Indonesia
NovelToon NovelToon
Chronicles Of Time: The Shogun'S Whisper

Chronicles Of Time: The Shogun'S Whisper

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Dunia Lain / Barat / Tamat
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: moch aries

Petualngan William Ashford/takeshi terlempar ke masa lalu, ikuti petualangannya di era jepang masa ke-shogunan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moch aries, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Culture Shock, Sandal Kayu, dan Teh yang Nggak Cuma Diseduh

Kalau ada yang nanya apa hal paling struggling dari time travel ke zaman Edo, jawabanku bukan soal nggak ada internet, nggak ada smartphone, atau absennya toilet duduk. Penderitaan paling real yang harus aku hadapi tiap pagi adalah... fashion-nya.

Demi bisa berbaur, aku resmi mengganti identitasku dengan nama Takeshi nama kakekku dan harus berusaha mati-matian menyesuaikan diri dengan kehidupan di era ini. Hari-hari pertamaku diisi dengan rutinitas yang bikin tingkat kesabaranku diuji habis-habisan. Belajar jalan pakai sandal kayu tradisional (alias geta) di atas jalanan berbatu dan jembatan kayu itu bener-bener tantangan survival tingkat dewa. Setiap langkah yang aku ambil penuh dengan kecanggungan hakiki; nggak terhitung lagi berapa kali aku kepleset, tersandung, atau hampir nyungsep mencium tanah Edo yang berdebu. Sumpah, rasanya kayak lagi belajar jalan dari nol. Tapi, gengsi dong kalau aku nyerah gitu aja. Aku berjuang keras buat mastering teknik jalan ninja ini, meyakinkan diriku sendiri kalau setiap lecet di kaki adalah progres kecil menuju adaptasi yang lebih pro.

Suatu pagi yang cerah, aku lagi duduk chill di bawah pohon sakura yang lagi blooming parah, berusaha melipat kimono yang mekanismenya lebih rumit dari rumus fisika kuantum. Keringat dingin udah ngucur gara-gara konsentrasi penuh. Pas banget, Yuki melintas. Dia berhenti sejenak, ngeliatin usahaku yang try hard banget itu dengan senyum manis yang penuh pengertian.

"Kamu makin jago lho dalam hal ini," puji Yuki dengan nada tulus yang sukses bikin hatiku sedikit meleleh.

Aku ngedongak dan nyengir lebar, ngerasa sedikit bangga sama progress-ku meskipun sadar banget kalau gerakanku masih kaku abis. "Lagi nyoba yang terbaik nih. Semua rutinitas ini beneran masih mindblowing banget buatku," balasku jujur.

Tanpa banyak omong, Yuki ikut duduk di sebelahku. Dengan skill dewa, tangannya yang lentik ngebantuin aku melipat kain kimono yang complicated itu dengan gerakan yang super smooth. "Takeshi, semua orang di sini tuh butuh waktu bertahun-tahun buat bener-bener paham tata krama dan adat zaman Edo. Kamu nggak perlu ngerasa diburu-buru. Warga di sini pasti ngehargai banget usahamu buat beradaptasi," katanya menenangkan, bikin insecure-ku menguap. Sambil ngerjain lipatan itu, Yuki mulai storytelling asyik soal hiruk-pikuk kehidupan era ini. Dia cerita panjang lebar soal festival-festival meriah yang sering diadain, kebiasaan nyeleneh warga sehari-hari, sampai struggle hidup yang harus mereka hadapi. Lewat ceritanya, aku perlahan mulai ngerasa masuk ke dalam dunia baru ini.

Beberapa minggu berlalu, dan boom, aku mulai ngerasain level up!. Berjalan pakai sandal kayu? Udah bisa sambil lari kecil tanpa takut tersandung. Ngelipet kimono? Udah jauh lebih lancar. Bahkan, skill bahasa Jepangku makin fasih dan natural. Orang-orang di sekitar yang tadinya ngeliatin aku dengan tatapan aneh, sekarang mulai ngasih pujian dan senyuman tulus tiap kami papasan.

Ada satu momen kocak waktu aku lagi ikutan gotong royong benerin atap rumah warga bareng bapak-bapak lokal. Karena aku masih amatir, gerakanku kagok banget sampai bikin salah satu kakek tua di sana ngakak puas. "Nak Takeshi, kamu ini mungkin bakal jadi samurai paling lemah dan cupu dalam sejarah, tapi semangatmu itu lho... patut diacungi jempol!" ledek kakek itu dengan candaan hangat yang bikin suasana makin cair.

Aku cuma bisa ketawa sambil ngelap keringat. "Siap, Kek! Bakal saya upgrade terus kemampuannya," balasku santai. Setiap kali ada tantangan baru, alih-alih ngerasa down, aku justru merasa makin connected sama masyarakat Edo ini. Kecanggunganku yang dulu bikin malu sekarang malah jadi bahan jokes receh yang mengundang tawa dan kehangatan. Aku ngerasa eksistensiku perlahan ngebentuk kenangan yang bakal stuck di hatiku selamanya.

Di satu sore yang aesthetic banget langitnya warna merah jambu kayak filter Instagram aku ngobrol deep bareng Hiroshi, tukang kayu ramah yang pernah aku temui sebelumnya. Kami duduk santai di halaman, ditemani secangkir teh panas. "Progres adaptasimu bener-bener gila sih, Takeshi," puji Hiroshi sambil natap langit senja. "Ah, belum apa-apa. Masih banyak PR-nya, tapi aku terus berusaha," jawabku merendah. Hiroshi tiba-tiba nanya pertanyaan yang cukup deep. "Gimana perasaanmu sekarang? Ada nyesel nggak terdampar di zaman ini?".

Aku diem sebentar, scrolling memoriku sejak hari pertama tiba di sini. "Awalnya gila sih, bingung dan anxiety parah. Tapi makin ke sini, aku ngerasa ini tuh kayak anugerah plot twist yang nggak terduga. Aku bisa ngerasain vibes sejarah yang mustahil aku dapetin di era modern. Alamnya, masyarakatnya, semuanya kerasa dekat banget," curhatku jujur. Hiroshi cuma senyum ngerti, menasihati kalau banyak banget kebijaksanaan masa lalu yang bisa dipetik. Malamnya, di bawah jutaan bintang, aku ngerasa damai banget. Aku sadar, aku sekarang adalah bagian dari aliran sungai sejarah ini.

Meski udah nyaman, rasa hausku akan ilmu nggak pernah mati. Setiap ada free time, aku pasti mojok di perpustakaan rumah Yuki, ngulik buku-buku kuno soal tokoh penting Edo. Sampai suatu pagi, Yuki datang dengan muka excited parah bawa sebuah gulungan kertas yang kelihatan purba banget. "Takeshi! Liat nih naskah kuno yang aku nemu di gudang. Kamu pasti kepo deh," serunya antusias.

Aku langsung ngebuka gulungan itu. Tulisan kanji kuno yang estetik terhampar di sana, ngasih aku sensasi merinding kayak lagi nyentuh nadi sejarah secara langsung. Kami berdua baca bareng, nemuin kisah-kisah epic soal perjuangan samurai zaman dulu yang berani ngelawan korupsi demi keadilan. Kisah itu beneran nginspirasi aku. "Ternyata mau zaman udah berubah secanggih apa pun, value kejujuran sama keberanian itu sifatnya abadi ya," gumamku kagum. Yuki setuju, dan di momen itu aku ngerasa bener-bener jadi time traveler sejati yang nyelam ke dalam jiwa masa lalu.

Tapi namanya manusia, rasa kangen home pasti sesekali nyerang. Suatu sore di pinggir sungai yang tenang, homesick memukulku lumayan keras. "Lagi galau, Takeshi?" sapa Yuki yang tahu-tahu udah duduk di sebelahku. Aku ngangguk tipis. "Cuma lagi kangen dikit sama kehidupanku yang dulu.". Yuki natap sungai dengan sorot mata bijak. "Wajar kok. Tapi masa lalu nggak bisa diubah. Yang bisa kita lakuin cuma living in the moment dan ngambil hikmahnya," nasihatnya lembut. Perkataan Yuki sukses jadi healing buatku. Aku sadar, sedih atau kangen nggak bakal ngerubah keadaan. Aku harus totalitas jalanin hidup di era Edo ini.

Nggak cuma nongkrong, hariku juga diisi dengan upgrade skill kebudayaan. Yuki bener-bener jadi personal trainer kultural-ku. Dia ngajarin aku "Seni Teh" (Chanoyu). Awalnya aku mikir, elah, cuma nyeduh teh doang apa susahnya? Ternyata aku salah besar. Seni teh di Edo itu soal mindfulness. Yuki ngajarin cara bersyukur sama alam sampai cara megang cangkir yang harus super aesthetic dan lembut. "Seni teh ini soal presence, Takeshi. Menghargai momen sederhana dan respect satu sama lain," jelasnya.

Nggak cuma teh, Yuki juga ngajarin table manner ala Edo. Gimana cara motong makanan, megang cangkir, sampai intonasi ngomong yang harus sopan. Semuanya ada SOP-nya!. Yang bikin makin merinding, di sela-sela belajar itu, aku nemuin buku harian milik Takeshi yang asli pemuda Jepang yang raganya sekarang lagi aku pinjem ini. Di situ tertulis curhatan Takeshi asli soal tekanannya beradaptasi sama society Edo yang ketat. Sumpah, baca jurnal itu bikin aku ngerasa kayak lagi ngaca. Struggle-nya dia adalah struggle-ku juga.

Pelajaranku berlanjut ke seni kaligrafi. Di ruang keluarga, Yuki ngeluarin perkakas kuas dan tinta. "Kaligrafi itu bukan cuma nulis, tapi transfer energi dari jiwamu ke atas kertas," kata Yuki puitis. Waktu kuas pertamaku nyentuh kertas, ada getaran aneh. Memang sih, kanji bikinanku masih mleyot-mleyot nggak keruan, tapi feel-nya dapet banget. Beberapa hari latihan, hasil kaligrafiku makin mendingan dan Yuki kelihatan bangga banget ngeliatnya.

Puncak pelatihanku adalah praktek langsung ke lapangan. Yuki ngajak aku ke pasar tradisional Edo yang vibes-nya rame dan hidup banget. "Hari ini kita belajar networking sama warga lokal," canda Yuki. Di pasar, aku nyoba sok asyik nyapa pemilik tenda bunga. "Pagi, Tuan! Gimana kabarnya hari ini?" sapaku dengan senyum secerah mentari walau agak canggung. Bapak itu ramah banget ngejawabnya, dan berkat kode dari Yuki, aku sukses beli bunga tanpa kelihatan kayak turis nyasar.

Puncaknya, gara-gara aku sering bantu-bantu tetangga, ada penjual ikan yang tiba-tiba ngasih aku ikan gratisan yang fresh banget! "Kamu udah jadi bagian dari kami, Takeshi. Ini tanda makasih," katanya tulus. Hatiku langsung melted. Di momen itu, di bawah keramaian pasar Edo, aku sadar: aku bukan lagi orang asing dari masa depan. Aku, William Ashford, udah resmi jadi bagian dari sejarah ini. Dan sumpah, aku nggak sabar nunggu petualangan seru apa lagi yang bakal ngehantam hidupku besok!

1
Octavio Gonzalez
keren banget thor, aku suka karakter tokohnya!
moch aries: Terimaksih saran dan kritiknya gan untuk mengembangkan cerita cerita selanjutnya
total 1 replies
💟《Pink Blood》💟
Author, chapter baru kapan? Saya ketagihan nih!
Reva Chavan
Jatuh hati.
moch aries: Siap, dibaca juga novel yang lain dari karya saya terimakasih dukungannya
total 1 replies
Dewi Ekawati
ceritanya unik aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!