Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.
Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.
Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.
Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.
Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 : PERTEMUAN YANG TIDAK DIINGINKAN
...BAB 10...
...PERTEMUAN YANG TIDAK DIINGINKAN...
Minggu pagi...
Rumah Rian sedikit lebih santai dibandingkan hari-hari sebelumnya. Tidak ada suara anak-anak bersiap sekolah. Tidak ada Delon yang terburu-buru mencari kaus kaki dan buku.
Wulan justru sudah sibuk sejak pagi.
Hari ini persediaan bahan makanan di dapur mulai menipis. Karena itu, ia berniat pergi ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan.
Mira sebenarnya bisa pergi bersamanya, tetapi perempuan itu sedang mengurus beberapa pekerjaan rumah.
Akhirnya Wulan memutuskan pergi sendiri.
Ketika Wulan keluar membawa tas belanja, sebuah mobil sudah menunggunya di halaman.
“Bu Wulan,” panggil sopir Rian yang berdiri di samping mobil. “Pak Rian bilang saya yang antar Ibu."
Wulan sedikit terkejut. “Tidak perlu, Pak. Saya bisa naik kendaraan umum.”
“Pak Rian sudah bilang begitu.” ujarnya.
Karena itu perintah majikan, Wulan pun tidak bisa menolak lagi. Ia akhirnya masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan, Wulan duduk tenang di kursi belakang.
Ia sebenarnya merasa agak canggung harus menggunakan mobil mewah hanya untuk pergi ke pasar.
Namun karena Rian sudah memintanya, ia tidak ingin memperpanjang masalah.
Sesampainya di pasar, Wulan turun.
“Bapak tunggu saja di sini.”
“Baik, Bu.”
“Saya tidak akan lama.”
Wulan kemudian berjalan memasuki pasar.
Pasar cukup ramai pagi itu. Suara pedagang menawarkan dagangan bercampur dengan suara pembeli yang sedang menawar harga.
Wulan berhenti di salah satu penjual ayam.
“Pak, saya mau tiga ekor ayam yang sudah dipotong.”
Pedagang itu mengangguk. “Baik, Bu. Tunggu sebentar.”
Wulan berdiri di depan meja dagangan.
Namun belum sempat penjual mengambil ayam pesanannya, seorang perempuan datang dan langsung menunjuk beberapa ayam.
“Saya mau yang itu semuanya.”
Penjual mengerutkan kening.
“Yang ini, Bu?”
“Iya.” Perempuan itu kemudian berdiri tepat di depan Wulan.
Wulan menatapnya sebentar. “Maaf, Bu. Saya tadi lebih dulu pesan.”
Perempuan itu menoleh. “Terus?”
Wulan mengernyit. “Saya sudah pesan tiga ekor ayam.”
“Saya juga mau ayam.”
“Bukan begitu. Maksud saya, saya datang lebih dulu.”
Pedagang itu segera menyela. “Benar, Bu. Ibu ini tadi sudah pesan duluan.”
Perempuan tersebut terlihat tidak senang. “Memangnya ayamnya tinggal berapa?”
“Ini stok terakhir.”
"Ya sudah ayam itu semua saya beli." sahutnya memaksa.
Pedagang itu menggeleng. “Maaf, Bu. Ayam saya tinggal tiga ekor ini dan Ibu ini tadi sudah pesan duluan."
Sinta langsung tidak terima. “Ya sudah, saya beli itu semua.”
“Tidak bisa, Bu. Ibu ini datang lebih dulu.”
“Saya akan bayar lebih mahal.”
Pedagang itu tetap menggeleng lagi. “Maaf, Bu. Saya tidak bisa. Kalau Ibu mau, Ibu bisa beli di tempat lain.”
Wulan yang tidak ingin memperpanjang masalah akhirnya berkata pelan, “Tidak apa-apa, Pak. Kalau memang Ibu ini sangat membutuhkan, biarkan saja.”
Pedagang itu justru semakin tidak enak hati. “Lho, Bu. Jangan begitu. Ibu sudah pesan duluan.”
Sinta mendengus. “Kenapa harus dia yang didahulukan? Saya juga mau beli.”
“Karena Ibu tadi datang setelahnya.”
“Jadi saya harus pulang tanpa ayam?”
“Stok saya memang sudah habis, Bu.”
Sinta semakin kesal. Lalu menjauh dari pedagang ayam itu. Tangannya merogoh ponselnya di dalam tas. “Kalau begitu aku telepon pacarku.”
Wulan tidak terlalu memedulikannya.
Ia hanya berdiri menunggu sampai pedagang menyerahkan pesanannya.
Namun beberapa detik kemudian, seorang lelaki datang dari arah kerumunan.
“Kenapa, Sin?”
Suara itu membuat Wulan membeku. Tubuhnya seolah kehilangan tenaga. Ia sangat mengenal suara tersebut.
Perlahan Wulan menoleh ke belakangnya. Dan jantungnya langsung berdegup keras. Handi... Mantan suaminya.
Lelaki yang selama ini berusaha ia tinggalkan bersama seluruh kenangan buruknya.
Handi mendekati perempuan tadi. Perempuan itu langsung menunjuk Wulan. “Dia merebut ayam yang aku mau.”
Handi menoleh. Tatapannya langsung berubah. Ia sama terkejutnya melihat Wulan.
Namun hanya sesaat. Setelah itu, wajahnya berubah menjadi sinis. “Kau?”
Wulan tidak menjawab.
Handi menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. “Kau masih ada di sini?”
Wulan menggenggam erat tali tas belanjanya.
“Aku sedang belanja.”
Handi tertawa kecil. “Setelah cerai masih saja keluyuran di pasar?”
Sinta menatap mereka bergantian..“Kalian saling kenal?”
Handi menjawab cepat. “Kenal.”
Hanya itu. Ia tidak mengatakan bahwa Wulan adalah mantan istrinya.
Sinta masih terlihat bingung. Handi justru kembali menatap Wulan.
“Kamu datang sendiri?”
Wulan tidak menjawab. Ia tidak ingin berbicara dengannya.
Pedagang menyerahkan tiga ekor ayam yang sudah dibungkus. “Bu, ini pesanannya.”
Wulan mengulurkan tangan. Namun sebelum sempat menerimanya, Handi telah mengambil kantong itu duluan.
“Berikan ke dia.”
Pedagang itu terkejut. “Pak, maaf tapi ini sudah dibeli Ibu ini.”
Handi tak peduli, lalu menyerahkan kantong itu kepada Sinta. “Ambil ini sayang.”
Sinta tersenyum puas. “Terima kasih.”
Wulan menatap Handi tidak percaya. “Itu ayam saya.”
Handi menatapnya dingin. “Cuma ayam.”
“Aku sudah memesannya lebih dulu.” sahut Wulan.
“Beli lagi saja.” entengnya.
Wulan menahan napas. “Stoknya sudah habis.”
“Ya sudah kan bisa cari yang lain.” Nada bicara Handi terdengar meremehkan.
Pedagang itu sebenarnya terlihat tidak enak hati. "Pak, Ibu ini memang lebih dulu pesan.”
Handi langsung menatap pedagang. “Memangnya kenapa?” jawabnya kasar. Lalu Handi mengeluarkan uang beberapa lembar melebihi harga ayam itu. "Ini, kau hanya pedagang yang butuh uang kan! Jadi nggak usah mengatur-ngaturku!"
Pedagang itu memilih diam dan Wulan juga tidak ingin membuat keributan.
Ia menatap ayam yang kini sudah berada di tangan Sinta. “Tidak apa-apa, aku bisa mencari di tempat lain.” Wulan pun berbalik.
Handi tertawa kecil. “Huh. Memang dari dulu selalu begitu.”
Wulan berhenti.
“Kalau ada masalah, selalu pura-pura mengalah.”
Kalimat itu membuat Wulan mengepalkan tangan. Namun ia tidak membalas. Ia sudah terlalu lama mengenal lelaki tersebut.
Setiap perdebatan dengannya hanya akan berakhir dengan Wulan yang terluka.
Wulan kemudian berjalan menuju penjual daging.
“Pak, ada bebek?”
“Ada, Bu.”
“Saya ambil dua kilo.”
Setidaknya keluarganya tetap membutuhkan lauk untuk hari ini.
Sinta dan Handi masih berdiri di tempat semula. Sinta menatap Wulan yang semakin menjauh. “Dia siapa? Sepertinya kamu mengenalnya?”
“Cuma orang yang aku kenal.”
“Kok kamu seperti kesal sekali sama dia?”
Handi langsung mengalihkan pandangan. “Sudahlah. Ayo kita pulang...”
Sinta tidak bertanya lagi. Ia memang tidak mengenal Wulan. Dan Handi tidak pernah menceritakan bahwa perempuan yang baru saja mereka temui adalah mantan istrinya.
Beberapa saat kemudian Wulan keluar dari pasar sambil membawa beberapa kantong belanjaan.
Mobil yang membawanya sudah menunggu. Sopir segera turun dan membukakan pintu.
“Biar saya bawakan, Bu.”
“Terima kasih.”
Wulan masuk ke dalam mobil.
Sopir meletakkan semua belanjaan di bagasi.
Mobil kemudian meninggalkan pasar.
Dari kejauhan, Handi yang baru saja keluar pasar bersama Sinta, sontak melihat Wulan yang akan menaiki sebuah mobil mewah di parkiran sana.
Matanya menyipit, lelaki itu dibuat penasaran ketika sikap sopir yang memperlakukan Wulan seperti seseorang yang sangat penting.
“Sayang?” Sinta menyentuh lengannya. “Kamu lihat apa?”
Handi tidak menjawab.
Matanya masih mengikuti mobil yang membawa Wulan pergi. Ia kemudian berjalan menuju mobilnya sendiri.
“Ayo. Kita pergi." ujarnya buru-buru.
Sinta mengikutinya. “Kita mau ke mana?”
“Sebentar.”
Handi masuk ke kursi pengemudi. Sinta duduk di sebelahnya.
Beberapa detik kemudian mobil mereka bergerak. Handi mengikuti mobil Wulan dari jarak cukup jauh.
Sinta mulai curiga. “Kok kamu mengikuti mobil tadi?”
Handi menggeleng santai. “Enggak.”
“Terus?”
“Aku cuma penasaran.”
“Penasaran apa?”
Handi tersenyum. “Cuma ingin lihat saja.”
Mobil di depan mereka terus melaju.
Hingga beberapa menit kemudian, mobil Wulan berbelok memasuki sebuah kawasan perumahan elite.
Sinta spontan menoleh ke arah Handi. “Lho?”
Handi tetap memasang wajah tenang. “Kenapa?”
“Perempuan tadi tinggal di sini?” sahut Sinta.
Handi hanya terdiam. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Wulan bisa berada di kawasan seperti ini.
Selama pernikahan mereka, Wulan bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia selalu melihat Wulan sebagai perempuan sederhana yang tidak punya apa-apa.
Tetapi sekarang?
Wulan keluar dari pasar dengan mobil mewah dan memasuki kawasan perumahan elite.
Handi semakin penasaran.
Sinta terus menatapnya. “Kita sebenarnya mau ngapain masuk ke sini?”
Handi segera mengalihkan pembicaraan. “Em nggak, cuma mau lihat-lihat saja, di sini bagus juga ya perumahannya.”
“Hah?”
“Rumah-rumahnya besar.”
Sinta mengerutkan kening.
Handi tersenyum. “Kalau nanti kita menikah, aku ingin punya rumah seperti ini.”
Sinta langsung tersipu. “Kamu serius?”
“Serius.” Handi menggenggam tangan Sinta.
"Sayang aku senang sekali dengernya." Kini Sinta berceloteh manja.
“Tentu saja aku ingin memberikan yang terbaik untukmu.” ucap Handi yang membuat Sinta tersenyum.
Namun Handi tidak lagi memperhatikan Sinta. Matanya justru terpaku pada mobil di depan.
Mobil itu kini berhenti di depan sebuah rumah besar. Setelah sopir membukakan pintu mobil, Wulan pun turun.
Handi semakin terkejut.
Rumah itu terlihat jauh lebih mewah daripada apa pun yang pernah ia miliki.
Wulan membawa beberapa kantong belanja masuk ke dalam rumah.
Handi menatapnya dari kejauhan. Ada sesuatu yang mulai mengusik pikirannya. Sejak kapan Wulan hidup seperti itu? Dan yang lebih membuatnya penasaran...
Siapa pemilik rumah tersebut?
Sinta masih tersenyum di sampingnya, sama sekali tidak mengetahui bahwa lelaki yang sedang menggenggam tangannya mulai memikirkan perempuan dari masa lalunya.
Handi memandang rumah itu cukup lama.
Kemudian sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.
Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam kehidupan Wulan.
Tetapi ia tahu satu hal. Ia ingin mengetahuinya lebih jauh...
Bersambung...