Indonesia
NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Panggilan "Sky" yang Salah Alamat

"Gila, kantin SMA Dirgantara seluas ini tapi masih aja rebutan meja."

Amira menghela napas panjang sambil menenteng nampan berisi semangkuk bakso dan es teh manis.

Sebagai anak pindahan baru di kelas XI, hari pertama ini rasanya sudah bikin kepalanya pening.

Dua temannya yang baru kenal tadi pagi, Rara dan Maya, langsung sibuk menarik tangannya ke sudut pojok dekat kipas angin dinding.

Tiing!!!

Suara sendok beradu dengan mangkuk di meja sebelah bikin Amira sedikit terkejut

"Udah, Mir, duduk sini aja. Keburu diserbu sama anak-anak geng basket," kata Rara sambil menepuk kursi plastik kosong di depannya.

"Geng basket?" Amira mengernyit, melirik sekilas ke arah meja tengah yang dikelilingi kerumunan siswi berbisik-bisik.

"Iya, isinya cowok-cowok populer semua. Terutama kaptennya, si Alfian," timpal Maya antusias, matanya bahkan tidak berkedip menatap ke arah gerombolan itu.

"Tapi, ya gitu deh, terkenal tapi terkenal songongnya juga."

Amira cuma mengangguk acuh tak acuh dan memilih duduk.

Perutnya sudah keroncongan, dan dia tidak peduli siapa pun kapten basket atau penguasa sekolah ini.

Bagi Amira, yang penting hari pertamanya cepat selesai dan dia bisa pulang ke rumah untuk tidur.

Namun, atensinya tiba-tiba teralihkan begitu sosok cowok berjaket varsity hijau tua berjalan melewati mejanya.

Rahang tegas, postur tubuh jangkung, dan cara jalan yang terkesan santai tapi mendominasi.

Deg.

Jantung Amira seolah berhenti berdetak sepersekian detik.

Matanya membelalak lebar, menatap punggung cowok itu dengan napas tertahan.

Nggak salah lagi.

"Sky?"

Amira refleks berdiri dari kursinya, suaranya lolos begitu saja tanpa bisa dicegah.

Langkah si cowok berjaket varsity terhenti.

Beberapa anak basket di sekitarnya ikut menoleh, menatap Amira dengan alis terangkat penuh tanya.

Suasana kantin yang tadinya bising mendadak terasa sedikit melambat di telinga Amira.

"Sky, kamu... beneran kamu, kan?" panggil Amira lagi, kali ini dengan langkah tergesa mendekati cowok itu.

Ada kilat rindu dan kelegaan yang terpancar jelas di matanya, emosi yang sudah bertahun-tahun ia pendam sendiri.

Cowok yang dipanggil itu—Alfian—berbalik perlahan.

Alisnya menukik tajam, menatap Amira dari ujung kepala sampai kaki dengan ekspresi datar yang menyebalkan.

"Lo siapa?" tanya Alfian dingin, suaranya berat dan sama sekali tidak menunjukkan kehangatan.

"Hah?" Amira mengerjap, kaget mendapati respons yang jauh dari bayangannya.

"Ini aku... Lily."

Alfian mendengus pelan, melipat tangan di dada dengan gaya meremehkan yang sukses bikin darah Amira mendidih seketika.

"Lily? Nama pasaran macam apa itu? Gue nggak kenal sama cewek aneh kayak lo," sahut Alfian tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Sialan.

Nyeeess!!!

Emosi Amira langsung naik ke ubun-ubun, menghapus semua rasa rindu yang tadinya membuncah di dada.

"Heh, kapten kulkas! Jangan pura-pura pikun, ya!" maki Amira spontan, suaranya cukup nyaring untuk menarik perhatian seisi kantin.

"Dulu kita sering main di bawah pohon mangga! Kamu bahkan ninggalin kalung bintang ini!"

Amira meraih kalung berbandul bintang di balik Seragam sekolahnya, menunjukkannya tepat di depan muka Alfian.

Alih-alih terkejut atau melunak, Alfian justru tertawa kecil.

Tawa yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Amira.

"Lo salah orang.....Adik Manis," ucap Alfian penuh sarkasme, mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Amira.

"Gue nggak punya waktu buat ladenin halu anak baru."

Rara dan Maya yang melihat kejadian itu langsung berlari kecil, menarik lengan Amira menjauh dari kerumunan.

"Udah, Mir! Sumpah, lo gila ya nyari masalah sama Alfian?!" bisik Rara histeris sambil menyeret Amira kembali ke meja mereka.

Amira meronta pelan, dadanya naik-turun menahan sesak dan amarah yang bercampur aduk.

Matanya masih tajam menatap punggung Alfian yang kembali melangkah pergi tanpa memandangnya lagi.

Dia benar-benar melupakanku? Atau dia sengaja pura-pura lupa? batin Amira geram.

***

Hari-hari setelah insiden kantin itu berjalan jauh dari kata tenang bagi Amira.

Bukannya minta maaf karena bersikap kasar, Alfian justru sering terlihat melempar tatapan sinis setiap kali tidak sengaja berpapasan di koridor sekolah.

"Cowok itu bener-bener minta ditendang," gerutu Amira sambil mengaduk jus mangganya di kantin keesokan harinya.

"Makanya, jangan cari gara-gara sama Alfian Pratama," kata Maya sambil menggelengkan kepala.

"Dia emang terkenal dingin sama cewek. Hidupnya kayaknya cuma buat tim basket doang."

"Dih, emangnya dia pusat tata surya?" cibir Amira sengit.

"Bukan pusat tata surya lagi, Mir. Dia itu es batu berjalan," timpal Rara menimpali.

Namun, semesta sepertinya suka sekali mempermainkan takdir orang yang sedang kesal.

Saat jam istirahat kedua, pengumuman dari speaker sekolah memanggil nama Amira untuk datang ke ruang OSIS guna mengurus berkas kepindahannya yang tertinggal.

Dengan langkah malas, Amira menyeret kakinya menuju lantai dua.

Kreek!!

Pintu ruang OSIS terbuka lebar.

Di dalam sana, tidak ada pengurus OSIS sama sekali.

Yang ada hanya punggung tegap seseorang yang sedang berdiri di dekat jendela sambil memegang map merah.

"Nih, berkas lo yang ketinggalan di ruang guru," suara bariton itu menghentikan langkah Amira.

Amira mendengus malas begitu melihat siapa pemilik suara itu.

Alfian

"Kenapa harus kamu yang kasih?" tanya Amira sinis, melipat kedua tangannya di dada.

Alfian membalikkan badan, menatap Amira dengan tatapan datar yang sama seperti kemarin.

"Jangan GR. Gue cuma disuruh guru piket," balas Alfian tajam, berjalan mendekat ke arah pintu keluar di mana Amira berdiri.

Saat mereka berpapasan di ambang pintu yang tidak terlalu lebar, bahu mereka sempat bersentuhan.

Deg.

Ada sengatan aneh yang mendadak merayap di kulit Amira, tapi buru-buru ia tepis jauh-jauh.

"Dasar arogan," gumam Amira pelan tepat saat Alfian melangkah melewati sisinya.

Alfian menghentikan langkahnya sejenak, tidak menoleh, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius.

"Gue dengar itu ya, Lily."

Mata Amira membelalak lebar, sementara sang kapten sudah melangkah pergi tanpa beban.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!