2 - No Strings Attached

Aku dan Javier masih terpaku di tempat, sama-sama terkejut dengan apa yang baru saja kami dengar.

Dijodohkan…

Sesuatu yang bahkan tidak pernah sekalipun terlintas di pikiranku.

Rasanya seperti sedang berada di dalam drama.

Aku bukan dijodohkan dengan pangeran karena wasiat keluarga…

Bukan dengan CEO tampan karena desakan kakek…

Bukan juga dengan pria terpintar di sekolah karena hubungan orang tua…

Tapi dengan pria yang bahkan baru saja kukenal beberapa menit yang lalu.

“Maaf, Pak… bisa diulangi lagi? Sepertinya saya salah dengar.” ucapku, mencoba memastikan bahwa ini bukan kenyataan.

“Iya, Pa. Papa bercanda, kan?” Javier ikut menimpali, nada suaranya terdengar setengah tidak percaya.

“Papa nggak bercanda, Javi.” jawab Pak Jamal santai. “Papa dan Pak Roni memang punya rencana menjodohkan kalian. Tentu saja… setelah orang tua Naya menyetujui.”

Dadaku terasa sesak.

Refleks aku menoleh ke arah Ibu dan Ayah.

Lalu, tanpa sengaja, mataku bertemu dengan Javier.

“내가? 결혼? 지금? (Aku? Menikah? Sekarang?)”

Aku terkekeh pelan, lebih terdengar seperti orang yang sedang kehilangan akal sehat.

“말도 안돼… 이게 뭐야? (Tidak mungkin… ini apa sih?)”

“Naya…” suara Ibu terdengar menegur.

“Aduh, Naya… kamu ngomong apa sih?” sela Tante Elisa cepat. “Maaf ya, Pak. Naya memang seperti itu. Karena bisa bahasa Korea, jadi suka tiba-tiba ngomong pakai bahasa Korea.”

“Wah, Kak Naya bisa bahasa Korea? Daebak! Ajarin aku dong, Kak!” Janessa langsung bersinar antusias.

“Jane! Apa-apaan sih kamu?” tegur Bu Sonya.

“Apa sih, Ma? Aku kan cuma mau belajar bahasa Korea…” gerutu Janessa.

“Ini bukan waktunya. Acara ini untuk kakak kamu.” ujar Bu Sonya, lalu menatap ke arah kami semua. “Maaf ya…”

Janessa pun cemberut.

“Naya hebat ya bisa bahasa asing, tapi bukan Inggris.” komentar Pak Jamal santai. “Biasanya orang-orang bisa bahasa asing itu Inggris, tapi Naya malah Korea.”

“Itu karena dia sudah terlalu lama suka Korea, Pak.” timpal Tante Elisa.

“Saya juga sudah lama suka Korea, Tan, tapi belum bisa-bisa bahasa Korea.” sahut Janessa lagi.

Aku hanya diam.

Kepalaku masih berisik dengan satu kata yang terus berulang.

Dijodohkan.

“Maaf… apa saya boleh ngobrol berdua dengan Naya?” suara Javier tiba-tiba memotong semuanya.

Semua orang langsung menoleh ke arahnya.

“Ya, boleh. Silakan. Ngobrollah kalian berdua. Hitung-hitung untuk mengakrabkan diri.” jawab Pak Jamal dengan senyum puas.

Orang tuaku, Tante Elisa, dan Om Roni juga mengangguk setuju.

Aku menghela napas panjang.

“Naya, ayo ikut saya.”

Javier berdiri lebih dulu.

Aku menatapnya sebentar, lalu bangkit pelan dari tempat dudukku dan mengikutinya.

Langkahku terasa ringan… tapi juga aneh.

Seperti sedang berjalan menuju sesuatu yang belum aku pahami—

dan mungkin akan mengubah hidupku sepenuhnya.

 Kami berjalan beriringan melewati deretan meja yang penuh pengunjung. Suara obrolan, denting sendok, dan aroma makanan bercampur jadi satu, tapi entah kenapa semuanya terasa jauh dariku.

Fokusku hanya satu.

Pria di depanku… dan situasi aneh yang sedang terjadi.

Langkah Javier akhirnya berhenti di depan sebuah ruangan tertutup.

Ia membuka pintu, lalu menoleh padaku.

“Masuklah.”

Aku menyipitkan mata. “Kita mau ngapain di ruangan ini? Jangan macem-macem, ya.”

Javier langsung menghela napas panjang, seperti sudah lelah duluan.

“Saya tidak akan ngapa-ngapain kamu. Saya cuma mau ngobrol.” katanya. “Ayo, masuk.”

Aku terdiam sejenak, menimbang.

Lalu, dengan sedikit ragu, aku melangkah masuk.

Ruangan itu ternyata cukup nyaman. Tidak terlalu besar, tapi tenang. Jauh dari keramaian di luar.

Kami duduk di sofa panjang—dengan jarak yang cukup aman.

Beberapa detik hening.

“Kamu benar-benar tidak tahu soal perjodohan ini?” tanya Javier akhirnya.

Aku langsung menoleh. “Ya iya lah. Kamu nggak lihat tadi aku kaget banget?”

Javier mengangguk pelan.

“Terus… kamu akan setuju?” tanyanya lagi.

Aku menarik napas.

“Kalau boleh jujur… nggak.” jawabku tanpa ragu. “Ini sama sekali nggak ada di radarku. Aku nggak pernah kebayang bakal dijodohin kayak gini. Ini tuh… kayak drama Korea banget. Tiba-tiba dijodohin.”

Aku berhenti sebentar, lalu menatapnya.

“Kalau kamu?”

“Sama.” jawab Javier singkat. “Saya maunya nikah lewat jalur normal. Saling kenal, saling suka… mungkin pacaran dulu… baru nikah.”

Aku mengangguk pelan.

Setidaknya kami satu tim.

“Ngomong-ngomong… nggak usah pakai ‘saya–kamu’ lah. Nggak usah formal gitu. Aku kan lebih muda dari kamu.”

Javier mengernyit. “Kok kamu tahu saya lebih tua?”

“Papa kamu yang bilang. Katanya kita beda tiga tahun.”

“Oh…” Javier mengangguk kecil. “Oke.”

Suasana kembali hening sesaat.

Aku memiringkan kepala, menatapnya penasaran.

“Kalau boleh tahu… kamu punya pacar?”

Javier langsung menggeleng.

“Serius?”

Ia mengangguk.

Aku mengangkat alis. “Masa cowok kayak kamu nggak punya pacar? Muka kamu kan… lumayan.”

Javier menatapku datar. “Memangnya kalau muka lumayan harus punya pacar? Ini soal hati, bukan fisik.”

Aku menahan senyum. “Iya sih… tapi biasanya gitu.”

“Terus kamu? Ada cowok yang kamu suka?”

“Ada.” jawabku santai.

Aku langsung mengangkat ponsel dan menunjukkan wallpaper.

Javier melihat sekilas, lalu menghela napas.

“Yang bukan aktor.”

“Ya nggak ada.” aku mengangkat bahu. “Udah, jangan bahas aku. Bahas kita aja. Gimana caranya nolak perjodohan ini?”

Javier berpikir sejenak.

“Kamu bilang aja kamu lagi suka sama seseorang.”

Aku langsung menggeleng. “Nggak bakal dipercaya. Keluargaku tahu aku sukanya aktor Korea.”

Javier menghela napas pelan.

“Kalau kamu aja gimana?” lanjutku cepat.

“Sama aja. Papaku juga nggak bakal percaya. Sejak aku ngurus rumah makan ini, aku nggak punya waktu buat pacaran.”

Aku menjatuhkan punggung ke sofa.

“아… 어떻게… 난 결혼 싫어… (Ah… gimana ini… aku nggak mau nikah…)” gumamku frustasi.

Javier menoleh. “Kamu ngomong apa sih? Bisa nggak pakai bahasa yang aku ngerti?”

Aku meliriknya sebal.

“Kamu lebih parah dari Jane, ya.” lanjutnya. “Gimana hidupku nanti kalau aku nikah sama kamu?”

Aku langsung menegakkan badan. “Ya jangan nikah sama aku lah.”

“Maunya sih gitu.” Javier tersenyum tipis. “Tapi papaku maunya kita nikah.”

“아 싫어… 싫어… (Ah nggak mau… nggak mau…)” gumamku lagi.

“Aduh… kamu ngomong apa sih?” keluh Javier.

Aku menoleh, menatapnya tajam.

“Aku nggak mau nikah sama kamu. 싫어… (nggak mau…)”

Lalu, tanpa sadar, aku memasang ekspresi dramatis—bibir bergetar, mata memicing, seolah menahan tangis.

“Hiks… hiks…”

Javier menatapku beberapa detik.

Lalu…

ia menghela napas panjang, benar-benar panjang.

Tiba-tiba pintu terbuka.

“Kakak…!” suara Janessa muncul bersamaan dengan langkahnya masuk ke dalam ruangan. “Apa yang udah Kakak lakuin ke Kak Naya?”

Aku dan Javier sama-sama terkejut.

“Aku nggak ngapa-ngapain.” jawab Javier cepat.

“Terus kenapa Kak Naya nangis?” Janessa langsung menghampiriku, wajahnya penuh curiga.

Aku menoleh ke arahnya.

“Aku nggak mau nikah sama kakak kamu, Jane.”

“Yah, Kakak…” Janessa langsung duduk di sampingku, memegang lenganku. “Padahal aku pengen banget Kakak jadi kakak iparku.”

“Hei, yang bakal jalanin pernikahan itu Naya, bukan kamu.” Javier menyela.

“Tapi aku pengen punya kakak yang sama-sama suka Korea kayak aku…” gumam Janessa.

Javier menghela napas panjang, jelas mulai kehabisan kesabaran.

“Tapi aku maunya nikah sama orang yang aku cintai.” ucapku pelan.

Janessa menatapku, matanya melembut.

“Siapa tahu cinta bisa datang… kalau kalian sering bersama. Kayak di drama-drama.”

Aku menggeleng. “Nggak segampang itu, Jane.”

“Iya, aku tahu…” katanya pelan. “Tapi yang membolak-balikkan hati itu Allah. Siapa tahu setelah menikah… kalian bisa saling cinta.”

Aku terdiam.

Kalimat itu… entah kenapa terasa menempel.

Tiba-tiba Javier berdiri, lalu menarik tangan Janessa.

“Udah, sekarang kamu keluar. Kamu ganggu kami.”

“Kak—”

Belum sempat Janessa menyelesaikan ucapannya, Javier sudah mendorongnya keluar dan menutup pintu.

“Jangan lama-lama ngobrolnya! Kami udah nunggu!” suara Janessa terdengar dari luar.

Ruangan kembali hening.

“Kamu nggak usah pikirin omongan Janessa.” ujar Javier sambil kembali duduk.

Aku menatap kosong ke depan beberapa detik.

Lalu…

“Gimana kalau… kita terima aja perjodohan ini?”

Javier langsung menoleh cepat, keningnya berkerut.

“Kenapa tiba-tiba kamu mikir kayak gitu?”

Aku menarik napas panjang.

“Soalnya… aku capek.” suaraku melemah. “Biar Tanteku nggak nyuruh-nyuruh aku nikah terus. Di antara teman-temanku… tinggal aku yang belum nikah. Aku bosen ditanya kapan nikah, kapan nikah…”

Javier menatapku, ekspresinya berubah.

“Jadi… kamu mau nikah karena ekspektasi orang?” tanyanya pelan, tapi jelas terdengar tidak setuju. “Aku nggak nyangka kamu seterpengaruh itu.”

“Aku nggak gitu!” bantahku cepat. “Ini karena terpaksa. Aku ini perempuan… Kamu sih enak, laki-laki. Mau nikah umur berapa pun nggak masalah.”

Javier terdiam. Lalu menghela napas panjang.

Aku menatapnya lagi.

“Kita nikah… tapi nggak usah kayak suami istri.”

Javier mengernyit. “Maksudnya?”

“Statusnya aja suami istri. Tapi aslinya nggak.” jelasku. “Kita tidur di kamar yang berbeda, nggak ngelakuin hal-hal kayak pasangan suami istri. Anggap aja kita cuma dua orang asing yang tinggal dalam satu rumah.”

Javier menatapku lama.

“Gimana bisa kamu kepikiran ide kayak gitu?”

Aku mengangkat bahu. “Inget adegan drama.”

Javier memijat pelipisnya.

“Ya Allah… kenapa aku harus ketemu perempuan kayak kamu sih?”

“Hei! Maksudnya apa ‘perempuan kayak aku’?” protesku.

“Perempuan yang kebanyakan nonton drama, terus semua hal disambung-sambungin ke situ.”

Aku mendengus. “Kupikir kamu mau bilang aku jelek.”

Javier langsung menggeleng. “Nggak. Aku nggak mikir gitu.”

Aku menyipitkan mata. “Terus?”

“Kamu… nggak jelek kok.”

“뭐? (Apa?)” aku refleks menoleh. “Maksudnya ‘nggak jelek’?”

Javier tampak salah tingkah.

“Nggak jelek ya cantik.”

Aku terdiam.

Cantik?

Kata itu terasa asing… tapi hangat.

“Menurutmu aku cantik?” tanyaku pelan.

“Iya—eh… maksudnya kamu nggak seburuk itu.” Javier buru-buru meralat.

“Hah?” aku menatapnya makin bingung.

“Udah, udah! Nggak usah bahas itu.” Javier langsung mengalihkan. “Sekarang gimana?”

Aku kembali ke topik awal.

“Ya seperti yang aku bilang. Kita nikah… tapi cuma status.”

Javier diam beberapa detik.

Wajahnya terlihat serius, benar-benar mempertimbangkan.

“Haruskah kita bikin perjanjian tertulis?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Nggak usah. Kalau ketahuan keluarga malah ribet. Perjanjiannya cukup kita berdua yang tahu.”

Aku menatapnya lurus.

“Kita jalanin… sampai salah satu dari kita nggak kuat lagi. Kalau itu terjadi… kita bercerai.”

Hening.

Javier menatapku cukup lama.

Lalu ia menggeleng pelan, seolah tidak habis pikir.

“Kamu memang beda…” gumamnya.

Aku mengangkat alis. “Jadi?”

Beberapa detik berlalu.

Dan akhirnya—

“Oke.” Javier menghela napas. “Aku setuju.”

Aku menatapnya, memastikan.

“Tapi ingat… ini cuma status.”

Aku mengangguk pelan.

“Iya. Cuma status.”

Di luar sana, keluarga kami mungkin sedang menunggu jawaban —tanpa tahu bahwa di dalam ruangan ini, kami justru membuat keputusan yang tidak biasa.

Sementara di dalam ruangan ini,

dua orang asing baru saja membuat kesepakatan besar—

tentang sesuatu yang seharusnya sakral.

Tanpa cinta.

Tanpa rencana.

Tanpa kesiapan.

Hanya karena keadaan.

Aku menunduk, menatap tanganku sendiri.

Entah kenapa…

perasaanku tidak sepenuhnya lega.

Dan untuk pertama kalinya hari ini,

aku mulai bertanya—

apakah keputusan ini benar-benar akan menyelesaikan masalahku…

atau justru menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit?

Episodes
1 1 - Unexpectedly
2 2 - No Strings Attached
3 3 - Without Words
4 4 - Unwritten
5 5 - Something
6 6 - Awake
7 7 - Intuition
8 8 - The Way I Am
9 9 - Love Rain
10 10 - I Think I
11 11 - Untouchable
12 12 - Impossible
13 13 - Almost
14 14 - The Reason
15 15 - Little Things
16 16 - By Chance, By Fate
17 17 - Into The New World
18 18 - Day 1
19 19 - No No No
20 20 - Maybe
21 21 - Falling Slowly
22 22 - If
23 23 - Foolish Heart
24 24 - Curious
25 25 - A Little Braver
26 26 - Accidentally In Love
27 27 - Because It's You
28 28 - Perhaps Love
29 29 - The Feels
30 30 - I'm Okay But I'm Not
31 31 - Heartbeat
32 32 - Why Am I Like This?
33 33 - Night Changes
34 34 - Everything Has Changed
35 35 - Wonder
36 36 - Unspoken
37 37 - Lies
38 38 - Little Closer
39 39 - The Moment My Heart Flinched
40 40 - More Than Words
41 41 - Turning Page
42 42 - Something Changed
43 43 - The Way You Look at Me
44 44 - Kiss Me
45 45 - Questions
46 46 - Land of the Morning
47 47 - Pretend
48 48 - If I
49 49 - Electric Shock
50 50 - Weekend
51 51 - Fire
52 52 - No Way
53 53 - Through the Night
54 54 - Confused
55 55 - Good Thing
56 56 - Serendipity
57 57 - Meaning of You
58 58 - Blueming
59 59 - I'll Be Waiting You
60 60 - Every Moment of You
61 61 - By Your Side
62 62 - Attention
63 63 - I Choose You
64 64 - Only You
65 65 - Lucky
66 66 - Not Today
67 67 - Stand By Me
68 68 - Confession Is Not Flashy
69 69 - Cinema
70 70 - Brave
71 71 - You & I ++
72 72 - Loveable
73 73 - My Sea
74 74 - Me Gustas Tu
75 75 - Signal
76 76 - Love So Fine
77 77 - Stay With Me ++
78 78 - Every Day, Every Moment
79 79 - Home
80 80 - Holiday
81 81 - I Can Only See You
82 82 - Time for the Moon Night ++
Episodes

Updated 82 Episodes

1
1 - Unexpectedly
2
2 - No Strings Attached
3
3 - Without Words
4
4 - Unwritten
5
5 - Something
6
6 - Awake
7
7 - Intuition
8
8 - The Way I Am
9
9 - Love Rain
10
10 - I Think I
11
11 - Untouchable
12
12 - Impossible
13
13 - Almost
14
14 - The Reason
15
15 - Little Things
16
16 - By Chance, By Fate
17
17 - Into The New World
18
18 - Day 1
19
19 - No No No
20
20 - Maybe
21
21 - Falling Slowly
22
22 - If
23
23 - Foolish Heart
24
24 - Curious
25
25 - A Little Braver
26
26 - Accidentally In Love
27
27 - Because It's You
28
28 - Perhaps Love
29
29 - The Feels
30
30 - I'm Okay But I'm Not
31
31 - Heartbeat
32
32 - Why Am I Like This?
33
33 - Night Changes
34
34 - Everything Has Changed
35
35 - Wonder
36
36 - Unspoken
37
37 - Lies
38
38 - Little Closer
39
39 - The Moment My Heart Flinched
40
40 - More Than Words
41
41 - Turning Page
42
42 - Something Changed
43
43 - The Way You Look at Me
44
44 - Kiss Me
45
45 - Questions
46
46 - Land of the Morning
47
47 - Pretend
48
48 - If I
49
49 - Electric Shock
50
50 - Weekend
51
51 - Fire
52
52 - No Way
53
53 - Through the Night
54
54 - Confused
55
55 - Good Thing
56
56 - Serendipity
57
57 - Meaning of You
58
58 - Blueming
59
59 - I'll Be Waiting You
60
60 - Every Moment of You
61
61 - By Your Side
62
62 - Attention
63
63 - I Choose You
64
64 - Only You
65
65 - Lucky
66
66 - Not Today
67
67 - Stand By Me
68
68 - Confession Is Not Flashy
69
69 - Cinema
70
70 - Brave
71
71 - You & I ++
72
72 - Loveable
73
73 - My Sea
74
74 - Me Gustas Tu
75
75 - Signal
76
76 - Love So Fine
77
77 - Stay With Me ++
78
78 - Every Day, Every Moment
79
79 - Home
80
80 - Holiday
81
81 - I Can Only See You
82
82 - Time for the Moon Night ++

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!