Indonesia
NovelToon NovelToon
Dia-log Skripsi

Dia-log Skripsi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Murid Genius / Cintapertama / Chicklit
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahrani Yuan

Anggita Dahniah yang berjuang menyelesaikan skripsi sembari menjalankan bisnis di pulau sebrang, sedangkan ibunya sendiri di kampung halaman. Kirana Larisa dan Meinizar Stefani yang merupakan sahabat terdekat ketika di pulau orang. Kulkas 7 pintu adalah sifat dosen pembimbing 2 Anggita yang membuatnya frustasi tidak karuan. Apakah Anggita dapat menyelesaikan skripsinya? apakah bara api atau emas permata yang ia capai? tidak ada yang bisa memprediksi kehidupan seseorang apalagi yang baru saja keluar dari kandang rumahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrani Yuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Alihan tangan

"Maafkan saya membebani psikis kamu selama ini."

Tanpa angin ribut, angin topan, pemuda ini berkata seperti itu. Bapak tidak salah mengucap hal itu, kan? Atau bapak salah sarapan tadi? Kenapa tiba-tiba baik kepadaku, biasanya juga diam bergeming, dan hanya melakukan kesibukan bapak yang membolak-balikan kertas.

"Ahh, itu. Tidak masalah, Pak," menatap lekat pada matanya, dengan senyum sinis melengkung, "asalkan Bapak langsung meng-acc skripsi saya, Pak. Maka saya akan melupakannya. Hehehe," cengengesan ku menyeringai bibirnya.

"Tidak semudah itu forguso! Bab satu ini saja kamu masih berantakan, gimana caranya langsung main acc segala? Memang sih, sesuai dengan yang saya bilang, tapi tidak sesuai dengan yang saya tulis di kertas judul skripsi kamu semalam."

"Ahhh, tulisan itu, aku lupa meminta bantuan pada Arkhan. Cih." Gumam ku pelan mengsampingkan wajah.

"Hehehe, baik, Pak. Akan saya perbaiki, Pak."

"Kertasnya kamu bawa?"

Merogo totebag secara gelisah, dengan banyak drama kesana kemari menajamkan bola mata di setiap ujung dalam tas sepetak itu, dan akhirnya, "ini, Pak."

"Coba kamu baca yang saya tulis," titahnya datar.

Setelah lama dipandang tulisan itu, aku menyerah untuk berpikir, "ini huruf apa, Pak? Hehe," dengan menunjukkan awal huruf tulisannya tanpa basa basi.

Jangankan membaca satu kalimat, satu kata saja aku tidak tahu tulisannya.

"Sudah saya duga."

"Hehehe."

"Akan saya usahakan bisa baca tulisan Bapak, semaksimal nya, janji. Hehe." Dengan mengangkat telapak tangan kanan agar dapat kepercayaan dosen yang katanya humble ini.

"Dengan apa kamu bisa baca tulisan saya? Sedangkan satu huruf saja kamu tidak bisa mengejanya," menghela napas diam, memutarkan bola mata pada lembaran kertas bab 1. "Ahk, kebanyakan cengengesannya kamu, tidak ada seriusnya sama saya."

Mulai. Sinisku menerjang badai padanya.

Masih awal pekan toh, Pak. Sudah dibuat bingung oleh sikap dosen satu ini yang tiba-tiba tidak stabil. Tolonglah, pak, pahami mahasiswi mu satu ini.

"Masukkan data penduduk sementara, yang menurut kamu kesejahteraannya sudah mencapai batas normal," lirihnya dengan mencoret bagian tulisan yang salah.

Saat itu aku langsung paham, perkataan Pram barusan ialah tulisan yang di kertas itu. Aku hanya mengangguk pelan, dan melihat apa yang ingin dilakukannya.

Bukan satu kata atau satu kalimat yang dicoret, melainkan tanda silang yang besar dari sudut kertas ke ujung sudut berlawanan.

Tidak tanggung-tanggung.

Aku hanya melongo dengan tajam, melihat ketikanku tanpa copas itu disilang besar besaran. Sekejam itu terhadapku.

Aku menelan ludah sampai ke ulu hati, dengan melihat jeli apa yang dicoretnya lagi, "oh, oke, Pak," ucapanku setelah Pram menoleh sinis ke arahku.

"Apanya yang oke? Begini, kamu bilang minta langsung acc, boros kata-kata gini. Gimana sih kamu mengerjakannya?" cetusnya sambil membalikkan lembar selanjutnya, "terlihat jelas kamu menulisnya dengan terburu-buru."

Aku terbungkam. Membenarkan perkataan itu apa adanya.

Setengah jam berlalu, dia asyik mengoreksi pada lembar jawaban kertas mahasiswa. Bukannya menyelesaikan urusannya denganku, melainkan aku juga ikut andil mengoreksi jawaban mahasiswa yang lain. Hadeh.

Sudah menjadi hukuman bagiku, katanya.

***

"Capek, Sa."

"Capek kenapa, lu? Datang-datang lesu gitu," jawabnya sambil melayani pelanggan dengan kedua tangannya, "baru juga hari senin, semangat! semangat!" mengangkat kepalan tangan kanan dengan nada membangkitkan jiwa.

Padahal yang diangkatnya itu pis*u besi yang ujungnya sangat lancip.

"Tenagaku habis untuk menjaga kewarasan, Sa," ucapku melas dengan kepala yang bertumpukan tangan diatas meja.

"Kenapa? Masalah skripsi? Kalau skripsi, wajar itu mah, agar paham perjuangan skripsi itu sangat berat."

"Ahhh, ntahlah. Kata untuk rental joki sedang menggangguku dipikiran."

"Hahaha, udah, rental aja, kurang lebih ndak sampai 5 juta, tinggal terima bersih. Badan santai, jiwa aman terkendali."

"Makin digoda pula. Sesat memang," ucapku dengan mendongakan kepala.

"Hehehe." Senyum Risa yang menampilkan gigi ginsulnya.

"Kenapa toh, Mbak e? Lesu wae bawaannya," tutur Desi yang membawakan frozen food setelah turun dari keretanya.

Risa pun turut membantunya membawa barang yang lain, yang masih melekat pada kereta.

"Biasalah, jangan diganggu dulu mbakmu itu, nanti bisa makan orang," cetus Risa yang mengangkat barang dengan tergopoh.

"Lah," heran Desi menurunkan bahu, lalu melanjutkan aktivitasnya membenahi jualan.

"Ada event di sana, Mbak. Mana tahu bisa kembalikan mood Mbaknya, kalau ndak salah di sekitaran fakultas teknik," lontar Desi dengan tiba-tiba.

"Mager tapi butuh juga sih. Ayoklah," ajakku yang berusaha angkat badan dari meja berasa tempat tidur ini, "mana tahu jumpa Arga juga disana."

"Arga pastinya lagi sibuk, Gita. Mengurusi cafe kamu," celetuk Risa.

"Oiya ya. Kesana aja lah, yok. Mana tahu bisa bungkus satu."

"Wop, mulai beraksi. Gas," semangat Risa mencuci tangannya lalu langsung bergegas pergi dari hawa ramainya kantin itu.

"Desi tidak ikut?" pertanyaanku yang tidak harus dipertanyakan.

"Kalau ikut, siapa yang jaga jualan mbak? Mbak pun ada ada saja."

"Hahaha, iya juga. Mbak minta tolong jaga aset mbak ya."

"Sip, aman, Mbak," jawab Desi memberikan kedua jempol nya.

1
Mukmini Salasiyanti
😃😁
yulia andini
ada dong pastinya, hehe
Mukmini Salasiyanti
wahhhh
ada ya Dobing begitu,
baik bgt, ingatkan janji temu...
pak Pram, the best laahhh
Mukmini Salasiyanti
😆
Mukmini Salasiyanti
😆
Mukmini Salasiyanti
senam aerobik?????
Astaghfirulloh...
Anda kocak sekali, Git....
wah Gita anak Karo yaa.
salken deh dr anak Medan...
☺😆
yulia andini: salam kenal juga kak, horas!✊
total 1 replies
Mukmini Salasiyanti
ayook semungutttttt, Git..
udah di acc tuh....
GO... GO..... 💪
Mukmini Salasiyanti
jd, mksdny nih thor,
dobing pak. pramuda nih, senior Anggita dulu?? ketua panitia??
yulia andini: iya kk☺️
total 1 replies
Mukmini Salasiyanti
Ahhh
Author qu ini...
ceritanya...
Tertata dan tersuSun rapi..
jadi sprti baca skripsi aqu nya...
☺🥰
Mukmini Salasiyanti
Adiwijaya pramuda dan Adiwijaya Arkhan apkh beda org, thor?????
yulia andini: beda orang orang kak🤗
total 1 replies
Mukmini Salasiyanti
Assalamu'alaikum
mampir ya thor qu....
Erni Fitriana
mampir
yulia andini: in syaa Allah kk, dengan senang hati🤗
total 1 replies
yulia andini
maaf ya baru update, soalnya author sempat sakit🙏
Sena Kobayakawa
Ngakak guling-guling
edmundヾ
Ceritanya menghibur sekali.
yulia andini: semoga terhibur juga untuk kedepannya ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!