Ia tidak cinta, tapi ia harus menikah dan meninggalkan orang yang ia cintai demi orang tuanya agar tidak masuk penjara.
Kiara Larasati, terpaksa menerima tawaran Reiner, tuan muda Rasyad untuk menikah. Ia yang sebelumnya sudah memiliki pacar, terpaksa harus meninggalkan pacarnya demi menikahi tuan muda tersebut.
Kebencian Kiara pun tidak bisa ia bendung lagi. Sekeras apapun usaha tuan muda Rasyad untuk mendapatkan cintanya, Kiara tetap tidak ingin membuka hati.
"Tidak bisakah kamu membuka hatimu sedikit saja untuk aku, Kiara?"
"Tidak. Aku tidak akan pernah membuka hatiku untukmu. Kau bisa memiliki aku ragaku, tapi tidak dengan hatiku."
Benarkah Kiara masih tidak akan luluh setelah semua yang Reiner lakukan untuknya? Akankah ego bisa bertahan selamanya?
Ikuti kisah Kiara sampai akhir yah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode*11
Bik Siti pun mengetuk pintu kamar Reiner setelah beberapa lama ia mundar-mandir di depan pintu kamar tersebut.
"Tuan muda. Tuan muda," kata bik Siti memanggil Reiner dengan perasaan cemas.
Panggilan pertama tidak ada jawaban. Bik Siti mengulangi lagi hingga beberapa kali dengan perasaan yang semakin cemas saja.
"Tuan muda, apa tuan muda ada di dalam?" tanya bik Siti semakin khawatir dengan keadaan Reiner.
Reiner membuka mata dengan malas saat panggilan dari bik Siti ia dengar sayup-sayup menyentuh telinganya. Ia mencoba melihat sekeliling kamarnya yang terlihat sangat gelap.
"Tuan muda!"
"Iya bik." Reiner menjawab sambil meraba-raba sekitarnya untuk menemukan keberadaan ponsel agar ia bisa menyalakan senter supaya bisa menjadi penerang kamarnya.
"Tuan muda, apa yang terjadi? Apa tuan muda baik-baik saja?" tanya bik Siti terdengar sedikit lega.
"Aku baik-baik aja bik. Maaf sudah bikin bibi cemas."
Reiner beranjak dari ranjang setelah menemukan ponselnya. Ia menghidupkan lampu kamar, kemudian membuka pintu untuk bertemu bik Siti yang masih setia menunggu Reiner di depan pintu.
"Tuan muda. Syukurlah kalo tuan muda baik-baik saja. Saya sayang khawatir dengan keadaan tuan muda karena tidak melihat tuan muda keluar sejak tadi sore."
"Maaf bik, aku ketiduran setelah masuk ke kamar tadi sore. Oh ya, rumah sepi aja, pada ke mana yang lainnya?" tanya Reiner sambil menyapu seluruh sudut rumah yang terjangkau oleh matanya.
"Pak Mamat dan pak Adi sedang ke luar. Nona muda ... maksud bibi, nona Kiara mungkin berada di kamarnya sekarang."
"Mungkin?" tanya Reiner sambil menatap bik Siti dengan tatapan meminta penjelasan. Lalu, ia mengalihkan pandangannya pada kamar Kiara yang masih tertutup rapat.
"Maaf tuan muda, sama seperti tuan muda. Bibi juga tidak melihat nona Kiara keluar dari kamar setelah masuk tadi sore. Kamar nona Kiara juga gelap."
Mendengar apa yang bik Siti katakan, Reiner tidak membuang waktu lagi. Ia langsung beranjak menuju kamar Kiara dengan tergesa-gesa.
"Tuan muda." Bik Siti memanggil Reiner, tapi Reiner tidak menghiraukan panggilan tersebut. Yang ada dalam hati Reiner saat ini hanyalah, kekhawatiran. Ia takut kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Kiara.
Reiner menggedor kamar Kiara dengan keras. Ia juga tidak lupa memanggil nama Kiara untuk memastikan, kalau Kiara baik-baik saja di dalam sana.
"Kiara! Kiara! Apa kamu ada di dalam?"
"Kia! Buka pintunya, Kiara!"
Sementara Reiner sedang panik di luar kamar, Kiara yang berada di dalam baru saja membuka mata dengan sangat malas. Ia berusaha mengumpul kesadarannya yang masih berantakan karena terpaksa di bangunkan oleh sebuah panggilan.
"Aduh ... gelap banget," ucap Kiara saat ia melihat sekelilingnya.
"Kiara! Apa kamu ada di dalam, Kia? Jawab aku Kiara jika ada," ucap Reiner dengan nada tinggi.
"Tuan muda." Bik Siti merasa kasihan dengan kekhawatiran Reiner.
"Bibi, ambilkan kunci cadangan untuk kamar ini. Aku takut Kiara kenapa-napa," ucap Reiner dengan nada sangat cemas dan panik.
"Baik tuan muda."
"Tidak perlu," kata Kiara mencegah langkah bik Siti sambil membuka pintu kamar tersebut.
Melihat Kiara muncul, kekhawatiran Reiner lenyap seketika. Dengan perasaan bahagia, ia melihat Kiara.
"Kia, apa kamu baik-baik saja?" tanya Reiner dengan nada lega sambil memegang kedua bahu Kiara.
"Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu bertindak berlebihan seperti ini," ucap Kiara sambil melepaskan tangan Reiner dari bahunya.
"Maafkan aku jika aku bertingkah terlalu berlebihan. Aku hanya cemas dengan keadaan kamu. Kamarmu sangat gelap, aku takut kamu kenapa-napa."
"Aku baik-baik saja. Kamu bisa melihatnya sendiri bukan, kalau aku sekarang baik-baik saja," ucap Kiara dengan judes.
"Iya aku tahu kamu baik-baik saja sekarang. Aku bisa lega ketika melihat kamu baik-baik saja," ucap Reiner dengan nada bahagia.
'Tuhan ... kenapa Reiner begitu menyebalkan sih jadi laki-laki? Apakah dia tidak punya rasa marah atau apa dia tidak punya emosi? Kenapa dia bisa bersikap manis padahal aku sangat judes padanya,' kata Kiara dalam hati sambil melihat Reiner dengan tatapan bersalah.
'Apa perlakuan buruk ku padanya belum seberapa? Sampai dia tidak merasakan sakit hati sedikitpun padaku,' kata Kiara lagi.
"Kamu sudah melihat aku baik-baik saja, bukan? Lalu kenapa kamu masih berdiam diri di depan kamarku? Apa kamu tidak punya kerjaan lain selain menunggu depan pintu kamar ini?" tanya Kiara dengan nada kesal yang terdengar angkuh.
"Maaf nona Kiara, bisakah nona bicara sedikit lebih sopan pada tuan muda? Apa nona Kiara tidak ingat kalau nona ini adalah istri tuan muda?" tanya bik Siti tidak bisa membendung perasaannya lagi. Ia benar-benar kesal dengan sikap Kiara yang tidak menghargai ketulusan yang Reiner tunjukkan.
"Bik Siti, gak papa. Jangan menyalahkan Kiara atas apa yang ia katakan. Sebaiknya, bik Siti kembali ke dapur, siapkan makan malam. Biar kita bisa makan malam sama-sama," kata Reiner pada bik Siti dengan lembut.
"Tapi tuan muda .... "
"Bibi, sudah. Lakukan saja apa yang aku katakan. Hari sudah semakin larut malam. Perutku juga semakin terasa lapar. Jadi, siapkan makan malam agar kita segera bisa makan."
"Baiklah tuan muda. Bibi permisi dulu," kata bik Siti dengan terpaksa.
Sebelum ia meninggalkan Kiara dan Reiner, ia sempat melihat Kiara dengan tatapan kesal. Tapi apalah daya. Ia buka. siapa-siapa selain asisten rumah tangga di sini. Tidak bisa bertindak lebih karena ia tidak punya hak.
'Ya Tuhan ... aku merasa seperti seorang penjahat kelas kakap saja sekarang. Bertindak terlalu kejam dengan sesuka hati. Maafkan aku .... ' Kiara bicara dalam hati dengan perasaan sedih.
Kiara beranjak dari tempatnya. Ia ingin meninggalkan Reiner segera, karena semakin melihat wajah tulus Reiner, hatinya semakin digerogoti rasa bersalah.
Namun, Reiner menahan niat Kiara dengan menahan tangan Kiara agar tidak bisa meninggalkannya. Kiara melihat tangannya yang Reiner pegang. Lalu, ia beralih menatap wajah Reiner yang juga menatapnya. Untuk beberapa saat lamanya, mereka saling tatap.
"Lepas!" Kiara membentak Reiner.
Reiner melakukan apa yang Kiara katakan. Ia segera melepas tangan Kiara yang ia genggam dengan lembut.
"Maaf. Aku tidak sengaja melakukannya. Aku hanya ingin katakan, maaf atas kata-kata yang bik Siti ucapkan barusan."
"Tidak perlu minta maaf. Dia yang bicara kenapa kamu yang minta maaf. Jadi laki-laki itu jangan lemah. Maunya ditindas perempuan melulu."
"He ... he ... he ... kamu lucu Kiara. Kamu nyindir aku?"
"Tidak. Siapa yang nyindir kamu? Aku bicara terang-terangan tentang kamu, tapi kenapa kamu bilang nyindir. Aku itu kasihan sama kamu tahu gak, mau aja ditindas."
"Demi cinta, apapun bisa aku lakukan Kiara."
"Ya, kamu memang bisa melakukan apapun demi cinta. Termasuk, memaksakan kehendak kamu untuk menjadikan aku istrimu. Padahal, aku tidak cinta sama kamu. Kamu lupa, kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan, tuan muda Rasyad."