Tahun 6996, peradaban telah hancur dan kembali menjadi seperti masa kerajaan, kerajaan ColdendEarth, begitulah mereka menyebutnya, terkenal dengan legenda tentang... wanita beku.
Naila, dialah legenda yang dikenal sebagai wanita beku, seorang pria membuka tabung yang membuat Naila tertidur, dia tidak membeku, melainkan tidur beku.
Tujuan Naila melakukan tidur beku hanya satu, menagih janji kepada sang dewa waktu...namun tentu saja, perjalanannya tidak akan mudah, atau bahkan hampir mustahil, bagi manusia biasa yang mengalaminya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyubara Reona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22:Api Negeri Sakura
Mito menyerang Naila dengan sihir apinya, namun Naila dengan mudah menghindarinya. Dia memusatkan energi sihirnya dan menciptakan rantai kegelapan yang mampu mengikat pergerakan Mito dan kelompoknya.
"Apa yang-" Mito terkejut saat ia dan kelompoknya terikat oleh rantai kegelapan Naila. Namun, dengan cepat, ia menciptakan tangan dari sihir tanah untuk melepaskan rantai tersebut.
"Wow, tidak kusangka ada orang yang mampu membebaskan diri dari 'Dark Chain' milikku. Apakah ilmu sihir sekarang sudah berkembang pesat?" ujar Naila kagum.
Dua anggota Mito mulai menyerang Arden dan Eleine dengan sihir api, menciptakan lingkaran api yang mengurung mereka.
"Hati-hati, Eleine. Nampaknya mereka semua pengguna sihir api, tidak heran karena mereka berasal dari Kerajaan Sakura," ujar Arden.
Eleine mengangguk, mempersiapkan diri untuk bahaya yang mendatang. Gadis berambut merah mulai menyerang Arden dengan belati di pinggulnya. Arden, terkejut dengan belati itu, terpaksa menggunakan sihir air untuk menetralkan lingkaran api agar mereka bisa bergerak bebas.
"Cannon Ball," teriak Arden, menciptakan bola air besar yang diarahkan ke gadis berambut merah. Namun, gadis itu dengan mudah membelah bola air tersebut dan kembali menyerang.
Sementara itu, Eleine harus berhadapan dengan gadis berambut hijau yang menguasai sihir api dan bumi. Eleine merasa gugup, tetapi tetap fokus.
Gadis berambut hijau mulai memusatkan energi sihirnya hingga mencapai batasnya, lalu membungkuk dan menyentuh tanah. "Mud River!" serunya. Tanah di bawahnya berubah menjadi lumpur yang melaju cepat ke arah Eleine. Eleine cepat bereaksi, menggunakan "Wall Flame" untuk menahan lumpur tersebut.
"Bagaimana bisa api menahan lumpur?" gumam gadis berambut hijau terkejut.
Arden cukup kesulitan melawan gadis berambut merah karena ia tau dia tidak boleh mengeluarkan pedangnya dari sarung nya. Namun, ia menyadari ada celah dalam serangan gadis tersebut. Dia mencari waktu yang tepat untuk menyerang. Gadis berambut merah mulai memperkuat belatinya dengan sihir.
"Enhance!" Gadis itu mengalirkan energi sihir ke belatinya, menciptakan aura api yang menyelimuti senjatanya.
Arden terkesan. "Biasanya, hanya petualang rank Adamantite yang mampu menggunakan 'Enhance'."
Akhirnya, Arden menarik pedangnya dari sarungnya. Dia mengalirkan energi sihirnya ke pedangnya. "Enhance: Triangle Splash!" Serangan itu menciptakan percikan air yang menyelimuti pedangnya. Tanpa pikir panjang, ia menyerang gadis berambut merah, memulai bentrokan senjata yang intens.
Sementara itu, Eleine terus bertarung dengan gadis berambut hijau, menyadari kelemahan lawannya. Gadis berambut hijau itu kelelahan karena menggunakan elemen bumi yang menguras energi sihirnya. Eleine memanfaatkan kesempatan itu, menciptakan aliran api yang melilit tubuh gadis tersebut, mengikatnya dengan "Lasso Flame".
Kembali ke Arden, dia berhasil menemukan celah dalam serangan gadis berambut merah, menyerang hingga belati gadis itu terhempas. Arden memenangkan pertarungan.
Naila, sementara itu, menggunakan kekuatan kegelapan untuk mengganggu penglihatan Mito. Namun, Mito masih mampu bertahan dan menyerang balik dengan "Burst Worm," cacing api yang meluncur ke arah Naila. Naila dengan tenang mengangkat tangannya.
"Dark Vessels," serunya. Mulut besar berwarna hitam muncul dari tangannya, melahap sihir Mito tanpa kesulitan. Mito sangat terkejut dan tidak tahu harus berkata apa.
"Kupikir kamu bisa memberikan perlawanan lebih. Seperti yang teman-temanmu lakukan," ujar Naila dengan nada mengejek. Perlahan, tatapannya menjadi semakin gelap dan kejam.
"Membosankan," ucapnya.
"Dark Vessels: Burst Worm," lanjutnya,
mengeluarkan serangan yang telah ia serap. Mito berhasil menghindari serangan tersebut dengan menciptakan pelindung dari tanah, tetapi Naila sudah berada di belakangnya. Naila menciptakan pedang kegelapan dan menebas leher Mito tanpa ragu. Kepala Mito menggelinding, mengenai kaki gadis berambut merah hingga membuat semua orang terkejut, terutama Eleine.
Eleine berteriak hingga terjatuh. Arden mencoba menenangkannya. "Hei, Eleine, sadarlah. Hei!" ucapnya.
Naila menghancurkan pedang kegelapan miliknya dan menatap tajam ke arah kedua gadis tersebut. "Kalau tidak salah, pemimpin kalian adalah Kurumi, ya? Beritahu dia, jika dia berani mengganggu rencanaku, atau menyentuh sahabatku, dia akan mati di tanganku."
Dia melempar kain kepada gadis berambut hijau, dengan maksud untuk membungkus kepala Mito. Kedua gadis itu kabur ketakutan.
Naila melihat ke arah Eleine dan Arden. "Eleine, kamu bilang mau menjadi kuat kan?"
Eleine tidak menjawab, masih syok dengan apa yang ia lihat.
"Jika kamu lemah terhadap kematian seseorang di depan matamu, maka artinya kamu tidak siap untuk menjadi kuat," ucap Naila.
Arden, marah dengan pernyataan Naila, membalas, "Ini berlebihan, Naila! Mau bagaimana pun, Eleine itu masih baru dalam hal seperti ini!"
"Arden, kamu tidak berhak untuk menjawab. Lagipula, saat kamu masih menjadi petualang pemula, pasti juga sama seperti Eleine, kan? Lalu kenapa sekarang kamu bisa biasa saja?" jawab Naila.
Arden terdiam, tahu bahwa Naila benar.
"Lalu kenapa kamu bisa biasa saja?" tanya Arden balik.
Naila menatap tajam, "Hal seperti ini sudah sering kualami, anak muda, pembunuhan, siksaan, pembantaian, semuanya telah kulihat, hal seperti ini sudah biasa bagiku."
Eleine menyentuh tangan Arden, berusaha untuk bangkit. "Kak Naila, apa aku bisa menjadi kuat seperti anda?"
"Tentu saja, semua dimulai dari mengatasi rasa takut," jawab Naila.
Eleine berdiri dan menatap Naila dengan tekad kuat. "Kalau begitu, bantu aku untuk mengatasi rasa takutku, kak Naila!"
Naila tersenyum dan menepuk pundak Eleine. "Itulah tugasku sebagai gurumu."
Mereka melanjutkan perjalanan ke dalam goa hingga mencapai pintu terakhir. Seseorang telah menunggu mereka.
"Akhirnya kamu tiba, Naila," ucap Elara.
"Aku tidak menyangka kamu sudah di sini. Tapi yang lebih membuatku tertarik adalah fakta bahwa kamu tidak tertarik dengan Heart of Rubia, apa aku salah?" tanya Naila.
"Ding dong! Kamu benar. Tujuanku saat ini hanya satu... kamu, Naila~" jawab Elara sambil menunjuk ke arah Naila. "Aku akan menjadikanmu... sebagai pelayanku~"
Kini hanya mereka berempat yang berada di dalam goa, dan pertarungan akhir bukan lagi tentang Heart of Rubia. Tujuan Elara adalah Naila, dan tujuan Naila adalah Heart of Rubia...
BERSAMBUNG ~