Pagi harinya, sinar mentari hangat menerpa pelataran kediaman Pak Hendrawan. Sebelum meluncur menuju kantor Dinas Kesehatan Kota untuk menyerahkan berkas perizinan, Pak Hendrawan meminta Tara mengarahkan sedan hitam menuju sebuah kawasan perumahan paling eksklusif di pinggir ibu kota.
Di dalam mobil yang melaju tenang, Damar memandangi deretan pepohonan rindang di sepanjang jalan perumahan tersebut. Di sampingnya, Amara tampak duduk manis seraya memeriksa kembali kerapian Stopmap folio berwarna biru di pangkuannya.
"Pak Hendrawan, kalau boleh tahu kita mau mampir ke mana dulu nggih?" tanya Damar halus, membuka percakapan di dalam mobil.
Pak Hendrawan yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang seraya tersenyum ramah.
"Damar, sebelum kita ke kantor dinas kesehatan, Om mau mengenalkan kamu dengan seorang tokoh yang sangat penting," tutur Pak Hendrawan. "Namanya Pak Tirta Wijaya."
"Pak Tirta Wijaya itu sahabat lama Papa, Mas Damar," timpal Amara berseri-seri. "Beliau itu pengusaha senior yang sangat disegani di negeri ini."
"Bukan cuma disegani, Damar," lanjut Pak Hendrawan menjelaskan dengan raut muka serius. "Pak Tirta itu seorang konglomerat taipan papan atas. Pengaruh, jaringan bisnis, dan kekayaannya jauh di atas Om. Bisnisnya mencakup sektor perbankan, energi, hingga perhotelan. Bahkan beliau punya hubungan yang sangat dekat dengan para pejabat tinggi di pemerintahan dan kementerian kesehatan."
Damar mengangguk-angguk paham, mendengarkan penjelasan itu dengan rasa takzim. "Oalah... Berarti beliau sosok yang sangat berpengaruh dan disegani nggih, Pak Hendrawan?"
"Sangat berpengaruh, Damar," sahut Pak Hendrawan. "Tapi di balik kejayaan dan kekuasaannya, Pak Tirta sedang mengalami cobaan yang teramat berat. Beliau menderita penyakit langka yang sudah bertahun-tahun tak kunjung sembuh. Padahal beliau sudah berobat ke dokter-dokter spesialis terbaik di Singapura, Jepang, sampai Jerman."
Amara menghela napas pelan, raut mukanya berubah prihatin. "Kasihan sekali Pak T…
Damar Dan Kitab Tabib
Bab 59 — Pasien Berpengaruh: Pak Tirta Wijaya, part 1.
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 90 Episodes
Comments