Lepaskan aku jika kamu tak mencintaiku,jangan kau jadikan aku sebagai wanita yang seolah mengemis cintamu.
Aku istrimu bukan kekasih gelapmu namun kenapa seolah aku harus bersembunyi dari orang orang tentang siapa aku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Capture 11
Kirana pun menatap kearah Arsya yang nampak masih tersenyum kearahnya..
Arsya pun mengajak Kirana untuk masuk kedalam kamar dan segera beristirahat..
"Sudah malam sebaiknya kita Istirahat.."ucap Arsya dengan raut wajah yang datar..
Kirana pun menjadi bingung apa sikapnya akan kembali berubah lagi menjadi sosok laki laki dingin dan juga kasar entahlah hanya Allah yang tahu...
...****************...
Di dalam kamar Arsya pun meletakan jaket yang di pakai di atas tempat tidurnya,Arsya pun langsung merebahkan tubuh letihnya. Sedangkan Kirana dia masih merasa sangat bingung harus melakukan apa sekarang.
"Kirana kamu mandi duluan aku mau istirahat dulu,jangan lupa mandinya pakai air hangat biar kamu gak masuk angin.."Arsya pun mengatakan itu tulus dari dalam hatinya...
Kirana pun hanya mengangguk dan kemudian dia melupakan tas tangannya dan kemudian berlalu kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lima belas menit kemudian Kirana pun selesai dengan ritual mandinya dia pun menatap kearah sang suami yang sedang bermain dengan ponselnya.
Kirana tahu bahwa saat ini Arsya pasti sedang berkomunikasi dengan kekasihnya itu.
Kirana sendiri hanya bisa menarik nafas panjang dan membuangnya secara belahan,Kirana sangat takut jika rasa nyaman yang baru saja dia rasakan akan segera berubah menjadi rasa sakit yang tak ada obatnya..
Arsya menatap kearah Kirana yang sedang menatapnya dan berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Arsya tersenyum sembari menatap wajah sang istri..
"Kamu kenapa diam disana? apa ada hal yang sedang kamu pikirkan?"tanya Arsya sembari menatap wajah cantik Kirana.
Arsya pun langsung meletakan ponsel miliknya dan kemudian berjalan mendekati istrinya itu..
"Kenapa kamu diam saja Kirana sudah sana istirahat Mas mau mandi dulu.."Arsya pun langsung bergegas kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri..
Sementara itu Kirana pun masih terdiam dia gak menjawab ucapan Arsya yang pasti pikirannya saat ini sangatlah kacau entah apa saja yang merasukinya..
Kirana pun merebahkan tubuhnya di atas sofa tempat tidurnya.
Kirana pun masih bermain dengan ponsel miliknya tak lama kemudian Arsya pun keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan handuk saja hal itu membuat Kirana refleks berteriak dan kemudian menutup matanya.
Arsya yang melihat itu bukannya marah malah tertawa...
Arsya pun langsung mengambil pakaian dan kemudian mengenakannya.
Setelah selesai berpakaian Arsya pun kembali mendekati sang istri yang masih menutup mukanya dengan kedua tangannya,sementara itu jantung Kirana merasa berdebar jauh lebih kencang karena tanpa sengaja melihat tubuh kekar suaminya untuk pertama kalinya.
Arsya pun duduk di sebelah Kirana entah kenapa hal itu terasa lucu di hati Arsya bisa melihat kepolosan sang istri..
"Hei sudah kenapa tutup mata terus? Kamu seperti melihat setan saja."ucap Arsya sembari melepaskan tangan Kirana dari wajahnya.
Kirana yang telihat begitu polos membuat Arsya semakin gemes padanya namun Arsya tak ingin memaksakan kehendaknya walaupun mereka sah melakukannya.
Kirana pun menurunkan tangannya dan kemudian menatap kearah Arsya wajah mereka yang hanya berjarak beberapa cm aja membuat jantung keduanya pun berdetak jauh lebih kencang dari biasanya.
"Mas kenapa keluar kamar gak pakai baju aku kan jadi malu?"ucap Kirana dengan sangat polosnya..
Arsya pun tersenyum dan kemudian menatap wajah istrinya itu..
"Kenapa bukankah kita sudah menikah jadi gak apa apa juga kan kalau aku keluar dari dalam kamar mandi hanya pakai handuk saja? toh kita adalah mahram."jawab Arsya dengan sedikit candaan..
Kirana pun menatap wajah suaminya itu dengan sedikit keberanian yang dia miliki Kirana pun bertanya tentang perjanjian yang telah mereka sepakati..
"Tapi Mas pernikahan kita kan hanya tinggal beberapa bulan lagi dan setelah itu Mas bisa kok meninggalkan aku dan aku juga akan senang melihat Mas bisa bersama dengan Mbak Widia."ucap Kirana lirih..
Arsya pun menatap wajah Kirana dan kemudian terdiam untuk sesaat. Arsya tak pernah berfikir bahwa ingatan seorang wanita itu sangat kuat bahkan untuk hal hal kecil pun mereka tak pernah melupakannya.
Arsya pun tersenyum dan kemudian mencubit pipi mulus sang istri,Arsya pun bangkit dari duduknya dan kemudian dia mengambil sesuatu dari dalam berangkas miliknya.
Arsya mengambil selembar surat perjanjian pernikahan mereka dulu dan Arsya juga mengambil satu kotak kecil yang di simpan untuk wanita yang telah berhasil merebut hatinya...
"Maksud kamu ini?"tanya Arasy lirih..
Arsya pun langsung merobek kertas yang dia pegang saat ini. Arsya merobeknya hingga menjadi potongan kecil..
"Mas kenapa itu di robek?"ucap Kirana lirih..
Arsya pun tersenyum dan kemudian mendekati istrinya itu..
"Karena aku gak mau ada perpisahan di antara kita. Ya aku tahu jika selama ini aku salah aku selalu saja menyakiti hatimu aku minta maaf untuk hal itu tapi sekarang aku gak mau kehilangan kamu sayang."ucapan Arsya membuat Kirana langsung menatapnya heran.
"Sekarang kamu jawab pertanyaan yang aku berikan ini,apa kamu tak memiliki sedikit perasaan padaku?Apa kamu juga gak bisa membuka hatimu untuk aku? Kirana dengarkan aku,Kirana aku mohon berikan aku satu kali kesempatan untuk bisa membuatmu mencintaiku jika dalam tiga bulan aku tak bisa membuatmu mencintaiku maka kamu boleh meninggalkan aku sesuai perjanjian kontrak yang telah kita sepakati."Arsya pun mengatakan hal yang sebenarnya tak ingin dia katakan...
Kirana pun terdiam sesaat hatinya masih bimbang dalam mengambil keputusan...
"Lalu bagaimana dengan kekasihmu bagaimana dengan Widia?"tanya Kirana mencoba mengingatkan tentang kekasih dari suaminya itu..
Arsya menatap kearah Kirana dan tersenyum..
"Dia hanyalah wanita yang tak pantas untukku dan jika aku saja sudah memiliki permata untuk apa aku mencari batu kerikil yang ada hanya akan melukai kakiku bukan?"ucapan Arsya membuat Kirana tak mengerti..
Arsya pun mendekati sang istri dan kemudian memegang tangannya..
"Sayang aku mohon izinkan aku untuk belajar menjadi suami yang baik untukmu dan mulai saat ini dan seterusnya aku akan selalu setia sama kamu apapun alasannya. Kirana sayang dengerin aku mulai saat ini aku hanyalah Arsya suami kamu tak akan ada lagi wanita manapun yang berhak menempati hatiku kecuali istriku. Dan untuk hubunganku dengan Widia aku akan segera memutuskan hubungan kami karena kamu tahu dia bukalah wanita baik baik dia menginginkan aku hanya untuk uangku saja."Arsya pun tak ingin menutupi apapun lagi dari Kirana.
Kirana pun mengangguk dia tersenyum hatinya bahagia ternyata Allah telah mengabulkan doanya doa yang selalu dia ucapkan akhirnya membuatnya bisa mendapatkan hati suaminya.
Ternyata buah dari sebuah kesabaran adalah sebuah kebahagiaan...