membantu banyak. Tenang saja, Delima akan baik-baik  saja." Pak Bravatz sudah melangkah meninggalkan kamar, disusul oleh istrinya beberapa menit kemudian.

"Yang tabah ya nak." Pesan Bu Lastri sebelum meninggalkan Delima seorang diri.

Kamar Delima kini hening, hanya menyisakan sesak napas gadis itu. Delima beringsut, meringkuk di pojok kasur.

"Wajah ibu telah pergi untuk selamanya? Wajah ibu yang selalu tersenyum menatapku.  Suara ibu yang nyaring ketika berteriak kepada pembeli untuk membeli dagangan. Wajah ibu saat mengelap wajahku yang sedang demam, meletakkan air di dahiku. Wajah ibu yang lembut memgajariku membaca, menulis, dan berhitung.

Kini tangisan Delima pecah tak terbendung lagi. Ya Tuhan?

Air mata Delima mengalir deras membasihi pipinya. Ibunya telah pergi, untuk selama-lamanya.

*****

Delima segera membereskan baju-bajunya, dia akan pulang malam ini, kembali ke kampung halamannya. Delima berjalan turun, dia melihat Bu Lastri dan Pak Bravatz sedang duduk di ruang tengah. Dia berniat akan pamit untuk pulang ke kampung halamannya.

"Pergilah nak, Pak Muh akan mengantarmu ke bandara."

"Tidak usah Bu, biar saya naik taksi saja."

"Sudah, patuhi saja apa kata ibu, biar pak Muh yang akan mengantarmu."

Akhirnya Delima menuruti keinginan bu Lastri, segera dia naik ke mobil setelah berpamitan dengan semua orang, kecuali Bian, karena Bian belum pulang dari kantornya.

Pah Muh membawa mobilnya dengan sangat cepat menuju bandara, dia merasa iba dan kasihan kepada Delima yang sepanjang perjalanan terus saja menangis tanpa henti.

Sesampainya di bandara Delima langsung merongoh tiket perawatnya yang sudah di pesannya sebelumnya, melihat nomor kursi nya dan mendudukkan bokongnya di kursi itu.

"Ya tuhan, kenapa kau mengambil nyawa ibuku dengan cara seperti ini, pertemuan dan perpisahan dengannya sangat singkat sekali tuhan." Kata Delima menutup wajahnya karena kini air matanya sudah mengalir deras membasihi pipinya lagi.

*****

Bersambung...

1
gerakan tambahan🤸🍋🌶️🥒🥕
Ewako Makassar 🤭
Dayang Rindu
novel pendek begini kontrak atau enggak?
Dayang Rindu: oh begitu kak, makasih ya
total 4 replies
ares
luar biasa
🙃 ketik nama 💝🎀🌈🌴
semngat ya kak,,, kek nya seruu,,,
lanjuttt
Angkasa?¿
p
🙃 ketik nama 💝🎀🌈🌴
mampir kak,,, smngat yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!