Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTA YANG DULU KAU TOLAK

CINTA YANG DULU KAU TOLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.

Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.

Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.

Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.

Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 : PERTEMUAN YANG TIDAK TERDUGA

...BAB 2...

...PERTEMUAN YANG TIDAK TERDUGA...

Pagi baru saja menyingsing ketika suara dering ponsel membangunkan Wulan. Ia yang masih duduk di tepi tempat tidur segera meraih ponselnya.

Di layar ponselnya, terlihat nomer loker kemarin yang Wulan hubungi Jantungnya berdebar. Wulan segera mengangkat telepon.

“Assalamu'alaikum.”

[“Waalaikumsalam. Dengan Ibu Wulan?”]

“Iya, saya sendiri.”

[“Saya yang kemarin Ibu hubungi, mengenai lowongan pekerjaan pengasuh anak.”]

Wulan langsung duduk lebih tegak.

“Iya, Bu bagaimana?”

[“Sudah saya tanyakan kepada majikan saya. Beliau memperbolehkan Ibu membawa anak-anak Ibu untuk tinggal di rumah.”]

Wulan terdiam. Sesaat ia bahkan tidak mampu menjawab.

[“Bu Wulan?”]

“Maaf... iya, Bu. Saya masih mendengarkan.”

[“Jadi bagaimana? Kalau Ibu bersedia, siang ini bisa datang untuk bertemu majikan sekaligus melihat rumah.”]

Wulan menutup mulutnya dengan tangan. Rasa lega memenuhi dadanya.

“Terima kasih, Bu. Saya bersedia.”

[“Baik. Nanti saya kirimkan alamatnya. Rumahnya cukup besar. Ibu bisa datang siang ini...”]

“Baik, Bu.”

Setelah sambungan telepon berakhir, Wulan menatap layar ponselnya.

Ia mengembuskan napas panjang. “Alhamdulillah...”

Untuk pertama kalinya sejak perceraian itu, Wulan merasa mendapatkan sedikit jalan keluar. Ia tidak perlu lagi memikirkan bagaimana membayar kontrakan bulan depan. Tidak perlu khawatir meninggalkan Delon dan Astrid sendirian. Dan yang paling penting, anak-anaknya bisa tetap bersamanya.

Wulan segera bangkit. “Delon! Astrid!” panggilnya.

Kedua anaknya yang masih mengantuk lalu berjalan keluar dari kamar.

“Ada apa, Mama?” tanya Delon sambil mengucek mata.

“Mama dapat pekerjaan.” serunya senang.

Mata Delon langsung berbinar. “Beneran Ma?”

Wulan mengangguk. “Mama akan bekerja sebagai pengasuh anak. Dan Mama boleh membawa kalian tinggal bersama Mama.”

Astrid yang belum sepenuhnya mengerti justru bertanya, “Jadi kita akan pindah?”

“Iya, Sayang.”

“Rumahnya besar nggak Ma?” tanya Astrid.

Wulan tertawa kecil. “Katanya sih besar.”

“Ada halamannya?”

“Mama belum tahu.” Wulan menggeleng kepala.

“Ada kolam renang?” Delon ikut bertanya.

Wulan menggeleng sambil tertawa. “Jangan banyak tanya. Kita lihat saja nanti.”

Kebahagiaan kecil itu membuat pagi Wulan terasa jauh lebih ringan.

Menjelang siang, Wulan mulai berkemas. Barang yang dibawanya tidak banyak.

Beberapa pakaian milik dirinya, pakaian sekolah Delon, pakaian Astrid, perlengkapan mandi, beberapa buku anak-anak, serta barang-barang kecil yang tidak mungkin mereka tinggalkan.

Wulan menatap rumah kontrakan itu cukup lama. Bukan karena sedih. Rumah itu menyimpan terlalu banyak kenangan.

Ada malam-malam ketika ia menangis diam-diam agar anak-anaknya tidak mendengar.

Ada saat-saat ketika ia menahan sakit setelah Handi melampiaskan amarahnya. Ada pula hari-hari ketika ia meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan membaik.

Sekarang ia akan meninggalkan tempat itu. Dan anehnya, Wulan justru merasa lega.

Ia menggendong tas terakhir keluar. “Kalian sudah siap?”

Delon mengangguk. Astrid memeluk bonekanya. “Mama, kita nggak akan balik lagi ke sini?”

Wulan menatap rumah itu sekali lagi. “Tidak, Sayang.”

Kemudian ia menggenggam tangan kedua anaknya. “Kita mulai kehidupan baru.”

Mereka pun berangkat. Satu jam kemudian, kendaraan yang mereka tumpangi memasuki kawasan perumahan elite yang berada di kota sebelah tidak terlalu jauh dari kontrakan Wulan dulu. Hanya berkisar satu jam perjalanan.

Wulan yang sejak tadi memperhatikan jalan mulai merasa gugup. Rumah-rumah di kawasan itu jauh berbeda dari lingkungan tempat tinggalnya.

Bangunannya besar. Halamannya luas. Pagar-pagar tinggi berdiri megah di sepanjang jalan.

Sampai akhirnya kendaraan berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar hitam tinggi.

Wulan menatap alamat di ponselnya. Nomornya sama.

“Ini rumahnya?” Ia turun perlahan.

Delon dan Astrid ikut turun. Wulan menarik napas panjang. “Bismillah.”

Pintu pagar terbuka. Seorang perempuan paruh baya keluar menyambut mereka.

“Dengan Ibu Wulan?”

“Iya, Bu.”

“Saya Mira. Yang tadi menelepon Ibu.”

Wulan tersenyum sopan. “Terima kasih sudah menerima saya.”

Mira mengangguk. “Masuk saja dulu. Anak-anak juga boleh.”

Wulan menggenggam tangan Delon dan Astrid.

Namun baru beberapa langkah masuk ke halaman, Wulan tiba-tiba merasa jantungnya berdebar aneh.

Entah kenapa tempat itu terasa familiar. Bukan rumahnya. Tetapi sesuatu dari rumah itu seperti pernah ia kenal.

“Majikan saya ada di dalam,” ujar Mira.

Wulan mengangguk. Mereka masuk ke ruang tamu. Rumah itu sangat luas.

Namun perhatian Wulan mendadak tertuju pada sebuah foto besar yang terpajang di dinding.

Seorang lelaki berdiri sambil menggendong anak perempuan kecil. Wajah lelaki itu terlihat jelas.

Wulan membeku.

Tangannya yang menggenggam tangan Delon tiba-tiba mengerat.

Tidak mungkin. Matanya menatap foto itu tanpa berkedip.

Wajah tersebut terlalu ia kenal. Wajah yang selama bertahun-tahun berusaha ia lupakan.

Wajah lelaki yang pernah membuat jantungnya berdebar ketika masih kuliah.

Rian.

“Bu Wulan?”

Suara Mira membuatnya tersentak. “I... iya?”

“Ibu tidak apa-apa?”

Wulan buru-buru menggeleng. “Tidak. Saya hanya...”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.

Tok.

Tok.

Tok.

Wulan perlahan menoleh. Seorang lelaki turun dari tangga.

Kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku. Rambutnya tertata rapi. Wajahnya terlihat lebih dewasa dibandingkan terakhir kali Wulan melihatnya.

Namun mata itu. Wulan mengenalinya. Rian juga berhenti melangkah. Keduanya saling menatap.

Untuk beberapa detik, dunia seperti berhenti bergerak.

Rian terlihat sama terkejutnya. “Wulan?”

Suara itu. Suara yang dulu sering ia dengarkan di kampus.

Suara yang pernah membuat hatinya berdebar hanya karena dipanggil namanya.

Wulan menelan ludah. “Rian...”

Mira menatap mereka bergantian dengan bingung. “Kalian saling kenal?” Tidak ada yang langsung menjawab.

Delon memandang ibunya. “Ma, kenal sama Om ini?”

Wulan tersadar. Ia segera mengalihkan pandangan.

“Dulu... kami satu kampus.”

Rian masih menatap Wulan. “Bukan hanya satu kampus.”

Wulan terdiam. Rian turun sampai anak tangga terakhir. “Kita satu jurusan.”

Wulan tersenyum canggung. “Iya.”

Pertemuan itu terasa begitu aneh. Dulu, Wulan pernah berharap suatu hari Rian akan datang dan mengatakan bahwa ia berubah pikiran.

Tetapi hari itu tidak pernah terjadi. Justru Rianlah yang pernah menghancurkan harapannya.

Saat kuliah, Wulan menyukai Rian. Tidak pernah berlebihan. Tidak pernah memaksakan diri.

Namun suatu hari ia memberanikan diri mengungkapkan perasaannya. Dan jawaban Rian masih ia ingat sampai sekarang.

“Maaf, Wulan. Kamu memang perempuan baik. Tapi kamu bukan tipe perempuan yang aku cari.”

Kalimat itu sederhana. Tetapi cukup untuk membuat Wulan patah hati.

Rian menginginkan perempuan yang modern, berpenampilan anggun, dan memiliki kehidupan yang menurutnya sepadan.

Sementara Wulan hanyalah perempuan biasa. Anak dari keluarga sederhana.

Setelah lulus kuliah, Wulan akhirnya menerima perjodohan orangtuanya dengan Handi.

Ia menikah. Mencoba melupakan Rian. Mencoba membangun kehidupan baru.

Namun sekarang, setelah bertahun-tahun, lelaki yang pernah ia cintai justru berdiri di hadapannya.

Dan lebih buruk lagi. Wulan datang ke rumahnya untuk bekerja.

“Jadi...” Rian akhirnya bersuara.

Wulan menatapnya.

“Kamu yang melamar pekerjaan itu?”

Wulan mengangguk pelan. “Iya.”

Rian terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkannya.

Mira yang tidak mengetahui masa lalu mereka tersenyum. “Bagus kalau begitu. Saya kira Ibu Wulan belum pernah mengenal Pak Rian.”

Wulan hanya tersenyum tipis. “Saya juga tidak menyangka.”

Rian memandang kedua anak di samping Wulan.

“Ini anak-anakmu?”

“Iya. Delon dan Astrid.” Wulan mengangguk memperkenalkan mereka pada Rian.

Rian mengalihkan pandangan kepada Astrid.

“Kalau begitu, anak ini bisa langsung bermain dengan Rana.”

Seolah mendengar namanya, dari lantai atas terdengar suara kecil.

“Papa!”

Seorang anak perempuan berusia sekitar dua tahun muncul dengan langkah tertatih.

Rian langsung menghampirinya. Ia berjongkok dan membuka kedua tangan.

Rana berlari kecil ke arahnya. “Papa!”

Rian menggendong putrinya. Wulan memandang pemandangan itu. Entah kenapa hatinya terasa aneh.

Lelaki yang dahulu ia kenal sebagai mahasiswa muda yang dingin kini sudah menjadi seorang ayah.

Dan ternyata, Rian memiliki seorang anak perempuan.

“Mama,” kata Astrid tiba-tiba.

Wulan menunduk. “Kenapa?”

“Aku boleh main sama adik itu?”

Rian tersenyum tipis. “Boleh.”

Ia menurunkan Rana. Rana berjalan mendekati Astrid. Kedua anak itu saling memandang.

Kemudian Astrid menunjukkan bonekanya. “Ini namanya Mimi.”

Rana tertawa kecil. Suasana yang semula canggung perlahan mencair.

Namun Wulan dan Rian masih berdiri dalam jarak beberapa langkah.

Mereka saling diam. Masing-masing seolah memiliki terlalu banyak pertanyaan.

Tentang masa lalu. Tentang kehidupan yang telah mereka jalani. Tentang bagaimana Wulan bisa berakhir menjadi ibu dua anak sekaligus seorang perempuan yang baru saja bercerai.

Akhirnya Rian memecah keheningan. “Wulan.”

“Ya?”

“Kamu... baik-baik saja?”

Pertanyaan sederhana itu justru membuat dada Wulan terasa sesak.

Ia tersenyum. “Aku baik-baik saja.”

Rian menatapnya lama. Seolah tidak sepenuhnya percaya.

Wulan kemudian berkata, “Aku datang ke sini untuk bekerja, Rian. Bukan untuk membicarakan masa lalu.”

Rian terdiam. Kemudian mengangguk. “Baik.”

Namun sebelum Wulan berbalik, Rian kembali memanggilnya. “Wulan.”

Perempuan itu menoleh. “Apa?”

Rian menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kalau dulu aku tahu hidupmu akan seperti ini...”

Ia berhenti. Wulan menunggu. Tetapi Rian tidak melanjutkan kalimatnya.

“Lupakan,” katanya akhirnya.

Wulan mengernyit. Ia tidak tahu apa yang hendak dikatakan lelaki itu.

Namun satu hal mulai ia sadari. Pekerjaan ini mungkin tidak akan sesederhana yang ia bayangkan.

Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Wulan harus tinggal serumah dengan lelaki yang pernah menjadi cinta pertamanya.

Dan lelaki itu adalah orang yang dahulu pernah menolaknya.

Bersambung...

1
Lisa
Rian harus tegas..milih Wulan atau Clarisa..
falea sezi
laki g punya pendirian klo.mau ma. Clarisa jauhin wulan😒 serakah jd. laki. jangan php
falea sezi
cari krja di tempat lain aja rian aja plin plan🤣
araaself
lanjutt
Lisa
Clarisa ini ganggu suasana rumah aj..tiap hari dtg ke rmhnya Rian..moga aj Rian g tertarik pd Clarisa 🤭
Lisa
Aduh Bu Ranti dtg lg..ganggu aj nih
Lisa
Pasti Rian g mau menerima perjodohan itu
Lisa
Bu Ranti ini cerewet banget..
falea sezi
cari krja di tempat lain wulan😒
falea sezi
pergi aja wulan cari krja lain 😒 ngapain di injak2 gt meski cm. pembokat 😒
Lisa
Bu Ranti aj yg pergi dr rumahnya Rian..benar Rian kmu harus tegas terhadap ibumu..Wulan ga salah..
falea sezi
klo ikut ngatur krja g nyaman keluar aja cari krja lain😒 bawel amat lampir
Lisa
Ranti ini ikut campur aj dlm RT nya Rian..udh mending balik ke rmhmu sana Bu 🤭😊
Lisa: 😊😊 ya Kak
total 2 replies
Lisa
Ibunya Rian ini mengganggu ketenangan aja..udh biarkan Rian mengatur hidupnya sendiri.
Lisa
Ngapain juga Handi peduli sama Wulan..toh mrk udh bercerai dan dari dulu Handi terpaksa nikah dgn Wulan
Lisa
Rian mulai jatuh cinta lg nih 😊
falea sezi
🤣🤣mampus sok cari yg modern makan itu cwek. modern😒😒😒 sukurin dapet istri spek jalang
✨Kayla Rane✨: hahaaa😂 bener k
total 1 replies
Lisa
Handi emg kejam bgt..cpt sembuh y Wulan dr luka fisik & luka batinnya..skrg kmu punya Rian yg selalu ada utkmu..
Lisa
Udh Handi g usah ngawasi Wulan terus..urus aj hidupmu sendiri.
✨Kayla Rane✨
Terimakasih atas dukungannya ♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!