Indonesia
NovelToon NovelToon
Zuraida & Si Kembar

Zuraida & Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.

Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Tahu istrinya tidak ada pakaian ganti, sigap Arfan membelikannya dalam jumlah banyak. Tidak ribet, tidak neko-neko jika Arfan lihat pakaian Zuraida sehari-hari. Gamis dengan hijab warna senada. Zuraida mandi dan berganti pakaian sebelum menemui si kembar di kamarnya.

Tok Tok

Zuraida masih berdiri di depan pintu. Menunggu pemilik kamar membuka pintu atau mempersilakannya masuk.

Tok Tok

"Masuk!."

Barulah Zuraida mendorong pelan pintu kamar. Sambutan tak terduga di dapatnya. Air tumpah mengucur tepat di atas kepalanya. Tak ada raut wajah marah, sebab ini tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan perlakuan buruk ibu dan kakak tirinya.

"Kenapa nggak bilang kalau kalian mau main air, kita bisa main di kolam renang." Sambil mengusap tetesan air di wajahnya.

"Nggak!," kedua anak itu menolak. "Ogah main sama kamu," mulut Sean ketus dan pedas.

"Terus ini apa?," tanya Zuraida memainkan air di kakinya.

"Itu karena kami nggak suka sama kamu." Jujur Sean. "Kami cuma punya mommy satu. Itu cuma Mommy Wilona. Bukan kamu atau yang lain." Sambung Sena.

"Iya, aku tahu itu. Tapi sekarang bisa tolong kalian bersihkan kekacauan ini."

"Itu bukan pekerjaan kami, untuk apa ada banyak pelayan kalau kami harus mengerjakannya." Sahut Sena ketus.

"Tapi ini yang buat kalian, jadi kalian harus membersihkannya."

"Tidak, kamu saja yang bersihkan." Sean melempar gulingnya sampai mengenai air.

Zuraida menghela napas panjang. Ia tak banyak bicara lagi. Membersihkan kamar si kembar.

Zuraida kembali ke kamarnya. Mengganti pakaian basahnya dengan yang baru.

"Kamu sudah menemui anak-anak?." Tanya Arfan dari arah ruang kerja yang ada di kamarnya.

"Sudah," jawab Zuraida singkat.

"Lalu?." Tanya Arfan lagi sambil memperhatikan Zuraida. Terlebih pakaiannya sebab ia tahu bukan itu yang tadi dipakainya setelah mandi.

Tak ada yang disembunyikan Zuraida dari Arfan. Ia ceritakan semuanya. Tak ada yang diharapkan selain hanya cerita saja kelakuan anak-anak tirinya.

"Selama ini mereka terlalu dimanja sama Wilona. Jadi mereka suka berbuat seenaknya. Aku akan memarahi mereka." Arfan melangkah hendak menemui anak-anaknya.

"Tunggu, Tuan Arfan...Pak Arfan..." tak ada sebutan yang lebih pantas untuk suaminya selain kata dua itu.

Arfan berbalik menatap Zuraida.

"Tolong jangan marahi mereka. Saya tidak apa-apa, kalau nggak biar nanti saya yang bicara pada mereka."

"Yang ada nanti mereka mengerjai kamu lagi."

"Tidak apa-apa, mereka tidak sampai melukai saya."

"Tapi mereka harus belajar menghormati orang lain."

"Iya, saya setuju. Tapi tidak dengan cara dimarahi."

"Baik, kamu yang bicara sama mereka."

"Iya."

Malam ini untuk pertama kalinya mereka tidur di kasur yang sama. Zuraida naik ke atas kasur dari sebelah kiri, ia duduk di sana. Tentu saja gugup.

"Masih mau pakai hijab? Padahal kita udah suami istri." Sambil duduk berlawanan arah dengan Zuraida sehingga bisa melihat wajah istrinya.

"Saya gugup," aku Zuraida malu.

Wajah itu merona.

Arfan tersenyum.

"Wajar saja, ini yang pertama untukmu."

"Iya, selain ayah..." Zuraida terdiam. Ia ingat dengan ayahnya. Bagaimana ayahnya sekarang tanpanya?.

"Kenapa?," Arfan beringsut mendekat. Wajah sendu Zuraida tampak jelas.

Zuraida memaksakan senyumnya.

"Rasanya masih seperti mimpi berada juga dari ayah. Ini pertama kalinya. saya tidak bisa melihatnya." Air matanya jatuh. "Walau saya tinggal di gubuk tapi saya masih bisa melihat ayah dari kejauhan. Mendengar suara batuknya ayah. " Zuraida semakin terisak.

Tangan Arfan terulur mengusap air mata di wajah istrinya. Mata mereka beradu. Air mata itu tidak lagi menetes. Kegugupan menyelimuti keduanya.

"Nanti kalau situasinya sudah aman kita akan mengunjungi ayahmu di desa."

Zuraida mengangguk pelan.

"Sekarang kita tidur," ajak Arfan.

"Iya," Zuraida merebahkan tubuhnya tanpa melepaskan hijabnya. Matanya langsung terpejam. Arfan hanya bisa tersenyum sambil menatap istrinya, istrinya sudah tidur nyenyak.

Tak masalah tak ada malam pertama bagi Arfan di pernikahan keduanya ini. Pernikahan secara paksa karena keadaan dan situasi mereka kala itu.

"Zuraida," gumam Arfan. "Nama yang sangat cantik secantik hatinya." Ia merebahkan tubuhnya di sisi Zuraida dengan posisi miring menghadap Zuraida. Tak lama Arfan memejamkan matanya juga.

Keesokan paginya.

Di kamar si kembar terjadi keributan. Di mana anak-anak itu tidak mau mandi kalau tidak ada mommy mereka.

Zuraida yang baru keluar kamar mendengarnya, ia melangkah mendekati kamar putra-putranya Arfan. Tidak lagi mengetuk pintu, pintu kamar itu terbuka lebar sehingga suara-suara ribut terdengar keluar.

"Den Sean, Den Sena tidak mau mandi, Bu." Adu pelayan.

"Nggak apa-apa, biar saya aja yang menemani mereka di sini. Mbak kerja kan yang lain aja."

"Baik, Bu." Pelayan pun pergi. Di kamar itu hanya ada mereka bertiga.

"Aku tidak mau mandi!," teriak Sean tantrum. Melempar-lemparkan mainannya ke arah Zuraida. Zuraida bergerak ke sana kemari menghindar. Tetap saja Sean dan Sena anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih.

Yang dilakukan Sena tidak kalah lebih tantrum lagi dari Sean, mengunci kamar mandi supaya mereka tidak mandi. Pakaian dalam lemari sudah berserakan di mana-mana.

"Kalau tidak mau mandi tidak apa-apa. Tidak ada yang akan memaksa. Tapi tidak juga harus lempar-lempar mainan atau berantakin pakaian." Zuraida menatap keduanya silih berganti.

"Kalian sudah besar, bisa bicara dengan baik."

"Aku nggak mau mandi!," teriak Sean semakin menjadi. Tak mendengar apa yang dikatakan Zuraida bicara dengan baik-baik bukan dengan teriakan.

"Iya, kami mau mandi kalau ada mommy." Sena menambahkan.

Zuraida tersenyum, mencoba duduk tenang di tengah ketantruman Sean dan Sena. Melirik kedua anak itu bergantian masih dengan senyum.

"Mommy kalian bekerja jauh di luar negeri sana. Kalian tahu kan?." Sambil memainkan alisnya pada Sean dan Sena.

"Kalian tahu? Mommy kalian rela bekerja jauh dari kalian demi masa depan kalian yang cerah, bahagia." Mulai serius menatap kedua anak itu.

"Hanya untuk putra-putra kesayangannya mommy harus jauh dari kalian. Tidur tanpa kalian. Tidak bisa setiap waktu bertemu kalian atau bicara dengan kalian karena pekerjaan mommy." Semakin intens tatapan Zuraida yang mulai mendapatkan respon Sean dan Sena.

"Terus kalian di sini nggak mau mandi, nggak mau makan, nggak mau belajar atau apa pun nggak mau. Pasti mommy di sana sedih, kalian tidak mau melakukan hal baik untuk membalas mommy kalian."

"Tapi aku nggak mau mandi, dingin." Bicara Sena sudah bernada rendah. Sena pun menyampaikan alasannya tidak mau mandi karena dingin.

"Sama aku juga, dingin banget....tadi aku udah pegang airnya." Sean ikut bicara menyampaikan apa yang dirasanya.

"Hanya karena airnya dingin?," tanya Zuraida memastikan.

"Tenang saja, kan bisa mandi pakai air hangat." Dengan pedenya Zuraida mengatakan itu. Solusi yang bisa langsung diiyakan anak-anak.

"Tapi mommy melarang kami mandi pakai air hangat nanti kulit kami rusak," bantah Sena.

Bersambung

1
Mai_mai
cepat lah ketahuan tentang sena kalo bisa pindah sekolah saja
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor cerita bagus bgt .
𝐈𝐬𝐭𝐲
sena udah salah jalan semoga orang tuanya segera menyadarinya... dan Sena masih bisa di selamatkan kalo bisa pindah dari sekolahan itu...
Soraya
q mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!