Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Manis Tuan Regan

Istri Manis Tuan Regan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Romanova

Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.

"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.

Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.

Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Regantara dan Zara duduk di kursi masing-masing.

Pak Karta memberi isyarat halus dengan tangannya. Dalam sekejap, Bibi Tara dan beberapa pelayan lain melangkah maju dengan kepala menunduk, mereka menyajikan menu sarapan pagi.

Danu dan Rama yang berdiri tegak di sudut ruangan memasang wajah datar, meski di balik dahi berkerut mereka, keduanya sibuk saling melirik.

Zara menggeser sendok dan garpunya dengan tenang, lalu memotong makanan di piringnya.

Beberapa menit kemudian.

"Bagaimana rasa sarapanmu, Nyonya Benedict?"

Zara menyapu bibirnya dengan serbet kain sebelum mendongak dan menatap Regantara lurus-lurus.

"Sangat baik, Tuan. Terima kasih," jawab Zara tenang. "Namun saya yakin anda tidak meminta saya turun ke ruang makan pukul enam pagi hanya untuk menanyakan rasa sarapan ini, kan?"

Di sudut ruangan, Danu hampir saja batuk akibat terkejut dengan keberanian Zara, namun ia dengan cepat kembali memasang raut wajah datarnya.

Regantara menyunggingkan senyuman tipis, lalu menyandarkan punggungnya di kursi.

"Tentu saja tidak." sahut Regantara, ia melirik Pak Karta yang berdiri di sampingnya.

Pak Karta dengan sigap melangkah maju dan meletakkan sebuah map kulit hitam di meja, tepat di samping piring Zara.

"Itu adalah data mengenai seluruh utang tersembunyi, transaksi gelap, dan jaminan aset yang ditaruh oleh Ayahmu atas nama mendiang Ibumu." ujar Regantara dengan nada datar, namun dampaknya bagai petir di pagi hari ini.

Mata Zara berkilat tajam, tangannya yang memegang garpu terhenti di udara.

Zara meletakkan alat makannya. Ia membuka map kulit hitam itu, membaca baris demi baris kata dan angka yang tertera di sana.

Zara membalik lembar demi lembar dokumen itu, angka-angka miliaran rupiah, sertifikat jaminan atas nama ibunya yang dipalsukan, hingga perjanjian investasi sepihak yang dibuat ayahnya sekarang terlihat jelas di depan matanya.

"Bukankah kau sedang mencari kunci untuk menghancurkan Adhitama, aku hanya mempermudah situasinya karena meminta bantuan pada pada firma hukum independen membutuhkan waktu yang lama, istriku."

Zara tersentak, jadi Regantara tahu jika dia pergi menemui Pak Arya saat itu? Ah benar juga, Pak Karta pasti langsung melapor.

Zara menutup map itu perlahan, lalu menatap Regantara yang duduk tegak di ujung meja.

"Kenapa Anda membantu saya?" tanya Zara.

"Tuan Benedict bukan tipe pria yang membagikan kartu as secara cuma-cuma, apalagi hanya demi membela seorang istri formalitas kan?"

Di balik dinding pembatas dapur, Bibi Tara dan yang lainnya menahan napas, ikut merasakan ketegangan dari jawaban sang Tuan.

Regantara meletakkan cangkirnya yang telah kosong, matanya yang tajam mengunci pandangan Zara, lalu ia menyunggingkan senyuman tipis.

"Bantuan?" Regantara terkekeh rendah, suara kekehan yang sanggup membuat siapa pun merinding. "Kau salah menilai situasinya, Zara. Ini bukan bantuan. Ini adalah investasi."

Investasi?

Regantara menyilangkan jemari tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

"Jika ini investasi lalu kenapa anda mau repot-repot menyusun strategi rumit ini hanya demi membantu saya merebut kembali peninggalan mendiang Ibu saya? Seorang Regantara Benedict tidak mungkin membuang waktu dan energinya untuk dendam pribadi orang lain tanpa ada keuntungan di baliknya, kan?"

Di balik ketenangannya, Zara menuntut kejelasan.

Ia tidak ingin menjadi bidak yang dibutakan oleh janji manis, bahkan jika janji itu datang dari suaminya sendiri.

Regantara tidak langsung menjawab.

Pria itu berdiri dari kursinya, ia berjalan mengitari meja makan, lalu berhenti tepat di belakang kursi yang di duduki oleh Zara.

Regantara membungkuk sedikit, ia sengaja menyejajarkan wajahnya di samping telinga Zara hingga hembusan napas hangatnya terasa di kulit leher gadis itu.

"Kau benar." bisik Regantara dengan suara bariton yang teramat rendah dan dalam. "Aku tidak pernah melakukan sesuatu secara cuma-cuma."

Tangan Regantara menyentuh sandaran kursi Zara, dan menguncinya dalam posisi tersebut.

"Alasannya cukup simpel. Pertama, karena wanita yang menyandang nama Nyonya Benedict tidak boleh terlihat kalah atau dimanfaatkan oleh sampah seperti keluarga Adhitama, harga dirimu di mata publik adalah harga diriku juga." ujar Regantara dingin.

Ia menjeda sejenak, lalu menyunggingkan senyuman tipis di dekat pipi Zara.

"Dan kedua, karena aku menyukai matamu saat sedang menyusun pembalasan dendam, istriku. Ketenanganmu, kecerdasanmu, dan kebencian terselubung di balik tatapanmu itu..."

Regantara menegakkan tubuhnya kembali, lalu menatap Zara dari atas.

"...aku menginginkan kesetiaanmu. Setelah aku mengembalikan seluruh hak Ibumu dan meratakan keluarga Adhitama sampai ke akar-akarnya, kau tidak akan pernah bisa lepas dariku. Kau akan sepenuhnya menjadi milikku, Nyonya Benedict."

Telapak tangan Regantara menyisir rambut halus Zara dengan lembut yang malah terasa merinding bagi siapapun yang melihatnya.

Zara terdiam kaku, tentu saja. Pria gila seperti Regantara pasti hanya melihat semua ini sebagai hiburan semata, dendam seorang anak pada ayahnya. Mungkin menurut Regantara hal ini adalah hiburan bagi hari-harinya yang membosankan.

"Jika anda berjanji untuk menghancurkan keluarga Adhitama, saya akan selalu setia pada anda." ucap Zara.

Regantara menyeringai, lalu mengecup puncak kepala gadis itu dan mengusapnya.

"Tentu, bahkan jika kau meminta kepala ketiga orang itu aku akan memberikannya."

"..."

1
jenny
coba Zara dibawa sama kakek Sehari... kira² Regan kelabakan gak tuh?? 😄
Ipan Pratama
menarik
Ipan Pratama
lanjut dong thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!