[ perjalanan dan perjuangan hidup keithen Nicholas]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenapariwara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua setan
Dua setan
Alona sekarang berada di apartemen Alena, iya memencet bel beberapa kali tapi tak ada jawaban dari dalam.
"apa Alena tidak ada di sini ya, tapi dia kemana?" gumamnya.
"CK, kenapa aku lupa telpon sih" gerutunya pada dirinya sendiri.
tut
Tut
Tut
Panggilan tersambung hingga dering ketiga barulah panggilan di jawab.
"hallo" suara Alena di sebrang telpon.
"kamu dimana?" tanya alona.
"Aku di rumah sakit, baru sampai" jawab Alena.
"kamu pulang kemana semalam, ponselmu tak bisa di hubungi" tanya Alona.
"nanti aku ceritakan, datanglah ke sini, aku kirimkan alamat" Alena mengirimkan Alona alamat sebuah cafe.
kemudian panggilan di matikan.
****
Alona segera memutar balik mobilnya menuju tempat yang sudah di kirimkan Alena.
Setelah selesai menangani pasien, jam menunjukkan makan siang dan waktu istirahat. Alena segera pergi ke cafe yang dia maksud untuk bertemu dengan Alona.
Selang beberapa menit, Alona sudah sampai dan memarkirkan mobilnya di tempat parkiran. Kemudian memasuki cafe tersebut dan mencari sosok yang sejak semalam belum iya lihat.
Alena yang sudah duduk di kursi pojok, melihat ke arah Alona dan melambaikan tangannya dan memanggil agar Alona bisa melihatnya.
"lona, sini" ucap Alena.
Kemudian Alona mendatangi Alena yang sudah duduk di sana.
"aku sudah pesankan makanan, aku yakin kamu pasti belum sarapan" tebak Alena.
"Hem, mau bagaimana lagi, aku tidak berselera makan melihat dua nenek lampir itu" ucap alona membuat Alena tergelak.
"kamu sabar saja, ada saatnya kita melihat mereka menangis suatu hari nanti, akan ku pastikan kedua wanita itu akan merasakan apa yang kita rasakan" Alena berucap dengan dingin.
"sekarang kita tidak bisa berbuat apa-apa, ayah sangat membela mereka, bahkan kemarin malam saja saat kamu tidak pulang, ayah bahkan tak menanyakan kamu, dia hanya asik dengan dua setan itu" ucap Alona menggebu.
"Hem, biarkan saja dulu, ada hal yang lebih penting lagi aku ceritakan sama kamu" ucap Alena serius.
"Hem, apa itu, kemana kamu tadi malam, dan tidak pulang ke rumah, aku khawatir sama kamu. Aku coba telpon ponselmu, tapi ponselmu tidak aktif" tanya Alona.
Alena menceritakan kejadian tadi malam sebelum dan setelah bertemu dengan keithen.
"Hem, syukurlah kau tidak apa-apa. Tapi ada untungnya juga" ucap Alona membuat Alena mengernyit.
"maksud kamu?"
"ya beruntung saja, sudah dapat laki-laki yang berhasil meluluhkan hatimu, secara kan kamu itu sangat malas harus berhadapan dengan pria manapun" jelas Alona.
"pria itu sangat menyebalkan, bahkan dia tak memberikan aku bebas tadi malam" rutuk Alena.
"tapi kamu masih perawan kan?" tanya Alona dan Alena refleks menutup mulut alona dengan tangannya.
Sungguh gadis bar-bar, Alona tanpa saring dengan frontal berbicara sangat vulgar membuat beberapa pengunjung cafe melihat ke arah mereka.
"tutup mulutmu Alona, aku bukan wanita segampang itu ya" Alena memberikan tatapan tajam pada kembarannya.
"CK, kau terlalu serius Alena" Alona menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alena.
"aku bahkan ingin membunuhnya, tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukannya. Dia lelaki yang pemaksa, aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa padanya" jelas Alena merasa heran pada dirinya sendiri.
"ingat, jangan membenci berlebihan, aku tidak yakin, kamu bisa menghindarinya, dia adalah pria yang sangat cerdas dan tangguh. Sepak terjang pria itu tak main-main" jelas Alona.
"CK, makan dulu, jangan banyak bicara" Alena melihat makanan yang di pesan Alona, belum di sentuh gadis itu.
"iya-iya"
Begitulah keduanya berinteraksi saat berdua. Mereka akan saling terbuka dan tak pernah saling menyembunyikan sesuatu apapun satu sama lain.
"ada satu lagi" ucap Alena.
"apa?"
Alena tersenyum miring membuat Alona merinding melihat senyum kembarannya.
"mereka sudah memberi tahu jika semua aset yang ada di sini, akan menjadi milik kita. Bahkan beberapa aset tersembunyi papi mami, sudah di alihkan menjadi milik kita berdua. Mereka mengelolanya dengan sangat baik" seru Alena.
"wah benarkah?"
"Hem"
"berarti kita bisa melakukan misi kita selanjutnya" ucap Alona dan Alena mengangguk santai.
"tunggu saja pembalasanku nenek lampir" Alona dan Alena melanjutkan makan siang mereka karena memang mereka akan segera kembali ke aktivitasnya masing-masing.
Alona hanya berada di butik milik almarhum ibunya. Dialah yang mengelolanya selama ini sehingga beberapa orang penting selalu memilih busana di tempatnya. Alona lebih berbakat di dunia designer dan membuat ide-ide baru yang di kembangkan sendiri dengan keahliannya.
Alona juga bukan gadis lemah, dia juga pandai dalam hal bela diri sama seperti Alena. Namun Alena tak kalah hebat, iya memiliki bela diri yang tinggi di banding dengan Alona.
***
Celine sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya. Iya terlihat sangat marah dan membanting hp nya ke lantai.
"bodoh, aku sudah memberikanmu bayaran yang banyak, tapi kerjamu sangat tidak memuaskan. Kalian sangat bodoh" maki Celine pada seseorang di sebrang telpon.
"nona, gadis itu sangat kuat, kami bahkan berlima tapi bisa kalah dengannya" ucap seorang pria yang berbicara dengan Celine.
"pokoknya aku tidak mau tau, kalian harus habisi wanita ja**** itu" tegas Celine dan mematikan panggilan.
"kamu jangan gegabah sayang, kita harus bermain cantik, kita teruskan saja membuat ayah mereka lebih menyayangi kita. Kamu lihat sendiri bukan, kedua saudara kembar itu terlihat cemburu dengan kamu yang selalu di sayangi oleh ayah mereka" nyonya Mila berada di sana dan sudah tau rencana anaknya yang ternyata yang menyerang Alena tadi malam adalah preman bayaran Celine.
"ma aku kesel sekali mendengar Leon selalu menyebut nama Alena terus, Leon masih mencintainya. Aku harus apa ma?" adu Celine pada ibunya.
"kamu tenang sayang, kamu harus mendapatkan laki-laki itu segera, mama ada ide untuk itu" Mila membisikkan sesuatu pada Celine dan membuat Celine tersenyum girang mendengar ide ibunya.
"apa tidak apa-apa ma, gimana kalau nanti Leon benci sama aku?" ucap Celine.
"itu tidak akan terjadi, aku yakin, Leon pasti sangat menyayangi kamu" ucap Mila. Celine merasa senang dengan ide ibunya.
"oh ya, ini ambil, berikan pada Leon, jangan sampai dia tau" ucap Mila memberikan sebuah botol kecil sebesar kelingking orang dewasa pada Celine.
"apa ini ma?" tanya Celine.
"tuangkan bubuk itu ke minuman atau makanan Leon, dan kamu harus membawanya ke kamar hotel dan kamu mengerti kan maksud mama?" tanya Mila mengelus rambut putrinya.
"iya ma, aku ngerti"
"buat dia bertekuk lutut sama kamu sayang" ucap Mila
"siap ma, aku yakin, Leon pasti memilih aku" ucap bangga Celine.
Mereka bahkan tak tau, Alena bahkan sudah membuang Leon dan Leon hanya sebagai bekas bagi Alena.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
semangat trus dan jangn berkecil hati..
alur nya /Frown/ di awal mdh2an ke dpn nya /Smile/