Apakah di dunia ini ada panacea bernyawa dan berbentuk manusia. Seseorang yang bisa menyembuhkan luka. Seseorang yang hanya dengan kehadiran nya pun bagai pelipur lara, baik yang terjadi di masa lalu maupun mendatang. Seseorang yang membawa serein layaknya embun pagi yang basah menyebarkan ketenangan. apakah nantinya seseorang seperti itu benar-benar ada dan nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anonymouss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembilan. First Enmity
Setelah kejadian tadi malam, kinnas tidak bisa tidur sama sekali. Alhasil ia hanya melamun di atas tempat tidur setelah menyantap makanan nya. Kini, pukul menunjukkan jam 7 pagi. Kinnas keluar dari kamar membawa piring dan gelas. Saat ia membuka pintu, ternyata calla sudah menunggu nya.
"mba kinnas udah sarapan duluan ya?" calla bertanya ketika mata nya tepat pada apa yang di bawa kinnas.
"ini mba tadi malam lapar hehe" kinnas menjawab pertanyaan calla dan mereka berjalan bersama ke arah dapur.
Calla asik mengekori kinnas, bahkan hingga wanita itu keluar rumah sekedar melihat situasi pagi di halaman rumah. Karena ada kinnas, calla merasa dirinya jadi punya teman yang hampir seperti seorang kakak. Biasa di rumah ia jarang berinteraksi dengan orang-orang. Arsena, mama dan papa sibuk bekerja sedangkan cilo hanya menjahilinya dan akan bertingkah menyebalkan.
"lu ngapain ngekorin mba kinnas mulu" panjang umur si cilo yang datang dan langsung mengacak rambut calla hingga sang empunya menggerutu dan bersembunyi di pelukan kinnas.
Sedangkan kinnas tertawa melihat tingkah abang beradik tersebut. Wajar jika kinnas merasa senang dengan pemandangan yang sangat jarang ia lihat, lantaran karena ia anak tunggal. Di rumah pun ia jarang berinteraksi dengan ayah dan ibu. Keluarga kinnas sesekali menghabiskan waktu saat akhir pekan.
"ehemm" lagi-lagi keberadaan arsena yang tak pernah disadari oleh siapapun itu membuat semua orang kaget dan buyar ketika mendengar suara arsena. Ternyata tidak ada yang menyadari jika ia duduk di pojok kursi teras rumah sedari tadi.
"lu sejak kapan disitu mas?" arcelio membuka suara sedangkan arsena menutup koran nya dan melihat ke arah sang adik.
"la lu la lu" sindir nya yang di balas tawa oleh arcelio. Baru ini kinnas melihat arsena tampak menyindir salah satu adiknya. Biasanya, calla merengek atau cilo yang mengajak berbicara, reaksinya tetap datar.
"ayok sarapan" ajaknya membuat semua orang kini menghambur ke arah lelaki tampan tersebut.
Sedangkan kinnas yang merasa tidak begitu lapar lebih memilih ke sisi lain ketika tak sengaja melihat salah satu ART sedang menyirami tanaman halaman. Ia segera menghampirinya.
"biar saya bantu bi" ujar nya mengambil alih selang.
ART di keluarga arsena sudah bekerja cukup lama, se-pendengaran kinnas kira-kira sekitar 20 tahun lama nya. Bahkan sudah bekerja sejak mereka masih tinggal di kampung. Maka dari itu ART yang akrab di sapa sebagai bi ami tersebut sudah mengenal kinnas sejak dulu. Bahkan saat kedatangan kinnas berbulan yang lalu, ia juga ikut menyambut meski kinnas sudah pasti lupa.
"neng kinnas kok bisa tumbuh jadi cantik banget gini sih?" ujar bi ami mengajak kinnas mengobrol. Yang di puji hanya tertawa sambil sesekali menyangkal.
"dulu inget banget neng kinnas masih segini.." bi ami mengukur tinggi kinnas waktu kecil dengan menggantungkan tangannya di udara.
"suka banget minta gendong bi ami kalau di gangguin sama mas arsena" lanjut nya menceritakan masa lalu.
"beneran bi?" tanya kinnas tak menyangka. Mendengar cerita bi ami, sepertinya kinnas dan arsena memang sudah akrab sejak kecil.
Bi ami mengangguk, ia menarik napas kembali sebelum melanjutkan ceritanya.
"dulu neng kinnas sering di ajak sama keluarga ini untuk liburan. Karena mereka dulu seneng banget sama neng kinnas yang lucu dan menggemaskan, bahkan hampir di angkat jadi anak lho, tapi bi ami gak tau kenapa gak jadi"
Dari cerita bi ami kinnas bisa mengerti, mana mungkin anak sematawayang orang tua nya di berikan pada orang lain. Tapi yang tidak kinnas mengerti, mengapa ia tak mengingat keluarga ini sama sekali. Apa sudah terlalu lama jadi kinnas tak bisa mengingat apapun? Sulit di mengerti, namun kinnas tak begitu ambil pusing. Fokusnya kini hanya tertuju pada mengembalikan keadaan keluarga nya seperti semula.
Mendengar cerita bi ami tentang masa kecil nya, kinnas jadi melamun dan tidak sadar jika seseorang sedang memperhatikan nya sedari tadi. Orang itu mencoba memanggil kinnas namun tak ada sahutan sama sekali sehingga ia terpaksa menepuk pundak wanita tersebut.
Kinnas kaget alhasil selang yang ia pegang hilang kendali dan menyemprot arcelio. Kinnas panik karena arcelio jadi basah, namun bukan nya berusaha mematikan selangnya, kinnas malah membuat air nya semakin deras. Bahkan dirinya pun jadi ikut tersembur.
Beberapa menit menghadapi selang yang tampak seperti tantrum tersebut, akhirnya setelah basah kuyub seseorang mematikan air dari sumber keran nya. Kinnas mengira itu bi ami yang sedari tadi menghilang entah kemana setelah bercerita, namun ternyata orang tersebut adalah arsena yang sudah menggeleng-geleng kepala dan melipat tangan nya.
"kamu kan mas suru manggil mba kinnas doang, kenapa malah jadi main water park"
Arsena menegur arcelio yang hendak membantu kinnas menyeka air di mata nya, namun saat tangan cilo hendak menyentuh wajah kinnas dengan sigap arsen menghentikan nya.
Cilo spontan melihat ke arah arsena. Tinggi mereka hanya berselisih beberapa centi, wajah dan perawakan pun terlihat sama, hanya gaya rambut yang berbeda. Namun aneh nya di situasi saat ini mereka lebih terlihat seperti sedang berseteru. Kinnas menghela napas, ia membuka suara untuk mencairkan suasana.
"tadi aku yang gak sengaja kepencet selang nya kok, kamu gak perlu marahin cilo" ujar kinnas seolah membela cilo. Hal itu membuat arsena langsung menatap ke arah wanita yang basah kuyub hingga membuat lekuk badan nya semakin terlihat.
Arsena menyuru cilo untuk masuk begitu bi ami datang membawa handuk. Sedangkan lelaki yang tampak menggertak rahang nya tersebut menutupi kinnas dengan handuk. Kenapa arsena terlihat sangat marah hanya karena sepele seperti ini. Apa karena kesalahan yang kinnas buat se-berpengaruh itu? Padahal dia sendiri juga sudah berkata jika hal tersebut tidak sengaja.
Mereka berjalan beriringan menuju ke kamar kinnas, entahlah mengapa lelaki ini terus mengekorinya. Kinnas tampak risih, namun tidak bisa menolak juga. Jika di pikir-pikir mengapa dirinya terlalu menurut pada arsena. Apa ia takut pada lelaki ini? Kinnas berdecak sebal dan menghentikan langkahnya membuat arsena yang berjalan di belakangnya pun ikut terhenti.
"kamu kenapa marahin cilo mulu sih?" kinnas membuka suara sambil melipat tangan bak sedang menginterupsi arsena.
Lelaki yang tetap tampak tenang tersebut menatap kinnas dengan lekat. Bukan nya takut, ia malah berpikir jika kinnas terlihat menggemaskan. Arsena tidak memperdulikan perkataan kinnas, ia tetap mendorong kinnas hingga sampai ke depan kamar gadis itu.
Kinnas yang sedari tadi memberontak terlihat percuma. Sesampainya di depan pintu kamar kinnas pun masih setia menunggu jawaban dari arsena. Wajah lelaki itu kini terlihat datar. Sesekali iya membuang tatapannya dan berdecak meski kinnas hampir tidak menyadarinya.
"ganti baju dulu baru kita bicara"
Satu kalimat muncul membuat kinnas semakin kesal. Hal pertama yang paling tidak di sukai kinnas adalah interupsi. Kinnas paling benci jika dirinya diinterupsi dengan orang lain. Gadis itu berdecak dan masuk ke kamar, hampir ia membanting pintu nya kalau tak tersadar jika ini bukan rumah nya. Ia menarik napas dan mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Tak lama kinnas keluar kamar dengan baju yang berbeda dan rambut nya yang sudah kering. Ia langsung mencari keberadaan seseorang. Kinnas sempat bertanya kepada arcelio dan calla, ternyata lelaki itu sedang berada di kamarnya. Ngapain jam segini di kamar? Ketus kinnas dalam hati.
Kinnas berjalan sambil menghenyakkan kaki ke arah kamar arsena. Tak lama ia mengetuk pintu bernuansa putih nan kokoh tersebut. Hanya hitungan sepersekian detik pintu itu terbuka dan menampakkan wajah tampan milik arsena. Stop kinnas ini bukan saat nya untuk mengagumi. Tekad nya dalam hati.
"kamu belum jawab pertanyaan tadi apa perlu ku ulangi?"
Apa kinnas memang se-kesal ini jika arsena menegur arcelio. Siapa pun disini pasti akan salah sangka jika arcelio itu adik nya arsena tapi kinnas lah yang lebih peduli pada arcelio dan calla.
Arsena menghela napas, ia menyandarkan diri pada kusen pintu sambil menatap kinnas dengan lekat. Siapa yang tak salah tingkah di perlakukan seperti itu? Tapi bagaimana pun kinnas tidak boleh goyah hanya karena tampang seorang arsena.
"aku gak marahin arcelio, cuma negur aja dan lagian itu hal yang udah biasa. Kalau kamu tau sifat nya cilo itu gimana pasti kamu juga ngelakuin hal yang sama"
Penjelasan arsena seolah membuktikan jika dirinya adalah seorang anak sulung. Kinnas menghela napas. Ia mengerti sifat arcelio itu tipikal manusia yang jahil. Bisa ia lihat dari perlakuan cilo pada calla. Namun kejadian tadi bukan salah cilo.
"maksud nya yang tadi itu bukan salah cilo"
Hanya kalimat itu yang bisa kinnas katakan hingga membuat arsena menghela napas dan berjalan mengajak kinnas turun ke bawah tanpa menjawab apapun. Hal sepele seperti itu tidak boleh di besar-besarkan.
Arsena mengajak kinnas ke hadapan para adik-adik nya yang tampak tenang berkumpul di ruang tengah. Kinnas memperhatikan wajah arcelio yang seolah tak terjadi apapun. Apa arsena ingin menunjukkan bahwa tegurannya pada cilo tadi bukan lah suatu hal yang perlu di ungkit? Arsena paham jika mungkin kinnas masih belum mengerti suatu keadaan keluarga nya. Apalagi posisi kinnas sebagai anak tunggal yang tak mengerti bagaimana rasanya merawat dua adik walaupun arsena juga paham jadi anak tunggal itu juga sama tak enak nya.
"kamu liat kan? Orang nya juga gak merasa tersinggung walaupun di tegur. Daripada kamu terlalu belain cilo dan calla mending fokus mu itu di bagi sedikit buat aku"
Arsena berlalu menghampiri adik-adiknya, meninggalkan kinnas yang mendadak terdiam ditempat. Kalimat arsena barusan membuat wajah kinnas seketika memanas dan merona. Entah sejak kapan kinnas menjadi lemah terhadap lawan jenis seperti ini.
...─• •─...
semangat terus ya author 💕