Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.
Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.
Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’
Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERANG DI RUMAH YANG DINGIN
Hari pertama itu berlalu biasa saja. Sutami menghabiskan waktunya menemani Dara. Menemani mengerjakan PR, membuat origami di ruang keluarga, menonton film kartun, lalu menidurkan Dara setelah membacakan dua dongeng. Tanpa drama yang berarti.
Hingga malam pun tiba.
Setelah memastikan Dara sudah terlelap dengan selimut sampai dagu, Sutami kembali ke kamarnya. Ia merebahkan diri di atas ranjang yang baginya terlalu besar itu.
Kamarnya pun terasa sangat luas baginya, mungkin dua kali lipat dari kamar di rumahnya. Lantainya parket berwarna cokelat muda, mengilap. Di tengahnya ada ranjang berukuran king size dengan seprai putih bersih dan selimut tebal. Di sisi kiri, ada meja rias besar dengan cermin yang diterangi lampu. Di sisi kanan, lemari pakaian tiga pintu dari kayu jati, tinggi sampai ke langit-langit.
Tirai putih menjuntai hingga ke lantai. Dari jendela kaca, terlihat halaman depan dan samping. Sutami mengusap lengannya sebab udara dari AC membuat ruangan itu dingin tapi wangi.
"Ini terlalu mewah sekaligus terlalu asing!" gumamnya. "Benar, anggap saja aku yang berhutang sekarang. Aku berjanji akan mengumpulkan uang untuk mengganti hutang Kuswara, lalu menebusnya dan pergi dari rumah ini!' tekad Sutami semakin membulat. "Aku bisa! Aku pasti bisa!"
Pikirannya tidak bisa diam. Ia mulai menimbang-nimbang watak ketiga anak Waluyo, satu per satu.
Sutami merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kedua tangan terentang, ia menghela napas pelan. "Dara anak yang imut dan menyenangkan. Tak sulit mengurusnya. Dia penurut dan mudah diatur. Kurasa dua atau tiga hari ke depan dia sudah bisa masuk sekolah lagi."
"Tapi...." Sutami memiringkan badan, menopang kepala dengan satu tangan, menatap kosong ke arah pintu.
"Anak pertama, Arka. Dia tidak banyak bicara. Tegas dan menakutkan di sisi yang sama, persis seperti Bapaknya. Tapi dibalik tatapan dinginnya itu... seperti sedang menyimpan banyak luka." Sutami mengingat bagaimana ekspresi Arka tadi pagi. "Hm, wajar juga sih, namanya juga baru kehilangan Ibu!" ralatnya kemudian.
Sutami kembali telentang dan menatap langit-langit kamarnya yang putih bersih. Kemudian terdengar deru mesin mobil masuk ke pekarangan, sorot lampunya menyapu tirai kamar sebentar.
Sutami bangkit, mengintip dari balik tirai. "Itu Kirana," gumamnya. "Jam segini mereka baru pulang, apa setiap hari seperti itu?" bisiknya penasaran.
Di bawah lampu taman, Kirana berjalan dengan langkah ringan, sedikit berjingkrak. Sesekali ia memutar badan sambil bercerita sesuatu pada Arka yang berjalan tenang di belakangnya. Arka hanya mengangguk, sesekali tampak tersenyum kecil dan bibirnya bergerak, mungkin menjawab singkat.
"Mereka rukun sekali," batin Sutami. "Meski wataknya bertolak belakang. Kirana ceria, meski mulutnya galak dan tajam." Sutami tersenyum kecil masih menatap dua anak tirinya. "Kesamaan mereka hanya satu, ada luka yang entah kenapa mereka memilih menguburnya dengan cara masing-masing."
Naluri membuatnya melangkah ke pintu. Tangannya terulur, hampir memegang gagang pintu. Ingin menyapa, ingin bertanya mau dibuatkan minuman hangat atau tidak. Tapi ia berhenti.
Ucapan Arka siang tadi terngiang lagi di kepalanya. 'Kau ada di sini hanya karena Dara. Jadi jangan merasa perlu ikut campur urusan kami.'
Tangan Sutami turun lagi. Ia tersenyum kecut. "Benar. Mereka sudah dewasa. Aku tidak perlu buru-buru mengenal mereka."
Sutami kembali ke ranjang, menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya, "Aku harus tidur, mungkin saja besok aku butuh energi lebih."
Di rumah sebesar ini, di malam pertamanya, ia memilih diam. Bukan karena takut. Tapi karena tahu, tempatnya belum di meja makan, belum di ruang tamu, melainkan batas tegas telah ditetapkan Kirana pagi ini, hanya disekitar Dara. Dan itu cukup, untuk hari pertama.
Keesokan paginya, di ruang belajar lantai satu, Dara duduk bersandar di bahu Sutami. Di pangkuan mereka terbentang buku cerita bergambar.
"Terus terus, Bu... terusin," pinta Dara sambil menunjuk gambar kelinci dengan mata berbinar.
Sutami tersenyum kecil merasa sedikit lega. "Oke. Setelah itu, kelinci itu berlari pulang..."
Tok... tok...
Mbak Rini mengetuk pintu pelan. "Mbak Tami, Dara. Sarapan sudah siap. Sudah ditunggu di ruang makan."
Dara langsung melompat. "Ayo Bu! Aku lapar!" Ia menggandeng tangan Sutami dan menuntunnya keluar.
"Aku jadi nggak enak...." lirih Sutami merasa kikuk.
"Nggak apa-apa, tadi kan udah sempet mbantu," sahut Mbak Rini pelan.
🌴
Ruang makan sudah lengkap dengan hidangan sarapan sederhana tapi cukup. Begitu Sutami masuk, langkahnya langsung canggung.
Di ujung meja, Waluyo sudah duduk, sekilas menatap Sutami dengan ekspresi datar. Ia menunjuk kursi kosong di sisi kirinya. "Duduk di situ."
Sutami mengangguk, lalu menarik kursi pelan untuk Dara tepat di sebelah Kirana, baru kemudian melewati Kirana dan duduk di kursi yang ditunjuk Waluyo.
Tapi, baru saja ia duduk, Kirana yang duduk tepat di sebelah kursi itu langsung bangkit dengan wajah kesal. Tanpa sepatah kata, ia memindahkan piring dan gelasnya ke sisi kanan meja, tepat di sebelah Arka
Suasana menjadi terasa dingin. Apalagi Arka memilih menghentikan kunyahannya, meletakkan sendok, lalu ikut berdiri. Tanpa bicara apapun, ia meninggalkan meja makan.
Melihat itu, Kirana mengerutkan kening. "Mau ke mana, Kak? Sudah kenyang? Atau mendadak tidak nafsu makan?"
Arka meraih tas yang ia letakkan di ruang tengah, yang langsung berbatas dengan dapur. "Aku sudah terlambat, ada urusan." Jawabnya singkat, bahkan tanpa berpamitan pada ayahnya.
Kirana menghela napas dalam tapi terasa sangat dibuat-buat. Ia menyandarkan punggung, menggigit sandwich di tangannya, lalu menatap sinis ke arah Sutami yang kini duduk sendirian di sisi kiri meja.
Waluyo ikut berdiri setelah menenggak habis air putihnya. "Makanlah. Hiraukan yang kau lihat," katanya pelan melihat sekilas ke arah Sutami. Lalu suaranya berubah lembut saat menoleh ke Dara. "Makan yang banyak ya, Ayah harus berangkat, bersenang-senanglah hari ini!"
Setelah itu ia langsung berjalan cepat keluar, menyusul langkah Arka ke garasi.
Di ruang makan hanya tersisa Sutami, Dara, Kirana dan Mbak Rini di dapur.
Kirana bersandar di kursi. Ia melirik Dara, lalu bicara dengan nada manis yang dibuat-buat. "Enak tidak, Dik, sarapan bikinan Bude Rini? Kita beruntung ya. Bangun-bangun sudah ada makanan. Nggak perlu repot masak sendiri!" seru ya melirik sinis ke arah Sutami.
Sutami hampir tersedak air putih, ia meletakkan gelasnya ke meja dengan sedikit gugup. "Eh..."
Dara yang polos langsung mengangguk semangat. "Enak! Enak banget, iya kan, Bu?" sahutnya menoleh polos ke Sutami.
Sutami menunduk canggung. "Maaf. Besok Ibu yang buatkan sarapan untuk kalian. Ibu akan bangun lebih pagi..."
Kirana tertawa kecil. "Aduh, nggak usah. Tugasmu cukup mengurus Dara. Kami sudah terbiasa makan masakan Bude Rini. Setidaknya statusnya jelas, dia memang pekerja di sini."
Kirana melempar sisa sandwich ke piring. "Udah. Pagiku jadi tidak mood!" serunya kemudian bangkit dan melenggang keluar. "Kakak berangkat ya, adikku yang manis!" pamitnya.
Di garasi, lampu masih menyala terang. Arka sudah duduk di kursi pengemudi dengan mesin mobil yang sudah menyala, tapi pintu mobil masih ia biarkan terbuka. Ia sedang melihat beberapa pesan di ponselnya.
Waluyo berdiri di samping mobil, menarik kunci dari kontak. "Kita harus bicara," katanya tegas.
Arka bersandar, menatap kesal pada ayahnya. "Bicara apa, Pak?"
"Maaf karena semua ini terlalu mendadak," ujar Waluyo, rendah. "Tapi semua Bapak lakukan demi Dara. Tidak ada tujuan lain."
Arka tertawa kecut, lalu membuang muka. "Semua sudah terjadi. Untuk apa minta maaf sekarang?"
Belum selesai, Kirana muncul dengan wajah masam. "Tapi kenapa harus orang itu, Yah? Setiap melihat wajahnya, rasanya ingin aku robek!" sahutnya.
Waluyo menatap tajam pada putrinya yang kini adalah seorang mahasiswi semester dua di salah satu universitas swasta di kota itu. "Hormati dia. Dia ada di sini untuk Dara."
"Tapi kenapa harus menikah?!" potong Arka dengan bentakan keras, hingga suaranya memantul di dinding garasi pagi itu. "Bapak bisa menjadikannya pengasuh! Membuatnya jadi pekerja di rumah ini! Bahkan Bapak tidak membicarakannya dulu pada kami! Lalu kenapa kami harus tiba-tiba menerima orang asing dan memahami kelakuan Bapak?!"
Kirana terpaku, gemetar menatap Arka. Seumur hidupnya baru kali ini melihat kakaknya semarah itu.
"Itu... tidak sempat, Arka. Situasinya rumit," jawab Waluyo, suaranya terdengar goyah.
"Kalau begitu jangan libatkan kami!" Arka merebut kuncinya dari tangan Waluyo. "Urus sendiri orang asing itu. Terus terang aku muak melihatnya! Kalau bukan karena menghormati Ibu, aku sudah pergi dari rumah ini!"
Brak!
Arka menutup mobil dengan keras, menyalakannya lagi, lalu menatap Kirana masih dengan raut wajah kesal. "Masuk cepat!" bentaknya.
Jantung Kirana terasa mau melompat mendengar bentakan itu. Dengan takut, ia pun menurut dan bergerak cepat masuk ke mobil Arka.
Waluyo masih di tempatnya, menghela napas dengan berat, hanya bisa menatap mobil putranya yang melaju.
Di ruang makan, Sutami beringsut duduk tepat di kursi sebelah Dara. Ia menatap lembut pada gadis polos yang tetap mengunyah sarapan dengan lahap. Entah karena memang tak mengerti, atau sedang berpura-pura tak mendengar pertikaian yang jelas terdengar jelas oleh Sutami.
'Perang di rumah ini... baru saja dimulai dengan bentakan pertama dari putranya. Apa yang harus kulakukan?' pikir Sutami.
...****************...
Bersambung
rasain tuh 😏