Zega Adalah seorang laki-laki tampan, bertubuh tinggi yang memiliki kepribadian Misterius dan penuh dengan teka-teki. Orang-orang menyebutnya The mysterious bunny, karena dia memiliki wajah yang babyface dan sering menggunakan Hoodie ping. Ada alasan tersendiri kenapa Zega sering memakai hoodie berwarna ping.
Pertemuan Zega dengan Briana seorang gadis yang pernah menyelematkannya, membuat Zega menjadi penasaran dengan gadis itu. Terlebih lagi saat Ia mengetahui kesamaan takdir antara Ia dan gadis itu.
Takdir pun membuat keduanya menjadi dekat. Briana perlahan mulai mengetahui rahasia kepribadian misterius seorang Zega. Zega yang mulai merasa nyaman dengan Briana tanpa sadar mulai terbuka kepada gadis itu.
Namun, Briana pun sebetulnya memiliki rahasia yang bahkan dirinya sendiripun tidak tau. Yaitu mengenai kekuatan magic yang Ia miliki serta tempat kelahirannya. Karena sebenarnya, Briana bukanlah gadis sembar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Baik
Kriiing...
Kriiing...
Bel istirahat pun berbunyi. Semua siswa berbondong-bondong keluar kelas dengan bersemangat. Begitupun dengan para siswa di kelas 11 IPA 1.
“Briana” Briana menoleh ketika ada yang memanggilnya.
“Iya?” Balas Briana setelah menutup resleting tasnya.
“Ayo ke kantin”
“A__ah g__gue__”
“Udah ayo” tiba-tiba Viona menariknya secara paksa hingga membuatnya refleks terbangun dari posisi duduknya.
“Ayo Briana” Viona menarik tangan Briana sedangkan Kelly mendorong pundak Briana agar gadis itu mau melangkahkan kakinya keluar kelas.
Ketiganya pun berjalan beriringan menelusuri koridor menuju kantin.
Zega yang tak sengaja melihat Briana bersama mereka berdua pun sontak menghentikan langkahnya. Ia memperhatikan Briana dengan dahi mengernyit.
“Dari kapan dia punya temen?” Monolognya bingung.
Ketiga gadis itupun sampai di kantin dan ketiganya duduk di salah satu meja yang kosong. Briana nampak gelisah dan tegang. Bagaimana Ia tak tegang sedangkan kini dirinya berada di kantin ekslusif yang biasanya hanya di kunjungi oleh orang-orang kalangan atas.
Tentunya di sekolah mewah inipun tidak semua siswa-siswinya kaya raya. Ada juga beberapa yang bisa di bilang berekonomi menengah.
Tapi yang jelas biasanya hanya ada menengah ke atas kalau ke bawah seperti Ia contohnya, sangat jarang sekali bahkan sepertinya Ia satu-satunya.
“Bri pesenin dong” pinta Viona.
“A__ah, i__iya. Kalian mau pesen apa?” Briana pun beranjak dari duduknya dan menatap keduanya bergantian.
“Gue nasi goreng sama es jeruk aja”
“Gue mie goreng sama jus mangga” keduanya pun memberikan selembaran uang merah kepada Briana.
“Sebentar ya gue pesenin dulu” Viona dan Kelly pun mengangguk.
Briana berjalan pergi menuju antrian pemesanan makanan. Ada beberapa siswa yang nampak sedang mengantri disana termasuk Eris.
Melihat Briana berada di sela-sela antrian membuat Eris merasa bingung karena sebelumnya Ia tidak pernah melihat Briana membeli makanan apalagi di kantin ekslusif.
“Saya pesan nasi goreng, mie goreng, roti cokelat sama minumnya es jeruk, jus mangga dan air mineral” pesan Briana pada penjual.
Beberapa saat Briana menunggu hingga akhirnya pesanannya pun sudah siap. Setelah membayar, Briana pun langsung membawa nampan berisi makanan tersebut dan berjalan pergi menuju meja yang Ia tempati bersama Kelly dan Viona.
“Ini makanannya”
“Makasih Briana” Briana tersenyum mengatupkan bibirnya dan mengangguk-angguk seraya kembali duduk di tempatnya.
Tanpa Briana sadari Eris diam-diam mengikutinya pergi hingga kini laki-laki itu nampak sedang memperhatikannya dari kejauhan.
“Jadi dia beli makanan sebanyak itu buat temennya sedangkan dia Cuma beli roti sama air mineral doang”
Eris menundukkan wajahnya menyembunyikan air mukanya. Entah kenapa Ia jadi merasa sedih melihat gadis itu. Eris pun tidak mengerti tumben-tumbenan Ia bisa berempati dengan orang seperti ini.
Dahinya mengernyit saat melihat Zega tiba-tiba datang dan menarik tangan gadis itu.
Kelly dan Viona saling memandang dengan tatapan bingung mereka.
“Ada apa Zega?” Bingung Briana sambil terus mengikuti tarikan tangan Zega.
Zega tak membalas. Ia masih terus berjalan dan menarik pergelangan tangan Briana entah akan membawanya kemana.
Langkah Zega pun terhenti saat keduanya sudah sampai di bawah sebuah pohon rindang yang terletak di taman belakang sekolah. Zega pun duduk di bawah pohon tersebut seraya menyenderkannya kepalanya menatap langit-langit.
“Duduk!” Perintahnya dingin menatap Briana sekilas.
Briana pun dengan ragu-ragu duduk di samping Zega. Ia melirik sekilas ke arah laki-laki itu dengan tatapan bingung namun Ia tak berani bertanya apapun.
“Kenapa handphone lo gak aktif?” Briana menoleh ketika Zega bertanya.
“Itu... G__gue gak ada paket” balas Briana sambil mengatupkan bibirnya.
“Nih” Briana bingung melihat selembaran uang merah yang Zega sodorkan.
“Apa?”
“Buat beli paket”
“E__enggak usah”
“Gak usah nolak gue gak suka lo susah di hubungin. Ingat perjanjian kerja kita!” Tegasnya.
“M__makasih” Briana pun akhirnya mengambil uang tersebut dengan ragu-ragu.
“Kayanya... Lo juga udah ngelupain perjanjian kita yang lain” Zega menatap Briana dingin.
“Ha? Yang mana?” Bingung Briana.
“Gue udah pernah bilang, lo gak boleh keluar kelas tanpa gue dan lo tadi pergi bareng temen lo” Zega berbicara tanpa menatap Briana.
“Emang gue gak boleh punya temen ya?” Briana menunduk kecewa.
“Masalah temen terserah lo tapi, gue ngerasa kalo temen lo yang ini gak bener-bener tulus temenan sama lo. Mana ada seorang gadis dari keluarga bangsawan dan gadis dari keluarga konglomerat mau temenan sama gadis dari kalangan bawah kalo bukan untuk di manfaatkan” Zega tersenyum miring.
Mendengar itu membuat Briana mengerjapkan matanya dan menatap ke arah Zega dengan tatapan tajam.
“Maksud lo apa ngomong kaya gitu? Kenapa si mulut lo jahat banget. Viona sama Kelly itu baik, mereka mau menerima gue dengan pandangan baik mereka.
Gue tau gue orang miskin tapi bukan berarti gue gak bisa temenan sama anak orang kaya. Gue ngundurin diri dari pekerjaan!” Briana pun melemparkan uang seratus ribu di tangannya ke arah Zega dan berlalu pergi dengan perasaan marah.
Zega menghela nafas gusar seraya melipat kedua tangannya di dada. Ia memperhatikan kepergian Briana dengan tatapan yang sulit di artikan.
****
“Briana tunggu” Briana menoleh ketika mendengar suara seseorang memanggilnya.
“Iya Kak?”
“Sore ini gue tunggu di taman ya. Gak sibuk, kan?”
“Ah, i__iya Kak”
“Okeh” setelah mengatakan itu Eris pun berjalan pergi mengikuti temannya yang sudah berjalan duluan di depan.
Briana mengatupkan bibirnya dan menunduk dengan perasaan bingung. Awalnya sepulang sekolah ini Ia berniat untuk pergi mencari kerja karena bagaimanapun Ia harus melunasi hutang keluarganya.
“Huft... Kenapa gue tadi harus marah sama Zega. Dia kan emang orangnya gitu kalo ngomong suka pedes. Kalo aja gue gak marah, gue hari ini masih bisa kerja di rumahnya. Tapi... Yaudah lah masih ada dua hari lagi buat gue nyari uang”
Briana pun kembali melangkah keluar dari pintu koridor.
****
Dengan kemeja putih dan rok korea selututnya, Briana berjalan memasuki taman kota tempat dimana Ia dan Eris akan latihan dansa bersama. Briana menghela nafas seraya mengusap wajahnya kasar.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari seseorang yang ingin di temuinya. Ia pun akhirnya dapat menemukan sosok laki-laki berhoodie putih lengan pendek dengan jam tangan hitam di pergelangan tangannya, nampak sedang berdiri membelakanginya namun, Briana sudah tau jika itu adalah Eris.
Tanpa lama Briana pun langsung bergegas menghampirinya.
“Kak” Briana menepuk pundak laki-laki itu.
“Arrghh...” Briana terkejut saat Eris mengerang serak.
‘Kenapa sentuhan gadis ini bikin badan gue shiver ya’ batin Eris dengan tatapan bingung.
“Kak Eris gak papa?” Briana menatapnya khawatir.
“Briana” Briana terkejut saat tiba-tiba Eris memegang pundaknya dan menatapnya tajam.
Briana nampak tegang dengan mata membulat. “Gue minta maaf Kak” di tengah-tengah ketegangan akhirnya kata itu bisa keluar dari mulutnya.
Eris menghela nafas seraya melepaskan tangannya dan menunduk memijat pangkal hidungnya.
“Ayo latihan” Eris mengulurkan tangannya ke arah Briana.
Briana pun menerimanya dengan sedikit tremor. Eris pun mulai meraih tangan Briana yang lain dan meletakkannya di bahunya.
Eris pun memulai gerakan dansanya.
Ia akui jika gerakan Briana kini sudah lumayan bagus. Ternyata gadis ini tipe orang yang cepat tanggap dan mudah mempelajari hal baru.
Di akhir dansa, keduanya pun terdiam saling memandang dengan tatapan terkunci satu sama lain.
‘Kenapa kebencian gue mendadak hilang ya. Padahal gue bener-bener benci banget sama bangsawan tapi gara-gara nih cowok, gue jadi tau kalo gak semua bangsawan itu jahat mungkin mayoritas begitu tapi... Sepertinya Kak Eris termasuk minoritasnya’ batin Briana.
Lamunan Briana membuyar ketika Eris menjentikkan jarinya dua kali.
“Eh, maaf Kak” Briana menggaruk tengkuknya kikuk.
“Kita Istirahat dulu” Eris pun mendudukkan tubuhnya ke atas rerumputan dengan santai.
Briana pun mengikutinya duduk juga. “Kalo boleh tau Kak Eris itu siapanya King Roland? Atau Kak Eris itu kaya Kak Elena si miss sekolah? Dari kerajaan selatan terus ngerantau kesini buat sekolah?”
Eris yang baru selesai meneguk air mineralnya pun menoleh dengan satu alis terangkat. “Gue gak bisa cerita kecuali...”
“Kecuali?” Briana menatap Eris bingung.
“Lo mau jaga rahasia ini rapat-rapat”
“Bisa kok Kak bisa” balas Briana antusias.
“Okeh. Kalo lo sampe bocorin ini, lo harus tanggung konsekuensinya” Eris menatap Briana dengan sorot mata mengintimidasi. Briana mengangguk dengan yakin.
“Gue anak bungsunya King Charles” Briana nampak terkejut mendengar itu.
“Ha? Yang bener?” Eris pun mengangguk tanpa ekspresi.
“Gue udah jaga privasi kebangsawanan gue dari kecil”
“Oh gitu” Briana menganggu faham.
“Di SMA kita, kan banyak yang anak bangsawan, emang mereka gak tau ya sama Kak Eris?”
“Ada sebagian yang enggak tapi ada sebagian juga yang tau. Lo temenan sama Kelly, kan?” Briana mengangguk cepat.
“Dia sepupu gue. Tapi gue saranin lo harus hati-hati”
“Loh emang kenapa?” Bingung Briana menatap Eris dengan dahi mengernyit.
“Pokonya hati-hati” Briana hanya bisa mengagguki saran dari Eris.
“Yuk gue anter pulang” Eris pun beranjak dari duduknya.
“Em__ anu Kak” Eris menatap Briana bingung. Ada apa sebenarnya dengan gadis itu?
“Kenapa? Gue gak keberatan nganterin lo kok tenang aja” Briana menggeleng pelan.
“Gak papa, ayo jangan buang-buang waktu”
“Gue... Udah gak punya rumah” Briana menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.
Sontak mendengar itu membuat Eris mendelikan matanya terkejut.
“Lah yang kemarin rumah siapa?” Briana menghela nafas sebelum akhirnya menceritakan kejadian yang terjadi kepadanya hingga akhirnya Ia kehilangan rumah miliknya satu satunya.
jan lupa mampir ya thorr di tunggu kedatangannya