Masa-masa Remaja memang masa paling indah.Bermain bersama,merayakan sesuatu yang tidak penting hanya dengan bermain gitar atau hanya sekedar nongkrong di club' atau kafe.
Agraham,Mario,Anto,Dani,Qiana,Zena,dan juga Wati.Harus merelakan berpisah karena masing-masing akan melanjutkan pilihan hidup nya.
Bekerja di luar kota adalah pilihan Qiana, bertahun-tahun mengubur kisah masa lalu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ♍Virgo girL 🥀🌸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 10 Membuka hati
Menggerakkan tubuh nya dan masuk ke dalam pelukan seseorang.Qia tidak tahu jika guling nya berubah menjadi guling hidup bernyawa.
Menitipkan anak gadisnya pada Agra adalah hal yang paling salah,namun tidak dengan Pak Tono,beliau sengaja menitipkan Qia pada Agra sementara Mas Dimas dan Yulia pergi untuk menemui suatu acara di kantor Dimas,dan Pak Tono juga istrinya pergi bersama Jeje menemani anak lelaki nya berlomba di kota itu.
Mengulum senyum melihat calon istri masa depan nya.Agra,masuk kedalam satu selimut yang sama dengan Qia,jangan di tanya ini hal yang bagaimana.Tentu saja di luar batas wajar.Kedua nya bahkan sudah pernah saling melihat semua lekukan masing-masing.
Qia merenggangkan tangan nya dan ternyata dia tidur kembali.Bukan membuka mata lalu beranjak dari ranjang,tapi hanya merenggangkan tangan saja.
Memeluk Qia dengan erat,hingga gadis itu tersadar ada yang berbeda di tubuhnya.
Seperti nya gulingku sedikit aneh!
Qia mengerjapkan mata nya,terkejut dan langsung terlonjak menyingkir dari hadapan Agra.
Telapak tangan nya menutup mulut,beberapa kali mengucek mata,hasilnya sama.Orang yang ia lihat ternyata benar Agra.
"Kau?!"
Agra hanya terkekeh mendengar suara Qia,tangan nya meraih pergelangan tangan Qia dan menarik nya.
Qia terjatuh tepat di sebelah Agra.Lelaki itu pun menyekap nya,kedua tangan Agra menahan bahu Qia untuk tidak bergerak.
"Teriak lah yang kencang,di rumah ini hanya aku dan kamu!"
"Hah?!"
"Heh,Agraham hentikan!!! Bagaimana bisa kau disini? Ayah pasti akan marah besar jika tahu kau disini!"
"Sudah aku bilang,tak ada seorang pun selain kita berdua!"
Agra mulai melancarkan aksinya,mengecup leher Qia,dan gadis itu pun terlonjak.
"Disini tidak ada orang,aku boleh kan Qia!".
Qia membulatkan matanya "Gua bunuh lu yaa Gra!"
"Hahaaaa... Yakin lu bunuh gue?Gak nyesel?"
Qia memutar bola mata nya jengah.Orang di depan nya memang tidak tahu diri.Sudah memaksa jadi kekasihnya,lalu ingin melakukan hal diluar batas,dan lagi.
"Please!! Aku mohon Agra,menyingkir dari hadapan ku.Ayah dan Ibu akan mengetahui ini bagaimana?"
"Aku akan menikahi mu!"
"Ayssh... Gua gak mau,gua belum siap!"
Mendengar itu Agraham beranjak dari ranjang Qia dan membuang pandangan.Menarik nafas nya berat,dan menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa panjang.
Qia yang tahu itu pun langsung beranjak dari ranjang nya.Membenarkan piyama dan masuk ke dalam kamar mandi.
Agra sedikit kecewa dengan jawaban Qia barusan, perempuan yang selalu di harapkan terasa jauh dan tidak pernah memberikan harapan sedikit pun.
Paling tidak, tolong hargai perasaan ku!
.
.
.
Qia keluar dari kamar mandi sudah berganti baju,melihat di sekitar kamarnya tidak ada Agra.Mencari di ruangan lain sama saja.
Tiba-tiba matanya melihat kepulan asap dari pintu belakang.Mata nya membola,kaki nya sedikit berlari.
Satu batang nikotin terjepit diantara telunjuk dan jari tengah Agra.Qia merebut itu dan membuangnya sembarangan.
"Sejak kapan seperti itu hah?!"
Agra tersenyum miring "Apa peduli mu?!"
"Apa peduli ku katamu?"
Berdecak kesal dengan Qia yang mengatur.Agra pun berdiri dan menatap Qia.
"Dari dulu aku sudah merokok,kenapa kau jadi marah?!"
Qia menggeleng cepat "Gra,gua gak mau ya lu kaya gitu.Merokok dan ngopi! Itu gak sehat buat lu yang punya sakit paru!"
"Bukan urusan mu!" Agra melangkah pergi namun tangan nya di genggam oleh Qia.
Mereka saling bertatap,keduanya sangat dalam.
"Kenapa sih lu Gra?"
"Pikir sendiri!!" Agra mengibaskan tangan Qia,dan pergi dari hadapan nya.
.
.
.
"Agraham,mau kemana?"
Mira,Ibu Qia ternyata pulang lebih dulu karena sesuatu tertinggal.
"Tante,sudah pulang? Yang lain mana?"
Menenteng tas dan sibuk mencari sesuatu di sana.
" Perlengkapan renang Jeje tertinggal,dan mungkin Tante lupa membawanya,padahal sebentar lagi dimulai!" Mira melihat jam di dinding,satu jam lagi acara akan di mulai.
"Bu..."
"Ahh Qia,boleh ibu meminta tolong?.."
Qia yang datang dari dalam berhenti melihat ibunya,mata nya melihat sekilas Agra yang masih ada di depan pintu.
"Pergilah dengan Agra,belikan satu paket perlengkapan renang untuk Jeje,Ibu hanya membawa satu ternyata!"
Ibu Mira menoleh pada Agra "Agra tolong antarkan Qia ya,karena ibu sudah bingung akan membelinya dimana dan mungkin waktunya tidak cukup lagi!"
Agra dengan ragu mengangguk.Dan melihat Qia.
.
.
.
Tidak bisa di bayangkan,kedua nya terdiam sepanjang perjalanan.Membayar belanjaan Qia lalu masuk kembali ke mobil,mereka melanjutkan lagi menuju gedung kesenian dan olahraga.
Berlari mencari tempat dimana Jeje berlomba,gedung yang luas begitu pula dengan halaman nya.
Agra berlari trus hingga dia tidak tahu Qia berbeda arah.
"Qi dimana tempat Jeje ?"
"Qi.."
"Qia di..."
Matanya membola, ternyata yang awal dugaan Qia mengekor di belakang nya,namun tidak ada,ujung rambut nya saja tak terlihat.
"Astaga dia kemana!"
Agra kembali ke jalur semula mencari Qia dimana-mana hingga mata nya melihat seseorang terjepit di kerumunan karnaval parade.
"Kenapa malah di sana?! Dasar,tidak bisa lihat yang aneh sedikit saja!"
Mencoba berhimpitan dengan para penonton dan peserta,pengunjung di sana sangat banyak.
Menarik tangan Qia dan memeluk nya.Agra menangkup kepala Qia untuk melindungi dari sentuhan orang lain.
Tangan mereka masih berpaut,Agra menggandeng Qia hingga memasuki gedung dimana Jeje berlomba.Beberapa meter Ayah nya tahu jika anak gadis nya mencari,ia pun melambaikan tangan.
"Itu ayah Qi!"
Qia hanya mengangguk.
Secepat itu dia melupakan emosi nya kepada ku?Maaf kan aku Agra!Aku memang belum selesai dengan masalalu ku,Tapi aku terus berusaha untuk mu.
"Apa?..."
Agra menoleh dan Qia masih terus menatap nya.Merasa ketahuan mencuri pandang,Qia hanya menggeleng.
Melihat jam di lengan,Agra mencari celah untuk berpamitan.
"Om,mungkin Agra tidak bisa berlama-lama karena sebentar lagi akan ada pertemuan.Tidak apa-apa bukan jika Agra pamit?"
Tono menoleh pada Qia "Ajaklah Qia bersama mu,dia akan bosan jika di sini sendiri!"
Agra hanya mengangguk.Meski masih sedikit kesal dengan perempuan di dekat nya itu.Namun mau tidak mau dia memang harus extra sabar.
.
.
.
"Kenapa ke sini?"
"Aku menginap di sini!"
Agra menekan lift,menuju lantai sembilan belas.
"Masuklah dulu,aku akan memesan sesuatu!"
Memberikan card dan mereka berpencar di sudut koridor .
Qia dengan santai nya melihat nomor yang berada di card,lalu membuka pintunya.
Mata nya membola melihat seseorang dengan setelan baju tidur yang sangat mini.
"Ohh maaf!..
Lala langsung pergi dari sana dan masuk ke dalam kamar.
.
.
.
To be continue