Bermaksud ingin “melarikan diri” dari drama perceraiannya dan juga rutinitas pekerjaan yang menderanya membuat Laura Kamila memutuskan untuk berpergian ke sebuah pulau yang terkenal dengan surganya para dewa. Berbekal ijin dari adik perempuan satu-satunya dan juga kompensasi perceraiannya, ia berangkat dan memutuskan untuk menyendiri selama seminggu. Bahkan, ia bertekad akan menghabiskan seluruh uang perceraiannya untuk hal-hal yang selama ini sengaja ditahannya.
Di sisi lain, Langit Bramastya yang mencoba bersembunyi dari kejaran pemburu gosip juga melakukan hal sama seperti yang dilakukan Laura. Pertemuan keduanya yang tidak disengaja dan tak terduga membawa mereka pada gairah penuh fantasi. Terlebih, ketika Langit menunjukkan ketertarikan fisik terhadap Laura secara terang-terangan. Dengan bujuk rayu dan perhatian yang luar biasa manis mengantarkan mereka pada hari-hari liar penuh hasrat tak terkendali.
Begitu semuanya berakhir, Laura harus menanggung akibat dari tindakan liar dan juga keterlibatannya dalam kehidupan rahasia Langit yang tidak ia kenal sama sekali sebelumnya. Nama baiknya, integritasnya, kehidupan pribadinya dan juga adik perempuannya menjadi taruhannya. Hanya ada satu jalan baginya untuk keluar dari semua masalah yang mengepungnya. Apakah itu? Siapkah ia menerima bantuan bersyarat itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EnKaHa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. MAKAN MALAM BERSAMA
Jangan-jangan ini bukan ide yang bagus, pikir Laura. Suasana hatinya agak suram. Ruang makan terbuka itu dirancang khusus untuk bersantap berpasang-pasangan. Ia duduk seorang diri di meja untuk berdua. Tamu lain yang bersantap di sekelilingnya, duduk berdua-dua dan asyik mengobrol atau bercanda dengan pasangan lainnya.
Laura merasa dirinya semakin terasing merasa bukan menjadi bagian dari tempat ini.
Gaun hitam tanpa penutup punggung yang dibelinya musim panas lalu terasa kuno di antara gaun-gaun terbuka yang sedang trendi yang dikenakan para wanita di situ. Besok, ia akan pergi dan membeli gaun yang lebih berani. Tidak apa-apa, meski sisa uang “kompensasi “ mantan suaminya harus habis sekalipun untuk ia berbelanja, maka tidak masalah untuknya. Toh, adik perempuannya pun telah memberinya izin untuk itu. Ia juga bertekad takkan mengenakan stoking lagi selama liburan ini. Di daerah tropis begini tidak ada seorang pun mengenakan stoking.
Tujuh pemusik memainkan musik lembut pengiring santap malam di gazebo beratapkan jerami. Matahari baru saja terbenam, meninggalkan guratan warna indah dari jingga paling muda sampai biru cemerlang pada langit dan air laut. Di tengah setiap meja ada vas berisi bunga segar. Cahaya lampu gantung tampak berayun-ayun diterpa embusan angin laut. Resor ini jelas dibuat untuk menghadirkan suasana romantis. Jadi, apa kerjanya di tempat ini?
“Sudah lama menunggu?”
Laura, yang tengah melamun sedih, mendongakkan kepala. Langit tersenyum kepadanya. Seperti orang tolol, segera saja Laura melihat sekelilingnya, memastikan benarkah ia yang diajak pria itu bicara. Tanpa menunggu jawaban, Langit langsung duduk di kursi di seberang meja. “Maaf, aku terlambat.”
Laura melipat tangannya di atas meja. Ia berusaha memperlihatkan rasa kesal walaupun hatinya merasa girang. “Rupanya kau memang orang yang nekat, Pak Bramastya.”
“Dan kau memiliki mata dan dada yang indah memesona.” Laura terpana. “Kenapa kaget? Kau pikir aku sudah lupa?” pandangan Langit segera menyapu turun. Lalu, dengan suara satu oktaf lebih rendah ia berkata, “Aku ingat persis setiap detailnya. Lembut, bulat, merah muda, besar dan penuh…”
“Bisa kita bicarakan yang lain saja?”
“Tentu.” Direngkuhnya tangan Laura dan digenggamnya dengan lembut. “Tentang apa? Bagaimana kalau kita bicara tentang ciuman? Apakah kau biasa berciuman pada kencan pertama?”
Karena takut salah bicara, Laura hanya memandang Langit.
“Mau pesan anggur atau sampanye?” Entah dari mana datangnya, tahu-tahu pelayan minuman sudah berdiri di dekat mereka. Jangan-jangan perhatiannya terlalu terkonsentrasi pada lelaki di depannya ini, hingga semua hal lain di dunia ini seolah lenyap saja.
“Tidak, terima kasih…”
“Boleh,” mereka menjawab bersamaan.
Pelayan itu tampak bingung. Dia memandang Laura dan Langit berganti-ganti, sampai akhirnya Langit mengambil kendali. Ia memesan jenis minuman anggur yang untuk mengucapkan namanya saja susah bukan main. Bahkan, Laura pun tak mampu jika harus mengulanginya. Kedengarannya sangat jarang ada dan pastinya mahal sekali.
Pelayan itu terkagum-kagum dan segera memberi isyarat kepada anak buahnya untuk melaksanakan perintah itu.
“Mudah-mudahan cocok untukmu,” ucap Langit pada Laura.
Bibir Laura terasa berat saat ia berusaha tersenyum. “Tentu saja.”
“Mau makan prasmanan atau pesan di meja saja?”
“Buah segar di meja saji itu sungguh menggugah seleraku.”
“Kalau begitu, kita pilih prasmanan.” Dengan luwes Langit bangkit dari kursinya dan membantu Laura berdiri. Laura sempat melihat lirikan iri beberapa wanita yang ada di situ ketika ia dan Langit berjalan melewati meja-meja mereka.
Langit memang pria paling keren yang pernah ada dan ia jumpai. Dan sepertinya wanita lain pun terpikat daya tariknya. Dengan mengenakan pantalon berwarna krem, blazer biru tua dengan kancing kuningan, dan kemenja sutra krem tanpa dasi penampilannya benar-benar memukau.
Selera makan mereka hampir sama. Mereka sama-sama memilih buah segar, sayuran, dan daging tanpa lemak. Juga sedikit roti atau makanan berkabohidrat tinggi.
“Buka mulutmu.” Laura menoleh. Langit memegang sebuah stroberi merah segar untuknya. Laura nampak ragu ragu sejenak. Pernahkah ia makan disuapi oleh seorang pria? Rasanya dengan Wilson pun ia belum pernah merasakan keintiman seperti itu. Tapi memandang wajah eksotis Langit Bramastya membuat Laura lupa bagaimana wajah Wilson.
Spontan mulutnya membuka. Dengan hati-hati Langit meletakkan ujung stroberi yang dipegangnya ke mulut Laura, membiarkan wanita itu menggerakkan bibirnya mengambil buah itu sampai bibir itu menyentuh jari Langit yang masih memegangi tungkainya. Laura menggigit pangkal buah itu lalu memandang Langit. Ia mengunyah dan berkata, “Terima kasih.”
“Sama-sama,” Langit membalas ucapan Laura dengan sama paraunya seperti wanita itu.
Mereka berpadang-pandangan lama sekali, sampai lelaki yang menunggu di belakang mereka berdehem.
Ketika kembali ke meja mereka, pelayan minuman dengan sabar menunggu persetujuan Langit sebelum menuangkan anggur yang dipesan pria itu.
“Mudah-mudahan minggu ini menjadi minggu yang menyenangkan untuk kita berdua,” ucap Langit setelah pelayan itu pergi. Laura menyesap minuman anggur itu. “Kau suka?”
Ia memejamkan mata, merasakan kesegaran dan kehangatan anggur menjalari tenggorokannya. “Hmm, sangat.”
Mereka makan perlahan-lahan. Rupanya Langit berniat menghabiskan petang itu berdua saja dengannya. Seharusnya Laura marah karena pria itu berasumsi ia menyambut senang kehadirannya dan tak punya rencana lain. Tapi marah memerlukan banyak tenaga, dan rasanya marah takkan ada gunanya.
Anggur itu benar-benar keras. Pengaruh alkoholnya langsung naik ke kepala Laura, membuat dirinya serasa melayang-layang sementara tubuhnya menyerap santapan lezat. Diamatinya mulut Langit ketika sedang makan. Hatinya sedikit berharap pria itu akan meneruskan pembicaraan tentang ciuman tadi. Sesekali lidah Langit menjilat ujung bibirnya. Ciuman. Perutnya terasa jungkir balik.
“Sudah pernah menikah?” tanya Langit langsung ke intinya, membuyarkan lamunan indah Laura.