Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTAKU DI PRAMBANAN

CINTAKU DI PRAMBANAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT

Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.

Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.

Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.

Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?

Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.

SELAMAT MEMBACA... ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 SERANGAN KEPADA YUDA

Tiga hari berlalu dengan ketegangan yang merentangkan saraf setiap orang hingga ke titik putus. Waktu yang dijanjikan oleh Pak Rusdi—tiga hari sebelum pagar gaib di rumah sakit itu runtuh—terus menghantui pikiran Yuda dan Dion. Mereka berpacu dengan batas waktu, menelusuri setiap petunjuk silsilah yang Mbah Kliwon sebutkan, meskipun hasilnya masih berupa jalan buntu yang membuat frustrasi.

Di rumah sakit, kondisi Haruma berangsur stabil, meskipun tatapan kosongnya masih belum sepenuhnya hilang.

Namun, di tengah himpitan waktu dan pencarian yang belum membuahkan hasil, ada satu kabar baik yang sedikit melegakan hati Zaki dan Nisa.

Pagi ini, sebuah surat resmi dari kepolisian tiba di rumah mereka. Berdasarkan hasil evaluasi psikologis dan kelakuan kooperatif selama masa wajib lapor, status tersangka Harumi akhirnya dicabut. Kasus penusukan di atas panggung Candi Prambanan resmi ditutup sebagai insiden kecelakaan akibat tekanan psikologis (histeria).

Harumi kini benar-benar bebas dari segala jeratan hukum.

Di ruang makan yang bermandikan cahaya matahari pagi, Harumi duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya. Gadis itu mengenakan kardigan rajut berwarna krem dan celana jeans panjang. Wajahnya tidak sepucat beberapa hari lalu, meskipun masih terlihat lelah. Rambutnya disisir rapi, dan senyum kecil—senyum khas Harumi yang lembut dan lugu—sesekali tersungging di bibirnya.

Siapa pun yang melihat Harumi pagi ini tidak akan pernah menyangka bahwa tiga malam sebelumnya, gadis ini telah dirasuki secara mutlak oleh entitas iblis yang merencanakan pembunuhan biadab. Sang Panglima Jin telah menyembunyikan dirinya dengan sangat sempurna di balik kepribadian asli Harumi, menunggu momen yang tepat untuk melancarkan eksekusinya.

"Alhamdulillah, Rumi. Ibu lega sekali. Beban keluarga kita sedikit berkurang hari ini," ucap Nisa, mengusap air mata haru yang menetes di sudut matanya sambil meletakkan sepiring nasi goreng hangat di depan Harumi.

Zaki yang sedang menyesap kopi hitamnya ikut mengangguk. "Bapak sudah mengurus semua dokumennya dengan Inspektur Bayu. Kamu tidak perlu lagi wajib lapor ke kantor polisi. Kamu bebas, Nak."

"Terima kasih, Bapak... Ibu..." Harumi tersenyum, suaranya terdengar merdu dan lembut. Ia mengambil sendok dan mulai memakan sarapannya perlahan.

Nisa duduk di sebelah putrinya, mengusap bahu Harumi dengan penuh kasih sayang. "Sekarang kamu fokus memulihkan diri saja di rumah. Kakekmu bilang, energi pelindung Haruma masih butuh waktu untuk kembali utuh. Selama iblis itu masih mengincar kalian, Ibu tidak akan tenang melepasmu keluar rumah."

Harumi menghentikan suapannya. Ia meletakkan sendoknya di atas piring, lalu menatap ayah dan ibunya secara bergantian dengan tatapan memelas.

"Bapak... Ibu..." panggil Harumi pelan, jari-jarinya bertaut di atas pangkuan. "Karena Rumi sudah bebas dari polisi... bolehkah hari ini Rumi keluar sebentar?"

Zaki mengerutkan kening. Insting pelindungnya langsung bereaksi. "Keluar ke mana, Rumi? Kondisinya belum aman. Kakekmu bilang batas waktu pagar gaib Haruma habis hari ini."

"Rumi cuma mau ke kampus, Pak," jawab Harumi, menundukkan kepalanya seolah merasa bersalah. "Rumi ingin menemui Yuda. Sudah hampir dua minggu Rumi nggak ketemu dia. Rumi kangen... dan Rumi ingin bilang terima kasih karena Yuda sudah mencarikan pengacara buat Rumi kemarin."

Nisa menatap suaminya dengan raut wajah ragu. Ia tahu betapa dalamnya cinta putrinya kepada Yuda, dan bagaimana pemuda itu telah berjuang keras untuk membela Harumi. Melarang mereka bertemu di saat Harumi baru saja mendapatkan kebebasannya terasa sangat kejam.

"Mas..." bisik Nisa pada Zaki, memberikan isyarat agar suaminya melunak. "Mungkin bertemu Yuda bisa mengembalikan semangat Rumi. Dia butuh dukungan dari orang-orang yang menyayanginya."

Zaki menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. "Baiklah. Tapi kamu tidak boleh pergi sendiri. Bapak akan mengantarmu ke kampus, dan Bapak akan menunggu di tempat parkir. Bertemulah dengan Yuda di area terbuka yang banyak orangnya, seperti kantin atau taman kampus. Jangan berlama-lama."

"Terima kasih, Bapak! Rumi janji nggak akan lama," seru Harumi dengan mata berbinar bahagia.

Di kedalaman batin Harumi, jiwa asli gadis itu menjerit ketakutan, namun jeritan itu teredam sempurna oleh kendali sang iblis. Entitas itu tersenyum puas di balik senyum manis Harumi. Rencananya berjalan sangat mulus. Umpannya telah dilempar, dan kini sang iblis hanya tinggal menunggu mangsa utamanya mendekat.

.....

.....

Siang itu, suasana kampus fakultas sastra cukup ramai oleh lalu-lalang mahasiswa yang baru saja selesai mengikuti kelas. Cuaca sangat cerah, namun angin berembus cukup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon akasia di taman belakang kampus.

Yuda baru saja keluar dari perpustakaan bersama Dion, wajah mereka berdua tampak sangat lelah. Pencarian mereka tentang keturunan Bandung Bondowoso di perpustakaan daerah pagi ini lagi-lagi menemui jalan buntu.

Saat Yuda sedang mengecek ponselnya, sebuah panggilan masuk. Nomor yang tertera di layar membuat jantung Yuda melonjak kaget. Itu nomor Harumi.

"Rumi? Halo?" Yuda menjawab panggilan itu dengan cepat, suaranya dipenuhi kecemasan dan kerinduan.

"Yuda... kamu ada di kampus?" suara lembut Harumi terdengar dari seberang sana. Suara yang sangat ia rindukan.

"I-iya, aku di kampus. Kamu... kamu gimana keadaannya? Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Yuda beruntun.

"Aku baik, Yud. Bapak baru aja nganterin aku. Aku... aku sekarang ada di taman belakang kampus, dekat bangku semen di bawah pohon akasia besar itu. Kamu bisa ke sini sebentar?"

"Kamu di kampus?! Sendirian?!" Yuda membelalakkan matanya, terkejut luar biasa. "Bapak kamu biarin kamu ke taman?!"

"Bapak nunggu di mobil di parkiran depan, Yud. Please... temui aku. Ada yang mau aku omongin berdua sama kamu."

"Oke, oke, aku ke sana sekarang! Jangan ke mana-mana!" Yuda langsung mematikan sambungan teleponnya.

Ia menoleh ke arah Dion yang menatapnya penuh tanda tanya. "Yon, Harumi ada di taman belakang kampus sekarang. Gue mau nemuin dia dulu. Lo duluan aja ke sekretariat, nanti gue nyusul."

Dion mengerutkan kening. "Harumi ke kampus? Tumben Pak Zaki ngasih izin. Hati-hati, Yud. Hawa di kampus hari ini lagi nggak enak menurut gue."

"Gue bakal hati-hati. Makasih, Yon," Yuda menepuk bahu sahabatnya, lalu segera berlari menyusuri lorong menuju taman belakang kampus.

Taman belakang fakultas sastra itu adalah tempat yang cukup rindang dan agak tersembunyi dari jalan utama kampus.

Terdapat beberapa bangku semen yang ditata melingkari sebuah pohon akasia tua yang batangnya sangat besar. Tempat ini sering dijadikan spot favorit mahasiswa untuk berdiskusi atau berpacaran karena suasananya yang tenang.

Yuda melangkah memasuki area taman. Matanya menyapu sekeliling, dan di sanalah ia melihatnya.

Harumi sedang duduk di salah satu bangku semen. Gadis itu menunduk, memandangi ujung sepatu ketsnya, dengan rambut panjang yang tergerai indah tertiup angin. Pemandangan itu seolah menghapus seluruh kelelahan dan teror yang menggerogoti Yuda selama dua minggu terakhir.

"Rumi!" panggil Yuda, setengah berlari menghampiri gadis itu.

Harumi mendongak. Ia tersenyum manis saat melihat Yuda mendekat, lalu berdiri menyambutnya. "Hai, Yud..."

Tanpa pikir panjang, Yuda langsung menarik Harumi ke dalam pelukannya. Ia mendekap gadis itu erat-erat, menenggelamkan wajahnya di rambut Harumi, menghirup aroma sampo stroberi yang khas. Rasa syukur dan kelegaan membanjiri dadanya.

"Ya Tuhan, Rumi... Aku kangen banget sama kamu. Syukurlah kamu baik-baik aja," bisik Yuda di telinga Harumi, mengeratkan pelukannya seolah takut gadis itu akan menghilang. "Maafin aku, Rumi. Maafin aku karena nggak bisa nepatin janjiku buat jagain kamu di Prambanan waktu itu."

Di dalam dekapan Yuda, tangan Harumi yang tadinya terkulai perlahan bergerak membalas pelukan Yuda. Gadis itu melingkarkan lengannya di punggung Yuda dengan lembut.

"Kamu nggak perlu minta maaf, Yud," balas Harumi dengan suara yang sangat pelan. "Aku tahu kamu udah berjuang keras buat aku. Kamu udah nyari pengacara buat bebasin aku."

Yuda melepaskan pelukannya sedikit, menangkup wajah Harumi dengan kedua tangannya, menatap dalam-dalam ke mata gadis itu. "Aku bakal ngelakuin apa aja buat kamu, Rumi. Apa aja. Kita pasti bisa ngelewatin semua kutukan sialan ini."

Harumi tersenyum, matanya membalas tatapan Yuda.

Namun, pada detik itu juga...

Sesuatu yang sangat ganjil dan mengerikan terjadi.

Bola mata cokelat terang milik Harumi mendadak beriak. Warna cokelat itu seolah tersedot ke dalam pupilnya, dan dalam hitungan sepersekian detik, sepasang mata gadis itu berubah menjadi hitam legam seutuhnya.

Tidak ada bagian putih sama sekali. Yang ada hanyalah lubang hitam kebencian yang menatap Yuda dengan tatapan sedingin es.

Napas Yuda tercekat.

Ia membeku.

"R-Rumi... mata kamu..."

Senyuman manis di bibir Harumi seketika berubah menjadi seringai lebar yang asimetris dan menyalahi anatomi wajah manusia normal.

"Janji yang sangat manis, Pemuda Bodoh..." sebuah suara berat, serak, dan menggemakan hawa dingin khas kuburan keluar dari bibir Harumi.

Suara sang Panglima Jin.

Sebelum otak Yuda sempat memproses bahaya yang terjadi, tangan kanan Harumi yang sebelumnya melingkar lembut di punggung Yuda, tiba-tiba bergerak dengan kecepatan kilat.

GREP!!!

Tangan Harumi mencengkeram leher Yuda dengan kekuatan yang sangat brutal dan mustahil dimiliki oleh seorang gadis.

"Ughk—!" Yuda tercekik seketika. Matanya membelalak kaget saat udara tiba-tiba terputus dari tenggorokannya.

Tenaga dari cengkeraman itu sangat luar biasa, mengingatkan Yuda pada cengkeraman Jin Pengikut di rumah sakit tempo hari. Harumi—atau lebih tepatnya iblis yang mengendalikannya—mengangkat lengan kanannya ke atas.

Dan dalam satu gerakan yang melawan hukum gravitasi, tubuh Yuda yang jauh lebih besar dan berat itu terangkat ke udara, kakinya tak lagi berpijak pada tanah taman kampus!

Yuda meronta hebat. Kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan Harumi, berusaha melepaskan jari-jari yang mencengkeram tenggorokannya bagaikan tang baja. Kakinya menendang-nendang udara dengan putus asa.

"R-Rumi... L-lepas... I-ini aku..." rintih Yuda dengan suara tercekik, wajahnya perlahan berubah warna menjadi merah padam, lalu membiru karena kekurangan oksigen.

"Aku tahu ini kau, Ksatria Kecil," desis entitas itu melalui mulut Harumi. Mata hitam legamnya menatap penderitaan Yuda dengan penuh kepuasan. "Aku mencium bau darahmu dari kejauhan. Kau sedang mencari cara untuk menyegelku, bukan? Kau mencari darah kutukan itu?"

"Uhukk... L-lepaskan..." Yuda terus meronta, namun tenaga makhluk itu sama sekali tak goyah.

Hawa dingin di sekitar taman itu merosot drastis. Angin kencang berpusar di sekeliling mereka, menerbangkan dedaunan kering.

Namun anehnya, area taman itu tiba-tiba menjadi sangat sepi.

Tidak ada satu pun mahasiswa yang melintas, seolah-olah iblis itu telah membengkokkan ruang dan waktu untuk menyembunyikan eksekusinya.

"Tidakkah kau lihat betapa ironisnya ini, Yuda?" iblis itu tertawa, tawanya bergema memenuhi kepala Yuda. "Kau berjanji untuk melindunginya, namun sekarang... gadis yang sangat kau cintai inilah yang akan mengirimmu ke neraka dengan tangannya sendiri. Jiwanya sedang menangis melihatmu tercekik, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa!"

Yuda menatap mata hitam legam itu.

Di kedalaman mata iblis itu, ia bisa merasakan keputusasaan dan rintihan jiwa Harumi yang terkurung.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Yuda, bukan karena rasa sakit fisik, melainkan karena rasa sakit melihat gadis yang dicintainya dijadikan alat pembunuh berdarah dingin.

"Matilah, Pemuda Bodoh," geram sang iblis. "Matilah bersama kesia-siaan cintamu. Setelah kau mati, giliran ayah dan ibu angkatnya yang akan kucabik-cabik. Aku akan mandi darah keluarga ini sebelum kembali menagih nyawa kakak perempuannya!"

Cengkeraman di leher Yuda semakin dipererat. Tulang rawan di tenggorokannya berderak menahan tekanan yang mematikan.

Pandangan Yuda mulai berkunang-kunang. Paru-parunya seakan mau pecah karena kekosongan udara. Kekuatannya untuk meronta perlahan-lahan memudar, tangannya yang mencengkeram lengan Harumi mulai melemas dan jatuh terkulai.

Dalam kesadaran yang semakin menipis, Yuda menyadari bahwa ia tidak akan bisa selamat dari cekikan ini. Ia menatap wajah Harumi untuk terakhir kalinya, memaksakan sebuah senyuman tipis di bibirnya yang membiru.

"Maafin aku, Rumi... Aku gagal nyelamatin kamu..." batin Yuda perlahan menyerah pada kegelapan yang siap menjemputnya.

Namun, tepat pada detik ketika kesadaran Yuda nyaris sepenuhnya hilang...

Sebuah suara teriakan yang sangat lantang memecah keheningan gaib di taman itu.

"LEPASKAN DIA, IBLIS KEPARAT!!!"

Dari arah belakang, sesosok tubuh menerjang maju dengan kecepatan penuh dan menabrak tubuh Harumi dengan hantaman bahu yang sangat keras.

BRUKKK!!!

Hantaman itu berhasil membuat keseimbangan Harumi—dan iblis yang mengendalikannya—goyah. Cengkeraman maut di leher Yuda seketika terlepas.

Yuda jatuh berdebum ke atas rumput taman. Ia terbatuk-batuk hebat, memegangi lehernya, menghirup oksigen dengan sangat serakah hingga paru-parunya terasa terbakar. "Uhuk! Uhuk! Haaahhh..."

Dengan pandangan yang masih buram, Yuda mendongak untuk melihat siapa yang baru saja menyelamatkan nyawanya.

Di hadapannya, berdiri Dion.

Napas sutradara muda itu memburu, tangannya mengepal kuat-kuat. Ia berdiri tegak menghadap Harumi yang kini terhuyung mundur akibat tabrakannya.

"Berani-beraninya lo nyentuh dia!" bentak Dion dengan sorot mata yang menyala tajam, memancarkan amarah yang luar biasa besar, menutupi rasa takutnya yang sempat menguasainya beberapa hari lalu.

Mata hitam legam Harumi menatap tajam ke arah Dion. Entitas di dalamnya mendengus marah karena eksekusinya digagalkan.

"Serangga pengganggu... Kau pikir kau bisa melawanku?" desis iblis itu, bersiap untuk menyerang Dion.

"Lari, Yon! Dia bukan Harumi!" teriak Yuda dengan sisa suaranya yang serak, berusaha merangkak bangkit.

Dion tidak mundur selangkah pun. Ia justru merogoh sesuatu dari dalam saku jaketnya, menggenggamnya erat, dan bersiap menghadapi iblis dari masa lalu itu.

Pertarungan mempertahankan nyawa dan kewarasan di taman kampus itu baru saja dimulai, dan kali ini, entitas itu tidak berhadapan dengan target yang pasrah.

1
SecretS
sungguh membuat terkejut kak 🫨aku baru baca lengkap sinopsisnya 😔 aku pikir kutukan nya itu nyata looh, tapi alurnya bagus sih udah serem sih hampir mirip tirakat 3 pas pertemuan Nisa sama gendis. lanjut lagi kak 😄😄
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Satu langkah lagi puncaknya brarti ya... mangats bwt kalian, semoga bisa menyelamatkan rumi dari panglima jin kerajaan baka
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ini kek doa naik kendaraan apa bepergian yaa, tawaf ruwat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ya zaky nya juga knpa kudu di kunci gitu kamarnya trs percaya aja sama Rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sabar ya Rumi, orang orang terdekat mu sedang berusaha untuk menyelamatkan mu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Aku kira bakalan ketauan Zaky atw membangunkan panglima jin yg ada di dalam tubuh Harumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Klo yudha nggak ada keturunan garis darah Bandung Bondowoso, bisa dipastikan dia udah nggak selamat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
jangan jangan bener yuda masih ada turunan darah bandung
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Klo semisal rumah nggak nyelametin Rumi, masa iya Rumi mo di kurung trs, nunggu apa? nunggu sii yudha itu kah?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
kata panglima jin yg di tubuh Rumi
akhirnya aku nggak perlu jauh jauh mendatangi sang perisai
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mangsa yang nyamperin umpan... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
berat yaa perjuangan sblom berperang berpacu dengan waktu juga.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nahh bener tuh kata mbah kliwonn jangan nunggu keajaiban murahan tapi... berperang langsung. tapi dengan segala persiapan saya dan upaya ya yud wkwkwk nggak asal perang.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semoga mbah klien tidak dibelakang kan iblis prambanan itu juga, klo iya ntar nggak ada yg nolongin
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
tebakan aku dari awal ya yudha ini
Ilham
lanjut bg
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kak Ilham... 💪💪💪
total 1 replies
My.mitsubishi.triton Adventure X
Kenapa nama tokoh pemerannya sama dengan tirakat tp cerita nya berbeza bahkan tidak ada perewangan milik nisa dn haruma
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Karena novel "CINTAKU DI PRAMBANAN" ini adalah versi Alternate Universe (AU) dari Universe novel "TIRAKAT", Kak...

Jadi cerita utamanya berbeda, namun sebagian besar tokohnya sama.

Semoga Kakak juga suka ya... Dan, terima kasih banyak Kak, sudah komentar... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
di babb 20 keatas baru menangkap alur nya wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iyakah??? Hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, rekomendasi juga buat yang suka bacaan horror.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TERIMA KASIH, KAK ASMARA... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyalah nisa sebagai ibu nggak bakalan diam sama iblis itu, jadi percaya saja harumi biar sulit pasti bisa dilawan
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe...

"SAYA AKAN LAWAN!!!"
#KataSalahSatuLelakiDariSolo
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang ini serem ya apalagi baca nya malem
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ : iyaa serem
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!