Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?
Ikuti perjalanannya yang memegangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga serigala
Ada hamparan hutan hijau dengan pohon-pohon tinggi. Langit biru cerah. Udaranya sedikit panas, tapi itu masih tetap nyaman.
Di tempat Xuan Han berdiri, tubuhnya diterpa angin dingin dari arah selatan. Ia dapat melihat hutan yang luas dan sedikit lautan dari jaraknya sekarang. Ia bertanya bingung, “Mengapa aku bisa berada di sini? Apa yang terjadi?”
Ia berusaha berpikir, tapi tidak ada satu pun hal yang bisa diingatnya. Ia benci itu dan melihat pakaiannya yang kotor, tidak ada satu pun ingatan yang muncul. Xuan Han juga mengingat kalimat tentang cinta itu, tapi kepalanya tiba-tiba sakit. Ia tidak dapat mengingatnya.
Menghela napas dan berjalan mendekati bibir batu. Ini adalah bukit batu yang menjulang tinggi. Kira-kira pohon yang paling bawah sekitar puluhan meter. Xuan Han merasa aneh, seharusnya melihat pemandangan seperti ini kepalanya harus terasa sakit dan akan menimbulkan perasaan takut.
Ia berusaha mengesampingkannya, tapi melihat ketinggian ini, kedua kakinya terasa geli untuk mencoba melompat-lompat ke bawah dengan cepat.
Itu tidak bisa dilakukan. Jika ia jatuh, maka ia akan terluka atau meninggal. Rasanya benar-benar mengganjal ia punya keberanian seperti itu. Melihat ke sekitar, ia akhirnya pergi mencari akar panjang untuk mengikat pedang di punggungnya. Kemudian setelah mendapatkannya, ia kembali ke sana dan perlahan-lahan turun sembari mencengkeram batu-batu di bibir tebing.
Beberapa batu hancur dan retak ketika ia memegangnya. Ia jadi harus berhati-hati memilih batu agar tidak terjatuh.
Turun beberapa saat, akhirnya ada tempat untuk beristirahat. Xuan Han menyempatkan diri diam sebentar. Tapi ia tertarik pada tanaman yang seperti anggrek tumbuh di sela-sela batu, berbunga merah dan bercahaya. Rasanya ia pernah melihat ini dan segera mencabutnya, menyimpannya di balik pakaiannya.
Melanjutkan lagi, ia terus turun dengan hati-hati. Beberapa kali ia menemukan kelabang dan laba-laba beracun. Setiap kali menemukannya, ia berhati-hati lalu menghindar.
Di sore harinya ia akhirnya menapaki tanah, lalu melihat pohon-pohon besar dengan rawa-rawa yang airnya keruh. Tubuhnya mulai dibasahi keringat. Ia merasa semakin segar, tapi perutnya harus diisi.
Melihat rawa-rawa ini dan memeriksa tanaman yang dicabutnya, ia pikir jika memang benar-benar terpojok, maka ia akan mencoba memakan tanaman ini.
Lalu kedua kakinya terasa gatal. Ia merasa melompat-lompat dari satu akar pohon ke pohon yang lainnya terasa mudah. Memikirkan tentang perutnya dan seberapa luas rawa-rawa itu, ia berjalan ke bibirnya, mengambil ancang-ancang dan langsung melompat.
Segera ia mendarat di salah satu akar pohon.
“Berhasil?”
Ia melihat akar pohon yang lainnya terdekat, mencobanya lagi. Gembira, akhirnya berhasil juga. Mencoba lagi, itu berhasil juga. Xuan Han merasa gembira. Ia terus melompat-lompat, sementara di beberapa permukaan rawa-rawa riak muncul dengan beberapa pasang mata yang mengamatinya. Jika masuk penglihatannya, tubuh Xuan Han seperti cahaya merah kekuningan yang melompat-lompat di antara warna keruh kekuningan.
Beberapa pasang mata itu kembali tenggelam dan perlahan-lahan rawa-rawa jadi lebih tenang.
Sementara itu Xuan Han terus melompat-lompat dan sangat bahagia. Ia tidak pernah meleset, tetapi itu tidak menurunkan kewaspadaannya.
Ia berhenti ketika berada di tengah-tengah rawa-rawa. Ekspresinya yang gembira mendadak serius. Telinganya mendengar suara yang aneh. Ia menoleh ke sana kemari, memperhatikannya. Diam sebentar beberapa saat dan ingin melanjutkan, tiba-tiba riak muncul disertai raungan yang menggelegar. Xuan Han menoleh. Buaya sebesar pohon melesat ke arahnya sembari membuka mulut, bermaksud ingin melahapnya.
Xuan Han segera menarik pedangnya. Memegangnya dengan kedua tangan dan segera melompat. Memutar tubuhnya di udara untuk menendang mulut buaya hingga tertutup, ia segera menusukkan pedang patah itu ke mulutnya. Terasa sedikit keras dan ia berusaha sekuat tenaga, kemudian dengan kedua tangannya mendorong pedang berkarat itu ke bawah, menggores perut hingga ujung ekornya. Xuan Han segera melompat ke salah satu akar. Suara raungan buaya terdengar.
Buaya besar itu terjatuh ke dalam air. Darahnya menyebar menodai permukaan air. Xuan Han memperhatikannya lalu ia melihat beberapa mata yang mengintainya lagi. Tanpa sadar ia mengertakkan giginya dan mempersiapkan pedangnya.
Namun tidak lama satu per satu mata-mata itu menghilang di balik air. Xuan Han menatapnya sebentar, melihat darah yang menyebar akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Ia menatap pedang karat yang dipenuhi darah, berpikir mengapa ia bisa melakukannya. Apa itu cuma refleks ketika dalam bahaya? Ia tidak tahu, tapi setidaknya ia masih bisa selamat. Memegang pedang itu dan melanjutkan melompat-lompat. Ia akhirnya sampai di ujung dengan selamat. Berbalik sebentar melihat rawa-rawa lalu berjalan pergi. Perutnya berbunyi dan pada akhirnya ia mencari beberapa buah-buahan untuk dimakan. Beberapa buah-buahan yang unik dapat ditemukan. Xuan Han mendapatkan beberapa buah yang dapat dimakan, dan ia akan mengabaikan buah-buahan yang terlihat aneh dan unik.
Setelah makan beberapa buah, perutnya masih membutuhkannya, sementara matahari perlahan-lahan turun dan pohon-pohon yang rimbun menambah kegelapan malam. Ia perlahan-lahan berhenti. Mengangkat kakinya dan mendapati beberapa lintah ganas mengisap pergelangan kakinya. Memperhatikannya sebentar, ternyata lintah ini sangat bersemangat dengan mulutnya yang tajam dan tubuhnya berkedut-kedut mengisap darahnya. Xuan Han merasa jijik, mengernyitkan dahinya karena tidak suka. Lalu segera mencabut semuanya, membuang lintah-lintah itu. Beberapa lubang luka akhirnya terbentuk dan Xuan Han merasa tidak terlalu terganggu.
Ia kemudian mendongak.
Dengan kubah-kubah pohon yang rimbun, hutan kelihatan jauh lebih menyeramkan dan lebih gelap. Telinganya jauh lebih tajam. Ia dapat mendengar suara patahan daun-daun yang berguguran, ranting pohon yang patah dan beberapa suara-suara aneh.
Berharap dapat mendengar suara tupai atau beberapa kera, namun yang terdengar suara-suara lainnya.
Perutnya masih ingin makan. Xuan Han segera melangkah di antara pepohonan malam.
Setelah beberapa menit, ia berhenti melihat burung hantu yang hinggap di atas pohon dengan kedua matanya yang menyala. Lalu terdengar suaranya dan raungan serigala dari kejauhan.
Xuan Han segera memeriksa pedang berkarat di bahunya. Ia mendengar suara air dan segera pergi ke sana. Ia berpikir tentang beberapa ikan dan mungkin dengan mengikuti sungai dapat menemukan permukiman. Suara raungan serigala itu terdengar semakin dekat.
Ia memerlukan beberapa menit untuk berjalan dan suara air mengalir kian terdengar jelas di telinganya.
Pada akhirnya setelah menerobos semak-semak dengan pedang di tangannya, ia akhirnya tiba di pinggir sungai yang jernih.
Betapa bahagianya Xuan Han dan tanpa sadar ia segera meminumnya seperti seekor rusa. Entah mengapa ia banyak minum dan rasa hausnya sama besarnya dengan rasa laparnya itu. Sekitar sepuluh menit, perutnya terasa kembung dan ia duduk di pinggir sungai. Memperhatikan sebentar aliran sungai, ia mendapati ikan yang berenang. Dengan pelan mengambil pedang di punggungnya lalu memerhatikan ikan yang berenang itu. Xuan Han terus memperhatikannya. Dan tidak lama mata ikan itu bertemu dengan mata Xuan Han.
Pedang dilayangkan!
Air yang jernih tiba-tiba menjadi darah. Xuan Han segera melompat dan mendapati ikan itu terluka pada bagian matanya. Ia tersenyum dan segera kembali. Pakaiannya jadi basah, tapi ia tidak punya yang lain untuk dipakai. Sebagai gantinya, memeras airnya sebelum digunakan kembali.
Tidak ada api untuk memasak ikannya. Xuan Han hanya memetik beberapa daun talas, dijahitnya menjadi tas dan memasukkan ikan itu ke dalamnya.
Ia kembali bersila di atas tanah dan pedang berkarat itu di sampingnya.
Ikan lagi-lagi muncul, pedang dilayangkan. Xuan Han mendapatkan ikan lagi.
Ikan ketiga muncul, tapi Xuan Han meleset.
Ikan keempat. Ia mendapatkannya.
Pada akhirnya setelah dua jam, ia mendapatkan sepuluh ikan lalu segera berbalik pergi. Namun sebelum dapat bergerak jauh, di seberang sungai yang gelap dan dipenuhi pepohonan, suara erangan muncul dengan tiga pasang mata merah. Lalu muncul tiga serigala yang memperlihatkan giginya, menatap Xuan Han dengan ganas.
Pemuda itu mematung, dan menatap tiga serigala yang perlahan-lahan berjalan. Ia tidak tahu, tapi yakin memberi tatapan yang sama tajamnya dengan para serigala itu dapat menguntungkannya. Ia melirik ikan di tasnya. Segera mengambilnya dan dengan sekuat tenaga melemparkannya. Tiga serigala itu meraung, segera melompat berebutan, sementara Xuan Han segera berlarian menerobos hutan. Ia dapat mendengar suara perkelahian tiga serigala itu sebelum akhirnya menduga salah satunya sudah menelan ikan pemberiannya lalu segera melompat ke sungai dan mengejarnya.