Indonesia
NovelToon NovelToon
Rimba

Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Apakah kembali ke rimba bersama perempuan masa laluku menyenangkan ?
Jika bukan karena uang yang sedang kubutuhkan, Aku memilih untuk tak akan kembali ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Nduga Geselma

Menjelang siang, akhirnya kami melihat beberapa kebun kelapa hutan berpagar kayu di dekat aliran sungai yang kami susuri. Pertanda kami sudah dekat dengan pemukiman.

Orang Papua pedalaman biasa menyebut tanaman kerabat dekat pandan tadi dengan nama Woromo saat diperdagangkan.

Jangan membayangkan perdagangan di pedalaman Papua itu memakai uang tunai. Cara barter lebih disukai di sana untuk mendapatkan barang kebutuhan hidup.

Dan salah satu alat barter bernilai tinggi yang masih dipakai penduduk Papua pedalaman terutama yang hidup di sepanjang pegunungan tengah Papua adalah seluruh bagian dari pohon kelapa hutan tadi, ... karena mulai dari akar, batang, buah, biji, sampai daun-nya mempunyai manfaat penting penunjang kehidupan di belantara rimba Papua.

Salah satu penduduk pedalaman yang sangat menguasai pemanfaatan kelapa hutan itu adalah masyarakat Nduga yang hidup berdampingan dan berkerabat dekat dengan orang Dani, Amungme, Moni, dan Damal.

Orang Nduga dapat menggunakan beberapa bahasa daerah dan menggunakan istilah yang menunjukkan bahwa Suku Nduga dapat berbahasa suku lain yaitu, Lani-Nduga istilah yang digunakan bagi suku Nduga yang dapat berbahasa suku Dani. Amung-Tau yaitu istilah yang digunakan untuk masyarakat suku Nduga yang dapat menggunakan dua bahasa yaitu bahasa suku Amungme dan bahasa Nduga sendiri. Istilah selanjutnya yaitu Nduga-Loremeye yaitu orang Nduga yang dapat menggunakan bahasa Suku Moni.

Itulah yang membuatku lalu tahu kenapa John yang berasal dari Moni, dan Albert yang berasal dari Lani dapat saling berbicara dengan orang Nduga.

Perhatianku lalu beralih ke arah Albert dan John yang ada di depanku.

"Su pasti dorang ada di sekitar Geselma." Albert menegaskan pendapatnya saat mengamati perkampungan yang terlihat dari jauh setelah melewati kebun kelapa hutan tadi.

"Sepertinya kampung itu sepi." Aku memberikan teropong yang barusan kupakai ke Abert untuk dipakainya.

Penasaran dengan pengamatan ku, Albert mengarahkan teropong ke arah perkampungan. "Aneh," gumamnya membenarkan pengamatan ku. "Tak seperti biasanya kampung Nduga sepi seperti itu," ujarnya lagi.

"Sepertinya mereka sedang berkumpul di suatu tempat," kata John.

"Mari kitorang cari tahu." Tak menunggu lama, Albert mengajak kami beranjak menuju perkampungan itu.

***

Sebagai penduduk pendatang tentu saja Aku tak begitu memahami semua kebiasaan dan adat masyarakat di pedalaman Papua, kecuali di sekitar Paniai tempat kelahiran dan masa kecilku.

Tentang orang Nduga, John pernah mengatakan padaku jika mereka tinggal di dalam dua kelompok suku di sepanjang wilayah pegunungan Lorentz.

Kelompok suku Nduga yang pertama berdiam di daerah panas seperti di Mapenduma, pertengahan Mbuah hingga Kora-Bawah; Wusak-Bawah; Kenyem; Geslema; Wandut; dan Airalma.

Dan kelompok suku Nduga yang kedua berdiam di daerah-daerah dingin seperti di Yigi, Mbuwa-Atas, Iniye, Wusak-Atas dan Kora-Atas.

Istri John berasal dari suku Nduga Kurigi yang berdiam di daerah dingin Yigi.

"Yang sa tahu, orang Nduga tidak terlalu suka tinggal di daerah orang lain," kata John suatu saat, ketika kutanya kenapa Aku jarang melihat orang Nduga di Paniai.

Melihat letak geografis Mapenduma sampai Geselma tempat perkampungan orang Nduga yang begitu sulit untuk dijangkau, paham lah Aku kenapa masyarakat Nduga sangat sulit untuk mendapatkan pendidikan formal yang layak. Pengetahuan mereka lebih banyak diperoleh dari alam.

"Kitorang terbiasa hidup tanpa sekolah dan negara .... Kitorang bisa membuat rumah dari hasil hutan, makan dari hasil kebun, hewan buruan, dan ternak .... Hanya orang malas yang akan menderita di sini." Kata-kata salah satu tetua adat Nduga Malendik seperti membenarkan ucapan John tentang kenapa orang Nduga begitu mencintai tanah ulayat leluhurnya, dan memilih menjaganya mati-matian daripada harus berpindah mengikuti orang lain.

***

Jejak yang kami ikuti dari Malendik membawa kami memasuki perkampungan Geselma dan tak ada tanda-tanda orang di beberapa rumah honai, selain beberapa ekor anak babi yang berkeliaran mengais makanan.

"Sebaiknya kitorang duduk di sini menunggu." Tak mau gegabah, Albert menyuruh kami duduk di dekat jalan setapak yang membelah perkampungan itu.

Matanya tajam mengawasi salah satu honai besar yang berdiri terpisah di tanah yang agak lapang.

Ada sekitar setengah jam kami hanya duduk-duduk menunggu saat kami melihat beberapa laki-laki tua keluar dari honai besar di tengah lapang tadi.

Beberapa perempuan dan anak-anak lalu terlihat keluar mengikutinya. Aku perkirakan ada belasan orang jumlahnya.

"Waaa ... Waaa ...." John mengucapkan salam ketika mereka memperhatikan kami duduk.

Dua orang laki-laki setempat yang membawa busur dan parang lalu berjalan mendekat ke arah kami.

John berdiri dan menghampiri mereka untuk menjelaskan maksud kedatangan kami.

Setelah berhadapan, kulihat uluran salam jari telunjuk John diterima mereka. Tak lama ketiganya larut berbicara serius dalam bahasa mereka.

Tak lama John berbalik ke arah kami diikuti tatapan selidik dua orang tadi.

"Benar kita sekarang ada di wilayah adat Daniel. Dan kata dorang, Daniel baru saja pergi menemui Kelly di Mapenduma. Sayangnya kitorang tak boleh susul sekarang. Dorang suruh kitorang menunggu dulu di sini, dan baru besok dorang akan antar ke Mapenduma," kata John.

"Kenapa kitorang tidak boleh menyusul ke Mapenduma sekarang ?" tanya Albert.

"Daniel sedang marah besar karena ada orang asing yang keluar masuk hutan adatnya tanpa meminta ijin," jawab John lirih.

"Bodoh," kata Albert. "Kenapa orang-orang asing itu tidak mau melibatkan tetua setempat sedari awal ?" Albert meneruskan kekecewaannya mendengar kata-kata John.

"Jika kitorang mau turuti, dorang akan terima kitorang menginap di sini sambil menunggu besok." John meneruskan lagi apa yang dikehendaki kedua orang setempat itu.

"Baiklah, itu permintaan yang harus kitorang turuti." Albert setuju dengan apa yang disampaikan John.

Ketegangan mencair setelah kami saling mengenalkan diri kepada dua orang setempat itu dan lalu diijinkan masuk ke salah satu honai untuk beristirahat.

John lekas berusaha menyalakan perapian setelah kami duduk melingkar di dalam honai. Tangannya cekatan menumpuk kayu bakar ke perapian.

"Sebentar kitorang temui tetua dulu Yos. Kata pace itu dorang barusan melakukan upacara adat untuk melepaskan bala. Tak enak jika kitorang menumpang tidur tanpa memberitahu ke tetua." Albert bergegas meninggalkan honai menyusul dua laki-laki yang lebih dulu keluar.

"Iya Yos. Kata sa pu istri jika sedang ada upacara melepas bala di kampung Nduga, setiap pendatang harus memberitahu keberadaannya. Karena bisa saja segala macam mara bahaya yang ditolak akan berbalik menyerang para pendatang." John meneruskan cerita Albert kepadaku sambil terus berusaha menyalakan api.

"Apakah mereka akan menyerang seseorang atau menahan serangan seseorang?" Aku berpaling ke arah John.

"Yang sa tangkap tadi, dorang akan menyingkirkan pengganggu tanah ulayat mereka dengan segala cara," pungkas John yang kini sibuk meniup api yang mulai membesar.

***

*Su : Sudah

1
Myz Pena
sebenarnya ini sedih banget.. mengingat rakyat papua di tanah kelahiran mereka sendiri banyak yang tergusur karen ulah oknum2 yg tidak bertanggung jawab 🤧
Myz Pena
aduuh pasti mau itu🤭
Myz Pena
bunga kamboja dulu identik dengan bunga makam 🤣
Myz Pena
aku memberikan mu setangkai bunga mawar tetaplah berkarya dan. jangan menyerah 🥹❤️❤️
Wawan: Tengs .... sangat menyenangkan buat Wulan dan Yos ...✍️😍
total 1 replies
Myz Pena
seriuss.. berarti disana benar2 tercemar.. susah dapat air bersih karena airnya tercemar dari limbah perusahaan 😭😭
Wawan: Begitulah ketika nafsu serakah mengalahkan local wisdom ....✍️
total 1 replies
Myz Pena
kasus penebangan liar ini memang meresahkan sejak dulu😤
Myz Pena
itu gunanya teman saling melengkapi 🥹
Putry Chan
yang suka novel action, petualangan ini rekomendasi banget mudah di fahami
Putry Chan
maaf ya baru mampir soalnya sibuk 😚😚
Putry Chan: iyh kmu juga semangat ya 💪
total 2 replies
Myz Pena
teenyata seberat itu perjuangannya 🥹

setangkai mawar untuk mu thor.. 🥹❤️❤️
Myz Pena
aku juga penasaran... kok bisa dianggap udah meninggal 🤧
Myz Pena
angga ternyata kamu disini rupanya 🤧🤣
Tio Buki
Bunga untukmu Thor/CoolGuy//Wilt//Rose//Wilt//Wilt//Rose//Plusone/
Wawan: 🔥🔥🔥...✍️
total 1 replies
Tio Buki
Moga lancar ya dek👍💪🙏👍💪🙏👍
Tio Buki
Lanjut ya dek👍💪🙏🙏
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏
Tio Buki
Ehhh...
Tio Buki
Ngak, aku bermalam😄
Tio Buki
Terus
Tio Buki
Kapan ya???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!