Maretta anggraini, seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai manager sebuah perusahaan garment. Dia bercerai dari suaminya lantaran suaminya ketahuan sudah menikah lagi.
Kemudian dia bertemu dengan seorang Dokter muda yang bernama Didi rangga dinata. Ternyata, Dokter itu langsung jatuh cinta sama Maretta.
Bagaimana perjalanan kisah cinta antara Maretta dan Didi.
Ikuti dalam novel yang berjudul KAU YANG SELALU ADA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evy erviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part : 16 (Luka lama)
------------
Retta tidak menjawab dan seketika itu airmata Retta tak tertahankan lagi. Retta menangis sesenggukan sambil menutup kedua matanya dengan kedua tangannya. Dan seketika itu pula Didi merengkuh kepala Retta dan diletakkan didadanya.
"Sudah Ta., Kamu kenapa. Jangan bikin aku kawatir, ya. Katakan ada apa?" tanya Didi lagi.
Retta melepaskan pelukannya lalu menghapus airmatanya yang masih menempel dipipinya.
"Di., Gimana kalau antarkan aku pulang. Badanku tiba-tiba gak enak. " ucap Retta tiba-tiba.
"Oke, aku antarkan kamu pulang. Tapi kamu cerita ke aku, apa yang membuat kamu menangis." jawab Didi
"Iya." jawab Retta pelan sambil menganggukkan kepalanya.
Akhirnya mereka meninggalkan tempat itu. Didi mungkin masih penasaran dengan semua ini. Didalam mobil mereka berdua lebih banyak diam. Retta masih terdiam seribu bahasa. Didi sesekali melirik ke arah Retta.
"Ta., Kita kesini dulu ya. Cari minum yang hangat supaya kamu tenang. Biar kamu bisa cerita ke akun ada apa.?" ucap Didi.
Didi membelokkan kesebuah Cafe disudut kota. Tempatnya tidak begitu ramai hanya beberapa pengunjung saja. Mereka langsung duduk dan Didi memesan minum. Retta ngikut saja.
"Ta., Tolong, jangan bikin aku penasaran dong. Ada apa kamu kok nangis.?" tanya Didi sambil memegang tangan Retta.
"Della itu teman masa kecilmu.?" tanya Retta tiba-tiba.
"Iya. Tapi itu dulu banget Ta, waktu aku masih tinggal dijogja. Semenjak aku sekeluarga pindah ke Jakarta aku sudah jarang bertemu dia lagi. Terakhir aku dengar kabar kalau dia sudah menikah. Itupun tiba-tiba aku saja nggak diundang. Semua itu aku dengar dari temanku yang tunangan tadi, secara dia sama Della sepupuan." Terang Didi.
"Kamu tahu perempuan yang selama ini menjadi duri dalam rumah tanggaku sama mas Yoga itu siapa?" tanya Retta dengan matanya masih memerah.
"Enggak.! tapi jangan bilang kalau perempuan itu Della" ucap Didi pelan.
"Iya. Memang bener perempuan itu Della. Teman masa kecilmu yang tadi kamu kenalin ke aku." ucap Retta sambil matanya berkaca-kaca lagi.
"Apa.,! yang bener Ta? Aku nggak salah denger. Iihhh.,! Aku nggak nyangka kok Della jadi seperti itu. Beneran, Ta. Aku bener-bener gak tahu. Maafin, aku ya.?" ucap Didi serius sambil menggenggam tangan Retta. Perlahan Retta melepaskan genggaman tangannya tiba-tiba.
"Aku ngerti Di. Kamu nggak salah kok. Mungkin ini memang sudah kehendakNya aku bertemu Della lagi diacara tadi." jawab Retta pelan.
Tiba-tiba Didi memeluk Retta erat sambil mengelus-elus rambutnya. Seketika Retta jadi terbawa suasana. Dia menangis sejadi-jadinya. Didi semakin mempererat pelukannya ketika melihat Retta menangis.
"Ta., Maafin aku ya, aku nggak bermaksud membuka luka lamamu. Beneran aku nggak tahu." ucap Didi sambil mengelus rambut Retta.
"Iya nggak apa-apa. Makasih ya, kamu selalu ada disetiap aku lagi rapuh." jawab Retta pelan.
"Iya Ta. Aku janji akan selalu ada buatmu. " jawab Didi pelan.
"Anterin aku pulang ya Di. Aku pingin istirahat saja. " ucap Retta.
"Oke..." Sahut Didi.
.
.
.
Dirumah Retta tidak langsung bisa memejamkan matanya. Dia masih nggak habis pikir kenapa harus bertemu dengan perempuan itu. Bukannya dia tidak bisa move on. Tapi, kalau melihat perempuan itu bayangan Yoga jadi melintas. Dia memang sudah tidak ada hati sama Yoga. Tapi, kalau mengingat apalagi melihat perempuan itu semakin menambah rasa bencinya sama mereka.
Drrrttt....drrttt... Bunyi ponsel Retta. Diraihnya ponsel yang ada disebelahnya. dilihat nama Didi.
["Belum tidur "]
["Belum. Lagi tiduran aja "]
["Tidur gih.. Ntar capek besok ngantor kan?"]
["Iya.. Ini mau tidur "]
["Oke... Met' tidur. Mimpi indah ya"] sambil kasih emo hati.
Semenjak kehadiran Didi Hari-hari Retta serasa nggak sepi lagi. Dia memang selalu ada dimana Retta lagi butuh seseorang. Dia tahu kalau Retta memang lagi down dan butuh teman. Kadang gayanya yang kocak membuat Retta lupa akan masalahnya.
(***)
Keesokan harinya dikediaman Didi. Mama dan Papanya sudah dimeja makan. Sedangkan Didi belum turun juga. Tak lama kemudian keluarlah laki-laki tinggi putih dengan body atletis pokoknya idola para suster-suster dirumah sakit.
"Cakep bener anak mama hari ini." Celetuk Mamanya.
Sedangkan sang anak hanya senyum sedikit.
"Kamu libur hari ini Di.?" tanya Papanya.
"Iya pa. Tapi rencananya Didi mau keluar kerumah temen ada perlu." sahut Didi.
"Jangan bilang kamu mau kerumah janda itu lagi." sahut Mamanya ketus.
"Ma,! Kenapa sih selalu sebut Retta seperti itu. Meskipun janda dia juga punya hak untuk dicintai, Ma." jawab Didi. Maaf, Ma. Jika Didi berkata seperti ini.
"Mungkin kamu sudah terpengaruh sama dia sehingga berani melawan Mama." ucap Bu Utari lagi.
"Asal Mama tahu. Dalam hal ini justru Didi yang salah. Didi sudah berani mencintai perempuan yang jelas-jelas masih punya suami. Kita bertemu dirumah sakit saat Retta masih menjadi istri orang. Disitu suaminya mengalami kecelakaan dan kebetulan Didi yang menangani suami dia. Dari situ Didi mulai suka tapi Didi tahan secara dia masih sah istri orang. Tapi setelah Didi tahu bahwa kecelekaan itulah awal terbongkarnya perselingkuhan suaminya. Sampai akhirnya Didi tahu kalau Retta sudah pisah dengan suaminya. Itupun Didi tahu setelah beberapa bulan kami berdua ketemu. Setelah tahu kalau dia sudah bukan istri orang. Maka Didi mendekatinya. Itupun penuh perjuangan, Ma. Karena Didi tahu mungkin untuk menerima laki-laki lagi dihidupnya nggak mudah. Sampai akhirnya suatu hari baru Didi memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hati Didi. Itupun Retta juga gak langsung terima Ma. Dia juga malu dengan statusnya. Didi memperkenalkan Retta ke Mama dan Papa itu setelah Retta menerima cinta Didi, dan juga Mama pingin ngomong sesuatu." terang Didi panjang lebar. Lega hatinya setelah meluapkan semua apa yang ada dihatinya.
"Tuh, kan ma. Denger apa yang barusan Didi jelasin ke kita. Dia wanita baik. Justru dia yang dikhianati suaminya." terang Papanya.
"Asal Mama Papa tahu juga. Siapa yang jadi selingkuhan suami Retta.?" tanya Didi.
"Emang siapa, Di?" tanya Papanya.
"Itu, sih Della. Anaknya oOm Sardi dan Tante Rima, temen kecil Didi di Jogja. Papa Mama kenal juga kan, sama mereka?" ucap Didi.
"Apa.,! yang bener Di? Della yang dulu sering main kerumah kita waktu di Jogja dulu." kini giliran Mamanya yang buka suara.
"Iya ma." jawab Didi.
Setelah sarapan Didi langsung pamit untuk keluar. Mama Papanya masih bengong dengan penjelasan Didi barusan.
"Ma., Gimana sekarang. Apa sudah bisa nerima Retta?" Anak kita aja bisa bijak dalam berfikir soal Retta. Masa kita sebagai orang tuanya tidak bisa ma?" ucap Papanya.
"Mama belum tahu, Pa." jawab Bu Utari sambil bediri.
Papanya Didi masih nggak ngerti kok sampe segitunya Mamanya nggak suka sama Retta karena statusnya yang janda.
.
.
.
Didi melajukan mobilnya kencang. Dia hari ini kalut banget pikirannya. Nggak tahu mau kemana, akhirnya dia meljukan mobilnya ke rumah salah satu temannya.
"Huuuftt.,! Kesel banget nih." Gerutu Didi sesampainya dia di Bengkel Andra temennya.
"Haii, kenapa lo bro.?" tanya Andra.
"Pusing gue ndra. Gue suka ama cewek dan cewek itu janda. Tapi, dia belum punya anak. Terus orangtua gue mau jodohin gue ama anak temennya. Terus dengan keberanian, gue tembak tuh cewek dan diterima lalu gue kenalin ke ortu. Eh... Mama gak setuju. " Gerutu Didi terus.
"Sabar., Cobalah yakinin nyokap lo dengan segenap hati. Sapa tahu nyokap lo lama-lama berubah fikiran." jawab Andra.
"Terus gue harus gimana Ndra.?" tanya Didi lagi.
"Emmm., gimana ya." ucap Andra dengan manggut-manggut sambil berjalan mondar-mandir seakan memikirkan sesuatu untuk Didi.
"Lo, sok mikir Ndra,!" sahut Didi.
"Yeaah. Gue punya ide. Gimana kalau lo ajakin cewek lo untuk kawin lari! beres." sahut Andra asal.
"Sempruul lo Ndra.! Itu sih bukan ide yang bagus. Gue gini-gini Dokter lho. Masak ada Dokter ajak kekasihnya kawin lari. Kayak dicerita film-film aja kamu ini." Sahut Didi sambil melempar kertas kearah sahabatnya itu.
"Hahahaha.., sorry-sorry Di. Gue juga bingung mau kasih ide apa ke lo. Beneran gue becanda kok maafin ye.?" ucap Andra sambil merapatkan kedua telapak tangannya.
Mereka berdua kembali tenggelam dengan fikiran masing-masing. Andra adalah salah satu sahabat Didi semasa SMU dulu. Andra sekarang memegang salah satu usaha ayahnya dibidang otomotif. Dan belum menikah juga.
Kali ini Didi harus memikirkan benar-benar tentang hubungannya dengan Retta. Tak lama kemudian Andra mengambilkan minuman dingin lalu diberikan ke Didi.
Mereka ngobrol di ruangan Andra. Dia memang pemilik Bengkel mobil. Ada beberapa karyawan yang bekerja. Dia hanya sebagai owner saja yang kerjanya mengawasi karayawannya. Tapi, kadang tidak menutup kemungkinan kalau tenaganya dibutuhkan, dia juga ikut membantu.
Ketika mereka lagi asyik ngobrol. Tiba-tiba salah satu karyawannya memanggilnya.
"Maaf, Pak Andra. Itu diluar ada Mbak Ranti. Katanya mau ketemu Pak Andra." ucap karyawan tadi.
Didi spontan kaget. Ranti yang dimaksud itu apa Ranti yang selama ini dia kenal, dan yang dijodohkan dengan dirinya. Didi semakin penasaran.
----------Bersambung-----------
.retta
.