Cinta tidak memandang dengan siapa dan milik siapa, cinta mekar begitu saja dengan berjalannya rasa kagum terhadap seseorang. Ketika hati sudah menyimpan rasa kagum maka akan terciptalah sebuah cinta. Namun, apa jadinya ketika cinta berlabuh pada milik orang lain?
Mampukan dia mendapatkan milik orang lain tersebut atau menyerah dengan cinta itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nur Hastaman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah David
Keesokan hari David turun menapaki anak tangga terlihay tengah terburu buru, Sampai ia hanya memakai kemeja putih, dasi berantakan, dan jas menggelantung di lengan kanan. Mengingat kejadian semalam membuat David tidak senang. Hampir semalam suntuk ia terjaga sambil menunggu kabar dari orang suruhannya itu. Namun, di tengah pencarian tiba tiba saja mobil yang di kendarai orang suruhan David mogok di jalan. Hingga akhirnya mereka lolos dari pengawasan. Jujur saat ini David sudah tidak tahan lagi, ingin sehera pargi mencari kemana perginya Aira dengan lelaki itu. Tiba tiba pintu kamar tidak bisa terbuka. David marah besar saat itu. Diandra bingung kenapa pintu kamar terkunci dari luar, dan ketika mencari kunci mereka tidak mendapatkannya. Sebelumnya Bi Ijah di minta oleh Tuan Nickolas untuk mengambil kunci kamar. Sengaja beliau mengunci keruanya dengan niatan siapa tau dengan kebersamaan mereka akan tercipta cinta yang kuat. Namun, semua sia sia. David tidak sedikit pun melihat Diandra meski dia ada di depan mata. Baginya Diandra tidak berarti apa pun.
Perjodohan kerap kali berakibat fatal bagi kehidupan seseorang. Kala salah satu dari mereka memiliki cinta lain yang terus di jaga sepanjang hidupnya. Seberapa keras diri berjuang jika di hatinya ada orang lain, pasti sulit untuknya masuk ke dalam hati itu.
"Mau kemana kamu?" Tanya Nyonya Nickolas. Beliau baru saja keluar kamar "Eh mama tanya itu harus di jawab, bukan malah mengacuhkan seperti itu"
"Kerja" Jawab Davis singkat padat namun menyakitkan.
"Masih jam berapa ini? sepagi ini sudah mau berangkat kerja? jangan mengada ngada kamu, Vid." Ucap Nyonya Nickolas sembari melihat penampilan David "Tidak biasanya kamu berangkat kerja dengan pakaian berantakan seperti itu, sini biar mama rapihkan dulu" Berjalan menuju ke arah David.
"Terima kasih banyak atas tawaran anda Nyonya Nickolas. Tapi, saya tidak butuh bantuan siapa pun" Rasa kecewa dalam hati membuat David membenci kedua orang tuanya. Bukankan kedua orang tua akan bahagia melihat anak mereka mendapat kebahagiaan yang mereka inginkan? apa mereka tidak mereka bahwa tuntutan mereka terlalu membebani sang anak? bagi kebanyakan orang tua pasti membenarkan semua tindakan di banding mempertimbangkan pilihan anak mereka.
"Keterlaluam kamu, Vid. Saya ini mama kamu, mama kandung kamu. Tega sekali kamu menganggap mama seperti orang asing. Mau sampai kapan kamu terus bersikap seperti ini?" Air mata Nyonya Nickolas jatuh mendapat perlakukan tidak adil dari sang putra.
"Sampai anda menyadari apa kesalahan anda terhadap saya" Segwra David berjslan ke luar rumah. Ia tidak lagi menggubris celoteh sang ibu, sebab pikiran dan hati tertuju pada wanita simpanannya.
"David, mama belum selesai bicara. Tidak sopan langsung pergi seperti itu. David dengar mama dulu" Nyonya Nickolas berusaha menghentikan David.
"Saya paling membeci hal seperti ini..." menyalakan klakson mobil berulang kali, sampai penjaga gerbang berlari tergesa gesa. Ketika pintu pagar telah terbuka, David langsung meninggalkan pekarangan rumah.
Diandra melihat mobil suaminya keluar dari pekarangan rumah. Baru saja ia selesai mandi. Handuk kecil melingkar di kepala "Demi wanita lain kamu sampai rela berangkat sepagi ini, mas." Luka tak berdarah terus menusuk hati. Air mata seolah lelah bercerita tentang kesedihan Diandra. Sejak pertama menikah belum sekali pun senyum tulus menghiasi hari harinya. Dunia nampak mendung selalu. Kilauan cahaya pagi seolah tidak pernah menyentuh wajahnya. Sinar rembulan tak dapat menerangi malamnya. Semua nampak kelabu. Sembari meremas kedua tangan ia bersandar pada tepi jendela kamar "Sakit ini terus menguasai hati sampai tidak ada sedikit celah kebahagian dalam hidup ku"
"Sial, kenapa dia tidak mengangkat telepon saya(Memukul stir kemudi). Siapa lelaki itu sebenarnya? ada hubungan apa antara mereka berdua?" Sepanjang perjalanan perasaan David berkecamuk. Pikiran buruk mulai membuatnya tidak tenang. Apa lagi kalau mengingat sebuah foto kebersamaan Aira dengan seorang lelaki itu. Mereka terlihat sangat dekat sampai berjoget pun mereka saling berpelukan "Kenapa dia tidak menjawab semua pesan saya.."
"Aw....kenapa pusing sekali kepala gue" Seorang lelaki baru saja terbangun sambil memijat pelan kepala. Pandangan mata melihat sekitar ruangan yang nampak asing baginya. "Lah gue di mana ini?" Dia tidak sadar sedang berada di mana. Dan begitu ia melihat ke samping kedua mata seketika terbelalak "Aira? Kok gue bisa sama dia sih..." Kepala semakin lama semakin pusing hingga membuat Jacky menggeleng beberapa kali. Ia mengira semua yang di lihat hanya ilusi semata "Astaga apa yang gue perbuat sama dia semalam" Jacky mulai tersadar ketika melihat tubuhnya bertelanjang dada. Sangking penasan Jacky memutuskan membuka sedikit selimut yang menutupi badan Aira. Kedua bola mata membulat sempurna. Ternyata benar semalam mereka melakukan kegilaan di luar kesadaran mereka "Hah....gue sama Aira sudah (Mengacak rambut sembari mencoba mengingat kembali kejadian semalam).Bagaimana kalau dia sampai tau gue udah ngelakuin itu sama dia, apa tanggapan dia nanti?" Menatap wajah cantik Aira sembari berpikir bagaimana cara menghadapinya ketika dia terbangun nanti.
"Gue harus cepat pergi dari sini sebelum dia bangun" Meraih pakaian di lantai lalu memakainya. Ketika baru saja berjalan beberapa langkah terdengar suara Aira memanggil nama David.
"David..." suara seakan mendesah itu membuat Jacky memejamkan mata, kemudian ia berbalik badan. Ketika itu Jacky sudah pasrah jika nanti Aira mengamuk atau bisa jadi membencinya. Di saat ia berbalik badan, ternyata Aira hanya mengigau saja "Sampai kapan perasaan ini terus ku pendam"
Tak berselang lama sampailah David di apartemen. Setelah sampai di depan pintu, ia mengeluarkan access card, baru hendak membuka tiba tiba saja pintu terbuka dari dalam.Betapa terkejutnya David kala melihat sosok lelaki berdiri berhadapan denganya "Siapa kamu?" Dengan nada tinggi.
Jacky terlihat gelapan menghadapi pertanyaan David."saya? tentu saya pemilik apartemen ini. Lalu anda siapa" Jacky terpaksa berbohong supaya tidak ada yang curiga kalau dia menginap di apartemen milik orang lain.
Tanpa tunggu lama, sebuah bogem mendarat di wajahnya "Kamu bilang ini apartemen kamu...." Menyunggingkan senyum dingin.
"Iya benar, memang apartemen ini milik saua. Anda siapa? kenapa anda tiba tiba databg lalu menyerang saya..." Jacky belum tau dengan siapa ia berhadapan.
David kembali memukulnya beberapa kali "Saya pemilik aparteman ini. Apa yang kamu lakukan di tempat saya...." Bogem kanan hempir mengenai wajah Jacky. Namun, Tiba tiba saja Jacky bisa melepaskan diri lalu kabur.
"Pengecut kamu...." Mengatai Jacky yang lari terbirit biri.
"Sial....kenapa gue nggak ngenalin dia sih. Bodoh banget gue ini, udah tau pacar Aira itu orang ternama di kota ini, masih aja gue nggak paham sama dia" Mengusap tepi bibir yang berdarah, di sebsbkan oleh tinju David.
Segera David masuk kamar dengan mengepalkan kedua tangan. Melihat Aira terbaring di atas ranjang membuatnya terbakar api cemburu"Apa yang mereka lakukan selaman?" Melihat pakaian Air masih melekat membuatnya sedikut lega. Tidak di pungkirii bahwa saat ini api cemburu mulai membakar hati.
"Untung saja gue gerak cepat tadi" Sembari masuk ke dalam mobil. Sebelumnya Jacky telah memakaikan semua pakaian supaya tidak timbul kecurigaan.
Pyar....
David melempar sebuah jam di atas meja sampai hancur berkeping. Melihat Aira tertidur dengan pulas membuatnya memikirkan hal apa yang mereka lakukan semalam, sampai Aira terlihat kelelahan.
Sontak Aira terkejut "Astaga, kamu ini kenapa sih? datang datang main lempar barang barang kaya begitu" Aira masih belum menyadari kesalahan apa yang ia perbiat sehingga membuat David murka. Ketika baru saja menyingkap selimut, tanpa dengaja ia meluhat sesuati di balik selimut "Jas? milik siapa ini" Lirihnya dalam hati. Takut hal itu di ketahui David segera ia menutupi kembali jas tersebut.
Perlahan Aira turun dari ranjang. Kepala serasa berat sampai ia hampir terjatuh, tapi masih bisa bertahan.
"Kamu masih belum mau mengaku?" David menghampiri Aira lalu mencengkeram dagu "Katakan siapa lelaki yang baru sjaa keluar dari aparteman ini? Katakan..." Bentak David.
Aira bingung harus menjawab apa karena dia tidak sadar siapa lelaki yang ia bawa semalam. (Jangan jangan tadi malam itu Jacky nginep di sini. Terakhir kan gue sama dia) Sekarang Aira baru ingat terakhir kali ia bersama Jacky di club malam itu.
"Kamu jangan salah paham dulu sayang. Dia itu sahabat lama ku. Demi Tuhan kita nggak ngelakuin apa apa" Aira mencoba menceritakan kisah semalam. Bukannya membuat emosi mereda justru malah semakin meradang "Jadi semalam kamu pergi tanpa bilang sama aku?" Amarahnya mulai meledak. Aira terus memberi penjelasan meski David tidak percaya itu.
"Saya kecewa sama kamu..." mendorong Aira sampai dia terlempar ke atas ranjang.
"Sayang....percaya sama aku. Tadi malam tidak ada yang terjadi antara kami"
Pyar...
Meraih gelas kosng di atas meje kemudian melemparnya sampai hancur berantakan. Tanpa kata David pun meninggalkan Aira.