wanita miskin yg biasa-biasa saja tiba tiba jadi putri bangsawan?
violenne lavienna arabelle wanita biasa berusia 29 tahun,yg bekerja di kota Nanterre,Paris.
Dia adalah wanita yg tidak mendapatkan peran keluarga,dan tidak tahu apa itu 'pulang' dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya yaitu memiliki keluarga yg harmonis.
usahanya sedikit lagi akan membuahkan hasil tapi...takdir berkata lain.dia tiba tiba saja mati,bukan tertabrak,bukan tertembak,bukan juga tertusuk,lalu apa?
semuanya terjadi begitu cepat,tanpa ada yg menyadari,ia sendiri juga tidak tahu apa yg sedang terjadi pada dirinya,lalu apakah hidupnya akan berakhir begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon stella bluebell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Teman Di Akademi
Setelah berbagai kejadian beberapa hari terakhir, akhirnya hari pertama sekolah dimulai.
Aku ditempatkan di kelas tingkat terendah karena akademi menganggapku memiliki mana tingkat nol setelah bola kristal pengukur mana pecah saat kusentuh. Murid dengan mana tingkat 0–3 ditempatkan di kelas bawah, tingkat 4–6 di kelas menengah, sedangkan tingkat 7–10 berada di kelas atas. Sungguh konyol. Bukankah ini termasuk bentuk diskriminasi? batinku.
Saat aku masih memikirkan hal itu, seorang wanita berambut cokelat memasuki kelas. "Perkenalkan, namaku Elena Welfrend. Aku guru pendamping kelas ini. Kalian boleh memanggilku Profesor Elena." Ia kemudian menjelaskan sistem guru pendamping yang akan membimbing murid hingga lulus, sesuatu yang berbeda dari sekolah di kehidupanku dahulu. Setelah itu, ia meminta kami memperkenalkan diri satu per satu. "Namaku Iris Vivionne Danwveil." Baru hari pertama saja sudah membuatku lelah. Rupanya seekor kecebong ikut terbawa arus ke kelas ini, batinku. "Aku Lilyana Velioren de Silveth." "Namaku Serena Varniora Zoravelle." "Aku Mia Nebulys! Dan aku adalah gadis paling imut di kelas ini!" Masa? Ada juga orang yang percaya diri seperti itu. Aku hanya menahan tawa sampai akhirnya namaku dipanggil terakhir. "Namaku Celestia Lunastella Celesthior. Senang bertemu dengan kalian. Mohon bantuannya." Setelah kembali duduk, aku berusaha mempertahankan moto hidup damaiku, meskipun beberapa pasang mata terus memperhatikanku.
Saat makan siang, aku memilih tetap di kelas karena Emile sudah menyiapkan bekal. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
"Hei, kau sangat menghalangi pemandangan, dasar anak terkutuk." Suara Iris langsung membuatku kesal."hey anak terkutuk bicara lah!" *plak!
Sebelum aku sempat berdiri, Lilyana lebih dahulu maju. "K-kau tidak boleh bersikap kasar di akademi." Iris menyeringai. "Putri ketiga Kerajaan Silveth? Kau hanya putri lemah. Berani sekali melawanku." Ia mengangkat tangan hendak menampar Lilyana.
Namun Aku bergerak lebih cepat. Plak! Tamparanku justru mendarat Lebih cepat di pipi Iris. Aku sendiri terdiam. Aku sebenarnya hanya ingin menghentikannya, tetapi tanganku sepertinya memiliki kehendak sendiri. "Apa maksudmu menamparku?!" teriak Iris. Aku tersenyum ramah. "Wah. Aku baru saja berhasil menampar seekor kecebong yang hendak menampar seorang putri kerajaan. Apakah aku akan mendapatkan penghargaan...?" Wajah Iris memerah. "Aku hanya ingin memberi pelajaran kepada Putri Lilyana, karena telah menyela pembicaraan." "Memberi pelajaran? Bukankah gadis yang baru saja mengangkat tangan untuk menampar gadis lain seharusnya tidak berbicara tentang sopan santun?" Aku menatapnya tenang. "Yang kulihat bukan percakapan. Itu hanya seseorang yang menggunakan kekuatannya untuk menindas orang yang tidak melawan."
Suasana kelas langsung sunyi. Iris kemudian kembali menyerang Chloe Valldarre dengan menyebutnya anak terkutuk. "Setelah dia lahir, seluruh keluarganya mati. Orang-orang yang dekat dengannya akan mati." "Kutukan itu tidak nyata!" bantah Lilyana. Aku tersenyum tipis. "Kalau kau menganggap itu kutukan, berarti kau juga menganggap Nona Kiara sebagai anak terkutuk." Tepat saat itu, Kiara muncul di pintu. "Jadi... kau juga berpikir seperti itu, Iris?" Setelah mengucapkannya, Kiara langsung pergi. "I-Kiara!" Iris buru-buru mengejarnya.
Setelah keadaan kembali tenang, aku menghampiri Chloe. "Kalau tidak salah, namamu Chloe, bukan?" Ia mengangguk. "Terima kasih sudah membantuku hari ini,aku tidak tahu harus membalasmu bagaimana..." Aku tersenyum. "Kalau begitu, bagaimana kalau kau menjadi temanku sebagai balasannya? Eh, tentu saja hanya kalau kau mau." Chloe tampak terkejut sebelum akhirnya mengangguk. "Aku mau." Aku kemudian menoleh kepada Lilyana. "Putri Lilyana, bagaimana denganmu?" Setelah ragu sejenak, ia menjawab, "Apakah... boleh?" "Tentu saja." Lilyana tersenyum lebar. "Kalau kalian tidak sibuk, bagaimana kalau sepulang sekolah kita mengadakan pesta teh di halaman akademi?" Aku dan Chloe menyetujuinya.
Sepulang sekolah, kami bertiga berkumpul di halaman akademi untuk mengadakan pesta teh sederhana. "Karena kita sudah menjadi teman, bagaimana kalau kita memperkenalkan diri dengan lebih lengkap?" Lilyana memperkenalkan dirinya sebagai putri ketiga Kerajaan Silveth dengan sihir cahaya bintang dua. Chloe adalah putri keluarga Count dengan sihir tanah bintang tiga dan hobi membaca. Saat giliran mereka menatapku, aku berkata, "Aku Celestia Lunastella Celesthior, putri ketiga keluarga Viscount Celesthior. Sihirku... mungkin elemen air." Lilyana tampak bingung. "Apakah kau belum menjalani pembaptisan?" "Bukan-","Baiklah aku paham..."
Sepertinya ada kesalahpahaman yang cukup besar di sini, batinku.
Di tengah percakapan, terdengar suara pedang kayu tak jauh dari tempat kami berada,Clang! Clang! Karena penasaran, aku dan Lilyana pergi melihatnya,hanya melihat loh, bukan mengintip. "Aku tahu kalian ada di situ," terdengar suara seorang gadis dari balik lapangan. Kami pun keluar dari persembunyian. "Kalau tidak salah..., namamu....Serena.., bukan?" tanyaku. "Benar." Aku memiringkan kepala. "Bukankah kau..pengguna sihir...? Kenapa berlatih pedang?" Serena tersenyum tipis. "Aku hanya memiliki mana tingkat satu,bahkan hampir nol. Kalau ingin bertahan di akademi, aku tidak punya pilihan selain mempelajari ilmu pedang." Gerakannya saat mengayunkan pedang terlihat sangat indah meskipun mana yang dimilikinya rendah. Aku tanpa sadar menatapnya dengan mata berbinar hingga ia bertanya, "Kenapa kau menatapku seperti itu?" Aku tersenyum canggung. "Kalau... kau berkenan, maukah bergabung dengan kami?" Lilyana ikut mengajaknya. Serena terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah. Izinkan aku bergabung."
Kami kembali ke tempat pesta teh dan saling memperkenalkan diri. Setelah itu, percakapan mengalir begitu saja hingga matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala.