Indonesia
NovelToon NovelToon
Tsundere

Tsundere

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Valfitrah

Ini bukan kisah antara pria dingin dengan wanita kepribadian ceria. Tetapi ini adalah kisah percintaan suami-istri yang bersifat Tsundere

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valfitrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuh Tahun yang Lalu

"Excuse me Lady..."

Kaila mendongakkan kepala melihat pria bertopeng putih tepat di depannya. "Who are you?"

"Saya Will, teman dari Ellan. Ellan bekerjasama dengan saya di sini," ucap Will dengan mahir berbahasa Indonesia seraya mengulurkan tangannya dengan sedikit membungkuk. Namun Kaila tidak membalas uluran tangan pria itu.

"Ah ternyata anda bisa bahasa Indonesia. Salam kenal..."

Willis menurunkan tangannya. "Nama anda Kaila bukan?"

"Iya... Bagaimana anda bisa tahu?" Kaila masih sedikit ragu kenapa pria ini tak asing baginya. Sangat familiar. Apa mungkin kebetulan hanya mirip saja?

"Ellan yang memberitahu. Sepertinya kalian sangat dekat."

"Bukannya itu wajar. Dia suami saya," tegas Kaila.

Pria itu terdiam sejenak. Ia duduk tepat di samping Kaila kemudian membisikkan sesuatu.

Kaila menjatuhkan ponselnya dan mundur secara perlahan. Nafasnya terasa sesak seperti ada yang menusuk jantungnya.

Pria yang ingin ia lupakan selama 7 tahun sekarang muncul begitu saja di hadapannya.

"Kenapa kamu nikah sama pria yang gak bisa bahagiain kamu, Kaila?"

"Bim... Aku mohon, jangan ganggu kehidupanku lagi. Aku cuman mau hidup nyaman dengan Ellan," lirih Kaila kesal bercampur takut.

"Kenapa? Bukannya kita dulu saling mencintai?"

"Aku udah buang semua perasaan itu dan jangan muncul di hadapanku lagi!"

Pesta yang terasa menyenangkan itu tiba-tiba berubah menjadi senyap. Semua mata memandang ke arah mereka. Walaupun bangsa Eropa tidak mengerti apa yang mereka katakan. Tapi tetap saja suaranya terdengar seperti bertengkar.

"Kita mulai semua dari awal ya?" sembari tersenyum, Willis memegang pundak Kaila seakan tak merasa bersalah."

"Dasar gila!"

....

Beberapa menit sudah berlalu sejak Ellan bercakap-cakap dengan Matt. Namun perasaaannya gelisah meninggalkan Kaila sendiri di sana.

"Matt, apa boleh beri tanda tanganmu langsung?"

"Memangnya ada apa?"

"Istriku sendirian di sana. Dia tidak terlalu mengerti bahasa Inggris. Aku takut tiba-tiba dia kebingungan dan pergi mencariku."

"Istrimu seorang jaksa, Lan. Dia pasti mengerti apa yang harus dilakukannya."

"Tapi Matt aku jadi bingung kenapa sikapmu seperti seolah-olah menahanku di sini? Padahal sejak tadi kita bisa percepat pertemuan kita."

"Santai-santai... Sedikit pun aku tidak ada niat menahanmu di sini. Kalau kamu mau kerjasama kita lancar, harusnya kamu bisa nunggu Will sampai dia kemari."

"Tidak. Nanti saja. Kalau tidak aku bawa istriku kemari," tegas Ellan.

"Ohh baiklah silahkan..."

Merasa khawatir terjadi sesuatu, Ellan mempercepat langkahnya menuju ke sana. Namun Ellan terlambat, Kaila tidak lagi berada di tempat yang sama.

Ellan mengelilingi ruangan tersebut dan bahkan salah mengenali istrinya. Karena pakaian serta topeng yang dikenakan gadis itu hampir mirip dengan Kaila. Namun sepertinya Kaila tidak lagi berada di sana. Artinya dia sudah pulang atau tidak, berpindah tempat. 

Kalaupun Kaila sudah pulang, sudah pasti dia akan mengabari Ellan. Ini yang membuat Ellan jadi semakin khawatir dengan keadaan gadis itu.

Sudah berapa kali Ellan menelepon, tetapi Kaila tidak juga mengangkat panggilannya. Bahkan pesan juga tidak dibalas.

"Kak Ellan."

Ellan menoleh ke belakang ketika mendengar suara Kaila yang terdengar lemah.

"Kaila? Kamu dari mana saja?"

Tidak menjawab pertanyaan Ellan, Kaila malah menghampiri pria itu dan memeluknya dengan erat.

"Maaf ya... Pasti kakak lelah mencariku," lirih Kaila sambil meneteskan air mata.

Ellan menuntun langkah Kaila untuk duduk di kursi tepat di belakang mereka. Untungnya tempat itu sepi, jadi Kaila bebas untuk menangis di sana.

"Kamu kenapa hm? Kenapa nangis?"

"Aku takut di sini kak... Ayo kita pulang aja!"

Raut wajah Kaila memang berubah ketakutan. Tangannya gemetaran, air matanya terus mengalir walaupun ia tidak menginginkannya. Akhirnya Ellan memutuskan untuk membawa pulang Kaila ke apartemen.

Beberapa saat telah berlalu, Ellan mungkin sudah mengelilingi kamar sebanyak dua puluh kali. Perasaan khawatir dan kesal bercampur aduk. Pasalnya Kaila tidak mau berbicara sedikit pun apa yang terjadi padanya.

Namun melihat kekhawatiran Ellan pada dirinya, Kaila menjadi merasa bersalah. Gadis itu memilih duduk di ranjang dan mengusap air matanya.

"Waktu SMA aku punya teman pria yang kusukai..."

Ellan menoleh. Kaila mulai menceritakan kejadian masa lalu yang sempat ia alami di hari itu.

...

Kaila POV

"Lalaaa!"

Aku menoleh kearah teman-temanku yang memanggil. Dulu aku terkenal sebagai murid ambisius dan ramah jadi banyak sekali orang-orang yang ingin mendekatiku.

Termasuk si anak blasteran yang terkenal tampan dan kaya. Walaupun begitu, dia tidak punya banyak teman karena sikapnya yang seenaknya. Sebagai ketua kelas aku disuruh untuk mendekatinya dan membantu dia belajar.

"Kamu punya contekan untukku?" ucapnya seraya tersenyum.

Itu adalah kata pertama yang ia ucapkan padaku saat kami mulai berkenalan untuk pertama kalinya.

Dan kujawab "Ya."

Saat itu aku selalu berusaha memperingatinya untuk tidak bolos dan menyakiti siswa lain. Namun sepertinya ia tidak terlalu menanggapi. Walaupun sebenarnya dia kesal dengan ocehanku setiap harinya, tapi ia tetap berusaha mendekatiku.

"Kaila... Aku punya cokelat."

"Cokelat?" Tanyaku.

"Untukmu. Makasih ya udah kasih aku contekan."

Begitu seterusnya. Dia selalu membelikanku sesuatu yang kusuka setelah selesai mengajarinya.

Aku berpikir setelah beberapa bulan mengenalku sikapnya juga berubah jauh menjadi yang lebih baik. Namun ternyata aku salah, ini kesalahan besarku terlalu cepat menilainya.

Kami berpacaran selama satu tahun. Sampai dimana dia mengajakku untuk pergi seusai pulang sekolah ke atap.

"Kaila, kamu tahu nggak ini hari apa?" ucapnya dengan ceria.

"Hari Kamis?" tanyaku balik.

"Bukan-bukan. Ini tuh hari anniversary kita yang ke satu tahun!"

Dia mengeluarkan sebuah kotak yang berisikan kalung. Kupikir aku terlalu keterlaluan karena tidak mengingatnya.

Walaupun sikapnya terlalu obsesif aku menyukainya, mungkin karena kami masih labil. Sampai aku lupa kalau orangtuanya pernah mengatakan kalau ia mempunyai penyakit mental tapi tidak diberitahu detailnya.

"Aku udah kasih hadiah buat kamu. Kamu nggak kasih aku hadiah?"

"Oh iya aku lupa. Gimana kalau kita beli hari ini juga?"

Dia menghela nafas. Kemudian mengeluarkan tatapannya yang mengintimidasiku.

"Kamu marah? Maaf ya..." lirihku ketakutan.

"Iya aku marah! Kenapa setiap cowok datang ke kelas dan menyapamu?!"

"Tapi mereka cuman nyapa..."

"Tapi aku gak suka! Aku gak suka liat kamu sama cowok bahkan cewek sekalipun!"

Baru kali ini aku melihat sifat gilanya keluar. Dia mendorongku sekuat tenaga hingga tersungkur. Kemudian ia mensejajarkan tubuhnya denganku yang terbaring dengan posisi dirinya di atas tubuhku.

"Kamu mau ngasih aku hadiahkan?" Aku mengangguk ketakutan. "Kita bisa bercinta disini."

Aku terbelalak kaget dan refleks mendorongnya kuat. Ku layangkan satu tamparan keras padanya. "Kamu gila?! Kita masih sekolah."

"Itu kan! Kamu gak suka samaku Kai... Kamu suka cowok-cowok gila yang nyapa kamu di luar sana."

"Aku bisa ngasih kamu apa aja, tapi aku gak bisa lakuin itu, Bim."

Dia terdiam dan melangkah mendekatiku.

"Jangan dekat-dekat! Kalau nggak aku bakal teriak."

"Teriak aja. Memangnya bakal ada yang ngedengar kamu?"

"To-- mppp"

Aku belum sempat berteriak memanggil, karena dia menutup mulutku kuat dengan tangannya. Menamparku dan melecehkanku dengan tangannya.

Di kantongnya seperti jarum suntik yang entah dari mana dia dapat. Aku lupa, kalau hal-hal seperti itu mudah di dapatkannya karena orangtuanya dokter yang bekerja di luar negeri. Dia menyuntikkan cairan penenang sampai pandanganku kabur.

Tapi sebelum hilang kesadaran, aku sempat melihat seorang pria, dia memakai seragam satpam entah dia satpam atau tidak, aku juga tidak tahu. Setelah itu terjadi, aku tidak tahu apa yang terjadi bahkan kepindahannya ke luar negeri.

Mendengar semua kejadian yang dialami Kaila, membuat Ellan mengepalkan tangannya kuat. Ellan memukul kuat dinding yang berada di dekatnya hingga berdarah. "Siapa namanya?!"

"Aku nggak bisa kasih tahu..."

Ellan mencengkeram kuat bahu Kaila. "Dia udah ngelakuin itu ke kamu dan kamu masih ngelindungi dia?!"

"BUKAN! KALAU AKU TAU KAMU KAYAK GINI AKU GAK BAKAL CERITA DARI AWAL!"

Ellan melepas cengkeramannya setelah Kaila menangis. Seharusnya memang Ellan menyemangati, bukan meluapkan emosi.

"Aku nggak mau kamu terlibat masalah dengan dia..."

Ellan mengendalikan segala emosi yang tadinya meluap-luap kemudian memeluk Kaila dan menaruh kepala gadis itu ke dalam dekapannya. "Maaf..., Tapi kamu nggak usah khawatir, kita bisa selesaikan ini pelan-pelan."

1
Piece One
Alurnya seru kasih bintang lima 🤩
Tapi masih banyak yang typo thor
Mawar_Jingga
semangat kak💪💪💪
aprillia97
ditunggu kelanjutannya Thor 💪
Moonlight: Siap, makasih!
total 1 replies
aprillia97
semangat up Thor 💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!