Diagnosis: Ghost!

Diagnosis: Ghost!

BAB 1: Salah Klik, Salah Nasib

​Bau formalin itu seharusnya menjadi aroma yang paling dibenci Arini setelah aroma rumah sakit tempatnya koma selama tiga bulan. Namun, bagi Arini yang baru saja kembali dari ambang kematian, bau menyengat ini justru terasa seperti pengingat bahwa dia masih bernapas.

​Arini menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang di balik jubah hijaunya. Di depannya, sebuah brankar logam mengilat memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip-kedip—seolah-olah lampu itu sendiri sedang sekarat. Di atasnya, terbujur kaku sebuah tubuh yang tertutup kain jarik cokelat.

​"Rin, serius deh... itu lipstik kamu ketebalan. Mau otopsi atau mau audisi girlband?"

​Arini tersentak. Dia melirik ke samping kanan, tempat Mika sedang duduk bersila di atas meja instrumen bedah. Mika mengenakan cheongsam merah modern dengan rambut yang dikuncir dua tinggi. Wajahnya cantik, kulitnya putih porselen, tapi sayangnya, kakinya tidak menapak lantai.

​"Mika, bisa diam tidak? Ini hari pertamaku masuk kerja. Kalau aku gagal fokus dan salah potong, karierku tamat!" bisik Arini dengan nada tertahan.

​"Duh, Arini sayang... karier kamu itu sudah salah sejak awal. Ingat kan? Kamu itu salah klik! Harusnya ambil Spesialis Kulit dan Kelamin biar bisa dandanin pasien jadi cantik, eh malah nyasar ke Forensik. Sekarang kamu malah dandanin mayat supaya kelihatan 'rapi' di depan hakim," Mika tertawa cekikikan, suaranya terdengar seperti denting lonceng yang bergema di ruangan sunyi itu.

​Arini mengabaikannya. Dia meraih pisau bedah—scalpel—dengan tangan yang sedikit gemetar. Namun, baru saja ujung pisau itu menyentuh kulit dingin sang jenazah, sebuah tangan pucat mendadak muncul dari balik kain jarik dan mencengkeram pergelangan tangan Arini.

​"DOKTER! JANGAN POTONG DI SITU! ITU TATO TERMAHAL SAYA!"

​Arini menjerit kecil, hampir saja melempar pisaunya. Dia mundur tiga langkah hingga punggungnya menabrak lemari pendingin jenazah.

​Di atas brankar, sosok hantu laki-laki bertato penuh di lengan kanan bangkit berdiri. Dia tidak berdarah-darah, hanya terlihat sedikit... transparan dan kebiruan.

​"A-apa?" gagap Arini.

​"Tato naga ini harganya sepuluh juta, Dok! Kalau Dokter bedah di situ, kepalanya naga saya jadi buntung! Nanti di akhirat saya diejek hantu lain!" protes si hantu dengan wajah melas.

​"Tapi saya harus memeriksa organ dalam Anda, Pak! Ini prosedur hukum!" Arini mulai berargumen dengan udara kosong—setidaknya itulah yang terlihat jika ada orang normal yang masuk ke ruangan itu.

​"Nggak mau! Cari jalan lain! Pokoknya naga saya harus utuh!"

​Mika terbang mendekat, mengitari hantu bertato itu. "Heh, Bang Tato! Udah mati aja banyak gaya. Lagian naga lu itu lebih mirip cacing pita tahu nggak? Udah, Rin, belah aja! Biar dia tahu rasa!"

​"MIKA, JANGAN MEMPROVOKASI!" teriak Arini frustrasi.

​Tepat saat itu, pintu baja ruang otopsi terbuka dengan suara dentuman berat.

​Seorang pria jangkung dengan setelan jas charcoal yang sangat rapi masuk. Langkah kakinya yang mengenakan sepatu pantofel mahal bergema tegas. Wajahnya simetris, rahangnya tegas, dan matanya setajam elang yang sedang mengintai mangsa. Dialah Baskara, tunangan Arini sekaligus Jaksa penuntut yang paling ditakuti di kota ini.

​Baskara berhenti tepat di depan Arini. Dia menatap Arini yang sedang berdiri memojok di pojok ruangan dengan tangan terangkat, seperti orang yang sedang mengajak berkelahi udara.

​"Arini," suara Baskara rendah dan berat. "Kamu bicara dengan siapa?"

​Arini membeku. Dia melihat ke arah Baskara, lalu ke arah Mika yang sedang meletakkkan tangannya di bahu Baskara (meski tangannya menembus jas pria itu), lalu ke arah hantu bertato yang masih protes soal naganya.

​"Aku... aku sedang... sedang senam tangan, Bas! Iya, senam tangan supaya otot-ototku tidak kaku setelah koma," Arini melakukan gerakan memutar tangan yang aneh.

​Baskara menyipitkan mata. Dia berjalan mendekat, aroma parfum sandalwood yang mahal langsung menyapu hidung Arini, mengalahkan bau formalin sejenak. Baskara berhenti hanya beberapa inci dari wajah Arini, membuat Arini harus mendongak.

​"Tiga bulan koma sepertinya mengganggu fungsi kognitifmu," ucap Baskara datar tanpa ekspresi. Dia mengulurkan tangan, lalu dengan lembut—sangat lembut hingga Arini hampir meleleh—dia merapikan helaian rambut Arini yang keluar dari penutup kepala medisnya. "Jangan memaksakan diri. Kalau kamu masih berhalusinasi, pulanglah. Aku tidak mau laporan otopsi kasus ini cacat hukum karena dokter yang mengerjakannya sedang... tidak stabil."

​Arini mengerucutkan bibirnya. Sifat tsundere Baskara memang juara. Bicaranya pedas, tapi tindakannya perhatian.

​"Aku sehat, Bas. Aku cuma... sedikit gugup. Kasus ini sangat penting untukmu, kan?"

​Baskara terdiam sejenak. Matanya menatap tubuh di atas brankar. "Sangat penting. Ini kunci untuk menjerat sindikat konspirasi yang juga terlibat dalam kecelakaanmu tiga bulan lalu. Aku butuh bukti fisik, Arini. Bukan halusinasi."

​Mika, yang sejak tadi menonton, mendadak berbisik di telinga Arini. "Rin, kasih tahu tunangan robotmu itu... si Bang Tato ini nggak mati karena serangan jantung. Tuh, lihat di lubang telinganya. Ada bekas tusukan kecil banget. Kayaknya dia diracun lewat situ."

​Arini tersentak. Dia melihat ke arah telinga jenazah. Benar saja, ada bintik merah kecil yang hampir tak terlihat jika tidak diperiksa dengan sangat jeli.

​"Bas," panggil Arini pelan. "Bisa beri aku waktu lima belas menit? Aku rasa... aku menemukan sesuatu yang terlewatkan oleh tim olah TKP."

​Baskara menatap Arini dalam-dalam, mencari kebohongan di mata tunangannya. Setelah beberapa detik yang terasa selamanya, dia mengangguk kecil.

​"Lima belas menit. Aku tunggu di luar. Dan Arini..." Baskara berhenti di ambang pintu, "Jangan bicara sendiri lagi. Itu membuatku... khawatir."

​Pintu tertutup.

​Mika langsung bersorak. "Cieee, khawatir katanya! Padahal dalam hati dia mau bilang 'Aku sayang kamu, Arini, jangan gila dulu'."

​"Diam kau, Mika!" Arini kembali mendekati meja otopsi. Dia menatap hantu bertato itu. "Pak, kalau Bapak mau tato naganya utuh, kasih tahu saya siapa yang menusuk telinga Bapak? Kalau Bapak jujur, saya janji akan menjahit perut Bapak seindah sulaman baju pengantin!"

​Hantu bertato itu terdiam, lalu matanya mulai berkaca-kaca (yang anehnya berwarna biru transparan). "Beneran ya, Dok? Janji ya? Oke... jadi gini ceritanya, waktu saya lagi makan seblak..."

​Arini mendesah. Dia menarik napas, menyiapkan mental untuk mendengarkan curhatan pertama dari banyak arwah yang akan datang. Menjadi dokter kulit mungkin lebih tenang, tapi menjadi dokter forensik indigo? Sepertinya hidup Arini baru saja dimulai dengan cara yang paling gila.

Terpopuler

Comments

aditya rian

aditya rian

coba yang horor nya ahhh

2026-04-25

1

Zee

Zee

ternyata orang bertato doyan makan seblak juga/Facepalm/

2026-04-15

0

umie chaby_ba

umie chaby_ba

thorku... kau meramba dunia lain?? 👍👍👍👍

2026-04-12

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Salah Klik, Salah Nasib
2 BAB 2: Pelukan Dingin dan Aroma Sandalwood
3 BAB 3: Kencan yang Ramai
4 BAB 4: Bisikan Hitam dan Benang Pelet
5 BAB 5: Otopsi di Bawah Bayang-bayang
6 BAB 6: Hutan Bisikan dan Pelindung Nyata
7 BAB 7: Perjanjian Berdarah dan Tatapan Sang Jaksa
8 BAB 8: Pembalasan dari Balik Kabut
9 BAB 9: Janji di Atas Keraguan
10 BAB 10: Akad di Bawah Tatapan Sunyi
11 BAB 11: Obsesi dari Masa Lalu
12 BAB 12: Kamar Rahasia di Balik Rak Buku
13 BAB 13: Topeng Sang Putra dan Duel Jiwa
14 BAB 14: Cahaya Perak yang Meredup
15 BAB 15: Labuhan di Balik Badai
16 BAB 16: Runtuhnya Takhta Sang Predator
17 BAB 17: Kesaksian di Bawah Sumpah Gaib
18 BAB 18: Ujung Tanduk Sang Pelakor
19 BAB 19: Strategi di Balik Selimut
20 BAB 20: Skakmat untuk Sang Ratu Tipu
21 BAB 21: Cahaya di Ujung Dendam
22 BAB 22: Debur Ombak di Selatan Jawa
23 BAB 23: Gelombang yang Tak Terbendung
24 BAB 24: Manja di Pagi yang Cerah
25 BAB 25: Senja Keramat di Parangtritis
26 BAB 26: Rahasia di Balik Cahaya Taman Sari
27 BAB 27: Tatapan yang Terhalang
28 BAB 28: Cermin Masa Lalu di Lorong Waktu
29 BAB 29: Kidung Luka dalam Mimpi
30 BAB 30: Antara Cemburu dan Keadilan
31 BAB 31: Jejak yang Terhapus
32 BAB 32: Galeri Jiwa yang Terpasung
33 BAB 33: Perjamuan Sang Raja Kegelapan
34 BAB 34: Benang Merah Kematian
35 BAB 35: Kesaksian dari Balik Kanvas Iblis
36 BAB 36: Galeri Organ dan Garis Takdir yang Terputus
37 BAB 37: Detik-Detik di Ruang Hampa
38 BAB 38: Takhta di Atas Menara Gading
39 BAB 39: Runtuhnya Menara Gading
40 BAB 40: Sisa-Sisa di Ruang Sidang
41 BAB 41: Tamu Kecil di Balik Pagar
42 BAB 42: Janji di Balik Detak Jantung
43 BAB 43: Tangisan dari Tanah Merah
44 BAB 44: Kidung Keadilan di Tanah Larangan
45 BAB 45: Perang di Balik Jubah Kekuasaan
46 BAB 46: Pelarian di Jalur Hitam
47 BAB 47: Di Ambang Putih dan Merah
48 BAB 48: Sumpah di Ruang Steril
49 BAB 49: Genderang Perang di Depan Lensa
50 BAB 50: Arunika yang Terlupakan
51 BAB 51: Perjanjian di Gerbang Sukma
52 BAB 52: Jejak Melati di Kota Udang
53 BAB 53: Meja Makan dan Kenangan yang Kembali Pulang
54 BAB 54: Silsilah yang Tersembunyi dan Tangisan di Balik Tembok
55 BAB 55: Perjanjian Berdarah di Balik Deru Mesin
56 BAB 56: Pusaka Kuning dan Penjaga dari Masa Lalu
57 BAB 57: Gerbang Neraka di Ujung Pantura
58 BAB 58: Bongkahan Beton dan Rahasia yang Menguap
59 BAB 59: Membongkar Tembok Inkracht
60 BAB 60: Bisikan di Balik Jeruji Besi
61 BAB 61: Kesaksian dari Dua Alam
62 BAB 62: Gema Linggis di Tanah Sunyi
63 BAB 63: Fajar di Ujung Penantian
64 BAB 64: Tameng Cahaya di Jalur Maut
65 BAB 65: Skakmat di Ruang Penyidik
66 BAB 66: Suara dari Masa Sunyi
67 BAB 67: Kembalinya Sang Arsitek Dendam
68 BAB 68: Pelayat Tak Kasat Mata
69 BAB 69: Pola yang Berulang
70 BAB 70: Perjamuan Iblis di Menara Kaca
71 BAB 71: Rencana yang Membelok
72 BAB 72: Penjara Sukma dan Raga yang Asing
73 BAB 73: Papan Titian Sukma
74 BAB 74: Remasan Tangan Iblis
75 BAB 75: Titian Nyawa di Ambang Batas
76 BAB 76: Fajar Pemutus Rantai
77 BAB 77: Sidang Berdarah di Ujung Meja
78 BAB 78: Sumpah di Bawah Langit Jingga
79 BAB 79: Sisa-Sisa Perjamuan Gelap
80 BAB 80: Dendam yang Berbisik dalam Darah
81 BAB 81: Perangkap di Kamar 103
82 BAB 82: Diplomasi di Ruang Gelap
83 BAB 83: Runtuhnya Menara Gading
84 BAB 84: Cahaya di Atas Sajadah
85 BAB 85: Benih di Balik Bayangan
86 BAB 86: Darah di Ambang Gerbang
87 BAB 87: Sunyi di Ruang Putih
88 BAB 88: Bisikan di Balik Sunyi
89 BAB 89: Perjamuan Maut di Ruang Perawatan
90 BAB 90: Pintu yang Terkunci dan Jatuh ke Bumi
91 BAB 91: Benang Merah di Balik Maut
92 BAB 92: Penyamaran di Balik Masker Putih
93 BAB 93: Jejak yang Menguap
94 BAB 94: Retaknya Ketegaran sang Jaksa
95 BAB 95: Peta di Balik Tragedi
96 BAB 96: Gerbang Darah Ciherang
97 BAB 97: Cahaya dari Seberang Dimensi
98 BAB 98: Antara Operasi dan Dimensi Putih
99 BAB 99: Fajar di Atas Puing-Puing
100 BAB 100: Sang Surya di Malam Jumat Kliwon
101 EPILOG: Penjaga Rahasia Semesta
Episodes

Updated 101 Episodes

1
BAB 1: Salah Klik, Salah Nasib
2
BAB 2: Pelukan Dingin dan Aroma Sandalwood
3
BAB 3: Kencan yang Ramai
4
BAB 4: Bisikan Hitam dan Benang Pelet
5
BAB 5: Otopsi di Bawah Bayang-bayang
6
BAB 6: Hutan Bisikan dan Pelindung Nyata
7
BAB 7: Perjanjian Berdarah dan Tatapan Sang Jaksa
8
BAB 8: Pembalasan dari Balik Kabut
9
BAB 9: Janji di Atas Keraguan
10
BAB 10: Akad di Bawah Tatapan Sunyi
11
BAB 11: Obsesi dari Masa Lalu
12
BAB 12: Kamar Rahasia di Balik Rak Buku
13
BAB 13: Topeng Sang Putra dan Duel Jiwa
14
BAB 14: Cahaya Perak yang Meredup
15
BAB 15: Labuhan di Balik Badai
16
BAB 16: Runtuhnya Takhta Sang Predator
17
BAB 17: Kesaksian di Bawah Sumpah Gaib
18
BAB 18: Ujung Tanduk Sang Pelakor
19
BAB 19: Strategi di Balik Selimut
20
BAB 20: Skakmat untuk Sang Ratu Tipu
21
BAB 21: Cahaya di Ujung Dendam
22
BAB 22: Debur Ombak di Selatan Jawa
23
BAB 23: Gelombang yang Tak Terbendung
24
BAB 24: Manja di Pagi yang Cerah
25
BAB 25: Senja Keramat di Parangtritis
26
BAB 26: Rahasia di Balik Cahaya Taman Sari
27
BAB 27: Tatapan yang Terhalang
28
BAB 28: Cermin Masa Lalu di Lorong Waktu
29
BAB 29: Kidung Luka dalam Mimpi
30
BAB 30: Antara Cemburu dan Keadilan
31
BAB 31: Jejak yang Terhapus
32
BAB 32: Galeri Jiwa yang Terpasung
33
BAB 33: Perjamuan Sang Raja Kegelapan
34
BAB 34: Benang Merah Kematian
35
BAB 35: Kesaksian dari Balik Kanvas Iblis
36
BAB 36: Galeri Organ dan Garis Takdir yang Terputus
37
BAB 37: Detik-Detik di Ruang Hampa
38
BAB 38: Takhta di Atas Menara Gading
39
BAB 39: Runtuhnya Menara Gading
40
BAB 40: Sisa-Sisa di Ruang Sidang
41
BAB 41: Tamu Kecil di Balik Pagar
42
BAB 42: Janji di Balik Detak Jantung
43
BAB 43: Tangisan dari Tanah Merah
44
BAB 44: Kidung Keadilan di Tanah Larangan
45
BAB 45: Perang di Balik Jubah Kekuasaan
46
BAB 46: Pelarian di Jalur Hitam
47
BAB 47: Di Ambang Putih dan Merah
48
BAB 48: Sumpah di Ruang Steril
49
BAB 49: Genderang Perang di Depan Lensa
50
BAB 50: Arunika yang Terlupakan
51
BAB 51: Perjanjian di Gerbang Sukma
52
BAB 52: Jejak Melati di Kota Udang
53
BAB 53: Meja Makan dan Kenangan yang Kembali Pulang
54
BAB 54: Silsilah yang Tersembunyi dan Tangisan di Balik Tembok
55
BAB 55: Perjanjian Berdarah di Balik Deru Mesin
56
BAB 56: Pusaka Kuning dan Penjaga dari Masa Lalu
57
BAB 57: Gerbang Neraka di Ujung Pantura
58
BAB 58: Bongkahan Beton dan Rahasia yang Menguap
59
BAB 59: Membongkar Tembok Inkracht
60
BAB 60: Bisikan di Balik Jeruji Besi
61
BAB 61: Kesaksian dari Dua Alam
62
BAB 62: Gema Linggis di Tanah Sunyi
63
BAB 63: Fajar di Ujung Penantian
64
BAB 64: Tameng Cahaya di Jalur Maut
65
BAB 65: Skakmat di Ruang Penyidik
66
BAB 66: Suara dari Masa Sunyi
67
BAB 67: Kembalinya Sang Arsitek Dendam
68
BAB 68: Pelayat Tak Kasat Mata
69
BAB 69: Pola yang Berulang
70
BAB 70: Perjamuan Iblis di Menara Kaca
71
BAB 71: Rencana yang Membelok
72
BAB 72: Penjara Sukma dan Raga yang Asing
73
BAB 73: Papan Titian Sukma
74
BAB 74: Remasan Tangan Iblis
75
BAB 75: Titian Nyawa di Ambang Batas
76
BAB 76: Fajar Pemutus Rantai
77
BAB 77: Sidang Berdarah di Ujung Meja
78
BAB 78: Sumpah di Bawah Langit Jingga
79
BAB 79: Sisa-Sisa Perjamuan Gelap
80
BAB 80: Dendam yang Berbisik dalam Darah
81
BAB 81: Perangkap di Kamar 103
82
BAB 82: Diplomasi di Ruang Gelap
83
BAB 83: Runtuhnya Menara Gading
84
BAB 84: Cahaya di Atas Sajadah
85
BAB 85: Benih di Balik Bayangan
86
BAB 86: Darah di Ambang Gerbang
87
BAB 87: Sunyi di Ruang Putih
88
BAB 88: Bisikan di Balik Sunyi
89
BAB 89: Perjamuan Maut di Ruang Perawatan
90
BAB 90: Pintu yang Terkunci dan Jatuh ke Bumi
91
BAB 91: Benang Merah di Balik Maut
92
BAB 92: Penyamaran di Balik Masker Putih
93
BAB 93: Jejak yang Menguap
94
BAB 94: Retaknya Ketegaran sang Jaksa
95
BAB 95: Peta di Balik Tragedi
96
BAB 96: Gerbang Darah Ciherang
97
BAB 97: Cahaya dari Seberang Dimensi
98
BAB 98: Antara Operasi dan Dimensi Putih
99
BAB 99: Fajar di Atas Puing-Puing
100
BAB 100: Sang Surya di Malam Jumat Kliwon
101
EPILOG: Penjaga Rahasia Semesta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!