Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Di Lembah Sunyi

Tiga hari setelah pemakaman Bu Gendis, kabar duka itu akhirnya menembus jarak ratusan kilometer hingga sampai ke telinga Gala. Pria muda yang sedang merantau di kota besar itu baru saja selesai bekerja, keringat masih menetes di pelipisnya, saat seseorang menyerahkan selembar surat yang dikirim dari desa.

Tangan Gala gemetar hebat saat membuka lipatan kertas itu. Ia membaca baris demi baris, dan setiap kata yang tertulis di sana seolah menghantam dadanya dengan kekuatan yang tak terbayangkan.

...Mawar hilang, Gala. Dia menghilang ke dalam hutan setelah pertengkaran hebat di rumah. Bu Gendis pergi ke alam baka karena tak kuasa menahan kesedihan. Seluruh desa membicarakannya, mereka bilang Mawar hamil dan kabur karena malu. Tak ada yang tahu ke mana dia pergi. Tak ada yang berani masuk lebih dalam ke hutan itu untuk mencarinya....

Surat itu terlepas dari genggaman Gala, jatuh ke tanah berdebu. Dunia Gala seakan runtuh seketika. Segala rencana yang ia susun rapi lenyap dalam sekejap mata. Wanita yang ia cintai, wanita yang ia janjikan untuk dijaga seumur hidup, kini hilang tanpa jejak, dicemooh oleh semua orang, dan mungkin sudah tak bernyawa di tengah belantara yang kejam.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Gala berkemas. Ia menyerahkan sisa pekerjaannya kepada orang kepercayaan. Di sepanjang perjalanan yang panjang dan melelahkan, pikirannya hanya tertuju pada satu nama yaitu Mawar. Ia teringat senyum gadis itu saat berpamitan, cara Mawar menyandarkan kepala di bahunya, janji-janji manis yang mereka ucapkan di bawah pohon rindang di pinggir ladang, semua itu kini terasa begitu jauh, begitu rapuh.

Sesampainya di desa, Gala langsung menuju rumah itu. Rumah yang dulu sering ia datangi, tempat ia pernah disambut senyum hangat dan tawa ceria Mawar, kini tampak sepi, suram, dan dingin. Pagar yang dulu dicat cerah kini terlihat kusam, halaman berumput tak terurus, dan tak ada satu pun suara yang terdengar dari balik jendela yang tertutup rapat.

Gala melangkah masuk tanpa mengetuk pintu. Di ruang tamu yang remang, ia melihat Bima duduk dengan wajah lelah dan kusut, tangan saling bertaut di pangkuan, menatap lantai tanpa daya. Di sudut ruangan, Jingga duduk memeluk lutut, wajahnya tertanam di antara kedua lengan, bahunya berguncang pelan menahan isak tangis yang tak kunjung usai.

"Di mana Mawar?"

Suara Gala berat dan rendah, namun sarat akan amarah yang tertahan, begitu tajam hingga membuat kedua orang itu mendongak serentak. Langkah kakinya berat mendekat, matanya menatap mereka seolah hendak menelan mereka hidup-hidup.

Bima mengangkat wajahnya, berusaha menyusun ekspresi tenang namun gagal menyembunyikan kegelisahan yang nyata di matanya. "Kami tidak tahu, Gala. Dia kabur ke hutan semalam. Kami sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tak ada jejak sama sekali."

"Kabur?" Gala tertawa sinis, tawa yang terdengar menyakitkan, pahit, dan penuh ketidakpercayaan.

"Mawar bukan gadis yang akan pergi begitu saja tanpa alasan. Apa yang sebenarnya terjadi? Katakan!"

Jingga mendongak perlahan, wajahnya pucat pasi. Air mata kembali menetes di pipinya yang kering. "Gala… tolong… kami juga sedih… Ibu jatuh sakit hingga tiada karena terus memikirkan Mawar…"

"Jangan sebut nama Mawar seolah kalian berduka atas kepergiannya!" Gala membentak, tangannya mengepal erat hingga urat-urat di lengannya menonjol jelas.

"Aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu. Selama ini Mawar adalah wanita paling lembut, paling penurut, paling tulus yang aku kenal. Dia tidak akan pernah pergi kalau tidak ada sesuatu yang mendesaknya! Katakan padaku! Siapa yang melukainya?!"

Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Bima dan Jingga saling bertukar pandang, tatapan penuh ketakutan, keraguan, dan rasa bersalah yang tak terucap. Tak satu pun berani membuka mulut, seolah kebenaran yang tersimpan di sana akan menghancurkan segalanya.

"Kau tidak perlu tahu apa-apa, Gala," akhirnya Bima bersuara, nada bicaranya tegas, berusaha menegaskan kekuasaannya sebagai kepala keluarga.

"Mawar sudah pergi. Mungkin dia sudah tidak ada di dunia ini lagi. Pulanglah. Jangan cari masalah di sini."

"Pulang? Dan membiarkan kejahatan ini tersembunyi begitu saja? Tidak!" Gala melangkah maju, dadanya bergemuruh.

"Aku akan mencari tahu kebenarannya. Dan kalau ternyata ada tangan manusia yang menyakiti dan mendorongnya lari ke hutan itu… aku bersumpah akan menuntut balas, walau nyawaku sendiri yang menjadi taruhannya!"

Gala berbalik badan, melangkah keluar dengan tekad yang membara. Di belakang punggungnya, Bima menatap sosok pemuda itu dengan tatapan tajam dan penuh ancaman. Ia tahu, selama Gala masih hidup dan bersikeras mencari kebenaran, bahaya senantiasa mengintai.

Hari-hari berikutnya, Gala menghabiskan waktunya di dalam hutan. Sebelum matahari terbit, ia sudah berangkat membawa sebilah parang dan sebotol air. Ia menyisir setiap sudut, setiap lembah, setiap tepian sungai. Ia memanggil nama Mawar berulang kali, suaranya perlahan menjadi serak dan parau, berharap ada jawaban yang terdengar dari balik dahan-dahan raksasa itu. Namun hutan itu sunyi, seolah menyimpan rahasia kelamnya dengan rapat. Angin hanya menggerakkan dedaunan, burung-burung terbang menjauh, tak ada satu pun suara yang menyambut panggilannya.

Warga desa menggelengkan kepala melihat kegigihannya. "Sudahlah, Nak. Hutan itu sudah menelan banyak korban. Mungkin Mawar sudah menjadi santapan binatang buas, atau tersesat tak tahu arah pulang. Jangan pertaruhkan nyawamu juga di sana."

Tapi Gala tak mendengarkan. Cinta yang mendalam bercampur rasa bersalah yang luar biasa karena tak ada di sisi Mawar saat ia paling membutuhkan seseorang untuk melindunginya, membuat Gala tak mampu berhenti. Ia tidur di bawah pohon rindang, makan seadanya, terus berjalan meski kakinya lecet dan pegal.

Hingga suatu sore, saat cahaya matahari mulai meredup dan hutan berubah warna menjadi keemasan lalu kelabu, ia tiba di sebuah lembah tersembunyi yang jarang didatangi orang. Di antara semak belukar yang rimbun, sesuatu tergeletak di atas tanah yang lembap, selembar selendang berwarna biru tua, ujungnya sedikit robek, namun warnanya masih ia kenal betul.

Selendang itu pemberiannya, ia ikatkan sendiri di pinggang Mawar sebelum berangkat merantau.

Jantung Gala berhenti berdetak sejenak. Ia berlutut perlahan, mengangkat selendang itu dengan tangan gemetar. Di sekitarnya, di antara rumput yang terinjak, terlihat noda berwarna cokelat tua yang sudah mengering, jejak darah. Di dekatnya, tanah lunak memperlihatkan bekas gerakan tubuh yang merangkak perlahan, menjauh menuju arah sungai yang airnya mengalir deras berbatu-batu.

Gala menekan selendang itu ke dadanya, menutupi wajahnya, dan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah ruah tanpa bisa ditahan lagi.

"Mawar… di mana kau… katakan padaku siapa yang melakukan semua ini…" Suara Gala pecah di keheningan sore itu.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!