Anna dan Zeno sudah bersahabat sejak lama tapi persahabatan mereka berubah begitu insiden percobaan penculikan Anna terjadi dan Zeno menyelamatkannya tapi karena obat yang sudah di suntikkan oleh penculik itu membuat Anna dan Zeno hilang kendali hingga akhirnya mereka tidur bersama. Ketakutan akan kehamilan yang menghantui membuat persahabatan mereka renggang tapi ada hal lain yang lebih menyulitkan karena mereka harus menerima kenyataan jika orangtua mereka memutuskan untuk menikah.
Apa mereka akan memilih menjadi saudara atau justru menjadi egois?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan keliru
"Sakit Zen!" Anna meringis sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Zeno yang membawanya pergi meninggalkan Andy yang masih jauh dibelakang.
"Zen..." panggil Anna lagi, ia berharap Zeno akan mendengarkannya dan melepaskannya tapi Zeno malah menariknya kebelakang sebuah bangunan dan membuat Andy kehilangan jejak mereka tapi Anna tidak bisa memberitahukan keberadaannya karena Zeno menutup mulutnya rapat dan setelah ia memastikan jika Andy sudah meninggalkan taman bermain ini barulah ia melepaskan Anna.
"Loe kenapa sih?" tanya Anna marah.
"Elo yang kenapa?!" jawab Zeno berteriak marah sehingga Anna seketika bungkam. Ia sangat takut dengan teriakan kencang karena itu mengingatkannya pada ayahnya yang sering meneriakinya dan memukulinya dulu.
Anna begitu takut hingga tubuhnya gemetar tapi ia menutupinya dengan memasang ekspresi setenang mungkin.
"Kenapa loe ngehindar dari gue?" tanya Zeno mendekat, ia bahkan meletakan kedua tangannya di atas kepala Anna dan membuat Anna dengan mudah terintimidasi.
"Gue cuma butuh waktu buat mencerna semuanya yang udah terjadi sama kita."
Sepertinya jawaban Anna tidak membuat Zeno puas bahkan membuat Zeno semakin marah hingga ia tidak ragu untuk mencengkram lengan Anna. "Dengan pergi berdua sama Andy? Loe bahkan gak angkat telepon dari gue tapi loe langsung angkat begitu Andy yang telepon elo! Suka loe sama dia?!" itu bukan pertanyaan tapi sebuah penghakiman, ini pertama kalinya Anna melihat ekspresi marah Zeno yang sangat menakutkan dan sedihnya itu ditujukan padanya.
"Loe sendiri kan yang gak mau gabung? Andy udah hubungin elo dari tadi kok!"
"Terus kenapa loe gak hubungin gue?"
"Kan sama aja!"
"Sama?"
Anna tertegun sejenak, kenapa Zeno semakin menyudutkannya seakan ia adalah wanita yang dengan sengaja berselingkuh.
"Lagian kita ini sahabatan, gue, elo, Andy jadi kenapa elo marah cuma gara-gara gue main sama Andy? Gue bukan pacar loe Zen!"
"Jadi harus jadi pacar dulu?"
Anna sudah tidak sanggup lagi menghadapi situasi saat ini dan memilih pergi meninggalkan Zeno.
"Ayo kita pacaran, Na!" teriak Zeno membuat langkah kaki Anna seketika terhenti. Zeno kemudian dengan cepat menghampiri Anna.
"Ayo kita pacaran, Na..." ucap Zeno sekali lagi saat ia sudah berada dihadapan Anna dan menatapnya dengan lembut.
Tatapan itu membuat jantung Anna berdebar-debar, debaran yang seakan ingin meledak terlebih ketika Zeno menyentuh tangannya dan menggenggamnya dengan lembut.
Ada apa dengannya? Anna tidak pernah terpikirkan menjadi pacar Zeno sampai kemarin tapi momen ini membuatnya merasa seakan ia sudah menunggu lama untuk mendapatkan pernyataan cinta dari Zeno hingga ia merasa tidak sabar untuk menjawabnya. Menjawab pernyataan cinta dari Zeno.
Tapi ini jelas bukan pernyataan cinta! Tidak ada kata cinta yang keluar dari bibir Zeno.
Ini menyakitkan karena pernyataan cinta itu hanya ungkapan lain dari rasa bersalah. Anna tidak bisa menerimanya karena Zeno tidak sepenuhnya salah. Ia tidak berhak meminta tanggung jawab apapun darinya.
"Jangan keliru, Zen..."
Zeno menahan nafasnya, ia yakin jika ia sama sekali tidak keliru kalau kebersamaannya bersama Anna selama ini memiliki arti yang sama bagi Anna, tapi tanpa terduga Anna malah melepaskan tangannya dan berkata dengan wajah murung. "Maaf karena sikap gue hari ini tapi loe gak perlu sampai kaya gini karena merasa bersalah sama gue."
"Ini sama sekali bukan rasa bersalah."
"Udah deh, gue gak bisa berantem sama loe. Gue gak mau berantem lagi sama loe kaya tadi jadi maaf ya, Zen... Loe mau kan maafin gue?"
Zeno kehilangan kata-katanya, ini terasa menyakitkan sehingga ia merasa sulit untuk bernafas apalagi saat Anna memeluknya dengan hangat.
"Gue janji gak akan cuekin elo lagi, gue juga janji akan terus jawab telepon dari elo kapanpun elo hubungin gue, Sekarang kita baikan, ok?"
Karena Zeno masih tetap diam, akhirnya Anna berinisiatif untuk menggandengnya dan mengajaknya pulang.
"Lain kali kita main kesini bareng-bareng ya." bujuk Anna mencoba mencairkan suasana karena Zeno masih saja diam.
"Kita naik rollercoaster, soalnya gue gak berani naik sama Andy tadi. Tapi elo kan pemberani jadi gue gak perlu takut kalau gue pingsan diatas karena loe pasti jagain gue kan?"
Zeno hanya bisa tersenyum tipis dan membantu Anna memakai helmnya.
"Jangan ngebut ya." pinta Anna saat Zeno bersiap menyalakan mesin motornya meskipun ia sudah berpegangan pada pinggang Zeno tapi tetap saja nyalinya selalu ciut saat Zeno melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Zeno masih tidak menjawab, ia banyak diam dan membuat Anna merasa sedih tapi setidaknya Zeno melajukan motornya dengan kecepatan normal.
"Tadi gue makan soto enak banget, pokoknya besok loe harus coba."
Bukan tanpa alasan Zeno terus diam karena semua hal yang Anna bicarakan berkaitan dengan Andy dan ia tidak menyukai itu karena ia tidak termasuk di dalamnya.
"Zen... gue haus, mampir beli minum yuk." ajak Anna karena ia merasa ada yang harus ia perbaiki dari situasi canggung ini tapi Zeno memang membelikannya minum namun hanya sebotol air mineral di pinggir jalan lalu langsung melajukan motornya sehingga Anna harus minum diatas motor dan akhirnya membuatnya tersedak.
Anna terus terbatuk-batuk sambil memukul-mukul dadanya yang terasa nyeri dan akhirnya Zeno menghentikan laju motornya.
"Minum pelan-pelan." suara itu terdengar dingin sampai Anna hanya mampu menjawab "iya." dengan sangat pelan.
Akhirnya Anna memutuskan untuk diam dan perjalanan menuju kediaman Zeno dilewati dengan keheningan dan perasaaan canggung yang berkecamuk.
"Ya ampun kok bisa kalian baru sampe sekarang? Gue udah setengah jam nungguin." Andy menyambut kedatangan mereka dengan ocehan kesal tapi Zeno hanya diam dan melangkah melewatinya begitu saja meninggalkan Anna yang masih kesulitan membuka helmnya.
"Loe tuh ya, udah gede masih aja gak bisa pake sama buka helm sendiri." gerutu Andy yang baru akan menyentuh pengait helm yang Anna pakai tapi Zeno tiba-tiba saja kembali dan melepaskan helm yang Anna kenakan lebih dulu dan setelah itu langsung pergi tanpa mengatakan apapun.
"Ya ampun, udah dong marahnya, Zen..." kejar Andy tapi Zeno masih tetap mengabaikannya dan langsung memasuki kamarnya.
"Gimana nih? Kayaknya Zeno beneran marah."
"Nanti kita bicara lagi, mungkin Zeno lagi cape." ucap Anna menenangkan tapi Andy masih terlihat jelas gelisah dan membuat Anna merasa bersalah karena jika saja ia juga mengabaikan panggilan telepon dari Andy maka Zeno mungkin tidak akan semarah ini.
....