Indonesia
NovelToon NovelToon
BOS MAFIA MUDA

BOS MAFIA MUDA

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Gibela26 Siyoon93

Felisberta Divya Deolinda gadis pemalas dan putri kesayangan keluarganya, Naumi sebagai seorang sahabat selalu membantu dia dalam pelajaran. Sampai suatu hari terjadi kecelakan dan membuat Feli koma, saat terbangun dia terkejut mendapatkan dirinya ada di dalam novel yang selalu dibacanya berjudul ‘Bos Mafia Muda’. Pemeran utama wanita di novel itu bernama Shanaya, dalam cerita Shanaya berakhir menyedihkan. Feli menjadi Shanaya dan menjadi istri dari Bos Mafia Muda itu yang bernama Shankara Pramudya Anggara. Di usia yang masih muda Shankara bisa menaklukkan semua Mafia yang ada di Negaranya, sosok laki-laki itu ditakuti semua orang tidak ada siapa pun yang berani menentang maupun melawannya karena itu Shankara Pramudya Anggara dikenal sebagai Bos dari semua Mafia yang ada di Negaranya atau di sebut Bos Mafia Muda. Alur ceritanya berubah seiring waktu setelah Feli menjalankan kehidupannya bersama Shankara.

@KaryaSB026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibela26 Siyoon93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

“Wah akhirnya sampai juga,” Feli turun dari kapal.

Anak buah Shankara menurunkan semua barang-barang dari kapal pesiar.

“Pemandangan yang menyejukkan mata,” berkali-kali mengirup udara.

Laut yang biru menjadi background pemandangan indah di depan matanya Feli ditambah pohon kelapa yang berjejer rapih di samping pantai, keindahannya menjadi lengkap dengan warna pasir yang putih.

“Sayang sekali pantai itu tidak bisa aku nikmati,” melangkah maju.

“Pulau ini tidak seperti namanya.”

“Aku setuju denganmu Nin.”

“Menyenangkan kalau bisa bermain disana,” gumam Feli.

“Pastikan semua barang tidak ada yang tertinggal !”

“Baik Tuan.”

“Didalam novel Nina menghindari percakapan, dia tidak mau identitasnya sebagai seorang ahli bela diri terungkap di depan Shanaya tapi kali ini dia terang-terangan memperlihatkan jadi dirinya. Selain seorang yang pandai dalam bela diri khususnya senjata dia adalah teman yang bisa diandalkan.”

Shanaya menaiki kendaraan kecil beroda empat bersama Shankara, orang yang membawa kendaraan itu tidak berani menatap Feli sedikitpun. Bahkan ketika Feli bertanya dia menjawab tanpa melihat wajahnya. Jarak vila dari pelabuhan cukup jauh memerlukan waktu sekitar 30 menit jika berjalan.

“Sudah lama aku tidak mengirup udara pesisir pantai, terakhir saat musim panas aku pergi bersama orang tuaku dan juga Naumi.”

“Ternyata Annya memiliki sikap tenang, dia terlihat lebih kalem dari biasanya.”

“Ini Vila atau rumah hantu ?” Vila nya dikelilingi pohon pinus yang rimbun. Cahaya matahari tidak banyak menyinari Vila sehingga terlihat gelap dan menyeramkan.

“Karena itulah mereka tidak akan menyangka kalau vila ini di tempati Bos,” sela Raymond.

“Datang saja di sambut seperti tadi mau tidak tau bagaimana ?” sindir Feli.

“Tempat ini bisa di tinggali ?” tambahnya melangkah masuk Vila.

“Menurutmu ?” Shankara berjalan melewati Feli.

Raymond dan Dika mengikuti Shankara yang naik kelantai dua, sedangkan Feli bersama Nina mengelilingi semua tempat di Vila itu.

“Tidak buruk,” air terjun berukuran kecil ada disamping Vila menghiasi halaman.

“Annya sangat paham masalah pembangunan dan lahan yah ?”

“Lebih ke tau aja sih, dulu aku punya teman yang pintar masalah ini. Dia memberitahuku banyak hal, bahkan ketika tidak mengerjakan tugas dia yang membantuku walaupun berujung mengomel tapi dia tetap melakukannya dengan baik.”

“Dia beruntung bisa kenal dengan mu lebih awal.”

“Aku jauh lebih beruntung bisa mengenal kalian berdua,” senyuman Feli menenangkan hati Nina.

Di ruang lantai atas Shankara mengecek semua senjata yang sebelumnya di sembunyikan.

“Apa tujuannya meminta senjata kita di sembunyikan ?”

“Dari perkataannya jelas dia tidak berbohong,” jawab Dika.

“Ada penyusup yang berhasil menyamar.”

“APA ?”

“Ba ba gaimana bisa ? disetiap pemilihan anggota baru gue selalu memastikan dia bukan bagian dari musuh.”

“Selidiki siapa yang mengirim mereka ke wilayahku,” Shankara mengeluarkan pistol kecil dari saku bajunya.

Door suara tembakan yang sangat keras terdengar sangat jelas ke telinga Feli, diapun bergegas datang ke sumber suara namun karena tidak hati-hati Feli tersandung sampai jatuh.

“Annyyyyaaaa …”

“Ini menyakitkan,” berusaha untuk berdiri dibantu Nina.

Feli di boyong Nina ke kursi “Duduk disini ! aku akan mengambilkan obat.”

“Tidak bisakah kamu diam ?”

“Bukan begitu tapi suara tembakan itu membuat aku takut,” jelas Feli.

“Lain kali perhatikan langkahmu,” Shankara membuka sepatu Feli.

“Tolong pelan-pelan !” pinta Feli.

“Bos,” Nina membuka kotak P3K.

“Ini mungkin sedikit sakit,” Shankara meneteskan obat cair ke luka kaki Feli yang berdarah.

Tetesan obat itu bercampur darah dan jatuh ke lantai di iringi rintihan Feli. Shankara dengan hati-hati membalut luka Feli “Cara Shankara membalut luka terlihat familiar.”

“Annya apa sakit ?” Nina khawatir.

“Sedikit.”

“Dika cari orang perbaiki tangganya !”

“Baik Bos.”

“Oh iya apa yang terjadi ?”

“Tidak ada apa-apa, hanya mengecek senjata berfungsi atau tidak.”

“Ssttt jangan kenceng-kenceng,” suara pelan Feli.

“Untuk pertama kalinya Bos merawat orang lain.”

“Benar kah ? seingat ku ada teman kecilnya.”

“Annya tau itu ?”

“Sedikit.”

“Masa lalu biar lah berlalu,” sanggah Shankara.

“Meski sudah berlalu tetap menjadi kenangan, segi manapun berusaha untuk melupakannya tidak akan bisa karena semua memori tentangnya tersimpan dengan sangat baik.”

“Sudah puas bicaranya ?”

“Belum.”

“Selesaikan nanti,” Feli di bawa Shankara ke ruang atas.

“Gue penasaran seringan apa tuh badan dia sering banget Bos mengangkatnya.”

“Loe cemburu ?”

“Kagak …” Raymond segera pergi dari sana.

“Menurutmu Bos kenapa membawa Annya ?”

“Entahlah …”

“Kenapa menarik ku ?”

“Ayo kita pergi cari angin.”

“Emn okey.”

Feli tidak berontak atau pun banyak bicara seperti biasanya, Shankara perlahan menurunkan Feli diatas kasur.

Suara Shankara seakan mengisi di setiap ruangan “Dia hanya orang lain jangan sekali kali membahasnya lagi !”

Deg jantungnya tergoyah sampai Feli menelan ludahnya sendiri karena Shankara begitu dekat dengan wajahnya terlebih lagi dia berbisik di bagian sensitive.

“Emn soal itu …” Feli hendak menjelaskan tapi Shankara malah menciumnya.

“Akhirnya kamu pun menerimanya,” batin Shankara senang Feli membalas ciumannya.

Tok tok tok suara ketukan membuat mereka berhenti “Hah …” helaan napas berat Shankara merasa kecewa.

“Ada apa ?” Shankara membuka pintu.

“Tidak ada siapapun,” Shankara mengecek kembali kearah yang lain.

“Itu bukan suara ketukan pintu.”

Shankara mendekati Feli “Maksudmu ?”

“Lihat kesana, mereka sedang berusaha mencari jalan masuk untuk mengambil semua senjata milikmu.”

“Jadi ?” bukannya mengawasi para penyusup Shankara malah menggoda Feli.

“Ah iii ittuu …” Feli menjadi gugup

Feli mengira Shankara akan menciumnya kembali sehingga dia memejamkan mata padahal Shankara hanya ingin mengambil ponselnya yang berada di belakang Feli.

“Bodoh mereka mengantarkan kematiannya sendiri,” Raymond memukul cukup keras dinding disampingnya.

“Luapkan amarahmu nanti sekarang kita harus mengurus mereka.”

“Dika benar,” Nina ikut bersama mereka untuk menangkap para penyusup itu.

“Mereka tidak sayang dengan nyawa mereka sendiri,” melihat kea rah para penyusup itu yang berusaha untuk masuk.

“Eeh tunggu sebentar bagaimana mereka bisa ada disana ? bukannya banyak penjaga di depan vila ?” Feli dan Shankara saling bertatapan.

Feli hendak mengikuti Shankara “Kamu tunggu disini !”

“Astaga teknik mereka cukup bagus sampai bisa masuk ke vila,” pelan-pelan mendekati jendela kamar.

Shankara tiba tepat waktu ketika Dika dan yang lainnya dibuat terkejut karena para bawahannya terlelap tidur.

“Bos ??”

“Cerdik juga,” tersenyum jahat.

“Bos apa yang sekarang harus kita lakukan ?” tanya Raymond sedikit panik.

“Ikuti permainan mereka.”

Dika, Nina dan Raymond saling memandang mendengar perkataan Shankara.

“Mereka mencampurkan obat tidur kedalam minuman ini,” setelah mengeceknya Dika menemukan botol air mineral yang sudah di campur dengan obat tidur.

“Mereka sangat pintar tapi bodohnya kenapa cuman orang yang berjaga disini di beri obat tidur tidak dengan kita.”

“Karena tujuan mereka bukan mengambil senjata melainkan menyabotasenya.”

“Annya kenapa kamu disini ?” kaki Feli masih terluka sehingga jalannya pincang.

“Kurang menarik kalau hanya menonton dari kejauhan.”

Shankara tidak berkata apapun pada Feli hanya meliriknya saja “Ray mari sambut mereka !”

“Dan kamu Dika cari obat penawar untuk mereka, Nina bantu Dika !” tambah Shankara.

“Annya disini saja !” Nina meminta Feli bersamanya.

“Hemn.”

“Aku penasaran bagaimana Bos mengetahui ada penyusup ?” Nina bertanya-tanya.

Feli membalasnya dengan senyuman “Penawarnya !” Dika memberikan penawarnya ke Nina untuk diberikan ke semua anggota yang terkapar.

Disisi lain Shankara dan raymond sudah menunggu para penyusup itu keluar dari ruang senjata, tanpa disadari para penyusup sudah masuk jebakan Shankara.

“Aku tidak menyangka mereka akan beraksi secepat ini !” para penyusup panic ketahuan Shankara tetapi salah satu diantara para penyusup begitu percaya diri.

“Hahaha hanya dua bocah ingusan, hajar mereka !”

“BOCAH INGUSAN ???” Raymond tidak bisa menahan lebih lama lagi. Dia menghampiri orang itu lalu menghajarnya sampai babak belur.

“Hajar !” teriak salah satu temannya. Jumlah penyusup lebih banyak tapi mereka bukan lah tandingan Shankara maupun Raymond.

“Heh tadi begitu angkuh,” Raymond meludah.

“Katakan siapa yang menyuruh kalian !” Shankara menarik kerah baju salah satu penyusup itu.

“Sudah bosan hidup yah ?” Raymond sangat kesal karena tatapan orang itu ke Shankara.

Shankara menembak bagian kepala orang itu sampai mati, Shankara begitu santai mengelap cipratan darah di wajahnya. Feli yang menyaksikan hal itupun ketakutan “Annya …” Feli mundur selangkah dan hampir saja terjatuh untungnya di belakang ada Nina.

“Apa itu tadi ? biasanya aku tidak takut tapi kenapa sekarang berbeda ? melihat ekspresi Shankara barusan sangat jauh berbeda, dia seperti seorang psikopat.”

“Sial,” Shankara mengumpat karena membiarkan Feli melihat sisi gelapnya dan membuat dia ketakutan.

“Bereskan semuanya !” Shankara berjalan mendekati Feli.

“Dia kemari ? apa yang harus aku lakukan ?” tangan Feli sampai gemetar.

“Annya ketakutan ?” Nina yang memegangi Feli pun dapat merasakannya.

“Kembali ke kamar !” suara Shankara tepat di telinganya.

“Umn …” Feli pun mengangguk.

“Aku akan mengantarmu !”

“Bagaimana keadaan Annya ?” tanya Dika melihat Nina sudah kembali.

“Dia hanya terkejut.”

“Bos nampaknya sangat serius.”

“Semua senjata disabotase.”

“Aaappaa ?”

“Kita masih belum tau niat sebenarnya orang yang mengirim mereka.”

“Semua senjata kita ? bagaimana mungkin ?”

“Jangan khawatir senjata yang asli sudah dipindahkan, untungnya Annya memberi tahu Bos jadi kita tidak terlambat bertindak.”

“Dari mana Annya tau ada orang yang akan menyabotase senjata milik kita ?”

“Aku juga tidak tau, yang jelas berkat Annya kita terhindar dari bahaya besar.”

“Sejak kapan mereka saling memanggil aku kamu ?”

“Ada petunjuk lain ?”

“Oh iya Bos ada,” jawab Raymond memberikan plat hitam bergambar ular kobra.

“Selama bertahun-tahun menghadapi musuh baru pertama kali gue lihat plat ular kobra.”

“Eh loe tadi ke Nina bilang aku tapi sekarang gue ?”

“Raymond gue serius,” tegas Dika.

“Selesaikan secepatnya !”

Shankara pergi untuk menemui Feli, dikamar Feli sedang merenung ketika melihat kearah pintu melihat Shankara sedang memperhatikannya. Feli kebingungan harus bersikap bagaimana atas apa yang tadi terjadi di bawah.

Shankara duduk disamping Feli “Mendekat lah !”

“Ah ?”

“Lukamu.”

“Oh …” Feli mengangkat kakinya.

“Terlalu sering bergerak apalagi berjalan bisa membuat lukanya membesar.”

“Eh dia ?” Feli kaku menatap matanya.

“Sorry membuatmu ketakutan,” suara lembut Shankara.

“Aku tidak takut hanya sedikit terkejut saja.”

“Di dunia ini tidak kejam tidak akan hidup, semua orang memperebutkan status tinggi dan karena kekuasan mereka menjadi tamak. Demi mendapatkan apa yang mereka inginkan mereka rela mengorbankan segalanya, aku tumbuh dewasa di dunia itu hal seperti tadi sudah biasa bagiku. Mereka mencari berbagai cara untuk menjatuhkan ku, bukan hanya orang lain termasuk keluargaku sendiri.”

“Pasti sulit untuk bertahan sampai saat ini.”

“Kamu sekarang berada di dunia yang sama sepertiku jika sebelumnya kamu hanya mendengar gossip tentangmu dari tetangga kali ini kamu akan mendengar suara tembakan dari lawan atau dari kawan dan bahkan dirimu sendiri.”

“Pegang ini,” Shankara menggenggam tangan Feli dengan pistol di tangannya.

“Mulai dari sekarang kamu harus terbiasa jangan sampai ketakutan dan keterkejutan mu menjadi kelemahan yang akan di manfaatkan musuh,” tidak seperti tadi Feli sangat tenang saat pelatuk di tarik dan tembakan pun meluncur.

“Terima kasih.”

“Ingatlah satu hal kejamnya dunia ini, jahatnya dunia ini kamu memiliki aku di sisimu dan aku akan menjagamu dengan nyawaku sendiri !” Feli dengan reflek mengecup bibirnya Shankara dan membuatnya mematung seketika.

“Terima kasih,” Feli tersenyum.

“Huh gerah sekali aku pergi mandi dulu,”tambahnya.

“Astaga astaga barusan aku menciumnya dasar sembrono bisa-bisanya melakukan hal itu tanpa diminta.”

“Dia baru saja mencium ku ?” memegang bibirnya berkali-kali.

“Terlambat seharusnya aku tidak melepaskannya tadi,” Shankara salah tingkah sendirian.

Untuk menghilangkan pikiran negatif Feli mandi sambil bernyanyi, alunan musik seakan mengiringi nyanyian Feli. Shankara terbayang-bayang ciuman yang diberikan Feli padanya, Dika baru saja datang untuk melapor tapi karena Shankara masih terhanyut dalam bayangannya dia tidak menyadari kehadiran Dika.

“Pintunya di biarkan terbuka dan Bos kenapa senyum-senyum sendirian ?”

“Eh ada yang nyanyi suaranya lumayan juga,” Raymond menyusul Dika.

Suara nyanyian Feli maupun air yang mengalir tidak terdengar lagi barulah Shankara menyadari kehadiran Dika dan Raymond.

“Sejak kapan kalian disana ?”

“Sejak Bos senyum-senyum sendirian,” jawab polos Raymond.

“Kalian sudah membereskannya,” ekspresi Shankara berubah.

“Bos ada yang aneh, sebelumnya kita menemukan plat ular di tubuh salah satu penyusup tapi kita menemukan hal lain. Salah satu penyusup sebelumnya melakukan panggilan keluar dan orang yang di telponnya itu ternyata orang pulau barak.”

“Sepertinya ada permainan, kalau begitu kita ikuti permainan nya.”

“Kalian disini ?” Feli keluar dari kamar mandi.

“Annya ?” shock melihat Feli hanya menggunakan handuk, Shankara menarik selimut lalu berlari untuk menutupi tubuh Feli.

1
Yaniee.25
/Slight/
Chimer2609
wokey 👌
azure
mampir juga thor😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!