Penderitaan dan rasa sakit selalu membuatnya harus bertahan hidup. Walaupun dirinya diabaikan oleh kedua orang tuanya. Hingga suatu hari dirinya dihamili oleh pria yang telah menganggapnya wanita murahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Soniarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Baru
"Dia siapa, Bik?" tunjuk Alana ke arah Alex yang sedang memperhatikannya.
'Buset, aku ketahuan lagi,' batin Alex sambil menggaruk tekuknya yang tidak gatal.
Bik Wati menoleh dan menyadari bahwa orang yang menolongnya masih berada disana. Hampir saja Bik Wati lupa. Bik Wati belum sempat juga mengucapkan terimakasih.
"Oh... itu orang yang menolong Bibik, Non. Dia baik sekali, Non. Sudah mau menolong Bibik membawa Non kerumah sakit," ungkap Bik Wati.
"Tuan, silahkan masuk. Tidak papa kan Non, orang itu masuk?" sambung Bik Wati menyuruh Alex masuk.
Alana mengangguk mengiyakan permintaan Bik Wati. Bagi Alana itu tidak masalah, selagi orang itu bukan orang jahat. Alana juga akan mengucapkan terima kasih kepada pria itu. Karena sudah mau menolong Bik Wati.
Dengan perasaan canggung Alex masuk keruangan itu. Entah mengapa, Alex merasa sangat gugup. Padahal selama ini Alex tidak pernah merasakan segugup ini.
"Ayo sini, Tuan. Silahkan duduk disini, Tuan," sambut Bik Wati sambil menepuk kursi yang berada di sebelah tempat duduknya.
"Terima kasih, Bu. Maaf saya menganggu kalian jadinya," ucap Alex merasa tidak enak hati.
"Tidak papa, Tuan. Malahan kami yang tidak enak hati dengan anda, Tuan," sahut Bik Wati dengan senyuman yang mengembang.
Alex dan Alana saling melempar pandang. Namun Alana, hanya melihat Alex sebentar saja. Berbanding terbalik dengan Alex yang menatap Alana dengan tatapan kagum.
Biasa jika matanya melihat wanita yang bening-bening, matanya tidak akan berkedip. Yah, Alex mengakui jika Alana sangat cantik. 'Shit! Cantik banget nih orang,' batin Alex menelan ludahnya sendiri menganggumi kecantikan Alana.
Alex bahkan bisa melihat bahwa Alana berbeda dengan yang lain. Selama ini, Alex bertemu dengan wanita yang dipoles dengan make up.
Hanya kali ini saja, Alex melihat wanita tanpa make up. Tetapi cantiknya luar biasa bisa mengalahkan wanita diluaran sana. Alana mempunyai wajah yang cantik alami tanpa balutan make up.
'Tidak make up saja, Nona ini sangat cantik sekali. Apalagi di make up pasti semua pria akan berebutan untuk mendapatkan hatinya,' batin Alex lagi yang tidak bosan-bosannya memuji kecantikan Alana.
Alana yang ditatap seperti itu memalingkan wajahnya. Alana kurang pede jika dilihat orang asing tanpa kacamata. Sedangkan Bik Wati yang tahu jika Alana kurang nyaman berusaha mencari topik pembicaraan.
"Khem," dehem Bik Wati. "Maaf, Tuan. Sebelumnya saya mengucapkan sangat berterima kasih kepada anda, Tuan. Dan ucapkan salam saya kepada teman Tuan yang satunya lagi. Jika tidak ada kalian berdua, mungkin saya sudah kehilangan, Non Sinta," sambung Bik Darmi.
"Iya sama-sama, Bu. Kita sebagai manusia harus saling tolong menolong. Oh, iya. Kita belum berkenalan sejak tadi, Bu. Perkenalkan, saya Alex. Kalau Ibu?" jawab Alex lalu memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya
"Saya, Susilawati. Panggil saja, Bik Wati," jawab Bik Wati sambil menerima uluran tangan Alex.
"Kalau, Nona. Namanya siapa?" tanya Alex.
"Saya Alana, Tuan," jawab Alana dengan nada sopan.
"Nama yang bagus seperti orangnya," timpal Alex.
"Tuan, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada, Tuan. Karena mau menolong, Bik Wati dan menolong saya," sambung Alana.
Alex tersenyum, ada rasa bahagia dihatinya. "Iya sama-sama, Nona. Sudah jangan mengucapkan terima kasih terus. Sekarang yang terpenting kamu harus sembuh, Alana. Kasihan tadi, Bik Wati sangat mengkhawatirkanmu," jawab Alex berusaha mencairkan suasana.
"Benarkah, Tuan?" tanya Alana ada rasa bahagia dihatinya ternyata masih ada yang sangat menyanyanginya.
"Benar, Nona. Bahkan Bik Wati hampir tertabrak saat hendak menyebrangi jalan," jelas Alex.
"Apa! Bik Wati tidak papa kan? Bik Wati baik-baik saja kan?" tanya Alana yang mulai panik.
Bik Wati langsung memeluk Alana. Ia mulai terisak begitupun juga dengan Alana. "Hiks... Bik Wati tidak papa, Non. Benar kata, Tuan Alex. Non Alana, harus sembuh ya. Bik Wati mau lihat Non Alana sembuh dan menjadi wanita yang kuat. Agar Non Alana tidak gampang ditindas. Hiks...," lirih Bik Wati.
Bik Wati tidak bisa membayangkan lagi dengan apa yang terjadi dengan Alana. Bik Wati menyalahkan dirinya yang tidak bisa membela Alana.
Andai saja tadi Bik Wati kekeh membela Alana. Jadi Alana tidak akan merasakan apa yang membuatnya hampir kehilangan nyawanya.
Andai waktu bisa berputar, Bik Wati tidak akan pernah membiarkan Alana disiksa seperti itu. Biarkan saja ia yang merasakan apa yang dirasakan oleh Alana.
Bik Wati benar-benar tidak sanggup melihat Alana seperti itu. Namun, di sisi lain juga Bik Wati tidak ingin kehilangan pekerjaannya.
'Maafkan Wati, Non. Yang tidak bisa menolongmu disaat nyawamu terancam,'batin Bik Wati hingga ia menangis histeris.
Alex yang menyaksikan itu bisa merasakan bahwa pembantu dan anak majikan ini sangat dekat sekali. Alex terharu melihatnya.
Tatapan Alex jatuh kepada leher Alana. Ia teringat tentang bekas cekikan itu. 'Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Nona ini?' batin Alex bertanya-bertanya.
"Maaf, Tuan. Anda harus melihat kami mewek seperti ini," ucap Bik Wati setelah mereka berdua berhenti menangis.
"Tidak apa-apa, Bu. Sudah hal biasa bagi saya," jawab Alex.
"Bik, perutku lapar sekali," ucap Alana yang merasa perutnya sangat lapar. Karena ia tidak pernah memakan apapun dari tadi kemarin hingga sore ini.
"Waduh, Non. Bibik tidak membawa uang, Non. Astaga, pasti biaya rumah sakit ini juga mahal," jawab Bik Wati mulai panik. Pasalnya ia belum sama sekali menerima gaji bulan ini. Dan gajinya bulan kemarin sudah dikirim semua.
"Kalau begitu, kita pulang saja, Bik. Alana juga tidak punya uang buat bayar rumah sakit ini," timpal Alana dengan nada lesu. Perutnya sudah sangat perih sekali.
"Tenanglah, untuk biaya rumah sakitnya tidak perlu dipikirkan. Biar saya aja yang tangani," timpal Alex merasa prihatin dengan interaksi pembantu dan majikan ini.
"Tidak usah, Tuan. Kami sudah banyak merepotkan, Tuan. Biar nanti saya pikirkan biayanya," jawab Bik Wati menolak tawaran Alex. Bik Wati tidak mau merepotkan orang lain lagi.
"Benar itu, Tuan. Biar saya pulang saja, Tuan. Saya juga sudah sembuh kok," jawab Alana lalu hendak beranjak dari kasurnya.
"Eh, jangan-jangan. Kalian tidak perlu membayarnya karena sepupu saya yang mempunyai rumah sakit ini. Nona, juga belum diperbolehkan untuk kembali kerumah dulu. Nona harus menjalani rawat jalan selama beberapa hari kedepan," ucapnya.
'Ha? Jadi dia? Pantas saja banyak yang menyambut kedatangannya. Jangan-jangan, sepupunya pria yang satunya lagi!' batin Bik Wati kaget bukan main. Ternyata yang menolongnya orang yang terpandang.
"Ya, Tuhan. Anda sangat baik sekali, Tuan. Terima kasih banyak, Tuan," ucap Bik Wati membungkukkan badannya.
"Iya sama-sama," jawab Alex dengan senyuman mengembang. "Tadi kata, Nona lapar? Kebetulan saya juga sedang lapar biar saya belikan makanan untuk kalian juga," sambungnya.
"Eh, tidak perlu, Tuan. Saya hanya bercanda tadi," sela Alana. Sudah cukup Alex membantunya. Ia tidak mau merepotkan Alex lagi.
"Tidak papa, anggap saja ini saya teraktir kamu cantik. Karena kamu sudah berjuang untuk tetap bertahan hidup. Oh iya, jangan panggil aku Tuan. Panggil saja Alex,"
"Ha? Tidak mungkin saya memanggil nama Tuan saja. Bagaimana jika aku memanggilnya Kak Alex?" tanya Alana.
"Bagus juga, aku setuju. Kalau begitu sekarang kita berteman kan?" tanya Alex sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
"Iya, kita berteman, Kak Alex. Akhirnya aku punya Kakak laki-laki juga," jawab Alana langsung menyambut jari kelingking Alex.
"Hahaha...," tawa Alex dan Bik Wati hampir bersamaan.
Bik Wati merasa sangat bahagia. Akhirnya Alana yang ceria telah kembali lagi.
mana lagi kelanjutan nya ceritanya Thor