Indonesia
NovelToon NovelToon
Hidden Love Mr. Z

Hidden Love Mr. Z

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Romansa / Aliansi Pernikahan / Cintapertama
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Park alra

Sinopsis:

"Zian, apa kamu sudah jatuh cinta pada ku?"

"Teruslah bermimpi. "

"Baiklah, aku akan berjuang sampai kau jatuh cinta pada ku. "

Kisah cinta tak biasa, saat wanita yang lebih dulu mengejar cinta laki-laki yang sudah lama di sukainya. Lyra jasmine tak menyangka perjodohan yang terjadi padanya mempertemukan gadis sederhana itu dengan cinta pertamanya, Laki-laki yang selama ini selalu Lyra idam- idamkan.

Ziandra Grayson, tumbuh dalam keluarga tak utuh, akibat dari pertengkaran dan perceraian yang terjadi pada orang tuanya membuat ia skeptis terhadap perasaan yang bernamakan cinta.

Saat bakti kepada ayahnya memintanya untuk menikahi gadis berisik bernama Lyra, membuat hidup Zian yang semula tenang mulai terguncang.

Zian yang selalu bersikap dingin dan Lyra yang selalu menjalani hidup dengan ceria dan optimistis, akankah perbedaan sifat yang sangat menonjol itu bisa mempersatukan mereka? akankah Lyra bisa mendapatkan cintanya?

Ikuti kisah manis mereka ❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park alra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 10

"Kalau aku menolak bagaimana?"

Zian menoleh, sedikit terkejut dengan ucapan gadis itu yang terkesan lantang dan berani, saat ini keduanya seolah saling menantang lewat tatapan mata.

"Terserah padamu saja." hanya itu yang dapat Zian katakan, sejujurnya dia kagum akan kegigihan Lyra tapi sungguh ia tak ingin gadis itu sakit hati nantinya, Tapi toh, pilihan tetap ada di tangan gadis itu sendiri.

"Baiklah." Lyra kembali tersenyum hangat.

Zian tertegun sesaat. Gadis ini memang benar- benar aneh.

Tapi lebih aneh dirinya. Kenapa dia hanya diam saja dan malah terpesona dengan senyuman tulus yang di saat ini di tunjukkan gadis itu. Sebenarnya siapa yang lebih gilla di sini?

"Eh Zian mau kemana? gak jadi sarapan?" Lyra sontak berteriak saat suaminya itu bangkit lagi dari tempat duduk.

Zian tak bisa di sini terus, atau sesuatu yang berdetak dalam dadanya akan meledak karena kegugupan.

"Aku tak lapar." pria itu hanya menyahut singkat.

Lyra menunduk sedih. "Kamu menolak masakan ku lagi ya?"

Ah, benar. Untuk apa Lyra sedih, toh ini sudah sering terjadi kan?

Zian terdiam, dalam otaknya kembali teringat akan kata-kata yang diucapkan Charlie waktu itu.

"Tuan jika saya bisa memberi saran, cobalah untuk sedikit saja menghargai usaha dan kerja keras nyonya muda. Beliau ingin sekali tuan mencoba masakannya, sedikit saja cobalah lihat ketulusan nyonya."

Zian menoleh pada Charlie yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka.

"Bawa makannya, aku akan sarapan di kamar," titahnya pada asistennya itu membuat Charlie kontan terkejut.

"Baik tuan." pria setengah baya itu melirik ke arah Lyra, sementara gadis itupun sama kagetnya, senyum seketika terbit di wajah cantiknya. Charlie mengangguk tersenyum seolah memberikan selamat kepada sang nyonya muda.

Kedua mata Lyra berbinar terang, ia mengacungkan kepalan tangannya ke udara.

Sedikit demi sedikit, Lyra akan meruntuhkan gunung es di hati Zian. Ia sudah bertekad!

...----------------...

Siang hari di habiskan Zian untuk bersantai, menepi sejenak dari kesibukannya, pria berdarah blesteran itu memutuskan untuk melakukan olahraga renang.

Lyra sedang berjalan-jalan di sekitar taman mansion, ia terlihat bosan dan tak ada yang bisa ia lakukan. Seminggu menjadi isteri seorang pebisnis terkenal membawa perubahan besar untuknya, sebenarnya Lyra ingin keluar dan menikmati waktu bersantai tapi ia ingin mengajak Zian ikut serta, dua tiket kebun binatang di tangannya seolah tak memiliki fungsi, Zian pasti akan menolak jika ia mengajak pria itu.

"Sebenarnya tak ada salahnya mencoba mengajak Zian, jika di tolak pun aku bisa mengajak Tuti saja untuk menemani, ya kan?" Lyra bermonolog, tengah berfikir serius saat ini, mungkin ia akan meminta di temani oleh Tuti saja, asisten rumah tangga yang sudah ia anggap seperti teman baginya. Tapi tetap persetujuan dari Zian harus ia dapatkan, akhirnya gadis itupun memutuskan untuk menemui sang suami.

Sayang jika dua tiket ini terbuang sia-sia, toh ia bisa mengajak temannya saja jika suaminya itu menolak.

Sampai ketika ia melewati taman belakang yang terdapat kolam renang besar di tengahnya, Lyra terlonjak saat mendengar suara kecipak air, keterkejutannnya semakin bertambah tak kala ia melihat Zian yang saat ini tengah melakukan renang di kolam renang yang besar itu. Kepalanya menyembul dari balik air yang tenang, seketika mata Lyra berseri-seri melihat pemandangan yang indah itu.

"Astaga!" tanpa di sadari, Lyra justeru bersembunyi di balik semak-semak, sebenarnya apa sih yang ia lakukan? mengintip suami sendiri saat berenang? aish, tapi entah kenapa dirinya merasa malu apalagi saat mengingat insiden di kamar Zian akibat dada telanjang lelaki itu yang begitu memikat mata. Lyra menggeleng, rasa malunya masih mengakar sampai sekarang ketika ia bertindak bodoh hanya karena melihat roti sobek suaminya.

"Zian ku yang berolahraga renang saat ini benar-benar keren! apasih yang tidak bisa di lakukannya? sudah tampan, cerdas, berbakat pula. Suami ku memang perfect."

Lyra menggeleng dengan tersenyum penuh rasa kagum, melihat Zian dari kejauhan seperti ini rasanya ia lebih leluasa untuk mengagumi badan kekar nan atletis yang terekspos itu.

Gadis itu menepuk pelan kedua pipinya, karena terlalu banyak melamun ia tanpa sadar melupakan tujuan utamanya untuk menemui Zian.

Sampai ketika gadis itu menatap kembali ke arah kolam, yang menjadi target tujuannya sudah tidak berada di sana.

"Eh?! Zian kemana? kok cepat banget udahannya?" Ia menyapu pandangan, dirinya bahkan keluar dari persembunyian dan berlari ke arah kolam, namun sama sekali tak menemukan keberadaan pria itu.

"Apa yang kau lakukan di sini? mengintip seperti seorang stalker huh?!"

Lyra tersentak keras. Tubuhnya mendadak kaku, saat ia berbalik terlihat suaminya itu menatapnya dengan sorot bengis sambil bersidekap dada.

Karena saking tidak bisa mengendalikan rasa kaget dan takutnya yang datang secara bersamaan, perempuan tersebut memekik kaget hingga posisi tempatnya berdiri berada di pinggir kolam renang, membuat kaki Lyra tiba-tiba terpeleset karena licin.

Melihat Lyra yang akan terjatuh kontan membuat Zian mendelik kaget, dengan refleks tangan kekar lelaki itu menarik pinggang ramping Lyra hendak menyelamatkan, namun karena tak ada perhitungan, mereka justru terjatuh bersama-sama ke dalam kolam.

Suara kecipak air terdengar nyaring, tubuh keduanya yang terjun ke dalam air yang tenang seketika saja menimbulkan kericuhan.

Tubuh keduanya timbul ke atas air, Lyra mengusap kasar wajahnya lalu dengan rakus menghirup oksigen begitupun yang di lakukan Zian yang sama kagetnya.

"Boddoh! bisa tidak sehari saja kau tidak membuat masalah?!"

Seketika Lyra mematung, nyalinya mendadak ciut melihat kemarahan sang suami. "M- maaf Zian, a- aku ... "

Lelaki itu berdecak. "Sudah lupakan, karena mu waktu bersantai ku jadi rusak!"

Lyra merunduk, ia tidak bermaksud membuat pria itu marah. "Maaf Zian, aku hanya ingin berbicara dengan mu, tidak ada maksud sama sekali untuk mengganggu waktu mu."

Zian menghela nafas berat, karena masalah internal yang terjadi pada perusahaan mengganggunya akhir-akhir ini ia tanpa sadar malah melampiaskan amarah itu pada gadis yang tak bersalah.

"Lupakan saja!" suara berat pria itu menginterupsi, sontak membuat Lyra mengatupkan bibir rapat-rapat, ia yang masih menunduk, terkesiap ketika Zian tiba-tiba saja sudah menarik pinggangnya lalu mendudukkannya ke tepi kolam.

Tindakannya itu sukses membuat jantung Lyra berdetak dua kali lebih kencang, tangan hangat Zian yang besar saat menyentuhnya, Lyra hampir melupakan cara untuk bernafas karena deburan dadanya semakin keras.

"Cherlie!" Zian memanggil sang kepala pelayan, yang kini berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka.

"Ya tuan ku." untuk sesaat Cherlie tersentak karena melihat kondisi Lyra basah kuyup.

"Nyonya muda,anda--"

"Ambilkan handuk Cherlie!"

"Ah,ya! baik tuan."

Zian lantas menyusul ke luar dari kolam renang. Charlie kemudian datang membawa handuk yang langsung di sambar pria itu.

Lyra masih saja terus menunduk, di balik itu ada sebuah rasa ketakutan yang gadis itu coba sembunyikan. Ia mencengkram kuat bajunya dengan tangannya yang kini bergetar hebat, ia merasa Dejavu dengan kejadian tenggelam tadi, itu mengingatkannya pada trauma masa kecilnya saat Lyra hampir kehilangan nyawa akibat tenggelam.

"Aku tidak tahu apa yang di pikirkan gadis ceroboh seperti mu, tapi sepertinya kau tidak baik-baik saja."

Zian berjongkok, kini mereka saling bertatapan. Pria itu terbelalak saat melihat raut wajah Lyra yang di penuhi kabut ketakutan.

"Hei, kenapa kau?!" Zian menyentuh pundak Lyra untuk memastikan, ia tertegun tak kala merasakan tubuh Lyra yang gemetar.

"Ah, maaf. Aku melamun." gadis itu masih berusaha untuk menampilkan senyum. "Maafkan aku ya karena menganggu waktu mu."

Zian mengepalkan tangan, merasa kesal tak beralasan. "Kenapa kau terus saja meminta maaf?!"

Lyra terkesiap saat melihat raut wajah pria itu yang sepertinya akan menyemburkan luapan amarah. Tak berkata apa-apa lagi Zian berdiri begitu saja.

Charlie menghampiri, mengulurkan tangannya kepada Lyra. "Mari nyonya, saya bantu berdiri."

Lyra hendak menyambut uluran tangan itu, namun belum sempat ia menggapai sebuah tangan kekar lebih dulu menepisnya.

"Tidak usah. Biar aku saja!"

Sontak perubahan sikap Zian yang begitu cepat membuat Cherlie dan Lyra berkerut kening, heran. Zian melirik tajam ke arah Charlie, sementara pak tua yang tidak tahu apa-apa dan hanya berniat membantu itu mulai bergidik ngeri.

"Saya cuma niat membantu tuan." suara hati Charlie dengan tampang melasnya.

Zian mengangkat tubuh mungil Lyra dengan begitu entengnya, ia menaruh pinggul gadis itu ke dada kirinya, membuat Lyra ternganga di buatnya.

"A- aku bisa sendiri kok Zian tidak perlu sampai seperti ini."

"Berisik!"

Satu kata, namun begitu menusuk yang membuat Lyra sontak kicep.

Zian melirik ke bawah, mata elangnya tertuju pada dua buah tiket yang tergeletak di atas tanah.

"Charlie, ambil itu!" Zian memberi isyarat lewat kontak mata.

Charlie yang mengerti itu mengangguk. "Baik tuan."

Sementara Zian sudah berlalu sambil membopong Lyra yang kini menyembunyikan wajahnya di leher pria itu. Langkah kaki Zian menuju ke arah kamarnya.

1
Ulul Ismi
kpn up date lagi
Ulul Ismi
lanjut
Ulul Ismi
lanjut Thor seru ceritanya
ariyan
semangat Thor.........seru ceritanya
dandelion: terimakasih untuk rate nya,
total 1 replies
Neng syanty Rochbiah
Lajut ceritannya
Doraemon
niceee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!