Rin yang terpaksa harus merubah penampilannya saat berada disekolah barunya sebagai siswa pindahan, dikarenakan sebuah kejadian yang membuatnya tak sadarkan diri dan dirawat dirumah sakit.
Disekolah baru ini, Rin harus mengalami drama sekolah bersama primadona kelasnya serta dengan adik kelasnya. Serta rahasia dari sekolah barunya, bersama dengan identitasnya yang ingin diketahui teman-teman sekelasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rheanzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adik Kelas Yang Manis
‘Malam kak Rin, apa kabarnya
Oh ya kak, besok Mala mau main ke kafenya kakak
Mumpung besok libur, hehehehe
Ditunggu ya Nirmala nya, :) :) :p
Rin tersenyum membaca chat dari Nirmala di hp nya, Rin membalas dengan pesan yang singkat “siap”, dan tak ada balasan di hp nya.
...***...
Seperti hari-hari biasanya di asrama pada saat jam pagi, mereka semua berkumpul di ruang makan untuk sarapan, namun tidak seperti hari aktif sekolah, hari libur mereka di bebaskan untuk sarapan jam berapa yang mereka inginkan.
Jam hampir menunjukan pukul 9, sebagian anak asrama sudah tidak ada di asrama, ada yang mengikuti kegiatan klub mereka, pergi ke perpus, ataupun keluar sekedar untuk bersenang di hari libur dan ada juga yang tetap di asrama.
Setelah sarapan Dinda segera kembali ke kamarnya, untuk mandi dan pergi ke kafe. Dinda heran dan bingung ketika dia masuk ke kamarnya, di lihatnya ada beberapa koper terletak di lantai.
"Ini punya siapa Kak?" tanya Dinda ke Nia yang sudah ada di kamar dari tadi
"Oh itu. Itu punya anak baru, itu yang di bilang Ibu asrama tadi." jawab Nia sambil memainkan hp di kasurnya.
"Anak baru ya, orangnya kini dimana?"
"Entah, mungkin masih dijalan orangnya."
Dinda hanya termangut, setelah melepaskan pakaiannya, Dinda segera membersihkan tubuhnya.
"Din, kamu kerjakan hari ini?" teriak Nia bertanya ke Dinda yang masih berada di kamar mandi.
"Iya, ada apa memangnya." timpal Dinda.
"Aku cuma mau kamu belikan makanan nanti."
"Tapi aku kan pulangnya malam." jawab Dinda keluar kamar mandi.
"Nggak apa, tolong ya belikan." pinta Nia memohon ke Dinda.
"Oke, nanti aku bawakan makanannya." jawab Dinda atas permintaan dari Nia sambil memakai pakaiannya.
Setelah mengenakan pakaiannya, Dinda segera pergi menuju kafe. Dinda menuruni satu per satu anak tangga hingga dia sampai di lantai bawah. Dinda berjalan santai tak terlalu tergesa-gesa karena masih memiliki waktu yang cukup.
"Kak Dinda ...."
Terdengar beberapa suara di belakang Dinda yang memanggil namanya. Dengan spontan Dinda berhenti dan menoleh ke arah suara itu, dilihatnya tiga orang cewek menghampirinya.
"Kakak mau ke tempat kerja?" tanya salah satu dari mereka bertiga.
"Iya, mau ke tempat kerja."
"Kita barengan ya, kami juga mau ke kafe tempat kakak kerja."
"Tapi kafenya kan belum buka jam segini." tutur Dinda sambil melanjutkan jalan mereka.
"Kami mau ke toko buku depan itu dulu baru ke tempat Kakak."
"Oh, gitu ya."
Mereka bertiga mengajukan beberapa pertanyaan ke Dinda selama perjalanan mereka. Dinda menjelaskan dari pertanyaan-pertanyaan yang mereka bertiga ajukan dan ada juga yang tidak bisa dijelaskan oleh Dinda.
Mereka akhirnya berpisah, Dinda segera berbelok ke arah kafe dan yang lainnya segera menuju toko buku.
Setiba di rumahnya Rin, Dinda mengganti pakaiannya ke seragam kafe, begitu pula dengan Ratih yang datang hampir bersamaan dengan Dinda. Selesai semuanya mengganti ke seragam kafe, seperti biasanya mereka melakukan briefing sebelum ataupun sesudah mereka bekerja.
Selesai briefing, mereka menyiapkan segala sesuatunya, Raka dan Anna telah standby di dapur mengecek peralatan ataupun bahan-bahan untuk mereka masak nanti. Rin, Nana dan Ratih mengangkut cake dari rumah ke kafe, sedangkan Dinda dan Sari merapikan dan membersihkan meja dan kursi untuk sekali lagi.
Suara pintu terbuka, seorang perempuan yang menggunakan gaun one piece dengan rambut panjang lurus terurai masuk ke kafe, perempuan itu masih sangatlah muda. Melihat perempuan itu yang masuk sebelum jam buka kafe, Sari dan Dinda menghampirinya.
"Maaf Mbak, kami belum buka kafenya." tutur Sari.
"Kafenya sebentar lagi akan buka, ada yang dapat kami bantu?" ujar Dinda mencoba bertanya ke perempuan itu.
"Maaf sebelumnya jika saya menggangu, saya ingin bertanya, pemilik kafenya dimana ya?" tanya perempuan itu ke Dinda dan Sari sambil melihat sekeliling, siapa tahu dia menemukan orang yang dicarinya.
"Pemilik kafe?" jawab mereka berdua kompak.
Dengan penuh tanya dipikiran mereka berdua, kenapa perempuan ini mencari pemilik kafe, apa ada janji sebelumnya. Tapi Rin tidak memberi tahu mereka kalau akan ada orang yang akan mencarinya saat briefing tadi.
“Ada apa mencari pemilik kafe ini.” tanya Sari mencari tahu tujuan perempuan ini mencari Rin, si pemilik kafe.
“Sebenarnya nggak ada alasan khusus sih, aku hanya ingin menemuinya saja.” tutur perempuan itu jujur. "Jadi bisa panggilkan dia.” pintanya.
“Tunggu sebentar saya akan memanggil beliau.” tutur Dinda.
Belum sempat Dinda bergerak memanggil, yang bersangkutan muncul sambil membawa beberapa loyang cake ditangannya dan dua orang yang bersamanya. Melihat Rin yang sudah muncul Sari langsung memanggilnya.
“Lead, ada yang mencari mu.” ucap Sari.
“Siapa?” tanya Rin sembari berjalan untuk menempatkan cake yang dia bawa ke lemari kaca untuk dia jual.
“Ah maaf, saya tidak tahu namanya.”
Sari berencana untuk menanyakan nama perempuan itu, namun perempuan itu berjalan mendekat ke arah Rin yang sedang meletakan cake bikinannya.
“Pagi Kak Rin.” tutur perempuan itu ketika sudah berada di depan lemari kue dekat Rin.
“Ya, pagi.” jawab Rin spontan.
Dan untuk beberapa saat Rin terdiam mengingat siapa yang punya suara itu, setelah itu dia perlahan berdiri melihat siapa yang menyapanya itu. Dilihatnya sosok wanita yang tak asing baginya berdiri didepannya tengah tersenyum kepadanya.
Rin terkejut dengan sosok yang ada di depannya.
“Hai, Kakak.” sambil melambaikan tangannya.
“Nirmala!”
“Yuph, Nirmala telah hadir.” candanya.
“Kamu kapan nyampainya, kenapa nggak di kabarin kalau mau mampir.” tanya Rin ke Nirmala.
“Hemm, bukannya Mala sudah bilang ke Kakak kalau hari ini mau mampir.” tutur Nirmala.
“Bukan itu yang aku maksud.” jawab Rin sambil menyentil keningnya Nirmala.
“Aw, sakit atu Kak.” sambil mengusap-usap keningnya yang sakit bekas sentilan Rin.
“Oh ya mau pesan apa ni?” tanya Rin ke Nirmala. “Sebentar ya, kalian semua siap bekerja, buka kafe.” teriak Rin ke semua stafnya.
“Siap, Lead.” balas mereka semua, dan mulai mengambil posisi mereka.
Rin menyiapkan makanan dan minuman untuk Nirmala, setelah itu dia meminta Nana dan Ratih untuk menggantikan posisinya sementara saat Rin menemui Nirmala.
Rin membawanya ke meja tempat Nirmala menunggu. “Ayo di coba, salah satu menu di kafenya Kakak.” tawar Rin sambil meletakan sepotong cake dan secangkir Herb Tea.
Dan Nirmala segera mencoba untuk mencicipinya.
“Gimana Nir, enak?”
“Hemm, enak Kak cake nya, teh nya juga nikmat.”
“Sukur deh kalau kamu menyukainya.”
Nirmala sangat menikmati makanan yang ada dihadapannya sambil berbincang-bincang dengan Rin. Semakin lama mulai ramai dengan pengunjung, begitupun dengan tiga orang yang bersama Dinda sebelum ke kafe akhirnya berkunjung juga. Dinda mengantarkannya ke meja mereka yang berada dekat dengan Rin dan Nirmala.
Salah satu dari mereka berhenti tepat di meja Nirmala, didekatkannya wajahnya ke Nirmala dan diperhatikannya secara seksama. Tingkahnya membuat yang ada di dekatnya bingung.
“Kamu kenal?” tanya Rin ke Nirmala, dan Nirmala hanya membalas dengan senyuman, begitu pun dengan Dinda bertanya ke gadis itu dengan hal yang sama
“Kenal lah kak, dia itu teman sekelas aku.” tuturnya ke Dinda.
“Teman sekelas?” ujar Rin bingung begitu pula dengan Dinda. ”Teman sekelas waktu SMP?” tanya Rin ke gadis itu.
“Nggak lah kak, aku sama dia itu teman sekelas di Akademi Roswaal, jenjang SMA nya.” jawabnya.
Mendengar itu Rin langsung menatap ke arah Nirmala, sedangkan yang ditatap itu dengan santainya menyeruput minumannya.
“Dinda kamu kembali kerja.” Rin menyuruh Dinda agar melayani yang lain, berdiri menyuruh yang lainnya duduk bersama Nirmala. “Mala, nanti tolong jelaskan semuanya, dan kalian mau pesan apa?” ujar Rin melembutkan nada bicaranya.
“Iya Kakak” jawab Nirmala lalu menggembungkan pipinya.
Rin segera mengambil dan membuat pesanan mereka bertiga. Saat ini mood Nirmala berubah buruk, sebal dan sedikit kesal dibuat oleh temanya itu.
“Cowok itu pemilik kafe ini kan? Oh ya, ini Lana dan Rani dari kelas 1-2.” tutur gadis itu mengenalkan temannya ke Nirmala.
Nirmala menyambutnya dengan senyuman, lalu kembali diam sambil memainkan gelas tehnya.
Untuk beberapa saat mereka hanya berdiam diri saja.
“Dia itu siapanya kamu, kakak ya.” tanya Rani memecah kebisuan diantara mereka.
“Ya, bisa dibilang begitu deh.” jawab Nirmala.
“Ada apa sih Nir?” tanya sahabatnya itu.
Nirmala menghembuskan nafas panjang, "Nggak ada apa-apa Ni.” tutur Nirmala ke Aini
“Benaran nggak ada apa-apa?”
“Iya Aini, nggak ada apa-apa kok.”
Rin menghampiri mereka lagi membawa pesanan mereka. Diletakkannya didepan orang yang memesannya, lalu Rin menatap tajam kearah Nirmala, melihat tatapan yang dibuat Rin, seketika itu Nirmala merasa merinding di sekujur tubuhnya, dan disaat itu pula wajah Nirmala berubah pucat.
Aini akhirnya tahu dengan sikapnya Nirmala tadi ketika dia melirik kearah Rin yang menatap tajam ke arah Nirmala, Rin berdiri tepat disamping Nirmala, melipat tangannya di dada.
“Bisa tolong jelaskan semuanya?” pinta Rin.
“Apa yang harus Mala jelaskan kak?” jawabnya sendu.
Rin menarik nafas dalam, menenangkan diri dan mencoba mengatur nada bicaranya, “Baiklah, jawab aja pertanyaan kakak.” pinta Rin ke Nirmala.
Aini, Lana dan Rani diam menonton adegan opera sabun yang ada didepannya sambil menikmati makanan di depannya, begitu juga dengan yang lain, sekali-kali melirik kearah Rin dan Nirmala.
“Tolong bilang ke kakak, kapan kamu pindahnya? Kenapa kamu nggak bilang ke kakak kalau mau pindah sekolah disini? Terus kamu tinggal dengan siapa?” tanya Rin ke Nirmala seperti kakak yang mengkhawatirkan adik perempuannya.
“Kak, bertanya nya satu-satu dong, oke deh, Nirmala jawab semuanya” keluh Nirmala.
“Mala pindah sudah hampir dua minggu, tepatnya ada kan saat kakak main ke sekolah waktu itu, itu sebenarnya hari terakhir Nirmala sekolah dan lusanya Nirmala mulai sekolah disini, maaf kak, Mala bukannya nggak mau ngasih tahu kakak kalau Mala akan pindah kesini, soalnya waktu itu Nirmala benaran nggak tahu kalau akan pindah ke sini.” tutur Nirmala dengan ekspresi sedih dan takut. “Setelah pulang dari sekolah, papa baru bilang kalau Mala pindah ke Akademi Roswaal”
“Kenapa kamu pindah sekolah, padahal kan baru mulai masuk sekolah.” tutur Aini yang ingin mengetahuinya juga.
“Kalau itu sih aku juga tahu kalau baru mulai aktif sekolah, tapi aku nggak tahan lagi disana, ya walaupun aku memang nggak ada teman disana.” tutur Nirmala.
“Maaf ya, pasti berat buatmu setelah kejadian waktu itu.” ujar Rin sambil mengusap kepalanya Nirmala.
“Nggak apa kak, Nirmala senang kok bisa pindah ke sini.” tutur Nirmala degan tersenyum.
“Terus kamu tinggal dimana disini?”
“Mala pindah ke asrama kak hari ini.”
“Kamu pindah ke asrama Nir?” tanya Aini.
“Yuph, hari ini aku pindahnya.”
“Tolong akrab dengan Mala ya.” pinta Rin ke Aini dan yang lainnya. “Ya sudah, kakak balik kerja lagi.” ujar Rin ke Nirmala.
“Oke kak.”
Rin kembali ke posisinya yaitu barista dan di kasir. Nirmala tengah asik mengobrol dengan temannya setelah Rin meninggalkan mereka.
°
°