Adis seorang gadis yang sangat membenci laki-laki, entah apa penyebabnya ia juga tidak tahu.
Yang jelas jika ada laki-laki yang mendekatinya, hati Adis bisa menjadi marah. Dan yang mengetahui penyebab itu adalah ibunya, hingga sang ibu memutuskan menyuruh Adis untuk menikah karena hanya itu jalan satu-satunya.
Meski kata menikah dalam benak Adis adalah 'Aneh' namun akhirnya Adis tetap menuruti permintaan ibunya itu meski ia sendiri ragu untuk menjalankan kehidupan berumah tangga.
Rahasia apa yang di sembunyikan oleh ibunya Adis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak ingat
Keesokan paginya, Adis disibukkan dengan kegiatan nya yaitu memasak untuk sarapan pagi sementara Ibu Sari menyapu halaman depan. Adis hanya membuat nasi goreng saja dengan telur dadar. Mengingat hari ini hari Minggu jadi ia masak yang simpel saja.
"Ibu, sarapannya sudah siap. Ayo kita makan." Ajak Adis pada Ibunya yang tengah duduk di teras depan setelah selesai menyapu.
Ibu Sari pun mengangguk dan masuk ke dalam.
"Nanti jam sembilan kamu ikut Ibu ke Masjid ya." Ucap Ibu Sari sambil mengisi piringnya dengan nasi goreng tak lupa telur dadarnya juga.
"Ada acara apa Bu di Masjid?" Tanya Adis di sela-sela suapannya.
"Pengajian, samalam Bu RT memberitahu Ibu." Jawabnya.
"Adis nggak ikut ya Bu." Tolaknya dengan menampilkan wajah memelasnya.
"Tetap harus ikut, temani Ibu. Jarang-jarang kamu bisa mengikuti pengajian di Masjid." Ujar Ibu memaksa Adis.
Adis hanya cemberut saja. Pengajian memang dilakukan satu bulan sekali dan itu juga tidak tentu harinya karena tergantung si Ustadz yang bisa hadir.
"Ya sudah." Jawab Adis pasrah. Percuma juga ia membujuk ibunya tetap saja wanita paruh baya itu tidak peduli dengan rengekannya.
"Bu, semalam Tuan Bima pulang jam berapa? Kok Adis tidak tahu?" Tanya Adis, baru ingat.
Bu Sari menghentikan suapannya dan meletakkan sendok di piring.
"Kamu beneran semalam tidak ingat dengan yang terjadi padamu Nak?" Bu Sari balik bertanya dengan tatapan seriusnya pada Adis.
"Ibu kenapa bertanya seperti itu. Emang apa yang terjadi pada Adis." Ujarnya bingung.
Ibu Sari menghela napasnya. Benarkah putrinya ini tidak ingat dengan kejadian semalam dimana Adis menangis sesenggukan dan juga berkata sangat membenci Bima yang beraninya datang mengusik kehidupannya yang semula tenang dan damai. Dan setelah mengatakan itu Adis pun pingsan.
Ibu Sari panik melihat putrinya tidak sadarkan diri dan Bima menenangkan Bu Sari agar tidak terlalu khawatir. Bu Sari pun menyuruh Bima untuk membawa Adis ke kamar. Dibaringkan tubuh ramping itu diatas kasur, Ibu Sari mengusap-usap kepala Adis dengan duduk di tepi ranjang sambil bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi pada putrinya ini?
Lalu Bu Sari menyuruh Bima untuk pulang saja meski Bima juga tidak tega meninggalkan gadis pujaannya itu yang kembali pingsan lagi. Dan dengan berat hati akhirnya Bima permisi pulang.
"Tidak apa-apa kok Nak." Jawab Bu Sari sambil tersenyum tidak mau mengatakan yang sebenarnya pada Adis nanti saja ia akan mengatakannya di waktu yang tepat.
"Ibu belum jawab pertanyaan Adis, jam berapa Tuan Bima pulang? Tumben dia tidak pamit pada Adis." Adis mengulang pertanyaan nya lalu meneguk air putihnya di gelas.
"Tidak lama setelah Bu RT pulang." Jawab Bu Sari.
"Bu, Adis takut Bu RT akan bilang pada semua orang kalau Tuan Bima mengaku-ngaku calon suami Adis." Ucapnya sambil cemberut.
Masalahnya ia nanti akan ditanyai tentang kebenaran itu apakah benar Adis akan segera menikah. Terlebih lagi Ibu-Ibu disekitar tempat tinggalnya orangnya kepo semua. Jadinya Adis malas jika harus turut serta mengikuti pengajian yang berlangsung nanti.
"Nggak mungkin lah Nak, Bu RT menyebarkan tentang kamu pada semua orang." Sanggah Bu Sari meyakinkan.
"Bisa saja kan Bu." Balas Adis.
"Sudah jangan terlalu di pikirkan. Piring-piring ini, Ibu atau kamu yang cuci?" Tanya Bu Sari.
"Adis saja Bu." Jawabnya lalu mengangkat piring-piring kotor dan juga gelas itu ke dapur dan langsung ia cuci. Ibu Sari membantu membawa mangkuk besar yang masih ada nasi gorengnya.
***
"Semalam kamu ngajak Adis kencan kemana Bim?" Tanya Mama Desi. Mereka juga sarapan pagi.
"Nggak kemana-mana Ma, cuma di rumah Adis saja." Jawab Bima.
"Payah kamu masa hanya di rumahnya." Sahut Papa Adi seraya memotong roti.
"Mau gimana lagi, Adis nggak mau Bima ajak keluar terpaksa apel saja." Ucap Bima.
Mama Desi dan Papa Adi tertawa, miris sekali.
"Semangat Bim, jangan pantang menyerah." Ujar Mama Desi memberi dukungan.
Bima mengangguk lalu pamit undur diri dari meja makan itu dan melangkah keluar menuju teras duduk disana.
"Kenapa kamu seperti itu lagi Dis.." Gumam Bima merasa sedih dengan keadaan Adis.
***
"Adis.. cepetan nanti pengajiannya keburu dimulai." Panggil Bu Sari sembari mengetuk pintu kamar putrinya.
"Bentar Bu, tinggal pakai kerudung nih." Jawab Adis dengan sedikit tergesa-gesa sembari menyematkan jarum pentul di pashminanya.
Setelah itu ia meraih tas slempangnya di belakang pintu setelah menampilan nya benar-benar rapi.
"Ayo Bu." Ajak Adis kepada sang Ibu.
"Ayo." Jawab Bu Sari lalu mengunci pintu rumahnya.
Mereka pun berjalan kaki pergi ke Masjid tempat tinggal mereka karena tidak mempunyai kendaraan yang bisa dinaiki.
"Bu, andai kita punya kita sepeda motor, pasti tidak akan capek-capek seperti ini." Keluh Adis meski jarak Masjid tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu dua puluh menit saja selama jalan kaki. Namun entah mengapa ia begitu enggan untuk mengikuti pengajian itu.
"Tetap harus disyukuri Nak apapun keadaan kita, yang lebih penting itu kita masih diberi kesehatan dan umur panjang. Kita ini masih beruntung, coba kamu lihat orang-orang di sekitar kita. Banyak kan yang tidur di emperan toko, di kolong jembatan. Belum lagi makannya mengandalkan makanan sisa yang dibuang di tempat sampah." Ujar Ibu panjang lebar menasehati Adis.
Adis hanya manggut-manggut mendapat nasehat dari sang ibu agar tidak mengeluh dengan kehidupannya dan tanpa mereka sadari mereka sudah sampai saja di Masjid.
"Sudah banyak orang Bu." Ucap Adis melangkah masuk ke dalam namun Ustadz yang memberi tausyiah belum lah hadir.
"Assalamu'alaikum.." Ucap salam Adis dan Ibu Sari.
"Wa'alaikumsalam.." Jawab mereka serentak.
Adis dan Ibu Sari pun duduk bersama ibu-ibu pengajian lainnya.
"Saya kira Ustadz nya sudah datang Bu RT." Ujar Bu Sari.
"Belum, masih di perjalanan. Mungkin sebentar lagi." Jawabnya.
Dan tak lama suara deru mobil masuk ke halaman Masjid. Salah satu ibu-ibu melihat ke depan lalu menyambut kedatangan Ustadz tersebut.
Seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun, beliau tidak datang sendiri melainkan dengan istrinya dan juga salah satu kawannya. Semua peserta pengajian mendengarkan seksama tausyiah yang diberikan oleh Ustadz tersebut. Sesekali ada salah satu ibu-ibu yang bertanya juga.
Ibu Sari menoleh ke arah Adis yang selalu saja menguap semenjak tausyiah dimulai.
"Ibu, Adis ngantuk." Bisiknya.
"Kamu tahan dulu, bisa-bisanya kamu sudah ngantuk." Bisik Ibu dengan geleng-geleng kepala.
Jarum jam menunjukkan pukul sebelas lebih lima menit. Itu artinya hampir dua jam tausyiahnya berlangsung.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Ustadz selalu memperhatikan gerak-gerik Adis di sela-sela ia memberikan siraman rohaninya. Dan akhirnya tausyiah nya pun berakhir.
"Akhirnya.. berakhir juga." Girang Adis.
"Bu, ayo pulang." Ajaknya.
"Bentar, ibu mau minta foto dulu sama Ustadznya." Ibu menahan Adis.
"Ustadznya mau apa kalau dimintai foto?" Tanya Adis.
"Siapa tahu mau." Jawab Ibu lalu menghampiri Ustadz itu bersama ibu-ibu lainnya.
Sementara Adis harus menunggu sambil ngedumel tidak jelas.
.
.
.
Bersambung...