Namaku Adya, Aku hidup daerah kumuh di pinggiran kota, setiap harinya selalu dipukul dan ditindas tanpa alasan.
Sampai suatu hari, nenek tua bernama Maria menolongku dan menawarkanku untuk tinggal bersamanya.
Hari-hari berlangsung dengan damai. Aku diberi makanan, tempat tinggal, dan di ajari banyak hal.
Termasuk sihir..!
Menggunakan sihir ini, aku ingin berkeliling dunia dan melihat segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ao Tsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Chapter 13 : Mempertahankan gerbang barat ibukota
“Adya!” Suara familiar terdengat di telingaku.
Aku memutar badanku kearah suara itu dan disana ada Radian yang berpakaian ksatria lengkap.
“Radian!” Aku balas menyapanya dan mendekatinya.
“Kamu juga datang kesini?” Radian bertanya kepadaku. Saat akua da didepannya seperti ini aku bisa melihat wajahnya dengan lebih baik.
Radian tidak tersenyum seperti yang biasa dilakukannya. Wajahnya sekarang memberikan kesan lelah dan capek. Terlihat kantung hitam dibawah matanya, matanya tidak terlihat focus seperti biasanya. Meskipun begitu, penampilannya sekarang benar-benar siap untuk ikut berperang.
Radian yang sepertinya sadar akan pandanganku menjawab dengan tersenyum tipis.
“Aku hanya kelelahan karena proses evakuasi penduduk distrik utara, pengamanan, dan tugas-tugas lain dari Tuan Albert.”
Yang aku ketahui saat aku lebih dekat dengan Claire adalah Radian yang merupakan ksatria pribadi milik Tuan Albert. Ayah Radian yang dulunya juga ksatria yang melayani Tuan Albert pensiun dan digantikan oleh Radian.
Saat aku kembali ke mansion Claire kemarin, aku tidak bertemu dengan Radian sama sekali karena Radian selalu mendampingi Tuan Albert di istana. Dan pada saat Tuan Albert datang kemansion sejenak,dia sedang melakukan tugas lain.
“Aku minta Claire mengizinkanku pergi kesini.”Aku menjawab pertanyaan Radian yang pertama.
“Begitu….Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi dengan Nona Maria.” Radian menyampaikan perasaannya dengan meletakkan tanganya didadanya dan membungkuk.
“Nggak papa! Ini bukan salahmu juga, dan aku yakin nenek akan kembali lagi seperti biasanya!”
Aku menyampaikan perasaan jujurku kepada Radian.
Walaupun saat ini tidak ada yang pasti tentang keadaan nenek. Aku yakin nenek pasti akan kembali kepadaku dengan senyuman biasanya. Kutukan macam itu akan hilang seperti kutukan-kutukan yang pernah di ceritakannya. Aku yakin itu.
Radian kembali berdiri tegak dan melihatku dengan tegas dan berkata.
“Adya, Saya akan ikut mempertahankan gerbang bersama ksatria yang lain. Jujur, saat melihat puluhan ribu iblis yang sedang menuju ibukota itu aku merasakan keputusasaan.”
Radian menoleh dan melihat kearah iblis yang masih jauh disana.
“Tapi, dengan adanya kamu disini, kami bisa merasa tenang sekarang.”
Radian kembali melihatku dengan senyum percaya diri. Tapi, aku yang mendengar itu merasa ragu dan tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.
“Kita merasa tenang? Aku nggak tahu apa yang kamu maksud?”
Aku yang dibicarakannya saja ragu. Bagaimana dia bisa merasa tenang?
Sejak aku melihat iblis yang menuju kearahku aku merasakan kakiku yang mulai bergetar, detak jantungku berdetak dengan sangat cepat, bahkan aku juga merasakan apa yang dirasakan orang orang disekitarku tadi. Aku juga yakin, sekarang wajahku dan kulitku kehilangan kehangatannya. Sampai aku merasa sedikit menyesal meminta Claire mengirimku kesini.
Berbeda dengan nenek, aku tidak pernah memburu iblis sama sekali, aku hanya pernah melihatnya dibuku cerita dongeng. Kukira karena nenek membasmi setengah total iblis di distrik utara aku juga bisa melawan iblis walaupun tidak semahir nenek. Tapi begitu aku melihat keadaannya secara langsung seperti ini, aku jadi tahu kelau aku sangat sangat naif.
Radian yang mendengar jawabanku tersenyum dan menjawab.
“Perlu kamu tahu ini adalah kata-kata Nona Maria kepadaku. Beliau bilang kalau kamu pasti akan menjadi salah satu faktor penting ibukota diselamatkan.”
“Nenek bilang begitu?” Aku semakin bingung dengan itu.
Kenapa nenek berkata seperti itu? Bukan merasa senang atau bahagia,tapi aku merasakan kebingungan.
Saat itu Radian menepuk pundakku dan melanjutkan perkataannya.
“Kamu ke hutan abu-abu untuk memburu Tigerwolf kan?” Tiba-tiba Radian bertanya kepadaku.
“Kamu mungkin agak terkejut tapi Tigerwolf yang kamu baca dari buku dan Tigerwolf yang kamu buru itu sedikit berbeda.”
“Apa maksudmu?”
Aku bertanya kepada Radian. Aku membaca banyak referensi tentang Tigerwolf sebelum memburunya, dan saat berburu pun aku tidak merasakan ada yang berbeda dengan yang ada dibuku.
“Aku juga diberitahu oleh Nona Maria, tapi Tigerwolf yang kamu buru di hutan abu-abu itu hasil eksperimen iblis. Fisik, kecerdasan, dan kualitasnya sedikit lebih tinggi dari Tigerwolf biasanya. Kalau kamu berhasil memburunya tanpa luka seperti ini berarti― kamu bisa memburu iblis seperti halnya penyihir kelas atas.“
Radian menjelaskan hal itu dengan bersemangat kepadaku. Aku yang mendengarnya sedikit terkejut dan melebarkan mataku.
Tapi apakah benar seperti yang dkatakannya?
Aku memang memburu Tigerwolf dihutan abu-abu, tapi Tigerwolf yang kubunuh itu dalam keadaan hamil dan hampir seluruh kekuatannya berkurang. Bahkan aku tidak merasa sangat kesusahan saat memburunya. Jika sesuai apa yang dikatakan Radian paling tidak aku seharusnya terluka. Atau jangan-jangan…..
Aku merasakan buluk kudukku merinding seketika itu dan melihat kearah iblis iblis itu. Begitu juga Radian yang menghapus senyumannya dan melihat kearah yang sama denganku.
Pasukan yang mendekat kearah ibukota tidak hanya diisi dengan iblis tapi juga binatang-binatang sihir yang jumlahnya sangat banyak. Monster juga menjadi bagian dari pasukan-pasukan itu.
“Maaf Adya, tapi sesuai yang kukatakan kepadamu. Aku yakin kamu akan menjadi salah satu faktor penting ibukota ini diselamatkan. Saya mohon, pinjamkan kekuatanmu itu untuk kami!”
Radian meremas kedua pundakku dan melihat mataku dengan tajam. Mata birunya dipenuhi keyakinan yang kuat kepadaku, tanpa rasa ragu dia yakin jika aku akan menjadi sesuai yang diinginkan nenek. Jika bisa aku ingin menjawab perasaannya dengan perasaan yang sama. Tapi, sejak dia menceritakan tentang Tigerwolf itu, aku merasakan gelisah dihatiku. Walaupun begitu, untuk Radia, Claire, dan nenek yang sekarang sedang terbaring, aku akan melakukan yang terbaik dengan nyawaku ini.
Aku menggenggam tanganku dan tersenyum kepada Radian.
“Aku akan melakukan yang terbaik!”
**
Pasukan iblis sekarang masih berada agak jauh dari gerbang barat tapi tetap maju dengan pasti, sekitar 1 jam lagi pertempuran akan dimulai. Sebelum dimulai aku ingin menenangkan jantungku dan pikiranku dengan duduk dan melihat kearah tanah. Saat Radian puas dengan jawabanku tadi, dia langsung pergi untuk berkumpul dengan ksatria yang lain.
“Semua penyihir bersiap!”
Hah!? Kenapa tiba-tiba!?
Saat kukira aku masih punya waktu untuk istirahat sejenak, tiba-tiba kapten pasukan penyihir memberikan komando. Saat aku berdiri untuk melihat apa yang terjadi ternyata pasukan iblis meningkatkan kecepatannya dan berlari menuju ke ibukota.
Penyihir yang ada disekitarku mengangkat tongkatnya dan bersiap untuk melontarkan sihir. Karena aku tidak punya tongkat sihir aku hanya perlu mengangkat tanganku keatas. Kemudian banyak penyihir yang memberikanku tatapan terkejut.
Kenapa?
“Hei kau, dimana katalismu?” Salah satu penyihir bertanya kepadaku.
Katalis itu salah satu alat sihir untuk memudahkan kita menggunakan mana. Bisa berupa tongkat, kristal, aksesoris dan lainnya. Tapi aku diberitahu nenek kalau mayoritas katalis yang ada tidak cocok denganku dan nenek akan meminta seseorang untu membuatkannya. Tapi entah lupa atau bagaimana, sampai sekarang belum ada berita lanjutan dari nenek. Aku juga merasa nyaman tidak menggunakan katalis dan juga tidak pernah melihat nenek menggunakan katalis jadi aku tidak masalah sama sekali.
“…Aku tidak punya.”
Saat aku dengan jujur berkata aku tidak punya. Penyihir-penyihir itu terlihat terkejut. Tapi sebelum mereka bisa bertanya lebih lanjut, kapten kami memberi aba-aba.
“Sesuai aba-aba tembak fireball raksasa secara bersamaan!“Teriak kapten.
Penyihir-penyihir mengeluarkan lingkaran sihir jauh diatas kepala mereka dan mengeluarkan bola api yang besar begitu juga denganku. Jumlah penyihir yang ada diatas benteng hanya beberapa ratus karena sisanya membantu mengungsikan penduduk kearah selatan. Meskipun begitu ini sudah cukup banyak dan jika lebih banyak dari ini bisa saja masing-maisng sihir kamu malah menganggu penyihir lain.
Walau situasi tampak putus asa tidak menjadi alasan kami menyerah. Wajah para penyihir disekitarku sangat kaku seiring berjalannya waktu menunggu aba-aba.
“Tembak!”
Woosh!
Ratusan bola api raksasa meluncur kearah pasukan iblis dengan cepat. Bola apiku juga mampu tertembak serasi dengan yang lain. Aku sempat khawatir kalau aku akan menjadi pengganggu tapi jika begini aku juga bisa ikut dengan baik.
“Jangan berhenti! Teruskan tembakan!” Kapten penyihir kembali mengeluarkan bola api raksasa dengan bantuan tongkatnya. Seakan tidak cukup dengan satu bola api, dia mengeluarkan beberapa bola api lagi dan menembakkannya kearah pasukan iblis.
Aku juga mengikutinya begitu juga penyihir-penyhir yang lain. Aku mengeluarkan bola api yang lebih banyak dan menembakkannya.
Kemudian aku mendengar suara kapten penyihir yang lain.
“Penyihir cahaya, buat pelindung untuk melemahkan iblis yang masuk!”
Di beberapa menara benteng terdapat 5-6 orang penyihir yang berpakaian putih dan merapalkan sesuatu di atas lingkaran sihir. Beberapa saat setelah itu keluar kubah besar diatas kami yang mencakup seluruh penyihir dan ksatria yang ada di depan gerbang.
Beberapa binatang sihir dan iblis yang lolos dibunuh oleh kstria ksatria yang sudah berjaga. Karena pasukan iblis yang begitu banyak, pasukan ibukota tidak bisa seenaknya menyerang pasukan iblis. Dikala seperti ini, tentara bayaran sangat berguna untuk menjadi pasukan tambahan untuk menyerang balik tapi tidak terlalu jauh.
“Haah…Haah….”
Sekitar 3 jam sudah berlalu sejak penembakan pertama dan beberapa penyihir-penyihir lain tampak kelelahan. Kapten penyihir yang memberi aba-aba juga sudah menunjukkan tanda kelelahan.
Apa? Kenapa cepat sekali?
Aku yang terus mengeluarkan sihirku tanpa henti belum merasakan kelelahan karena kehabisan mana, sedangkan penyihir yang lain sudah merasa kelelahan. Beberapa bahkan sudah mulai jatuh dan berusaha mengambil napas. Penyihir yang sudah kelelahan digantikan oleh yang baru dan meneruskan tembakan agar pasukan iblis yang melewati pelindung cahaya tidak terlalu banyak.
Duk!
Sekarang tidak hanya binatang sihir dan iblis lemah yang masuk tapi juga monster raksasa ogre juga masuk. Pasukan penyihir yang kumasuki bertugas untuk mengikis pasukan iblis yang belum masuk kedalam pelindung cahaya, jadi membunuh ogre yang sudah terlanjur masuk buan tugasku lagi. Namun tugas penyihir yang ada dibawah bersama ksatria.
“Tembak jatuh burung iblis yang datang!”
Aba-aba selanjutnya datang kepada para penyihir.
“Jangan biarkan mereka masuk kedalam ibukota!”
Beberapa penyihir dari pasukanku termasuk aku berganti tipe sihir untuk menjatuhkan burung iblis dan binatang sihir yang terbang.
Penyihir lain mengeluarkan lingkaran sihir dan aku yang secara manual mengumpulkan mana menembakkan sihir kami. Ada beberapa yang dapat menghindar tapi mayoritas bisa dijatuhkan. Mereka yang lolos, tanpa jeda langsung ku tembakjatuh dengan es. Saat serangan udara berkurang aku kembali menembakkan sihir ke pasukan iblis yang ada didarat. Saat serangan udara kembali ramai aku kembali menjatuhkan mereka. Siklus itu berputar terus menerus sampai penyihir disektiarku yang kelelahan melihatku terkesan.
“Bagaimana bisa….dia mengeluarkan sihir seperti itu tanpa katalis?”
“Penampilannya bahkan terlihat lebih muda dari lulusan Imperial Academy.”
Suara seperti itu terus masuk ketelingaku walau aku tidak mau.
“Pasukan iblis semakin ganas! Semua pasukan, terus berjuang sampai akhir!”
Kapten ksatria meneriakkan hal itu sambil menebas beberapa kepala ogre secara bersamaan. Aku yang melihat hal itu terkesan dengan kemampuan berpedangnya.
“Pasukan iblis yang terlihat masih tersisa 20.000!” Seru kapten sihirku.
Sudah 5 jam berlalu dan aku juga sudah mulai merasa lelah. Saat aku akan mengeluarkan sihir lagi untuk membunuh ogre yang akan masuk kedalam pelindung cahaya, sebuah tangan menggapai pundakku.
“Kamu gila. Anak umur 15 belas tahun mana yang bisa mengeluarkan sihir terus menerus selama 5 jam sepertimu. Walaupun kamu tampak kelelahan, aku tidak melihat ada sihir yang meleset sampai saat ini.”
Suara itu sangat familiar terdengar olehku. Suara yang ingin kudengar semenjak aku pulang ke ibukota, suara yang memberiku ucapan selamat tidur setiap malamnya, suara yang selalu berisi dengan makna dalam hidupku, suara yang memberiku motivasi sejak aku keluar dari daerah kumuh, dan suara yang sepat kurasa akan hilang untuk selamanya ada dibelakangku.
Aku membalikkan tubuhku kearah belakangku.
“Nenek!”
Ada nenek disana.
ckck, nama nya kereeen thor