Baskara yang awalnya sangat membenci ibu tiri yang usianya lebih muda dua tahun darinya. Berbalik mencintai dan memujanya. Bayangan bahwa ibu tirinya menyakiti ibunya tidak terbukti. Bahkan ibu tiri muda cantiknya dengan telaten mengurusi ayahnya. Bersabar dengan keadaan ayahnya yang impoten karena mengalami komplikasi. Lumpuh akibat stroke karena penyakit komplikasi yang diidapnya. Mereka berusaha menyembunyikan hubungan gelap mereka. Bagaskara juga berusaha membebaskan ibu tiri sekaligus kekasihnya dari ayahnya. Apakah cinta mereka bisa bersatu menabrak norma yang ada atau tertimbun selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Lita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah
Walaupun Sekar tidak bersalah tapi sudah terlanjur tersebar bahwa Sekar merebut suami orang.
Apalagi walaupun secara hukum Sekar tidak terbukti melakukan hal yang dituduhkan. Karena yang menuduh sangat kekeuh dan yakin bahwa yang menyampaikan berita kepadanya mengatakan hal yang benar.
Tetapi saja Sekar mendapatkan teror dicibir sebagai pelakor.
Banyak ibu-ibu yang mendengar berita yang tidak benar tersebut ikut emosi. Karena mereka merasa berempati dengan sesama perempuan.
Seringkali mereka sengaja datang hanya untuk mempermalukan serta mengasari Sekar.
Ada yang mencubit, menampar dan menjambaknya. Tenaga keamanan rumah makan terpaksa memiliki tugas tambahan menjaga Sekar terutama saat mendapat serangan fisik dari konsumen yang seringkali tidak dikenalnya.
Berita cepat menyebar. Klarifikasi tidak bisa berbuat banyak.
“Saya tidak melakukannya. Ibu tersebut Salah tuduh.” Sekar berusaha menjelaskan sekelompok ibu-ibu yang sedang mengerjainya.
“Kopinya kurang panas.” Sekar mengambil kopinya Dan menambahkan air panas.
“Mbak, kopinya kepanasan.”
Sekar menambahkan es batu.
“Kurang manis.”
Sekar mengambil kopi di bawa ke belakang dan ditambahkan gula.
“Kemanisan mbak.”
Sekar menambahkan air.
“Kurang panas kopinya.”
Sekar merebut sebentar dan mencicipi rasa kopinya.
“Terima kasih mbak.”
Sekar membalikkan badan dan seorang ibu memalang kakinya.Sekar terjembab. Sekar meringis menahan sakit.
“Mbak, kalau jalan liat-liat dong!” Orang yang memalang kakinya tersebut sontak membentak Sekar.
“Maaf bu.” Sahut Sekar membungkukkan badannya.
“Jalan pake mata mbak. Jangan mata kaki!”
Sekar hanya terdiam mengurut dadanya. Dirinya sudah seperti artis terkenal. Dikenal dari mulut ke mulut.
“Sekar ya?”
Sekar menganggukkan kepalanya.
Tanpa tedeng aling-aling wanita tersebut memukulkan tasnya ke arahnya.
“Jangan gatel jadi perempuan!”
Sekar sedang membersihkan meja ketika seorang ibu-ibu menghampirinya.
“Mbak. Tolong bersihin di sini dong! Ada air tumpah.” Ujarnya sambil Menuangkan air ke lantai.
Sekar mengambil kain pel tangkai dan mulai membersihkan lantai yang ditumpahi dengan minuman.
Dirinya menerima semua penghinaan tersebut karena memikirkan buah hatinya semata wayang. Dani.
Jika bukan karenamu. Tidak mungkin ibu bisa menerima semua ini. Sudah ibu tinggal pekerjaan ibu Dan sudah kubalas wanita tersebut yang kerap memfitnah dan bersikap kejam padaku.
Dani merupakan sumber kekuatan dan kesabarannya. Karena Dani dia bisa kuat menerima semuanya.
Kebenaran akhirnya terkuak. Wanita tersebut mendatangi Sekar. Dirinya begitu gugup.
Sekar berusaha menghindari wanita tersebut. Yang menuduhnya berselingkuh dengan suaminya. Orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Tetapi siapa yang percaya?
“Jangan pergi!” Ujar wanita tersebut.
Jantung Sekar berdetak cepat. Apalagi yang akan menimpanya?
“Maaf, saya harus ke belakang mengambil pesanan makanan.” Sahut Sekar berusaaha menghindari wanita tersebut.
“Aku ingin minta maaf?”
“Minta maaf?”
“Aku memergoki suamiku berselingkuh. Dan sekarang dia sedang menjalani proses hukum dengan selingkuhannya.”
“Apa hubungannya denganku?”
“Kau berkata jujur tetapi aku tidak mempercayaimu.”
Sekar terdiam.
“Suamiku berselingkuh dengan teman kerjamu. Dia bekerja di rumah makan yang sama denganmu. Menggunakan namamu.”
“Apa?”
“Dia mengaku bernama Sekar. Aku sudah mengcross cek dengan pemilik rumah makan ternyata namanya Hani.”
“Hani?”
“Kau mengenalinya?”
“Tentu dia adalah temanku. Dia bekerja di sini juga. Aku tidak mengenalnya dekat.”
Hani memang memiliki seorang kekasih yang kerap menjemputnya. Tetapi tidak ada yang kenal dengan kekasihnya.
Mobilnya kerap menunggu beberapa meter dari rumah makan. Hani sendiri sangat tertutup. Tidak banyak yang mengenalnya secara dekat dan pribadi. Hubungan mereka dengannya hanya sebatas teman kerja.
“Untuk apa dia menggunakan namaku?”
“Untuk menutupi identitasnya. Karena dia menggunakan namamu. Aku mengira suamiku berselingkuh denganmu. Maafkan aku. Seharusnya aku menyelidiki terlebih dahulu sebelum menuduhmu.”
“Bagaimana aku bisa memulihkan nama baikku?”
“Aku akan menyebarkan mengenai kesalahpahaman ini. Kau mendapatkan nama jelek karena berita yang kusebarkan. Namamu juga akan pulih dengan cara yang sama.”
Sekar hanya terdiam. Wanita itu memberikan sejumlah uang kepada Sekar sebagai permintaan maafnya. Tidak kurang dari sepuluh juta rupiah.
Sekar sangat bersyukur. Uang tersebut disimpannya untuk Dani. Wanita itu juga menepati janjinya. Perlahan teror terhadapnya menghilang. Bahkan beberapa meminta maaf sambil memberikan hadiah dan sejumlah uang.
“Mbak Sekar, aku minta maaf sudah menuduh dan mengerjai mbak Sekar.” Seorang ibu menyodorkan sejumlah uang tidak kurang dari lima ratus ribu rupiah.
Ada yang memberikan susu buat Dani. Pampers. Makanan dan uang.
Suami dan selingkuhannya menghadapi proses hukum yang diajukan sang ibu berdasarkan bukti pemesanan penginapan. Serta penggerebekan langsung.
Sekar merasa sangat bersyukur hidupnya berlangsung normal. Karena kesalahpahaman tersebut membuatnya menjadi mengenal banyak orang. Selain bersimpati kepadanya. Mereka juga jadi mengetahui kebenaran yang sesungguhnya bahwa Sekar jauh dari yang mereka tuduhkan.
Kehidupannya sehari-hari hanya mengurusi pekerjaan dan anaknya saja.
Sekar sesekali membawa Dani ke rumah makan pada saat dia libur. Mengenalkannya pada mereka yang ingin mengenal langsung Dani.
Dani terlihat tidak nyaman karena sehari-hari Dani hanya terbiasa dengan ibunya dan atau keluarga Panji.
“Jangan takut dong sama tante.” Ujar salah seorang ibu yang berusaha membujuk Dani agak mau digendongnya.
Dani menyembunyikan wajahnya di dalam gendongan ibunya.
Melihat Dani tidak nyaman dan rewel. Sekar berpamitan dan mengajak Dani meninggalkan restaurant.
Mengajak Dani menghabiskan waktu di taman yang merupakan kesukaan Dani.
Mereka kerap meluangkan waktu bersama saat Sekar libur di taman. Dani sangat menyukai suasana taman. Melihat pepohonan. Anak-anak bermain dan orang di sana sini.
Sekar menurunkan Dani dan membiarkannya bermain di rerumputan.
Kaki mungil Dani menyentuh rumput. Membuatnya tertawa gembira.
“Kau suka berada di sini ya?” Ujar ibunya sambil tersenyum.
Langit sangat cerah. Sehingga mereka bisa berlama-lama di taman tanpa khawatir kehujanan atau kebasahan.
Sekar memetik beberapa bunga dan diberikan pada Dani yang sangat antusias.
Dani bermain dengan bunga-bunga yang dipetik dan diberikan kepadanya.
“Jangan dimakan ya?” Sahut ibunya menahan tangan Dani dari memasukkan ke mulutnya.
Dengan telaten Sekar mengawasi Dani. Taman ini merupakan ruangan terbesar bagi mereka berdua selain kamar kontrakan mereka serta rumah keluarga Panji.
Hari beranjak sore. Sekar mengajak Dani beranjak dari taman. Sebelum pulang, mereka mampir ke minimarket. Membeli mie instant untuk persediaan di rumahnya. Selain tempe, tahu, telur, ikan asin, sayur dan kerupuk. Mie instant juga bisa menjadi alternatif pilihan untuk variasi makanan sehari-hari.
Setelah puasa bermain di taman. Mereka berjalan pulang. Matahari mulai tergelincir.
Sesampainya di rumah kontrakan. Sekar mengambil minum karena merasa kehausan.
Bermaksud memandikan Dani. Menyusui dan setelah Dani tertidur baru membersihkan dirinya. Makan dan sholat.
Dani terlihat segar setelah mandi. Sekar menaruh pakaian kotor Dani di ember yang digunakan untuk mencuci pakaian.
Sekar memakaikan Dani pakaian baru dan bersih. Menyusuinya. Mata Dani mulai mengayun. Tidak lama tertidur pulas.
Sekar beranjak bangun. Mengambil pakaian dan handuk. Berjalan menuju kamar mandi. Membersihkan tubuhnya.
Setelah mandi. Mengisi perutnya yang lapar. Dia membuat sayur kangkung dengan tahu goreng. Memakan makanannya dengan lahap.
Selesai makan dia menunaikan sholat ashar. Sambil menunggu maghrib. Dia menunggui Dani di kamar. Menciumi buah hatinya sesekali.
Kau permata ibu dan harta ibu yang paling berharga. Tanpamu, ibu bukanlah apa-apa…
1 iklan untuk mengembalikannya
#crazy in love, hadir