Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:495
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Penampilan Baru, Tekad Baru

Sinar matahari pagi menembus kaca jendela kamar kos Intan Saputri.

Di atas kasur busa yang tipis, terhampar beberapa potong pakaian baru hasil berburu bersama Mbak Maya di pasar grosir pusat kota semalam.

Bukan lagi kaos kebesaran yang kusam atau baju kain sederhana khas anak desa, melainkan blazer kasual berwarna abu-abu gelap, kemeja berpotongan tegas, dan celana bahan yang memberi kesan profesional.

Intan berdiri di depan cermin tua yang menggantung di dinding kamar.

Hari ini, ia akan mengambil langkah lebih jauh dalam perburuannya.

Maya telah memberinya lampu hijau: dari hasil pemantauan berkas dan info lapangan katering, ada sebuah pameran properti dan material konstruksi besar yang akan diadakan di pusat konvensi kota akhir pekan ini.

Acara itu adalah tempat berkumpulnya para kontraktor, pengembang, dan pencari investor—lingkungan yang menjadi kolam berburu utama bagi penipu kelas kakap seperti Rian.

Namun, untuk masuk ke tempat itu dan menggali informasi tanpa menimbulkan kecurigaan, Intan tidak bisa lagi berpenampilan seperti staf katering serabutan atau gadis desa yang mudah canggung.

Ia harus membaur. Ia harus menjelma menjadi bagian dari dunia mereka.

Intan meraih botol pelembab dan riasan tipis yang diajarkan Maya untuk menggunakannya.

Dengan jemari yang kini terlatih dan mantap, ia memoles wajah mungilnya.

Ia menyamarkan rona lugu di pipinya, mempertegas garis alisnya, dan memoleskan lipstik berwarna nude yang memberi kesan dingin namun elegan.

Rambut sebahunya ia tata rapi dengan sedikit gel, memperlihatkan jenjang leher dan garis rahangnya yang kini tampak makin tegas.

Ia mengganti pakaiannya dengan kemeja putih berkerah tinggi yang dipadukan dengan blazer abu-abu gelap.

Saat Intan mendongak dan menatap kembali bayangannya di cermin, dadanya berdesir pelan.

Sosok gadis 23 tahun yang bertubuh mungil dan sering dikira anak SMP yang ketakutan itu telah lenyap sepenuhnya.

Di dalam cermin itu, kini berdiri seorang wanita muda yang tampak anggun, cerdas, dan penuh percaya diri—seorang profesional muda yang tampak mandiri dan tak mudah diintimidasi.

Bip.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Maya masuk.

> Maya: Foto dirimu dan kirimkan ke saya. Saya mau lihat apakah kamu sudah siap.

>

Intan mengambil foto dirinya di depan cermin, lalu mengunggahnya. Tak sampai sepuluh detik, telepon dari Maya langsung masuk.

"Bagaimana, Mbak?"

Tanya Intan tenang.

Di seberang telepon, Maya terkekeh pelan—sebuah tawa puas.

"Luar biasa, Intan."

"Transformasimu hampir sempurna. Penampilan barumu ini memberi dua keuntungan: orang-orang di pameran akan memandangmu sebagai perwakilan bisnis yang sah, dan di saat yang sama, Rian tak akan pernah mengenali bahwa wanita anggun di foto itu adalah gadis desa lugu yang dulu dia tipu lewat layar HP."

"Itu tujuannya"

Jawab Intan, senyum tipis yang dingin terukir di bibirnya.

"Ingat tugasmu hari ini."

Tegas Maya, nadanya kembali serius.

"Pameran properti itu adalah medan latihan pertamamu di dunia nyata."

"Kamu akan masuk menggunakan kartu tanda pengenal pengunjung bisnis yang sudah saya siapkan."

"Tugasmu bukan untuk bertindak gegabah atau mengonfrontasi siapapun."

"Tugasmu hanya mengumpulkan brosur, kartu nama para kontraktor area timur, dan mengamati apakah ada pria dengan ciri-ciri suara atau gaya bicara Rian yang sedang bergerilya di sana."

"Paham, Mbak Maya."

"Saya akan bertindak hati-hati."

"Bagus."

"Jangan biarkan emosimu menguasai kepalamu."

"Ingat, kamu bukan lagi korban yang lemah. Kamu adalah pemburu."

Panggilan terputus. Intan mematikan layar ponselnya, menyiapkannya di dalam tas selempang kulit berwarna hitam yang minimalis.

Buku catatan hitam kecilnya tentu tak lupa ia selipkan di kompartemen rahasia tas tersebut.

Saat melangkah turun menyusuri tangga kos, ibu kos paruh baya yang sedang menyapu lorong bawah sempat menghentikan sapunya.

Wanita tua itu membelalakkan mata, menatap Intan dari atas ke bawah dengan mulut sedikit terbuka.

"Mbak... Intan?"

Tanya Ibu kos ragu, seolah tak percaya dengan penglihatannya sendiri.

"Astaga, Mbak Intan mau ke mana?"

"Pangling sekali... Kelihatan seperti wanita kantoran dari kota besar."

Intan menoleh, memberikan senyuman tipis yang terukur—bukan senyuman pemalu seperti minggu lalu, melainkan senyuman sopan penuh kendali.

"Saya ada urusan pekerjaan di luar hari ini, Bu."

"Mari"

Pamit Intan singkat, lalu melangkah melewati pintu depan kos.

Udara pagi kota menyambutnya. Angin berhembus kencang, menerpa ujung blazer abu-abunya.

Intan melangkah menyusuri trotoar menuju halte bus dengan ritme kaki yang mantap dan kepala tegak.

Orang-orang yang berpapasan dengannya di jalan—para pekerja pabrik, pengemudi ojek, hingga pejalan kaki lainnya—tak lagi memandangnya dengan tatapan meremehkan atau kasihan.

Beberapa di antaranya bahkan menepi, memberi jalan untuk wanita muda yang melangkah dengan aura ketegasan yang kuat ini.

Intan merasakan perubahan itu. Penampilan baru ini bukan sekadar topeng luar, melainkan manifestasi dari tekad baru yang telah mengakar kuat di dalam jiwanya.

Ia telah membuang seluruh rasa minder akan tubuh mungilnya dan ketakutan akan status sosialnya.

Ia telah menanggalkan kepolosan yang naif dan menggantinya dengan kecerdikan yang tajam.

Dua puluh menit kemudian, Intan sudah berdiri di depan gedung pusat konvensi kota yang megah.

Papan reklame elektronik berukuran raksasa membentang di bagian depan gedung, menampilkan tulisan bertinta emas: 'Pameran Konstruksi & Properti Nasional'.

Ratusan orang berjas rapi, membawa tas dokumen, dan lalu lalang di area lobi utama.

Suasana di dalam gedung terasa begitu hidup, profesional, dan sarat akan putaran uang miliaran rupiah.

Intan mengambil napas panjang, merapikan kerah blazernya, lalu melangkah masuk menembus pintu kaca otomatis gedung konvensi.

Saat hawa dingin pendingin ruangan menyapa kulitnya, mata bulat Intan berbinar penuh fokus.

Ia menyapu pandangannya ke sekeliling stan-stan pameran yang megah, meneliti setiap wajah pria yang berdiri mengobrol dengan para investor.

Rian... atau siapapun namamu di dunia nyata, batin Intan seraya menggenggam erat tali tas selempangnya.

Hari ini aku masuk ke dalam duniamu. Kamu boleh bersembunyi di balik ratusan topeng, tapi aku bersumpah, aku yang akan menemukanmu lebih dulu.

Dengan langkah yang anggun namun sarat akan ancaman yang tersembunyi, Intan Saputri mulai menyusuri koridor pameran. Perburuan di tingkat yang sesungguhnya resmi dimulai.

*

*

*

Bagaimana dengan kesinambungan dan tensi di Bab 14 ini? Jika kamu suka jangan lupa like, komen dan subscribe yahh....... ☺️

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!