Black Rose? Pembunuh berdarah dingin yang membuat warga kota ketar ketir. Jika pembunuh lainnya mencoba membersihkan barang bukti, maka pembunuh kali ini meninggalkan jejak, yaitu 'Mawar Hitam'.
Lalu bagaimana cara Andra mengungkap siapa Black Rose? Dan apa alasannya Black Rose membunuh para petinggi?
Sebuah kenyataan menghantam Andra dengan kuat, akankah Andra bisa menerimanya? Apa yang akan pemuda itu lakukan?
Note:
Update 1 Bab Sehari
Don't Like, Don't Read
Don't Copy My Story
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi-chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipermalukan
"Bahagia sekali rasanya."
"Chapter 12"
Alexa mendekati Andra dan memelum tangan pemuda itu, mereka berdua berhadapan pada panggung. Terlihat seseorang naik keatas panggung dan diiringi tepuk tangan yang cukup meriah.
Ketiga orang yang kini menjadi pemimpin Tama corp, atau mungkin hanya mereka bertigalah yang tersisa.
Mr. Seojin, Mr. Anha, dan Mr. Jun shi, ketiga pria itu tersenyum. Mr. Seojin mendekatkan Micnya dan mulai buka suara, "Baiklah ... selamat datang para tamu undangan, saya benar-benar berterimakasih karena kalian mau datang kepesta hari jadi perusahaan kami."
Mr. Seojin menarik napasnya, "Mungkin, memang banyak kekurangan disini dan kami mohon maaf akan hal ini."
"Dan ... kami ingin memperkenalkan salah satu rekan kami yang telah banyak membantu dalam usaha kami membangun Tama Corp ... Mr. Rei!" Seru Seojin, sorot lampu tertuju pada satu orang.
Orang yang diketahui sebagai Rei pun menaiki atas panggung dan tersenyum, "Terimakasih Mr. Seojin, dan terimakasih juga untuk yang lainnya karena telah banyak membantu."
Rei nampak menghela napasnya panjang, "Maaf untuk kalian semua ... saya tidak bisa berlama-lama disini karena ada sebuah urusan, semoga pesta kalian menyenangkan ... sampai jumpa!"
Rei berlalu dari sana meninggalkan mereka.
Genggaman tangan Alexa pada Andra menguat, Andra yang merasakan tangannya digenggam kuat pun menoleh pada gadis itu. Pemuda itu menatap wajah Alexa yang cukup tenang, namun Andra menyadari bahwa Alexa nampak tidak menyukai Rei atau mungkin membencinya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Andra pelan takut menganggu yang lainnya, Alexa tersentak karena panggilan pemuda itu, genggaman yang kuat itu kini mengendur.
"T-tidak, maksudku ya ... aku hanya sedikit gugup," gagap Alexa, Andra menatap gadis itu bingung, "Gugup? Karena apa?"
"Entahlah ... aku merasa kurang nyaman disini," lirih Alexa, Andra mengelus rambut gadis itu dan membenarkan sedikit letak topeng yang dikenakannya, "Tenanglah ... aku akan selalu bersamamu."
Alexa mengeluarkan senyum tipisnya lalu mengangguk.
"Baiklah! Kami akan memutar video tentang perjalanan perusahaan ini dari awal sampai akhir. Nikmatilah ..."
'Nikmatilah kehancuranmu bajingan!'
Video itu dihitung mundur, beberapa dari mereka nampak penasaran kecuali Alexa yang tersenyum kemenangan.
3
2
1
...
"Astaga! Apa itu!"
"Ya tuhan! Mereka kejam sekali ..."
"Benar-benar sadis!"
"Tak kusangka perusahaan ini berawal dari konspirasi!"
Andra menatap Alexa dengan cepat, Alexa mematung sambil menatap layar itu. Air mata gadis itu mengalir, Andra tertegun kala melihat air mata itu, "Alexa ... "
Andra menatap ketiga pendiri itu yang kini tengah panik, jujur ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang ini. Andra menarik Alexa kedalam pelukannya berusaha menenangkan gadis itu, Alexa terisak menangis.
Dilayar, saat video diputar menampakkan para pendiri yang kini tengah menyiksa ayah dan ibunya. Mereka dibunuh, dan beralih pada seorang pemuda yang baru saja datang, pemuda itu adalah Leo.
Alexa terdapat di dalam sana yang kini tengah mematung karena Valen ditusuk seseorang, perjalanan Video itu begitu singkat.
"Arghhhh ... siapa yang melakukan ini sialan!!" Amuk Seojin, beberapa orang menahannya. Para pendiri itu ditahan atas tindakan konspirasi yang mereka lakukan dimasa lampau.
Seojin tak sengaja menatap Alexa yang kini dibalas dengan seringai gadis itu, pria itu membelalak, ia nampak syok dengan apa yang terjadi, tangan pria itu mengepal kuat dan menatap Alexa penuh amarah, "SIALAN!! AKU AKAN MEMBALASMU!! AKU AKAN MEMBALASMU!"
Mendengar teriakan itu Alexa menyembunyikan dirinya dibelakang Andra, seolah-olah gadis itu takut. Andra mencoba melindungi gadia itu dan menatap Seojin dengan pandangan dingin, ia nampak tak senang dengan pria itu.
Andra merasakan sebuah cengraman dijaznya, pemuda itu menatap Alexa dan tersenyum, "Semuanya akan baik-baik saja ... aku berjanji."
Alexa menatap Andra, gadis itu mengangguk dan kembali memeluk pemuda itu. Seringainya kian melebar, matanya menatap Seojin yang kini tengah dibawa paksa bersama rekannya yang lain. Gadis itu menyenderkan kepalanya diperpotongan leher pemuda itu, "Aku tidak menyangka jika dia dalangnya ... aku ... aku berterimakasih pada orang yang mengungkapnya, andai aku tahu ... aku, aku akan bersujud dikakinya."
Mendengar ucapan Alexa membuat pemuda itu terdiam sejenak, pikirannya mulai berkenalana. Andra memikirkan siapa dalang yang mengungkap kebenaran ini? Apakah ini berhubungan dengan Black Rose?
***
"Saat ini semuanya menjadi kacau, aku bahkan baru nengetahui bahwa Alexa juga ikut terlibat dalam kasus ini, dan para pendiri itu ... mereka menyembunyikan bangkai dengan cukup lama," jelas Andra dengan suara yang kian memelan, pemuda itu mengacak rambutnya frustasi.
Seseorang dengan jabatan komandan juga nampak turut berpikir dengan keras.
"Hah ... aku bahkan tidak tahu yang mana yang benar dan yang mana yang salah, jika salah melangkah ... aku yakin pasti tidak akan baik pada akhirnya," lirih Andra, pemuda itu mengusap wajahnya.
"Eagle ... selidiki lebih dalam tentang ini, jika diantara mereka merasa menjadi ancaman ... maka hancurkan," titah komandan, Andra berdiri, "Baik pak!"
"Sekarang jalankan tugasmu, semoga berhasil," ucap komandan sambil tersenyum, Andra balas tersenyum dan tak lupa memberi hormat kepada pria itu.
***
"Kau nampaknya benar-benar sangat senang hmm?"
"Kau benar, aku merasa semua tujuanku akan tercapai sebentar lagi!" Kata Alexa, wajah gadis itu dipenuhi dengan kebinaran. William tersenyum dan menepuk kepala gadis itu pelan, "Setelah itu berjanjilah bahwa kau akan benar-benar bahagia ..."
Mendengar ucapan itu Alexa mulai menurunkan pandangannya, sorotan mata gadis itu berubah menjadi sendu, "Aku tidak yakin bahwa Andra akan menerimaku yang kotor akan dosa ini."
William memegang kedua bahu gadis itu, "Aku tahu ... tapi, entah kenapa aku yakin bahwa Andra akan menerimamu, menerima masa lalumu, aku yakin dia adalah pria yang baik untukmu."
Alexa menghela napasnya panjang, "Mungkinkah jika aku menyembunyikan ini semuanya akan baik-baik saja?"
William menggelengkan kepalanya tidak menyetujui ucapa gadis itu, "Seperti halnya kebusukan yang disembunyikan para pendiri Tama Corp ... hal itu akan terungkap juga, hanya saja kita tidak tahu kapan dan dimana semuanya akan terungkap. Bahkan, mungkin sebelum kau mengatakan segalanya pada Andra ... takdir lebih dulu mengungkapnya."
Alexa terdiam dengan penjelasan William, benar apa yang dikatakan pemuda itu, sebaik-baiknya menyembunyikan sebuah bangkai, pasti akan tercium juga. Alexa menatap keluar jendela, mencoba memikirkan resiko jika semuanya terungkap nanti.
"Kau benar ... kita bahkan tidak tahu takdir tuhan, dan kenapa tuhan seperti membiarkan kelakuanku ini, bahkan bisa saja ia langsung menghukumku disini ... mungkin, tuhan akan menghukumku disaat-saat terakhir," lirih Alexa.
"Tuhan itu maha pengampun, jangan terlalu memikirkan hal itu. Tidak, memang seharusnya memikirkan hal itu, kita semua pasti akan mendapatkan imbasnya. Semua perbuatan yang kita lakukan pasti akan ada balasannya suatu hari nanti." Jelas William, Alexa menundukkan kepalanya, "Maaf ... karenaku kau jadi terlibat akan dosa-dosaku ini.
Bersambung~