Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 : Orang pertama yang datang
"Saudara Victor," ucap Blair pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan ruang sidang, "apakah Anda tahu sudah berapa kali korban datang ke rumah sakit dengan alasan yang sama?"
Victor menelan ludah. Otot rahangnya mengencang, sementara jemarinya perlahan mengepal di atas meja.
"Saya... tidak mencatatnya."
"Empat kali," jawab Blair singkat.
Suaranya datar, tetapi setiap katanya terdengar seperti pukulan palu yang menghantam ruang sidang.
"Dengan pola memar yang konsisten. Letaknya berbeda, tetapi tingkat kekerasannya terus meningkat."
Bisik-bisik mulai mengalir dari bangku para pengunjung. Tidak ada yang berani berbicara keras. Hanya suara lirih yang saling bersahutan, seolah semua orang takut mengusik ketegangan yang memenuhi ruangan.
Blair sedikit mencondongkan tubuh ke depan. Tatapannya tidak pernah lepas dari Victor.
"Yang menarik," lanjutnya tenang, "setiap kali korban menjalani perawatan, tidak pernah ada satu pun laporan yang masuk ke kepolisian."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu menggantung di udara.
"Apakah karena ia memang tidak pernah disakiti..."
Matanya menajam.
"...atau karena ia terlalu takut kepada seseorang?"
"Itu hanya asumsi," sela Victor cepat. Nada suaranya meninggi, meski ia berusaha terdengar tenang. "Tidak ada bukti bahwa saya pernah mengancam istri saya."
"Benar."
Jawaban Blair begitu singkat hingga membuat ruangan kembali sunyi.
"Tidak ada ancaman yang tercatat secara langsung."
Semakin tenang nada bicaranya, semakin terasa dingin setiap kata yang keluar dari bibirnya.
"Tetapi ada riwayat pesan singkat yang menunjukkan perubahan perilaku korban. Ada kesaksian tetangga yang berulang kali mendengar suara benturan dari dalam rumah pada larut malam."
Blair mengangkat satu berkas lagi.
"Kemudian... ada satu kesamaan lainnya."
Jantung Victor seakan berhenti berdetak sesaat. Bahunya menegang tanpa ia sadari.
"Setiap kali korban keluar dari rumah sakit," ujar Blair perlahan, "Anda selalu menjadi orang pertama yang datang menjemputnya."
Ruangan itu mendadak membisu.
Tidak terdengar lagi bisikan.
Tidak ada suara kursi bergeser.
Hanya keheningan yang menekan setiap orang di dalam ruangan.
"Kebetulan?" tanya Blair.
Victor membuka mulut, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar. Beberapa detik berlalu sebelum ia kembali menutup bibirnya rapat.
Blair menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Pengadilan ini bukan sedang mencari siapa yang paling pandai menyangkal."
Tatapannya menyapu seluruh ruang sidang sebelum kembali berhenti pada Victor.
"Kami sedang mencari siapa yang menciptakan ketakutan... hingga penyangkalan berubah menjadi kebiasaan."
Tok!
Palu hakim menghantam meja dengan keras.
Suara itu memecahkan keheningan yang sejak tadi menyesakkan dada seluruh orang di ruangan.
"Sidang ditunda."
Kalimat itu diucapkan tanpa nada tinggi.
Namun, dampaknya terasa seperti batu besar yang dijatuhkan ke tengah permukaan air yang tenang.
"Majelis hakim akan melanjutkan perkara ini pada sidang berikutnya. Penahanan terdakwa, Victor Rowe, untuk sementara ditangguhkan."
Dalam sekejap, ruang sidang kembali dipenuhi bisikan.
Suara-suara lirih saling bertabrakan, bercampur dengan helaan napas lega dan gumaman kecewa.
Sebagian pengunjung mengembuskan napas panjang, seolah beban mereka baru saja terangkat. Sebagian lainnya saling berpandangan dengan wajah tegang, tidak percaya pada keputusan yang baru saja mereka dengar.
Di bangku saksi, Diana tetap membeku.
Punggungnya tegak, tetapi tubuhnya terasa kehilangan tenaga. Jemari yang mencengkeram ujung tas semakin mengeras hingga buku-buku jarinya berubah pucat.
Sementara itu, Blair tidak bergerak sedikit pun.
Ekspresinya tetap tenang.
Terlalu tenang.
Matanya mengikuti setiap gerakan Victor ketika petugas membuka borgol yang melingkari kedua pergelangan tangannya.
Klik.
Suara logam yang saling bertabrakan terdengar pendek.
Ringan.
Namun, di telinga Blair, bunyi itu terasa jauh lebih berat daripada vonis apa pun. Seolah suara kebebasan yang diberikan terlalu cepat.
Victor mengusap bekas tekanan borgol di pergelangan tangannya, lalu berdiri perlahan.
Sesaat kemudian, ia menoleh.
Tatapannya bertemu dengan Blair.
Tidak ada amarah di sana.
Tidak ada kepanikan.
Yang tersisa hanyalah seulas senyum tipis di sudut bibirnya. Nyaris tak terlihat, tetapi cukup untuk memberi kesan bahwa ia baru saja memenangkan sebuah permainan.
Blair tidak membalas tatapan itu.
Ia hanya mempersempit matanya, mengukir senyum tersebut dalam ingatannya.
Senyum seseorang yang terlalu percaya diri.
Seseorang yang merasa dirinya masih berada di atas angin.
Victor kemudian mengalihkan pandangannya.
Ke arah bangku saksi.
Ke arah Diana.
Langkahnya melambat.
Setiap pijakan sepatunya menggema pelan di lantai ruang sidang yang kini mulai lengang.
Ia berhenti tepat di samping Diana.
Cukup dekat hingga perempuan itu dapat merasakan kehadirannya tanpa perlu disentuh.
Victor sedikit membungkukkan tubuh.
Napasnya terdengar pelan.
Suaranya nyaris seperti bisikan.
Namun, setiap katanya terasa tajam, menembus pertahanan yang selama ini berusaha Diana bangun.
"Kau lihat?"
Sudut bibir Victor kembali terangkat.
"Aku sudah bilang, bukan?"
Diana tidak menoleh. Ia hanya menundukkan kepala. Bahunya bergetar pelan. Bukan karena dingin. Melainkan karena rasa takut yang selama ini berusaha ia kubur, perlahan kembali hidup di dalam dadanya.